Breaking News
light_mode

Kritik Tuding Menuding Sesat Beragama Kita

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 21 Mei 2019
  • visibility 47


Lampu temaram menyinari Gedung
FKIP Universitas Muria Kudus, Sabtu (18/5/2019) malam. Hari itu sedang
berlangsung pementasan teater oleh kelompok Tetater Gerak 11. Lakon yang
dibawakan adalah
Masjid Tanpa Sujud,
karya Habib Anis Sholeh Ba’asyin. Budayawan dari Bumi Mina Tani.

Masjid Tanpa Sujud merupakan
refleksi diri, melihat kekacauan antar kelompok. Dimana masing-masing kelompok
menganggap dirinya paling benar. Dan menilai kelompok lain salah.

Sayup-sayup dari balik tirai
panggung teater terdengar senandung gending Jawa. Tampak bayangan enam lelaki.
Paling depan memegang bedug diikuti empat pemain yang membawa rebana. Sementara
lelaki paling belakang  seperti membaca
kitab.

Bayangan itu berpakaian adat Jawa.
Berjarik dan mengenakan ikat kepala. 
Mereka pun bernyanyi sembari menabuh alat musik yang dibawa
masing-masing. Kali ini suara lebih ramai. Terdengar suara perempuan juga.

Semua formasi tadi mendadak
buyar. Mereka berlarian tak karuan. Lalu keluarlah satu laki-laki gendut dan
perempuan tua. Mereka pun berdebat tentang dimana mereka berada. Ditengah
perdebatan mereka, datang lelaki tua bernama Abdullah. Ia pun berkata kepada
dua orang yang berdebat tadi. Bahwa mulut mereka masih cerewet. Tangan mereka
juga sering usil.

Adegan panggung Masjid Tanpa Sujud

Kedua orang itu berjilbab dan
bersarung tetapi tidak memiliki kesabaran. Abdullah lalu mengeluarkan buku dan
meminta mereka membaca. Lampu panggung mendadak redup. Lantunan ayat Al Qur’an
pun menggema.

Penari sufi dibalik layar
menampilkan bayangannya yang sedang berputar-putar. Sembari menunjukkan jubah
bagian bawahnya yang makin mekar.

Suasana kembali tenang. Abdullah
pun menghilang. Dipanggung hanya ada lelaki gendut dan perempuan tua. Kini
mereka kembali berdiskusi. Tentang fenomena orang-orang yang sibuk membuat
barisan sendiri. Sembari menuding yang lain sesat. Serta dilakukan oleh siapa
saja dan atas nama apa saja.

Sutradara pementasan, Sutrimo
mengatakan, setting panggung dengan background membentuk kubah disertai
ranting dan dedaunan kering memiliki makna tersendiri. Pohon yang daunnya
kering melambangkan kesucian yang sudah mulai mengering. Bahkan hampir
dikatakan mati.

”Intinya kegersangan dimana orang
satu (lelaki gendut,Red) dan orang dua (wanita tua,Red) mencari sebuah
kebenaran,” ujarnya.

Alasannya mengangkat setting ini
sebagai refleksi tentang fenomena perpecahan umat. Setiap pergantian scene,
lampu panggung juga berkelap-kelip dengan cepat. Lighting yang digambarkan
kelap-kelip itu sebagai penggambaran suasana yang krodit. Selain itu ditengah
kelap-kelip lampu panggung, terdengar sayup-sayup teriakan bid’ah, salah, dan
tuduhan-tuduhan lainnya. (hus)



  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suasana rapat paripurna DPRD Pati 

    Viral Ketua DPRD Pati Kecewa karena Anggota Bolos Paripurna

    • calendar_month Sel, 13 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Suasana rapat paripurna DPRD Pati PATI – Kedisiplinan anggota DPRD Pati masih menjadi sorotan, hal ini terlihat dari tingkat kehadiran dalam rapat paripurna. Ketua DPRD Pati Ali Badrudin sampai kesal dengan hal itu. Kekesalannya dilontarkan saat memimpin Rapat Paripurna dengan agenda Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), (13/6/2023). Untuk diketahui pada rapat paripurna tersebut sebanyak 22 anggota […]

  • PSG Pati Tantang Klub Liga 1

    PSG Pati Tantang Klub Liga 1

    • calendar_month Sel, 18 Mei 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Pelatih PSG Pati saat memberikan intruksi ke pemainnya     Tak main-main, tim pelatih Laskar Kembangjoyo terus mematangkan skuadnya. Klub-klub 1 dibidik menjadi lawan uji coba pasca libur lebaran ini. Sebelumnya klub ini sudah dua kali menjajal kekuatan klub Liga 1, Bhayangkara Solo FC dan Persipura. PATI – Klub Liga 2, PSG (Putra Safin Grup) Pati […]

  • Potensi Krisis Pangan, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan

    Potensi Krisis Pangan, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan

    • calendar_month Kam, 19 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 44
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati, Narso, mengungkapkan keprihatinan terkait potensi krisis pangan yang mengancam di masa depan. Ia mendesak Pemkab Pati untuk segera merumuskan strategi khusus guna mengantisipasi ancaman tersebut. “Kita harus proaktif menghadapi potensi krisis pangan. Indonesia, termasuk Pati, memiliki potensi keanekaragaman pangan lokal yang melimpah. Ini adalah modal kita untuk mengatasi masalah ini,” […]

  • Inspektorat Daerah Pati Tingkatkan Upaya Pencegahan Korupsi di Lingkungan Pemerintahan

    Inspektorat Daerah Pati Tingkatkan Upaya Pencegahan Korupsi di Lingkungan Pemerintahan

    • calendar_month Sab, 25 Mei 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 58
    • 0Komentar

    PEMERINTAHAN – Inspektorat Daerah Kabupaten Pati meluncurkan program pendidikan antikorupsi untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan tujuan mencegah dan memberantas korupsi di lingkungan pemerintahan. Inspektur Daerah Pati, Agus Eko Wibowo, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk membangun semangat dan budaya antikorupsi di kalangan ASN. Langkah ini diambil setelah hasil survei Penilaian Integritas (SPI) tahun 2023 […]

  • KSH Sukses GelarTeknik Operasi Katarak Fakoemulsifikasi

    KSH Sukses GelarTeknik Operasi Katarak Fakoemulsifikasi

    • calendar_month Sen, 2 Apr 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 50
    • 0Komentar

    Lingkar Muria, PATI – Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) terus melakukan inovasi pelayanan kepada pasiennya. Seperti dalam penanganan pasien katarak. Kini RS KSH telah menerapkan teknik operasi katarak yang paing mutakhir, yaitu Teknik Fakoemulsifikasi. Baru-baru ini sebanyak delapan pasein berhasil dilakukan operasi katarak menggunakan Metode Fakoemulsifikasi. Direktur RS KSH, Kelvin Kurniawan menuturkan, teknik canggih tersebut […]

  • Bangun Kesiangan Tak Jadi Nyunrise (2)

    Bangun Kesiangan Tak Jadi Nyunrise (2)

    • calendar_month Sen, 10 Jun 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Puncak Gunung Gede yang menakjubkan dengan kepulan asap dari kawahnya  Matahari mulai meninggi. Kami tak sadar. Setelah makan malam itu kami terlelap. Nyenyak sekali. Bangun kesiangan membuat momen sunrise hilang. Padahal momen saat matahari terbit itu menjadi dambaan para pendaki. Termasuk kami. Setelah bangun, kami mulai bersiap-siap. Memasak sarapan dengan bahan-bahan yang kami bawa dari […]

expand_less