Breaking News
light_mode

Jidhuran dan Kesederhanaan Beragama Ala Orang Desa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 15 Feb 2021
  • visibility 97

Sudah lebih dari lima tahun saya
vakum dari dunia “penerbangan” (baca: rebana). Kalau tidak salah ingat, terakhir
menabuh rebana waktu kelas tiga Madrasah Aliyah. Praktis, tangan saya sudah tak
lentur lagi menabuh dengan berbagai jenis gaya dan variasi.

Semalam, saya ikut Pak Mul, bapak
saya, Jidhuran. Tempatnya di Makam Mbah Surojoyo. Bagi kami, ia lah yang menjadi
cikal bakal kehidupan di Dukuh Kebok Kidul, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri.

Sederhananya, Jidhuran adalah nama
lain rebana klasik. Saya masih ingat betul, semasa kecil dulu, tiap malam Kamis
selalu ada Jidhuran di kampung. Bapak saya tak pernah absen. Sepekan sekali
Jidhuran digelar di rumah-rumah anggota yang jumlahnya hanya belasan. Secara
bergiliran.

Saya selalu menantikan giliran
bapak saya jadi tuan rumah. Berbeda dengan teman-teman sebaya, waktu itu saya
sangat tertarik untuk mengamati dan menikmati setiap tabuhan dan lantunan
shalawat dari mereka. Tanpa sadar, telapak tangan saya kerap menabuh lutut
sendiri mengikuti irama yang tersaji. Bahkan, saya hampir selalu mengikutinya
hingga selesai. Yang sering kali sampai dini hari.

Ingatan saya masih baik ketika
suatu malam, nenek saya bertutur “kue kudu iso terbangan, nang. Simbah-simbahmu
biyen ahli terbangan kabeh (baca: kamu harus bisa rebana, nak. Kakek-kakekmu
dulu ahli rebana semua).” Pitutur itu masuk ke telinga saya waktu masih duduk di
bangku Madrasah Ibtidaiyah.

Memang, kata orang-orang, simbah
buyut saya dulu ahli Jidhuran dan bahkan menjadi pentolan di setiap angkatan.
Keahlian itu nampaknya terwariskan kepada bapak saya dan saya sendiri -meskipun
saya cuma bisa sebisanya-. Saya dan bapak punya kemiripan dalam hal rebana,
yaitu sama-sama menguasai hampir semua tabuhan piranti rebana. Tapi ada satu
kesamaan yang cukup aneh, kami sama-sama tak berbakat jadi vokal. Mungkin Tuhan
sengaja membuat pita suara kami sama.

Dulu, grup Jidhuran bapak sering
diundang dalam hajatan-hajatan. Baik di kampung sendiri atau tetangga desa.
Seperti pernikahan atau khitanan. Bahkan, tak jarang ada orang yang sampai
bernadzar untuk menghadirkan grup Jidhuran itu saat punya hajatan.

Kembali ke Jidhuran malam tadi.
Karena sudah lima tahun lebih vakum, tangan saya jadi sedikit keram. Beruntung
saya masih sanggup menabuh sampai tiga judul shalawat. Perlu dicatat, Jidhuran
sangatlah berbeda dengan rebana-rebana modern. Saya juga cukup lama mempelajari
beberapa model rebana. Rebana modern salah satunya. Sekilas, tabuhan di
Jidhuran memang sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Ditambah lagi dengan ukuran
dan berat rebana yang jauh berbeda dengan rebana kekinian.

Bisa jadi, orang-orang sekarang
enggan mempelajari rebana klasik macam Jidhuran itu. Sebab, selain rumit,
Jidhuran terkesan kuno dan kampungan. Tentu berbeda dengan rebana kekinian yang
lebih hits dan digandrungi kawula muda.

Tadi malam saya menjadi yang paling
muda. Lainnya sudah sepuh. Sepanjang ingatan saya, mereka tak pernah berubah
sejak dulu. Setiap kali Jidhuran, mereka hanya mengenakan pakaian sopan
seadanya. Yang bahkan, tak jarang sarung atau baju mereka sudah lusuh dan
berlubang akibat terkena bara kretek.

Mereka tak memikirkan busana. Yang
penting bisa Jidhuran dan bershalawat. Kitab-kitabnya bahkan sudah lusuh dan
hampir rusak. Mereka tak peduli. Yang penting masih bisa dibaca. Toh, sebagian
besar kalimat-kalimat di kitab itu sudah berada di luar kepala mereka.

Saat melafalkan kalimat-kalimat
maulid pun, mereka tak fasih-fasih betul. Huruf “u”, misalnya, yang mestinya
harus dilafalkan “u”, terkadang bunyi yang keluar dari mulut mereka mirip
dengan huruf “o”. Dalam hal ini, saya sangat kagum. Dengan keterbatasan mereka
dalam melafalkan huruf-huruf Arab, mereka seperti tak mempedulikan apakah itu
salah atau benar. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kemurnian atas
esensi makna setiap kalimat. Kalaupun mereka tak sepenuhnya mengerti maknanya,
mereka yang dengan penuh semangat melafalkan pujian-pujian kepada Allah dan
Kanjeng Nabi Muhammad SAW, itu dengan kemurnian cinta.

Saya jadi semakin kagum dengan cara
para wali terdahulu -seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga- yang dengan penuh
cinta membersamai orang-orang kampung di Jawa untuk mencintai Islam.

Usai Jidhuran, mereka tak langsung
pulang. Kami mendengarkan pitutur-pitutur dari salah satu kiai kampung, yang
kebetulan Pak Dhe saya. Situasi itu sama sekali tak seperti kajian-kajian
agama. Antara kiai dan jama’ah saling ngobrol.

Jangan berpikiran mereka
mengobrolkan cara beragama orang lain, busana muslim-muslimah, trending topik
di media sosial, bisnis MLM, politik negara, atau Omnibus Law. Tidak! Mereka
hanya membicarakan hal-hal sederhana dari keseharian hidup. Seperti saling bertanya
kabar, keadaan tanaman dan sawah yang sedang digarap, atau membicarakan kondisi
piranti Jidhuran yang mulai usang. Bahkan, sebagai petani, mereka sama sekali
tak menyinggung kelangkaan atau naiknya harga pupuk. Mereka memang hebat.

Obrolan demi obrolan makin gayeng.
Saat makanan yang disuguhkan adalah pisang rebus dan kopi hitam hasil tumbukan
sendiri. Bisa jadi inilah yang membuat sebagian orang Islam kampung lebih
memilih berislam dengan cara “orang kota”. Tentu saja, kopi dan rebusan pisang
itu sangat tidak instagramabel untuk menunjukkan keislaman hari ini. Apalagi
busana mereka yang lusuh dan sudah berlubang. Ditambah tak ada obrolan tentang
hal-hal kekinian. Ah! Orang kampung memang begitu dari dulu…

Tapi, dengan masih adanya Jidhuran,
perkumpulan-perkumpulan orang Islam di kampung, dan tetap adanya kiai kampung,
kok, keyakinan saya bahwa agama dan bangsa ini masih akan tetap baik-baik saja.
Gitu.

Faqih Mansyur, penulis adalah alumni IAIN Kudus, penikmat kesenian dan kebudayaan lokal di Jepara, tulisan ini sebelumnya sudah
dimuat di facebook.  

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BRI Cabang Pati Salurkan Santunan untuk 80 Anak Yatim Piatu di Ponpes Al Hikam

    BRI Cabang Pati Salurkan Santunan untuk 80 Anak Yatim Piatu di Ponpes Al Hikam

    • calendar_month Sel, 29 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 109
    • 0Komentar

    PATI – Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pati menunjukkan komitmennya terhadap dunia pendidikan dengan menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim piatu di Pondok Pesantren (Ponpes) Yatim Dhuafa Al Hikam, Desa Puri, Kabupaten Pati. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian menyambut tahun ajaran baru. Ketua Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN Kantor Cabang Pati, Zaenal Mustofa, menjelaskan bahwa […]

  • Puslat 2001, Ancang-ancang Pati Bangun Tim Sepakbola Tangguh

    Puslat 2001, Ancang-ancang Pati Bangun Tim Sepakbola Tangguh

    • calendar_month Rab, 8 Mei 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Piala Soeratin U-17 Jawa Tengah tahun 2018 lalu, membawa angin segar bagi dunia pesepakbolaan di Kabupaten Pati. Raihan runner up alias nyaris juara Persipa Jr, membuat para tokoh bola di Bumi Mina Tani bertekad memajukan prestasi sepakbola di tanah kelahiran Ribut Waidi ini. Melalui pembinaan usia muda, geliat sepakbola coba dihidupkan dengan visi kedepan yang […]

  • DPRD Pati Soroti Peran Vital PMI dalam Penyediaan Stok Darah

    DPRD Pati Soroti Peran Vital PMI dalam Penyediaan Stok Darah

    • calendar_month Sel, 23 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 122
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati mengingatkan Palang Merah Indonesia (PMI) Pati tentang peran pentingnya dalam masyarakat, terutama dalam memastikan ketersediaan stok darah yang memadai. Wakil Ketua Komisi D DPRD Pati, Endah Sri Wahyuningati, menekankan perlunya peningkatan upaya PMI dalam menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah. Tujuannya adalah untuk […]

  • LDJ Ajari Pelajar NU Jati Tangkal Bahaya Radikalisme

    LDJ Ajari Pelajar NU Jati Tangkal Bahaya Radikalisme

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Dokumentasi PAC IPNU IPPNU Jati-Kudus Lingkar Muria, KUDUS – Dengan memiliki pemikiran yang kritis dan berimbang, peserta Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) IPNU dan IPPNU Jati diharapkan menjadi generasi yang anti radikalisme. Hal ini dikemukakan M. Farid dalam materi berita yang disampaikannya kemarin, di TPQ Al Qudsy Jetiskapuan. ”Kebanyakan, pemikiran radikal itu lahir dari propaganda media. […]

  • Netizen Kritik Keras Acara Pemecahan Rekor MURI Pemkab Jepara

    Netizen Kritik Keras Acara Pemecahan Rekor MURI Pemkab Jepara

    • calendar_month Sen, 13 Mei 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 83
    • 0Komentar

    JEPARA – Belakangan ini Pemerintah Kabupaten Jepara rajin menggelar acara pemecahan rekor MURI. Salah satu yang menjadi sorotan adalah acara pemecahan rekor MURI perempuan berkebaya minum kopi, yang digelar di kawasan Pantai Bandengan. Acara pemecahan rekor MURI yang digelar Minggu (12/5/2024) ini tampak sangat dipaksakan, bahkan terkesan kurang kreatif. Acara ini mendapat kritikan juga dari […]

  • Bupati Pati Sambut Ratusan Pemudik di Terminal

    Bupati Pati Sambut Ratusan Pemudik di Terminal

    • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Para pemudik tiba di terminal Pati PATI – Bupati Pati Haryanto bersama Wakil Bupati Saiful Arifin dan Forkopimda menyambut kedatangan para pemudik dari Jakarta yang tiba di Terminal Kembangjoyo Pati, Jumat (29/4/2022) dini hari. Total ada sebanyak 500 pemudik yang mengikuti program ini. Para pemudik ini merupakan perantau yang mengikuti program mudik gratis dari Pemerintah […]

expand_less