Breaking News
light_mode

Jidhuran dan Kesederhanaan Beragama Ala Orang Desa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 15 Feb 2021
  • visibility 270

Sudah lebih dari lima tahun saya
vakum dari dunia “penerbangan” (baca: rebana). Kalau tidak salah ingat, terakhir
menabuh rebana waktu kelas tiga Madrasah Aliyah. Praktis, tangan saya sudah tak
lentur lagi menabuh dengan berbagai jenis gaya dan variasi.

Semalam, saya ikut Pak Mul, bapak
saya, Jidhuran. Tempatnya di Makam Mbah Surojoyo. Bagi kami, ia lah yang menjadi
cikal bakal kehidupan di Dukuh Kebok Kidul, Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri.

Sederhananya, Jidhuran adalah nama
lain rebana klasik. Saya masih ingat betul, semasa kecil dulu, tiap malam Kamis
selalu ada Jidhuran di kampung. Bapak saya tak pernah absen. Sepekan sekali
Jidhuran digelar di rumah-rumah anggota yang jumlahnya hanya belasan. Secara
bergiliran.

Saya selalu menantikan giliran
bapak saya jadi tuan rumah. Berbeda dengan teman-teman sebaya, waktu itu saya
sangat tertarik untuk mengamati dan menikmati setiap tabuhan dan lantunan
shalawat dari mereka. Tanpa sadar, telapak tangan saya kerap menabuh lutut
sendiri mengikuti irama yang tersaji. Bahkan, saya hampir selalu mengikutinya
hingga selesai. Yang sering kali sampai dini hari.

Ingatan saya masih baik ketika
suatu malam, nenek saya bertutur “kue kudu iso terbangan, nang. Simbah-simbahmu
biyen ahli terbangan kabeh (baca: kamu harus bisa rebana, nak. Kakek-kakekmu
dulu ahli rebana semua).” Pitutur itu masuk ke telinga saya waktu masih duduk di
bangku Madrasah Ibtidaiyah.

Memang, kata orang-orang, simbah
buyut saya dulu ahli Jidhuran dan bahkan menjadi pentolan di setiap angkatan.
Keahlian itu nampaknya terwariskan kepada bapak saya dan saya sendiri -meskipun
saya cuma bisa sebisanya-. Saya dan bapak punya kemiripan dalam hal rebana,
yaitu sama-sama menguasai hampir semua tabuhan piranti rebana. Tapi ada satu
kesamaan yang cukup aneh, kami sama-sama tak berbakat jadi vokal. Mungkin Tuhan
sengaja membuat pita suara kami sama.

Dulu, grup Jidhuran bapak sering
diundang dalam hajatan-hajatan. Baik di kampung sendiri atau tetangga desa.
Seperti pernikahan atau khitanan. Bahkan, tak jarang ada orang yang sampai
bernadzar untuk menghadirkan grup Jidhuran itu saat punya hajatan.

Kembali ke Jidhuran malam tadi.
Karena sudah lima tahun lebih vakum, tangan saya jadi sedikit keram. Beruntung
saya masih sanggup menabuh sampai tiga judul shalawat. Perlu dicatat, Jidhuran
sangatlah berbeda dengan rebana-rebana modern. Saya juga cukup lama mempelajari
beberapa model rebana. Rebana modern salah satunya. Sekilas, tabuhan di
Jidhuran memang sederhana. Tapi sebenarnya rumit. Ditambah lagi dengan ukuran
dan berat rebana yang jauh berbeda dengan rebana kekinian.

Bisa jadi, orang-orang sekarang
enggan mempelajari rebana klasik macam Jidhuran itu. Sebab, selain rumit,
Jidhuran terkesan kuno dan kampungan. Tentu berbeda dengan rebana kekinian yang
lebih hits dan digandrungi kawula muda.

Tadi malam saya menjadi yang paling
muda. Lainnya sudah sepuh. Sepanjang ingatan saya, mereka tak pernah berubah
sejak dulu. Setiap kali Jidhuran, mereka hanya mengenakan pakaian sopan
seadanya. Yang bahkan, tak jarang sarung atau baju mereka sudah lusuh dan
berlubang akibat terkena bara kretek.

Mereka tak memikirkan busana. Yang
penting bisa Jidhuran dan bershalawat. Kitab-kitabnya bahkan sudah lusuh dan
hampir rusak. Mereka tak peduli. Yang penting masih bisa dibaca. Toh, sebagian
besar kalimat-kalimat di kitab itu sudah berada di luar kepala mereka.

Saat melafalkan kalimat-kalimat
maulid pun, mereka tak fasih-fasih betul. Huruf “u”, misalnya, yang mestinya
harus dilafalkan “u”, terkadang bunyi yang keluar dari mulut mereka mirip
dengan huruf “o”. Dalam hal ini, saya sangat kagum. Dengan keterbatasan mereka
dalam melafalkan huruf-huruf Arab, mereka seperti tak mempedulikan apakah itu
salah atau benar. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu kemurnian atas
esensi makna setiap kalimat. Kalaupun mereka tak sepenuhnya mengerti maknanya,
mereka yang dengan penuh semangat melafalkan pujian-pujian kepada Allah dan
Kanjeng Nabi Muhammad SAW, itu dengan kemurnian cinta.

Saya jadi semakin kagum dengan cara
para wali terdahulu -seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga- yang dengan penuh
cinta membersamai orang-orang kampung di Jawa untuk mencintai Islam.

Usai Jidhuran, mereka tak langsung
pulang. Kami mendengarkan pitutur-pitutur dari salah satu kiai kampung, yang
kebetulan Pak Dhe saya. Situasi itu sama sekali tak seperti kajian-kajian
agama. Antara kiai dan jama’ah saling ngobrol.

Jangan berpikiran mereka
mengobrolkan cara beragama orang lain, busana muslim-muslimah, trending topik
di media sosial, bisnis MLM, politik negara, atau Omnibus Law. Tidak! Mereka
hanya membicarakan hal-hal sederhana dari keseharian hidup. Seperti saling bertanya
kabar, keadaan tanaman dan sawah yang sedang digarap, atau membicarakan kondisi
piranti Jidhuran yang mulai usang. Bahkan, sebagai petani, mereka sama sekali
tak menyinggung kelangkaan atau naiknya harga pupuk. Mereka memang hebat.

Obrolan demi obrolan makin gayeng.
Saat makanan yang disuguhkan adalah pisang rebus dan kopi hitam hasil tumbukan
sendiri. Bisa jadi inilah yang membuat sebagian orang Islam kampung lebih
memilih berislam dengan cara “orang kota”. Tentu saja, kopi dan rebusan pisang
itu sangat tidak instagramabel untuk menunjukkan keislaman hari ini. Apalagi
busana mereka yang lusuh dan sudah berlubang. Ditambah tak ada obrolan tentang
hal-hal kekinian. Ah! Orang kampung memang begitu dari dulu…

Tapi, dengan masih adanya Jidhuran,
perkumpulan-perkumpulan orang Islam di kampung, dan tetap adanya kiai kampung,
kok, keyakinan saya bahwa agama dan bangsa ini masih akan tetap baik-baik saja.
Gitu.

Faqih Mansyur, penulis adalah alumni IAIN Kudus, penikmat kesenian dan kebudayaan lokal di Jepara, tulisan ini sebelumnya sudah
dimuat di facebook.  

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi C DPRD Pati Soroti Pembangunan Fisik yang Cepat Rusak, Minta Evaluasi Pengawasan Proyek

    Komisi C DPRD Pati Soroti Pembangunan Fisik yang Cepat Rusak, Minta Evaluasi Pengawasan Proyek

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 3.135
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Komisi C DPRD Kabupaten Pati menghadiri acara forum perangkat daerah yang diselenggarakan di kompleks kantor Bappeda Kabupaten Pati pada Rabu, (11/3/2025). Dalam kegiatan tersebut, pihak DPRD mengangkat sejumlah isu penting, salah satunya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur fisik di daerah. Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, menyoroti kondisi beberapa proyek pembangunan […]

  • Piala AFF 2018 Gunakan Sistem Kandang-Tandang

    Piala AFF 2018 Gunakan Sistem Kandang-Tandang

    • calendar_month Kam, 1 Nov 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 819
    • 0Komentar

    Pesta sepakbola paling akbar se jagat Asia Tenggara, Piala AFF bakal berbeda tahun ini. Selain meluncurkan logo baru, sistem kompetisinya juga berbeda. Piala AFF tahun ini menggunakan sistem kandang-tandang di babak penyisihan. Seperti diketahui, dalam gelaran terdahulu, babak penyisihan tiap grup selalu dilangsungkan di sebuah negara yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Setelahnya di babak semifinal […]

  • DPRD Kabupaten Pati Hadiri Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan TA 2025 oleh Menteri Dikdasmen

    DPRD Kabupaten Pati Hadiri Peresmian Revitalisasi Satuan Pendidikan TA 2025 oleh Menteri Dikdasmen

    • calendar_month Sen, 13 Apr 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 24.333
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati turut hadir dalam acara peresmian program revitalisasi satuan pendidikan yang dilaksanakan untuk Tahun Anggaran 2025. Kegiatan ini memiliki makna khusus karena dipimpin langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang hadir secara langsung di lokasi. Pada kesempatan tersebut, […]

  • Cari Menu Buka Sambil Nikmati Senja Pesawahan

    Cari Menu Buka Sambil Nikmati Senja Pesawahan

    • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Ibu-ibu berjualan aneka panganan untuk berbuka puasa Pasar Putat Selawe menawarkan menu berbuka puasa yang beragam. Di tempat ini pengunjung juga bakal disuguhi suasana senja yang syahdu di tengah pesawahan. Cocok untuk yang gabut menunggu waktu berbuka puasa  PATI – Pasar Putat Selawe menjadi primadona baru bagi masyarakat yang ingin membeli takjil dan menu buka […]

  • Jalan Panglima Sudirman Jadi Lokasi Uji Coba E-Parkir, DPRD Pati Berharap Mudahkan Pengguna

    Jalan Panglima Sudirman Jadi Lokasi Uji Coba E-Parkir, DPRD Pati Berharap Mudahkan Pengguna

    • calendar_month Sel, 31 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 3.936
    • 0Komentar

    PATI – Pemerintah Kabupaten Pati akan meluncurkan pilot project pembayaran parkir non tunai di 7 titik lokasi sepanjang Jalan Panglima Sudirman, bekerja sama dengan Bank Jateng melalui penerapan sistem QRIS. Program ini sejalan dengan amanat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional (Dalops) Dinas […]

  • Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    • calendar_month Rab, 14 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 297
    • 0Komentar

      Skuad Persipa Pati  Meskipun berstatus tim promosi, Persipa Pati layak diperhitungkan lebih. Semangat juang wani ngeyel bakal merepotkan lawan-lawannya. Termasuk Persijap Jepara yang akan bertamu pekan ini. Laga Derbi Muria ini bakal menyajikan pertandingan seru.  PATI – Persipa Pati dijagokan menjadi pemenang dalam pertandingan menghadapi Persijap Jepara yang bertajuk Derbi Muria pada Minggu (18/9/2022) […]

expand_less