Breaking News
light_mode

Tawuran, dan Cara Anak Mengisi Kebosanan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 30 Jul 2018
  • visibility 294

Akhir pekan, Sabtu (16/12) lalu Polres Pati menangkap setidaknya 25 anak
yang baru gede. Masih berseragam, mereka pelajar setingkat SMP. Para pelajar
yang semuanya laki-laki ini bergerombol di sebuah warung di dekat SPBU. Saat
diamankan, salah satu dari mereka kedapatan membawa satu buah clurit dan juga
regam.
Mereka hendak tawuran, namun sebelum pecah tawuran itu, gelagat mereka
sudah tercium aparat dan akhirnya mereka disikat, lalu diamankan ke Mapolres.
Guru dari sekolah bersangkutan diundang. Begitu pula para orang tua pelajar
belia itu.
Belakangan, kabar dari beberapa kawan intelijen, terindikasi pelajar di
beberapa sekolahan memang hendak menggelar hajat tawuran. Cerita yang
berkembang, sejak lama beberapa sekolahan memang pelajarnya kerap baku hantam. Aksi
tawuran boleh dikatakan sebagai aksi turun temurun, warisan dari kakak kelas
mereka bertahun-tahun. Ironis.
Gambaran singkatnya, kelas 3 tawuran dengan sekolah lain, adik kelas
diajak. Kemudian kesempatan lain ada tawuran, adik kelasnya diajak lagi. Jadi
ada semacam regenerasi dalam dinamika tawuran pelajar yang terjadi. Dengan
begitu, satu sekolah dengan sekolah lain punya sisi emosional saling balas yang
kuat sekali di kalangan siswanya. 
Melihat hal itu, saya jadi teringat apa yang dikatakan Jean Piget,
psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori perkembangan kognitif. Kaum muda
termasuk para pelajar, termasuk dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought).
Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai
alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari. ”Kini, ia makin menyadari
keberadaan masalah-masalah disekelilingnya. Salah satunya, bagaimana
membuktikan kesetiakawanan.”
Nah sisi kesetiakawan yang keliru itulah yang banyak terjadi, saat
terjadi gesekan yang berujung pada aksi tawuran. Konsekuensi logis sesuai
perkembangan kognitifnya itu mengatakan, supaya ia mengikuti segala aturan
kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah
salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah untuk anak susia mereka.
Itu dari segi internal psikologi para pelajar muda. Sedangkan masih ada
beberapa faktor, yang mana faktor itu cukup penting diperhatikan. Selama ini
yang sering terjadi tawuran merupakan pelajar dalam tanda kutip, sekolahnya
yang kurang kegiatan, atau ada kegiatan tapi kurang menarik bagi siswanya. Hal
ini dibenarkan salah satu polisi saat saya tanyakan tentang faktor dari sekolah
itu sendiri.
”Para pelajar yang suka tawur ini, memang dari sekolahan yang kurang kegiatan,”
katanya singkat. Hal ini bisa jadi benar, sebab rata-rata usai sekolah para
pelajar yang sering terlibat tawuran ini menghabiskan waktu kongkow-kongkow
dengan temannya, begitupun saat ditangkap, mereka sedang kongkow di sebuah
warung.
Saat bergerombol kepercayaan diri akan meningkat, dan menyulut untuk baku
hantam sangat mudah sekali.
Melihat fenomena ini, tentu pihak sekolah mesti berbenah. Sebagai
penyedia jasa pendidikan, dan berkewajiban mendidik siswanya, tentu harus ikut
bertanggung jawab meminimalisir terjadinya aksi tawuran ini.
Bisa jadi tiap sekolahan pasti punya kegiatan diluar jam pelajaran.
Biasanya ada ekstrakurikuler, tapi entah sebagaimana pengalaman saya sekolah
dulu, tak jarang ektrakurikuler hanya kegiatan rutinitas membosankan. Hingga
banyak anak yang memilih kabur, dan bermain di luar sekolah hingga aktivitasnya
tak terkontrol, lalu pada akhirnya terlibat aksi tawuran antar pelajar.
Memang banyak faktor, tapi saya rasa faktor kegiatan di sekolahan memang
harus digalakkan. Guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai tempat yang
menyenangkan. Kegiatan-kegiatan di luar pelajaran mesti dibuat sevariatif
mungkin, agar anak kerasan berkegiatan di sekolah. Baik itu kegiatan olahraga
maupun seni.
Kembali soal aksi tawuran, hal itu tak serta merta anak yang mesti
disalahkan, kita juga patut berbenah diri. Polisi, guru, terlebih orang tua itu
sendiri. Jika dilihat dari beberapa hal yang telah terjadi, tawuran pelajar
menurut saya memang cara terbaik anak mengisi kebosanan. Sebab di sekolahan
guru belum menyediakan ruang yang menyenangkan bagi mereka. Tak salah mereka
mengaktualisasikan diri unjuk kebolehan adu jotos di arena bebas. Begitu. (Achmad Ulil Albab)

Artikel ini pernah dimuat di harian “Tribun Jateng” versi cetak   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dilirik Hotman Paris, Pengacara Muda Asal Pati Pilih Pulang dan Matangkan Diri di Daerah

    Dilirik Hotman Paris, Pengacara Muda Asal Pati Pilih Pulang dan Matangkan Diri di Daerah

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 99.842
    • 0Komentar

    PATI – Keberhasilan dan cara kerja Siti Halimah di dunia hukum ternyata menarik perhatian salah satu pengacara paling ternama di Indonesia, Hotman Paris Hutapea. Perempuan yang akrab disapa Mbak Kalim ini mengaku sering berpapasan dan berinteraksi dengan Hotman saat pengacara kondang itu menangani perkara di pengadilan Semarang. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Kalim akhirnya mendapatkan tawaran istimewa […]

  • Ngaji Bareng 5 Pilar Jaga Kerukunan dan Kedamaian di Tahunan Jepara

    Ngaji Bareng 5 Pilar Jaga Kerukunan dan Kedamaian di Tahunan Jepara

    • calendar_month Rab, 29 Mar 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Ngaji bareng 5 pilar di Kecamatan Tahunan Jepara  JEPARA – Kegiatan Ngaji Bareng 5 Pilar digelar di mushola kantor Kecamatan Tahunan, (29/3/2023) siang usai Salat Duhur. Ngaji dipimpin oleh Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Tahunan Jepara KH. Ali Masykur. Dalam kesempatan itu pihaknya mengajak bersama-sama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian. […]

  • Mendes PDTT Luncurkan Inisiatif “Menteri Desa Cup” di Gelora Soekarno Mojoagung: Dorongan untuk Pariwisata Olahraga Desa

    Mendes PDTT Luncurkan Inisiatif “Menteri Desa Cup” di Gelora Soekarno Mojoagung: Dorongan untuk Pariwisata Olahraga Desa

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 258
    • 0Komentar

    PATI – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Yandri Susanto, mengunjungi Kabupaten Pati pada Kamis (24/7/2025). Salah satu kunjungannya adalah ke Gelora Soekarno Mojoagung, di mana ia didampingi langsung oleh Bupati Pati, Sudewo. Dalam kunjungan tersebut, Mendes PDTT berencana akan menginisiasi penyelenggaraan “Menteri Desa Cup” di stadion tersebut. “Alhamdulillah, sebagai Menteri Desa, […]

  • Potensi Krisis Pangan, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan

    Potensi Krisis Pangan, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Ketahanan Pangan

    • calendar_month Kam, 19 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 280
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati, Narso, mengungkapkan keprihatinan terkait potensi krisis pangan yang mengancam di masa depan. Ia mendesak Pemkab Pati untuk segera merumuskan strategi khusus guna mengantisipasi ancaman tersebut. “Kita harus proaktif menghadapi potensi krisis pangan. Indonesia, termasuk Pati, memiliki potensi keanekaragaman pangan lokal yang melimpah. Ini adalah modal kita untuk mengatasi masalah ini,” […]

  • Persiku Kudus Naik Kasta ke Liga 2, Bebas dari Ejekan Tim Liga 3 Abadi

    Persiku Kudus Naik Kasta ke Liga 2, Bebas dari Ejekan Tim Liga 3 Abadi

    • calendar_month Ming, 2 Jun 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 288
    • 0Komentar

    OLAHRAGA – Persiku Kudus berhasil promosi ke Liga 2. Sebelumnya banyak yang meragukan Persiku Kudus akan melaju sejauh ini di kompetisi Liga 3. Kepastian promosi ke Liga 2 membuat Persiku Kudus akan lepas dari ejekan sebagai tim Liga 3 abadi. Kini Persiku Kudus sudah sejajar dengan dua klub tetangga, Persijap Jepara dan Persipa Pati. Liga […]

  • Edy Wuryanto: MBG Harus Berdampak Ekonomi, Manfaatnya Wajib Dirasakan Petani dan UMKM

    Edy Wuryanto: MBG Harus Berdampak Ekonomi, Manfaatnya Wajib Dirasakan Petani dan UMKM

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 99.810
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menyambut baik langkah pembenahan tata kelola dan sistem pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan baru Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia menegaskan perbaikan tidak boleh hanya berhenti pada aspek administrasi atau pengawasan semata. Menurutnya, penataan sistem rantai pasok menjadi hal […]

expand_less