Breaking News
light_mode

Tawuran, dan Cara Anak Mengisi Kebosanan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 30 Jul 2018
  • visibility 296

Akhir pekan, Sabtu (16/12) lalu Polres Pati menangkap setidaknya 25 anak
yang baru gede. Masih berseragam, mereka pelajar setingkat SMP. Para pelajar
yang semuanya laki-laki ini bergerombol di sebuah warung di dekat SPBU. Saat
diamankan, salah satu dari mereka kedapatan membawa satu buah clurit dan juga
regam.
Mereka hendak tawuran, namun sebelum pecah tawuran itu, gelagat mereka
sudah tercium aparat dan akhirnya mereka disikat, lalu diamankan ke Mapolres.
Guru dari sekolah bersangkutan diundang. Begitu pula para orang tua pelajar
belia itu.
Belakangan, kabar dari beberapa kawan intelijen, terindikasi pelajar di
beberapa sekolahan memang hendak menggelar hajat tawuran. Cerita yang
berkembang, sejak lama beberapa sekolahan memang pelajarnya kerap baku hantam. Aksi
tawuran boleh dikatakan sebagai aksi turun temurun, warisan dari kakak kelas
mereka bertahun-tahun. Ironis.
Gambaran singkatnya, kelas 3 tawuran dengan sekolah lain, adik kelas
diajak. Kemudian kesempatan lain ada tawuran, adik kelasnya diajak lagi. Jadi
ada semacam regenerasi dalam dinamika tawuran pelajar yang terjadi. Dengan
begitu, satu sekolah dengan sekolah lain punya sisi emosional saling balas yang
kuat sekali di kalangan siswanya. 
Melihat hal itu, saya jadi teringat apa yang dikatakan Jean Piget,
psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori perkembangan kognitif. Kaum muda
termasuk para pelajar, termasuk dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought).
Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai
alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari. ”Kini, ia makin menyadari
keberadaan masalah-masalah disekelilingnya. Salah satunya, bagaimana
membuktikan kesetiakawanan.”
Nah sisi kesetiakawan yang keliru itulah yang banyak terjadi, saat
terjadi gesekan yang berujung pada aksi tawuran. Konsekuensi logis sesuai
perkembangan kognitifnya itu mengatakan, supaya ia mengikuti segala aturan
kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah
salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah untuk anak susia mereka.
Itu dari segi internal psikologi para pelajar muda. Sedangkan masih ada
beberapa faktor, yang mana faktor itu cukup penting diperhatikan. Selama ini
yang sering terjadi tawuran merupakan pelajar dalam tanda kutip, sekolahnya
yang kurang kegiatan, atau ada kegiatan tapi kurang menarik bagi siswanya. Hal
ini dibenarkan salah satu polisi saat saya tanyakan tentang faktor dari sekolah
itu sendiri.
”Para pelajar yang suka tawur ini, memang dari sekolahan yang kurang kegiatan,”
katanya singkat. Hal ini bisa jadi benar, sebab rata-rata usai sekolah para
pelajar yang sering terlibat tawuran ini menghabiskan waktu kongkow-kongkow
dengan temannya, begitupun saat ditangkap, mereka sedang kongkow di sebuah
warung.
Saat bergerombol kepercayaan diri akan meningkat, dan menyulut untuk baku
hantam sangat mudah sekali.
Melihat fenomena ini, tentu pihak sekolah mesti berbenah. Sebagai
penyedia jasa pendidikan, dan berkewajiban mendidik siswanya, tentu harus ikut
bertanggung jawab meminimalisir terjadinya aksi tawuran ini.
Bisa jadi tiap sekolahan pasti punya kegiatan diluar jam pelajaran.
Biasanya ada ekstrakurikuler, tapi entah sebagaimana pengalaman saya sekolah
dulu, tak jarang ektrakurikuler hanya kegiatan rutinitas membosankan. Hingga
banyak anak yang memilih kabur, dan bermain di luar sekolah hingga aktivitasnya
tak terkontrol, lalu pada akhirnya terlibat aksi tawuran antar pelajar.
Memang banyak faktor, tapi saya rasa faktor kegiatan di sekolahan memang
harus digalakkan. Guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai tempat yang
menyenangkan. Kegiatan-kegiatan di luar pelajaran mesti dibuat sevariatif
mungkin, agar anak kerasan berkegiatan di sekolah. Baik itu kegiatan olahraga
maupun seni.
Kembali soal aksi tawuran, hal itu tak serta merta anak yang mesti
disalahkan, kita juga patut berbenah diri. Polisi, guru, terlebih orang tua itu
sendiri. Jika dilihat dari beberapa hal yang telah terjadi, tawuran pelajar
menurut saya memang cara terbaik anak mengisi kebosanan. Sebab di sekolahan
guru belum menyediakan ruang yang menyenangkan bagi mereka. Tak salah mereka
mengaktualisasikan diri unjuk kebolehan adu jotos di arena bebas. Begitu. (Achmad Ulil Albab)

Artikel ini pernah dimuat di harian “Tribun Jateng” versi cetak   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Revisi Perda RTRW di Pati, Zona Hijau Harga Mati

    Revisi Perda RTRW di Pati, Zona Hijau Harga Mati

    • calendar_month Kam, 1 Mar 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Lingkar Muria, PATI  – Peraturan daerah (perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati akan memasuki revisi. Hal ini melihat waktunya yang sudah lima tahun. Perda RTRW perlu direvisi sebab dalam kurun waktu itu bisa saja terjadi perubahan atas kondisi geografis yang ada. Hal itu dikatakan Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati Awi.   ”Perda Nomor […]

  • DPRD Kabupaten Pati Godok Raperda Cagar Budaya untuk Lindungi Warisan Sejarah

    DPRD Kabupaten Pati Godok Raperda Cagar Budaya untuk Lindungi Warisan Sejarah

    • calendar_month Jum, 14 Jun 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 355
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati tengah menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Cagar Budaya dengan tujuan utama melindungi obyek cagar budaya yang tersebar luas di wilayah Kabupaten Pati. Dalam upaya ini, partisipasi masyarakat sangat diharapkan untuk memberikan masukan yang akan menjadi pertimbangan penting dalam pembahasan Raperda tersebut. Ketua Komisi D DPRD […]

  • Selamatkan Lahan Kritis Pohon Alpukat Bisa Jadi Solusinya

    Selamatkan Lahan Kritis Pohon Alpukat Bisa Jadi Solusinya

    • calendar_month Sab, 26 Nov 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 357
    • 0Komentar

    Ilustrasi bibit pohon alpukat yang memiliki nilai ekonomis sekaligus nilai ekologis Lahan kritis perlu mendapat penanganan agar tidak menjadi pemicu bencana alam seperti banjir terjadi. Caranya adalah menanam pohon. Salah satu pohon yang direkomendasikan adalah alpukat yang memiliki nilai ekonomis sekaligus nilai ekologis. PATI – Masyarakat didorong untuk ikut serta memelihara lahan kritis di lingkungannya, […]

  • DPRD Pati Pastikan Bantuan Pengeboran Air Bersih untuk Puskesmas Tlogowungu

    DPRD Pati Pastikan Bantuan Pengeboran Air Bersih untuk Puskesmas Tlogowungu

    • calendar_month Sab, 14 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 298
    • 0Komentar

    PATI – Pemerintah Kabupaten Pati memastikan akan memberikan bantuan pengeboran air bersih kepada Puskesmas Tlogowungu. Bantuan ini akan direalisasikan melalui perubahan anggaran tahun ini, demikian disampaikan Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Teguh Bandang Waluyo, setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Puskesmas Tlogowungu, Sabtu (14/6/2025). Bandang, yang juga anggota Fraksi PDI Perjuangan, menekankan pentingnya program […]

  • Atik Kusdarwati Jadi Narasumber Sosialisasi Wawasan Kebangsaan MPR RI di Pati

    Atik Kusdarwati Jadi Narasumber Sosialisasi Wawasan Kebangsaan MPR RI di Pati

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.303
    • 0Komentar

    PATI — Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pati, Atik Kusdarwati Sudewo, hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan MPR RI yang digelar di Hotel New Merdeka, Minggu (14/12/2025). Kegiatan tersebut diikuti oleh ibu-ibu dari berbagai unsur lintas komunitas di Kabupaten Pati dan berlangsung dengan tertib serta lancar. Dalam kegiatan itu, Atik menyampaikan bahwa kehadirannya […]

  • Pelajar NU Tlogowungu Bagi Masker untuk Bakul Pasar

    Pelajar NU Tlogowungu Bagi Masker untuk Bakul Pasar

    • calendar_month Rab, 30 Sep 2020
    • account_circle Redaksi
    • visibility 276
    • 0Komentar

      PATI – Melangkah penuh semangat, puluhan pelajar Nahdlatul Ulama di Kecamatan Tlogowungu membagikan masker gratis untuk masyarakat sekitar. Pembagian masker dipusatkan di area Pasar Tlogorejo dan Pasar Desa Lahar. Kegiatan berbagi masker ini juga dibantu juga oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) UIN Walisongo Semarang. Pembagian masker yang diselenggarakan oleh pelajar NU […]

expand_less