Breaking News
light_mode

Sedekah Bumi dan Tradisi Menghormati Air Sendang Pengilon Dukuh Ngrangit Patiayam

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Ming, 28 Jul 2019
  • visibility 298

Guyub rukun sedekah bumi di Sendang Pengilon , Dukuh Ngragit, Terban, Kudus
Foto-foto Imam Khanafi 

Siang yang terik, Mbah Paijan khusyuk
merapal doa-doa di Sendang Pengilon (27/7/2019). Orang-orang di Dukuh Ngrangit, Terban di kawasan Perbukitan Patiayam Kudus itu sedang punya
gawe. Sedekah bumi. Yang dipusatkan di sendang yang menjadi sumber
air bagi 200 kepala keluarga di dukuh tersebut selama bertahun-tahun.

Warga berkerumun di sekitar sendang
tersebut. Mereka membawa jubungan (wadah dari bambu yang dirangkai mirip keranjang, Red) dengan isi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Menempuh
jarak sejauh lima kilometer tak jadi masalah. Orang-orang lantas duduk rapi,
sambil menunggu komando makan bersama dimulai. Tentu setelah Mbah Paijan,
sesepuh dukuh tersebut selesai merapal doa.

”Ini ritual kami setahun sekali. Dari
Sendang Pengilon inilah warga Dukuh Ngrangit yang berjumlah sekitar 200 kepala
keluarga mengantungkan air dari sumber alam ini,” kata Mustaqim, salah satu
warga Dukuh Ngrangit yang mengikuti ritual tersebut.

Sedekah bumi di Dukuh Ngrangit
bermakna tidak hanya sebagai wujud syukur atas keselamatan sekaligus kelimpahan
rezeki dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara khusus, ritual ini menjadi wujud penghormatan
atas air yang berlimpah di tengah musim kemarau yang ganas.

Antusias warga mengikuti sedekah bumi

Warga Dukuh Ngrangit, kata
Mustaqim, awalnya tinggal di sekitar sendang. ”Dulu hidupnya di sekitar sendang
ini, tapi sejak longsor 2001 dan 2004 warga akhirnya mendapat ganti rugi dan
permintaan untuk pindah disetujui pemerintah. Akhirnya sekarang berada di Dukuh
Ngrangit Baru, yang jaraknya kurang lebih lima kilometer dari Dukuh Ngrangit
lama. Meski begitu, air masih deras mengalir hingga ke pemukiman warga di
tempat baru,” terang Mustaqim.

Ritual sedekah bumi di dukuh ini
tealah berlangsung lama. Tak ada catatan tertulis sejak kapan dimulainya. Dari cerita
Mbah Paijan, dia sudah mengikuti ritual itu sejak kecil tiap bula Apit dalam
kalender Jawa.

Eko Nurul Huda, salah satu panitia
sedekah bumi Dukuh Ngrangit menjelaskan, bagi masyarakat Ngrangit acara ini
sangat penting. Karena sumber mata air dari Sendang Pengilon sampai sekarang
menghidupi warga Ngrangit. “Ini sebagai ungkapan syukur kami sebagai warga, karena
air masih mengalir di hari-hari dengan cuaca yang panas ini,” katanya.

Menurut Eko, sedakah bumi di
Sendang Pengilon mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional
sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu akar budaya masyarakat yang tidak
akan mampu untuk dipisahkan dari alam dan leluhurnya.

“Buktinya masyarakat bergotong-royong
bersih sendang. Sehari sebelum acara di mulai dan iuran agar terlaksana acara
ini,” tambahnya.

Tayub melengkapi tradisi sedekah bumi di Sendang Pengilon

Acara khas dari sedekah bumi
Sendang Pengilon ini adalah Tayub. Tayub yang ada di sedekah bumi Sendang
Pengilon berbeda dengan lainnya.  Alat
yang dibawa sangat sederhana, yang penting menghasilkan gending yang bisa buat ngibing atau joget tayub yang khas.
“Selain itu, tayub cuma sebentar. Hanya lima tembang saja yang dimainkan. Yang
berjoget juga hanya beberapa warga,” tambahnya.

Tayub digelar setelah warga
bersama-sama menyantap makanan dalam jubungan yang dibawa dari rumah masing-masing.
Setalah makan, baru acaranya senang-senang atau tayub, dan setelah itu warga
bersama-sama kembali ke Dukuh Ngrangit Baru. Melanjutkan pesta sedekah bumi
yang masih terus berlanjut.

“Kalau dulu, sebelum 2004, sebelum
pindah, acara di sendang dilanjutkan tayub sampai semalam suntuk di rumah bayan
atau kepala dusun setempat,” jelasnya.

Berbeda dengan dulu, kini warga mengganti
dengan acara pentas ketoprak di Dukuh Ngrangit Baru, dan semua warga malamnya
akan nonton ketoprak. “Selain hormat air yang berlimpah dari Sendang Pengilon,
acara demi acara juga ungkapan syukur kami atas semua nikmat rezeki,” jelas Eko.
(Imam Khanafi/alb)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bek Persijap Jepara Diogo Brito membayangi pemain Madura United. (DOK MADURA UNITED)

    Takluk 2-1 dari Madura United, Persijap Jepara Catatkan Kekalahan 6 Kali Beruntun

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 771
    • 0Komentar

    MADURA – Persijap Jepara belum mampu bangkit dari kekalahan di ajang Super League musim 2025/2026. Total Laskar Kalinyamat menelan kekalahan kali ketujuh. Kekalahan atas Madura United 2-1 menjadi kekalahan ke-6 secara beruntun. Padahal para pemain Persijap sudah bermain bagus, sempat unggul pada menit ke-2 melalui skema serangan balik cepat. Gol Persijap dicetak oleh Indra Arya […]

  • Ikon Kota Pati yang berada di kawasan alun-alun.

    Daftar 7 Kelebihan Kota Pati yang Pastinya Membuat Netizen Takjub

    • calendar_month Jum, 16 Agu 2024
    • account_circle Arif Mohamad
    • visibility 1.348
    • 0Komentar

      PATI – Kota Pati, terletak di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini memiliki 7 kelebihan yang bisa membuat netizen takjub. Kota Pati dikenal memiliki sejumlah keunikan yang menjadikannya menarik untuk dikunjungi. Memang diakui kota Pati belum seterkenal kota-kota besar lainnya di Jawa Tengah seperti Semarang, Solo, Kudus dan Jepara. Namun Kota Pati menawarkan pesona tersendiri […]

  • Selalu Rindu pada Rejenu

    Selalu Rindu pada Rejenu

    • calendar_month Rab, 30 Okt 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Air lima rasa  Saya selalu rindu dengan Rejenu. Burung-burung yang berkicau. Pepohanan hijau. Dan hawa sejuknya di pagi hari. Tempat yang tepat untuk menyepi. Dari riuh rutinitas dunia modern kini. Kira-kira begitu. Malam Jumat lalu (24/10), saya bersama beberapa teman, menembus gelap jalanan Desa Japan Kecamatan Dawe, Kudus. Jalanan menanjak. Tikungan dan turunan kami lalui. […]

  • PHK Massal RSUD RAA Soewondo Jadi Sorotan Pansus DPRD Pati, Pengawas Dipanggil!

    PHK Massal RSUD RAA Soewondo Jadi Sorotan Pansus DPRD Pati, Pengawas Dipanggil!

    • calendar_month Sab, 30 Agu 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 261
    • 0Komentar

    PATI – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 220 pegawai RSUD RAA Soewondo Pati memicu reaksi keras dari DPRD setempat. Pansus Hak Angket DPRD Pati menjadwalkan pemanggilan terhadap Pengawas RSUD untuk dimintai keterangan terkait kebijakan kontroversial ini. “PHK massal ini menimbulkan pertanyaan besar. Di satu sisi, rumah sakit melakukan PHK, namun di sisi lain beredar […]

  • LAZISNU PCNU Pati Berkontribusi Nyata, Chandra: Sinergi Kunci Selesaikan Masalah Sosial

    LAZISNU PCNU Pati Berkontribusi Nyata, Chandra: Sinergi Kunci Selesaikan Masalah Sosial

    • calendar_month Ming, 9 Agu 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 101.505
    • 0Komentar

    PATI — Plt. (Pelaksana Tugas) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, memberikan apresiasi yang tinggi atas peran nyata LAZISNU PCNU Kabupaten Pati dalam menangani berbagai persoalan sosial serta memberdayakan ekonomi masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui pengelolaan dana yang dikelola secara transparan dan akuntabel. Penghargaan itu disampaikan Chandra saat menerima Laporan Semester 1 LAZISNU PCNU Kabupaten Pati […]

  • Laskar Lereng Muria Bersama Relawan dan Forkopimcam Undaan Hijaukan Bukit Sendoyo dengan 200 Bibit Pohon

    Laskar Lereng Muria Bersama Relawan dan Forkopimcam Undaan Hijaukan Bukit Sendoyo dengan 200 Bibit Pohon

    • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 2.371
    • 0Komentar

    KUDUS – Semangat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan swasta terlihat dalam kegiatan penghijauan di Bukit Sendoyo, Pegunungan Kendeng, Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Selasa (17/2/2026). Kegiatan ini diinisiasi Laskar Lereng Muria bersama Relawan Kencana Undaan dengan melibatkan Camat Undaan, TNI, dan Polri. Sebanyak 200 bibit pohon buah ditanam, terdiri dari sukun, alpukat, pete, jambu, […]

expand_less