Breaking News
light_mode

Membedah Kearifan Lokal untuk Menjaga Lingkungan Muria

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 24 Jan 2023
  • visibility 218
Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

Acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus digelar, sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Khususnya di wilayah Pegunungan Muria. Salah satunya adalah mendorong kearifan lokal masyarakat sekitar menjadi ujung tombak kelestarian alam.

KUDUS – Bicara soal menjaga lingkungan, masyarakat sudah sepatutnya menjadi ujung tombak. Kearifan lokal dan tradisi tutur yang telah ada harus dijaga supaya tercipta keseimbangan antara kepentingan sosial, budaya dan lingkungan. Penguatan pendidikan mitigasi bencana, kepekaan generasi muda terhadap sekitarnya pun bisa ditularkan melalui pendekatan berbasis budaya, utamanya folklore.

Selain upaya kultural, penjagaan lingkungan juga membutuhkan pendekatan struktural. Kesadaran lingkungan hanya akan muncul ketika ada komunikasi aktif antar pemangku kebijakan. Demikian itu mengemuka dalam acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Sabtu (21/01/23) malam.

Bertema “Rasan, Reksa, Resan” berlangsung cukup gayeng dengan obrolan yang saling bersahutan antara narasumber dan peserta. Awalnya, pendiri Kampoeng Agroedukasi Muria, Muhammad Nurul Hakim, memantik diskusi malam itu dengan keresahan akan mulai hilangnya beberapa Resan (pohon-pohon besar) yang dalam kultur jawa sering disebut “Bregat”.

Drs. Agus Susanto kemudian memaparkan beberapa klu terkait pendekatan struktural dan kultural dalam menjaga ekologi lingkungan. Menurut pemerhati sejarah dan budaya itu, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.

“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi Muria seperti semula,” kata pria yang kini menjabat sebagai Camat Jekulo tersebut.

Seperti bencana alam yang seringkali terjadi di Kudus, kata Agus, itu karena komunikasi antar pemangku kebijakan belum klik. “Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemu solusi misalnya, itu kalau tidak ada orang Perhutani tetap akan sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” katanya.

Selanjutnya, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kabupaten Kudus yang rawan bencana alam. Oleh karena itu, pihaknya sangat mendorong kepada masyarakat setempat untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Kemandirian masyarakat, lanjut ia, menjadi penting. Pasalnya, masyarakat melalui kearifan lokal yang sudah dibangun itu, perlu dirawat secara terus menerus. Masyarakat juga harus sadar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana yang mengancam.

“Yang menarik di sini, masyarakat sudah punya kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal, seperti tradisi barikan, sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme masyarakat,” kata dia.

Di lain sisi, penulis dan pemerhati lingkungan Fawaz Al-Batawi menilai ikatan sosial dan ikatan adat tradisional yang dibentuk masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai faktor penguat untuk melindungi kelestarian lingkungan. Setidaknya, merekalah yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda mau ada bencana atau tanda kerusakan alam. Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak.

“Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” ungkap penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.

Usaha, Tani, Lestari

Fawaz kemudian berbagi pengalamannya dalam memberdayakan masyarakat di kawasan Muria. Ia menawarkan tiga upaya yang bisa diupayakan untuk menciptakan kesejahteraan bersama nan seimbang. Tiga faktor tersebut, kata Fawaz, diantaranya ialah usaha, tani, dan lestari.

Menurut Fawaz, sesering apapun aktivis lingkungan menyerukan bahaya kerusakan lingkungan, kalau perut masyarakat kosong tetap tidak berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Maka, dunia usaha bagi masyarakat sekitar lereng itu harus aktif dulu. Pendekatannya bisa dengan cara memberikan mereka bibit tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti alpukat, jeruk pamelo, kopi dan lainnya.

“Usaha itu faktor ekonomi, tani itu konteks sosialnya. Keduanya harus diperhatikan dan saling dikaitkan. Sehingga jika dua itu sudah selesai maka poin ketiga yakni lestari akan terwujud dengan sendirinya sebagai dampak positif,” terang staf Bakti Lingkungan Djarum Foundation itu. (ars)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rayakan Valentin dengan Kearifan Lokal, Sajikan Nasi Goreng Bumbu Spesial Kasih Sayang

    Rayakan Valentin dengan Kearifan Lokal, Sajikan Nasi Goreng Bumbu Spesial Kasih Sayang

    • calendar_month Kam, 14 Feb 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Kencan valentin  Jika biasanya valentin identik dengan coklat, sebuah kafe di Kota Pati memilih jalan lain. Menyambut hari yang disebut kasih sayang itu, mereka menyuguhkan menu spesial kuliner lokal. Nasi goreng berbentuk love dengan warna merah muda disiapkan untuk melengkapi perayaan cinta muda-mudi. Namanya nasi goreng kasih sayang. Bangku-bangku di Kafe Up 2 Date di […]

  • Membaca Kecerdasan Sang Idiot, Kisah Pertetitrahan Kyai Sandal Jepit

    Membaca Kecerdasan Sang Idiot, Kisah Pertetitrahan Kyai Sandal Jepit

    • calendar_month Kam, 12 Jan 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Sampul buku Kecerdasan Sang Idiot             Kyai Sandal Jepit adalah patron yang saya usung dalam buku-buku kisah hikmah. Pada awalnya, kisah Kyai Sandal Jepit diterbitkan oleh Narasi, Yogyakarta. Disebabkan best seller, maka kisah Kyai Sandal Jepit kemudian dilanjut di buku yang kedua dan diterbitkan oleh penerbit yang sama.             Sekitaran sepuluh tahun berikutnya kisah Kyai […]

  • Sedih Ribuan Honorer K2 di Pati Tak Bisa Ikut CPNS karena Ini

    Sedih Ribuan Honorer K2 di Pati Tak Bisa Ikut CPNS karena Ini

    • calendar_month Kam, 1 Nov 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Ribuan guru honorer K2 dari seluruh Indonesia melakukan aksi di Jakarta PATI – Ribuan honorer K2 di Kabupaten Pati harus gigit jari. Batasan usia 35 tahun pada persyaratan seleksi CPNS memupuskan harapan mereka untuk menjadi PNS. Hasilnya, dari 1.156 tenaga honorer K2 Pati, yang dapat mengikuti seleksi CPNS hanya 52. Untuk itu puluhan perwakilannya bertolak […]

  • Ketua DPRD Pati: Pimpinan dan Fraksi DPRD Pati Dukung Penuh Upaya Pencegahan Korupsi

    Ketua DPRD Pati: Pimpinan dan Fraksi DPRD Pati Dukung Penuh Upaya Pencegahan Korupsi

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 24.402
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Ali Badrudin, menegaskan komitmen kuat lembaganya dalam mendukung upaya pencegahan tindak pidana korupsi. Hal ini disampaikannya usai mengikuti kegiatan sosialisasi yang digelar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ali menyampaikan bahwa seluruh unsur pimpinan, ketua fraksi, dan ketua komisi memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, […]

  • Jelang 2024 Bupati Pati Haryanto Digoda Jadi Caleg PPP

    Jelang 2024 Bupati Pati Haryanto Digoda Jadi Caleg PPP

    • calendar_month Kam, 9 Jun 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 222
    • 0Komentar

      Bupati Haryanto hadir dan ikut membuka Muskercab PPP Pati Haryanto bakal mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Pati pada bulan Agustus tahun 2021 ini. Kini pria yang sudah dua kali jadi bupati itu mulai digoda partai politik untuk menjadi caleg pada pemilu 2024. PATI – Bupati Pati Haryanto diakui sebagai sosok pemimpin yang matang. Pengakuan […]

  • Melihat Ramainya Pesanan Madu Mongso Jajanan khas Lebaran

    Melihat Ramainya Pesanan Madu Mongso Jajanan khas Lebaran

    • calendar_month Ming, 16 Apr 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Madu mongso  Lebaran selalu identik dengan berbagai jajanan yang disuguhkan di meja-meja ruang tamu. Selain makanan kaleng, jajanan khas tradisional juga turut mewarnai suguhan lebaran. Seperti jajanan madu mongso. Menjelang lebaran pesanan jajanan jadul ini selalu ramai.  PATI – Kesibukan tampak di rumah produksi Madu Mongso di Desa Margomulyo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Menjelang hari […]

expand_less