Breaking News
light_mode

Membedah Kearifan Lokal untuk Menjaga Lingkungan Muria

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 24 Jan 2023
  • visibility 234
Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

Acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus digelar, sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Khususnya di wilayah Pegunungan Muria. Salah satunya adalah mendorong kearifan lokal masyarakat sekitar menjadi ujung tombak kelestarian alam.

KUDUS – Bicara soal menjaga lingkungan, masyarakat sudah sepatutnya menjadi ujung tombak. Kearifan lokal dan tradisi tutur yang telah ada harus dijaga supaya tercipta keseimbangan antara kepentingan sosial, budaya dan lingkungan. Penguatan pendidikan mitigasi bencana, kepekaan generasi muda terhadap sekitarnya pun bisa ditularkan melalui pendekatan berbasis budaya, utamanya folklore.

Selain upaya kultural, penjagaan lingkungan juga membutuhkan pendekatan struktural. Kesadaran lingkungan hanya akan muncul ketika ada komunikasi aktif antar pemangku kebijakan. Demikian itu mengemuka dalam acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Sabtu (21/01/23) malam.

Bertema “Rasan, Reksa, Resan” berlangsung cukup gayeng dengan obrolan yang saling bersahutan antara narasumber dan peserta. Awalnya, pendiri Kampoeng Agroedukasi Muria, Muhammad Nurul Hakim, memantik diskusi malam itu dengan keresahan akan mulai hilangnya beberapa Resan (pohon-pohon besar) yang dalam kultur jawa sering disebut “Bregat”.

Drs. Agus Susanto kemudian memaparkan beberapa klu terkait pendekatan struktural dan kultural dalam menjaga ekologi lingkungan. Menurut pemerhati sejarah dan budaya itu, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.

“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi Muria seperti semula,” kata pria yang kini menjabat sebagai Camat Jekulo tersebut.

Seperti bencana alam yang seringkali terjadi di Kudus, kata Agus, itu karena komunikasi antar pemangku kebijakan belum klik. “Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemu solusi misalnya, itu kalau tidak ada orang Perhutani tetap akan sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” katanya.

Selanjutnya, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kabupaten Kudus yang rawan bencana alam. Oleh karena itu, pihaknya sangat mendorong kepada masyarakat setempat untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Kemandirian masyarakat, lanjut ia, menjadi penting. Pasalnya, masyarakat melalui kearifan lokal yang sudah dibangun itu, perlu dirawat secara terus menerus. Masyarakat juga harus sadar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana yang mengancam.

“Yang menarik di sini, masyarakat sudah punya kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal, seperti tradisi barikan, sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme masyarakat,” kata dia.

Di lain sisi, penulis dan pemerhati lingkungan Fawaz Al-Batawi menilai ikatan sosial dan ikatan adat tradisional yang dibentuk masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai faktor penguat untuk melindungi kelestarian lingkungan. Setidaknya, merekalah yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda mau ada bencana atau tanda kerusakan alam. Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak.

“Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” ungkap penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.

Usaha, Tani, Lestari

Fawaz kemudian berbagi pengalamannya dalam memberdayakan masyarakat di kawasan Muria. Ia menawarkan tiga upaya yang bisa diupayakan untuk menciptakan kesejahteraan bersama nan seimbang. Tiga faktor tersebut, kata Fawaz, diantaranya ialah usaha, tani, dan lestari.

Menurut Fawaz, sesering apapun aktivis lingkungan menyerukan bahaya kerusakan lingkungan, kalau perut masyarakat kosong tetap tidak berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Maka, dunia usaha bagi masyarakat sekitar lereng itu harus aktif dulu. Pendekatannya bisa dengan cara memberikan mereka bibit tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti alpukat, jeruk pamelo, kopi dan lainnya.

“Usaha itu faktor ekonomi, tani itu konteks sosialnya. Keduanya harus diperhatikan dan saling dikaitkan. Sehingga jika dua itu sudah selesai maka poin ketiga yakni lestari akan terwujud dengan sendirinya sebagai dampak positif,” terang staf Bakti Lingkungan Djarum Foundation itu. (ars)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota DPRD Pati: Pencegahan Kegagalan Koperasi Desa Merah Putih Pati

    Anggota DPRD Pati: Pencegahan Kegagalan Koperasi Desa Merah Putih Pati

    • calendar_month Sab, 19 Apr 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 260
    • 0Komentar

    PATI – Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Pati menuai sorotan. Anggota DPRD Pati, Kastomo, menekankan pentingnya persiapan matang sebelum pendirian koperasi ini. “SDM harus disiapkan betul. Sebelum pembentukan, desa perlu menyiapkan SDM pengelola dengan orientasi yang matang,” tegas politisi PKB ini. Ia juga menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat untuk mendorong partisipasi aktif dan […]

  • Pelantikan Pengurus IKA PMII Pati 2025–2030: Momentum Perkuat Konsolidasi dan Kontribusi

    Pelantikan Pengurus IKA PMII Pati 2025–2030: Momentum Perkuat Konsolidasi dan Kontribusi

    • calendar_month Ming, 27 Apr 2025
    • account_circle Abdul Adhim
    • visibility 239
    • 0Komentar

    PATI – Pengurus Cabang Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Pati periode 2025–2030 resmi dilantik pada Minggu (27/4/2025) sore. Kegiatan pelantikan yang dirangkaikan dengan rapat kerja ini berlangsung di Joglo Pergerakan Sahabat Muslihan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Bendahara Umum Pengurus Wilayah IKA PMII Jawa Tengah, M. Mahbub […]

  • BRI BO Pati Bagikan 56 Paket Bingkisan Lebaran, Tingkatkan Kepedulian di Bulan Ramadhan

    BRI BO Pati Bagikan 56 Paket Bingkisan Lebaran, Tingkatkan Kepedulian di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 2.646
    • 0Komentar

    PATI – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Bank Rakyat Indonesia Branch Office (BO) Pati mengadakan kegiatan sosial dengan menyelenggarakan program Berbagi Kado Lebaran. Di lokasi Kantor BRI BO Pati, sebanyak 56 paket bingkisan diberikan kepada anak yatim dan kelompok dhuafa. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyaluran dana sosial yang dilakukan melalui Yayasan […]

  • Mental Pantang Menyerah Jadi Modal Persijap Hadapi Arema FC

    Mental Pantang Menyerah Jadi Modal Persijap Hadapi Arema FC

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 256
    • 0Komentar

    JEPARA – Tim promosi BRI Super League 2025/26, Persijap Jepara, menunjukkan awal yang positif dengan mengumpulkan empat poin dari tiga laga. Hasil ini menempatkan Laskar Kalinyamat di peringkat ke-10 klasemen sementara. Setelah laga tandang melelahkan melawan Borneo FC Samarinda, Persijap bersiap menjamu Arema FC di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Sabtu (30/8). Meski kalah 1-3 […]

  • KuIiner keIo merico ikan manyung khas Pati

    Kelo Merico Manyung Kuliner khas Pati Pedas dan Asem

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle Abdul Adhim
    • visibility 324
    • 0Komentar

    KuIiner keIo merico ikan manyung khas Pati

  • Akhiri Pekan dengan Jalan Kaki, Bupati Kudus Sapa Petani di Desa Pasuruhan

    Akhiri Pekan dengan Jalan Kaki, Bupati Kudus Sapa Petani di Desa Pasuruhan

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle Abdul Adhim
    • visibility 212
    • 0Komentar

      KUDUS – Mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang sehat sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memilih untuk berjalan kaki menyusuri area persawahan di Desa Pasuruhan, Sabtu (3/5/2025). Dalam kegiatan tersebut, Bupati Sam’ani tampak santai namun penuh kehangatan saat berinteraksi langsung dengan para petani yang tengah bersiap menghadapi musim tanam padi. Ia […]

expand_less