Breaking News
light_mode

Membedah Kearifan Lokal untuk Menjaga Lingkungan Muria

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 24 Jan 2023
  • visibility 286
Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

Acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus digelar, sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Khususnya di wilayah Pegunungan Muria. Salah satunya adalah mendorong kearifan lokal masyarakat sekitar menjadi ujung tombak kelestarian alam.

KUDUS – Bicara soal menjaga lingkungan, masyarakat sudah sepatutnya menjadi ujung tombak. Kearifan lokal dan tradisi tutur yang telah ada harus dijaga supaya tercipta keseimbangan antara kepentingan sosial, budaya dan lingkungan. Penguatan pendidikan mitigasi bencana, kepekaan generasi muda terhadap sekitarnya pun bisa ditularkan melalui pendekatan berbasis budaya, utamanya folklore.

Selain upaya kultural, penjagaan lingkungan juga membutuhkan pendekatan struktural. Kesadaran lingkungan hanya akan muncul ketika ada komunikasi aktif antar pemangku kebijakan. Demikian itu mengemuka dalam acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Sabtu (21/01/23) malam.

Bertema “Rasan, Reksa, Resan” berlangsung cukup gayeng dengan obrolan yang saling bersahutan antara narasumber dan peserta. Awalnya, pendiri Kampoeng Agroedukasi Muria, Muhammad Nurul Hakim, memantik diskusi malam itu dengan keresahan akan mulai hilangnya beberapa Resan (pohon-pohon besar) yang dalam kultur jawa sering disebut “Bregat”.

Drs. Agus Susanto kemudian memaparkan beberapa klu terkait pendekatan struktural dan kultural dalam menjaga ekologi lingkungan. Menurut pemerhati sejarah dan budaya itu, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.

“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi Muria seperti semula,” kata pria yang kini menjabat sebagai Camat Jekulo tersebut.

Seperti bencana alam yang seringkali terjadi di Kudus, kata Agus, itu karena komunikasi antar pemangku kebijakan belum klik. “Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemu solusi misalnya, itu kalau tidak ada orang Perhutani tetap akan sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” katanya.

Selanjutnya, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kabupaten Kudus yang rawan bencana alam. Oleh karena itu, pihaknya sangat mendorong kepada masyarakat setempat untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Kemandirian masyarakat, lanjut ia, menjadi penting. Pasalnya, masyarakat melalui kearifan lokal yang sudah dibangun itu, perlu dirawat secara terus menerus. Masyarakat juga harus sadar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana yang mengancam.

“Yang menarik di sini, masyarakat sudah punya kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal, seperti tradisi barikan, sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme masyarakat,” kata dia.

Di lain sisi, penulis dan pemerhati lingkungan Fawaz Al-Batawi menilai ikatan sosial dan ikatan adat tradisional yang dibentuk masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai faktor penguat untuk melindungi kelestarian lingkungan. Setidaknya, merekalah yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda mau ada bencana atau tanda kerusakan alam. Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak.

“Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” ungkap penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.

Usaha, Tani, Lestari

Fawaz kemudian berbagi pengalamannya dalam memberdayakan masyarakat di kawasan Muria. Ia menawarkan tiga upaya yang bisa diupayakan untuk menciptakan kesejahteraan bersama nan seimbang. Tiga faktor tersebut, kata Fawaz, diantaranya ialah usaha, tani, dan lestari.

Menurut Fawaz, sesering apapun aktivis lingkungan menyerukan bahaya kerusakan lingkungan, kalau perut masyarakat kosong tetap tidak berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Maka, dunia usaha bagi masyarakat sekitar lereng itu harus aktif dulu. Pendekatannya bisa dengan cara memberikan mereka bibit tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti alpukat, jeruk pamelo, kopi dan lainnya.

“Usaha itu faktor ekonomi, tani itu konteks sosialnya. Keduanya harus diperhatikan dan saling dikaitkan. Sehingga jika dua itu sudah selesai maka poin ketiga yakni lestari akan terwujud dengan sendirinya sebagai dampak positif,” terang staf Bakti Lingkungan Djarum Foundation itu. (ars)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Pati: Revitalisasi Pasar Puri untuk Kenyamanan Pedagang dan Pembeli

    Bupati Pati: Revitalisasi Pasar Puri untuk Kenyamanan Pedagang dan Pembeli

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 510
    • 0Komentar

    PATI – Bupati Pati, Sudewo, terjun langsung memantau Pasar Puri, memastikan revitalisasi bukan sekadar janji manis. Kunjungan ini menjadi bukti nyata komitmen Pemkab Pati dalam meningkatkan kualitas infrastruktur ekonomi kerakyatan, Jumat (24/10/2025). Sudewo tak hanya berkeliling melihat kondisi pasar, tapi juga menyempatkan diri berdialog hangat dengan para pedagang. Ia mendengarkan keluh kesah mereka, mencatat setiap […]

  • Polresta Pati Gandeng Media Perangi Hoaks dan Jaga Kondusifitas Daerah

    Polresta Pati Gandeng Media Perangi Hoaks dan Jaga Kondusifitas Daerah

    • calendar_month Rab, 24 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 288
    • 0Komentar

    PATI – Polresta Pati menggandeng media untuk memerangi hoaks dan menjaga kondusifitas daerah. Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, menekankan pentingnya peran wartawan sebagai penyeimbang informasi digital, terutama dalam menangkal hoaks dan konten provokatif di media sosial. Hal ini disampaikan dalam forum sarasehan dan silaturahmi bertajuk “Ngopi Bareng Media” bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pati […]

  • Wakil DPRD Pati Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

    Wakil DPRD Pati Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

    • calendar_month Jum, 25 Apr 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 356
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pati, Hardi, menekankan pentingnya penanggulangan kemiskinan ekstrem sebagai kunci kemajuan Kabupaten Pati. “Penanggulangan kemiskinan, harus didorong oleh kebijakan pemerintah daerah melalui program bantuan sosial yang tepat sasaran, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta pelatihan keterampilan bagi masyarakat yang […]

  • Melayani Pasien adalah Bentuk Pengabdian

    Melayani Pasien adalah Bentuk Pengabdian

    • calendar_month Sen, 28 Nov 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Bupati Kudus memberikan motivasi kepada pegawai RSUD dr. Loekmono Hadi Bupati Kudus Hartopo meminta para pegawai di RSUD dr. Loekmono Hadi untuk melayani dengan sepenuh hati. Hal ini merupakan sebuah bentuk nyata pengabdian. KUDUS – Bupati Kudus Hartopo memotivasi pegawai RSUD dr. Loekmono Hadi untuk melayani dengan sepenuh hati. Kegiatan ini dilakukan dalam bincang bersama […]

  • Persipa Takluk Tipis dari PSIM, Banur Akui Kesulitan Manfaatkan Peluang

    Persipa Takluk Tipis dari PSIM, Banur Akui Kesulitan Manfaatkan Peluang

    • calendar_month Ming, 15 Des 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 311
    • 0Komentar

    OLAHRAGA – Laskar Saridin gagal mencuri poin di Stadion Krida Mandala saat bertandang ke markas PSIM Jogja dalam lanjutan Pegadaian Liga 2 2024/2025, Minggu (15/12/2024). Persipa Pati takluk tipis 1-0 dari tuan rumah yang diiringi guyuran hujan. Gol tunggal PSIM Jogja dicetak oleh Muamar Khadafi pada menit ke-4 melalui tendangan keras. Persipa yang tertinggal langsung […]

  • Siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu, Dipanggil TC Timnas U17 Indonesia

    Siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu, Dipanggil TC Timnas U17 Indonesia

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 328
    • 0Komentar

    PATI – Sukses membanggakan diraih siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu. Ia terpilih sebagai salah satu dari 34 pemain yang dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) Tim Nasional (Timnas) Indonesia U17 di Bali. Pemanggilan ini diumumkan PSSI pada Selasa (1/7/2025). TC akan berlangsung dari 7 Juli hingga 10 Agustus 2025 sebagai persiapan menghadapi Piala […]

expand_less