Breaking News
light_mode

Membedah Kearifan Lokal untuk Menjaga Lingkungan Muria

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 24 Jan 2023
  • visibility 249
Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus

Acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus digelar, sebagai bentuk keresahan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Khususnya di wilayah Pegunungan Muria. Salah satunya adalah mendorong kearifan lokal masyarakat sekitar menjadi ujung tombak kelestarian alam.

KUDUS – Bicara soal menjaga lingkungan, masyarakat sudah sepatutnya menjadi ujung tombak. Kearifan lokal dan tradisi tutur yang telah ada harus dijaga supaya tercipta keseimbangan antara kepentingan sosial, budaya dan lingkungan. Penguatan pendidikan mitigasi bencana, kepekaan generasi muda terhadap sekitarnya pun bisa ditularkan melalui pendekatan berbasis budaya, utamanya folklore.

Selain upaya kultural, penjagaan lingkungan juga membutuhkan pendekatan struktural. Kesadaran lingkungan hanya akan muncul ketika ada komunikasi aktif antar pemangku kebijakan. Demikian itu mengemuka dalam acara Riset Folklore Muria Diskusi Tapangeli di Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Sabtu (21/01/23) malam.

Bertema “Rasan, Reksa, Resan” berlangsung cukup gayeng dengan obrolan yang saling bersahutan antara narasumber dan peserta. Awalnya, pendiri Kampoeng Agroedukasi Muria, Muhammad Nurul Hakim, memantik diskusi malam itu dengan keresahan akan mulai hilangnya beberapa Resan (pohon-pohon besar) yang dalam kultur jawa sering disebut “Bregat”.

Drs. Agus Susanto kemudian memaparkan beberapa klu terkait pendekatan struktural dan kultural dalam menjaga ekologi lingkungan. Menurut pemerhati sejarah dan budaya itu, banyak perubahan sosial masyarakat yang menyebabkan perubahan perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat lupa untuk hidup berdampingan dengan alam.

“Peradaban Muria dulu itu maju, banyak sumber daya yang perlu dijaga, bahkan sampai terkenal ke Eropa. Pendekatan struktural dan kultural ini penting untuk mengembalikan kondisi Muria seperti semula,” kata pria yang kini menjabat sebagai Camat Jekulo tersebut.

Seperti bencana alam yang seringkali terjadi di Kudus, kata Agus, itu karena komunikasi antar pemangku kebijakan belum klik. “Kita bicara gara-gara kerusakan hutan di Pemda, lalu sudah menemu solusi misalnya, itu kalau tidak ada orang Perhutani tetap akan sia-sia. Begitu juga banjir, karena semua sungai yang ada itu kewenangannya pada pemerintah pusat,” katanya.

Selanjutnya, Direktur Muria Research Center Indonesia, Mochamad Widjanarko mengamati daerah-daerah di Kabupaten Kudus yang rawan bencana alam. Oleh karena itu, pihaknya sangat mendorong kepada masyarakat setempat untuk menumbuhkan kesadaran mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Kemandirian masyarakat, lanjut ia, menjadi penting. Pasalnya, masyarakat melalui kearifan lokal yang sudah dibangun itu, perlu dirawat secara terus menerus. Masyarakat juga harus sadar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya sebagai bentuk antisipasi terhadap bencana yang mengancam.

“Yang menarik di sini, masyarakat sudah punya kapasitas untuk mengatasi bencana dengan kearifan lokal, seperti tradisi barikan, sedekah bumi, ini bisa jadi defense mekanisme masyarakat,” kata dia.

Di lain sisi, penulis dan pemerhati lingkungan Fawaz Al-Batawi menilai ikatan sosial dan ikatan adat tradisional yang dibentuk masyarakat bisa dimanfaatkan sebagai faktor penguat untuk melindungi kelestarian lingkungan. Setidaknya, merekalah yang pertama tahu ketika terjadi tanda-tanda mau ada bencana atau tanda kerusakan alam. Makanya, masyarakat ini disebut ujung tombak.

“Peran utama menjaga lingkungan ada di tangan masyarakat sekitar secara langsung. Pihak LSM, komunitas, CSR hanya bisa membantu dan mendorong,” ungkap penulis buku Seandainya Aku Bisa Menanam Angin itu.

Usaha, Tani, Lestari

Fawaz kemudian berbagi pengalamannya dalam memberdayakan masyarakat di kawasan Muria. Ia menawarkan tiga upaya yang bisa diupayakan untuk menciptakan kesejahteraan bersama nan seimbang. Tiga faktor tersebut, kata Fawaz, diantaranya ialah usaha, tani, dan lestari.

Menurut Fawaz, sesering apapun aktivis lingkungan menyerukan bahaya kerusakan lingkungan, kalau perut masyarakat kosong tetap tidak berpengaruh terhadap perubahan perilaku. Maka, dunia usaha bagi masyarakat sekitar lereng itu harus aktif dulu. Pendekatannya bisa dengan cara memberikan mereka bibit tanaman yang menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti alpukat, jeruk pamelo, kopi dan lainnya.

“Usaha itu faktor ekonomi, tani itu konteks sosialnya. Keduanya harus diperhatikan dan saling dikaitkan. Sehingga jika dua itu sudah selesai maka poin ketiga yakni lestari akan terwujud dengan sendirinya sebagai dampak positif,” terang staf Bakti Lingkungan Djarum Foundation itu. (ars)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Silaturahmi di Ponpes Assalam Grobogan, Sidi Ibrahim Al Malik Tekankan Nasab Bukan Sekadar Kebanggaan, Melainkan Amanah

    Silaturahmi di Ponpes Assalam Grobogan, Sidi Ibrahim Al Malik Tekankan Nasab Bukan Sekadar Kebanggaan, Melainkan Amanah

    • calendar_month Sel, 11 Agu 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 101.520
    • 0Komentar

    GROBOGAN — Dewan Pengurus Cabang (DPC) Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) Kabupaten Grobogan menyelenggarakan silaturahmi sekaligus kajian bersama keluarga besar Syekh Jumadil Kubro. Hadir sebagai narasumber utama, Sidi Ibrahim Al Malik, Penasihat Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubro se-Asia Tenggara, pada Senin (10/8/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Menyemai Suri Tauladan, Lentera Kekeluargaan” berlangsung di Pondok Pesantren […]

  • DPRD Pati Tanggapi Aksi Petani Tolak Pabrik Semen di Kendeng

    DPRD Pati Tanggapi Aksi Petani Tolak Pabrik Semen di Kendeng

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 338
    • 0Komentar

    PATI – Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati dipenuhi ratusan petani yang menggelar aksi menolak pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng, Jumat (20/9/2024). Ketua DPRD Kabupaten Pati Sementara, Ali Badrudin, menyampaikan apresiasi atas aksi damai yang dilakukan para petani. “Kami yang ada di DPRD Pati mengucapkan terimakasih kepada seluruh yang hadir tadi dari […]

  • KONI Kudus Menilai Musorkablub Forkom Pengkab Cacat Hukum

    KONI Kudus Menilai Musorkablub Forkom Pengkab Cacat Hukum

    • calendar_month Sab, 20 Feb 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Konflik di tubuh KONI Kudus terlihat makin memanas. Forkom Pengkab menghendaki Musorkablub. Namun rencana itu dinilai KONI Kudus cacat hukum. KUDUS – KONI Kabupaten Kudus menyebut musyawarah kabupaten luar biasa (musorkablub) yang bakal diselenggarakan forum komunikasi pengkab cacat hukum. Sebab, musorkablub yang direncanakan diselenggarakan Sabtu (21/2/2021) tak sesuai AD/ART KONI 2020. Kabid Binkum KONI Kudus […]

  • Desa Jepang Pakis Kudus: Lestarikan Tradisi, Majukan Ekonomi Lokal Lewat Suronan Fest

    Desa Jepang Pakis Kudus: Lestarikan Tradisi, Majukan Ekonomi Lokal Lewat Suronan Fest

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 288
    • 0Komentar

    KUDUS – Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, meriah dengan Suronan Fest, tradisi tahunan yang jatuh pada bulan Suro atau Muharram. Lebih dari sekadar pesta rakyat, acara ini menghidupkan kembali nilai sejarah, spiritualitas, dan memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Kepala Desa Jepang Pakis, Sakroni, menjelaskan bahwa Suronan Fest tahun ini dipersembahkan untuk mengenang jasa para […]

  • Ketua Komisi A DPRD Pati : Kebijakan WFH Berpotensi Efisien, Tetapi Harus Dijaga dari Penyimpangan

    Ketua Komisi A DPRD Pati : Kebijakan WFH Berpotensi Efisien, Tetapi Harus Dijaga dari Penyimpangan

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 3.762
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Pati, Narso, menilai bahwa kebijakan Work From Home (WFH) memiliki potensi untuk mendukung efisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan, asalkan diterapkan dengan cara yang tepat dan benar. ”WFH baik untuk efisiensi tetapi harus dipastikan benar-benar berjalan efektif dan tidak disalahgunakan,” ujar Narso. Dia mengingatkan akan potensi penyimpangan dalam penerapan kebijakan […]

  • Polresta Pati Bagikan 11 Ribu Bendera Merah Putih, Kobarkan Semangat Nasionalisme HUT ke-81 RI

    Polresta Pati Bagikan 11 Ribu Bendera Merah Putih, Kobarkan Semangat Nasionalisme HUT ke-81 RI

    • calendar_month Ming, 16 Agu 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 101.634
    • 0Komentar

    PATI – Menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Polresta Pati beserta seluruh jajaran Polsek melaksanakan pembagian dan pemasangan Bendera Merah Putih kepada masyarakat pada Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 11.000 bendera disebarkan ke berbagai pelosok wilayah Kabupaten Pati. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dipimpin langsung oleh Kapolresta Pati Kombes Pol Sigit, S.I.K., […]

expand_less