Breaking News
light_mode

Kolak Sajian Berbuka yang Lengkap dan Islami

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kam, 15 Apr 2021
  • visibility 287

 

selerarasa.com

Siapa tidak tahu kolak. Kuliner khas Ramadan ini begitu melekat bagi
kaum muslim di Indonesia. Menu kolak bahkan menjadi sajian wajib saat berbuka
puasa. Rasanya yang manis dan segar membuat tenggorokan dan perut seperti
dimanjakan dalam satu sendok kolak.

Kolak yang paling populer adalah kolak pisang. Namun seiring waktu kolak
berkembang lebih beragam. Ada kolak ubi, kolak singkong, hingga kolak kolang
kaling. Satu mangkuk kolak yang nikmat cukup sederhana pembuatannya. Bahannya terdiri
dari santan, gula merah atau gula aren, garam, dan bahan utama, misalnya pisang
atau ubi.

Dari bahan-bahan itu, kolak boleh disebut menjadi sajian berbuka yang
lengkap. Manis dari gula dan isian pisang atau ubi akan menghadirkan sensasi
yang segar dan mengenyangkan perut.

Karena identik dengan Ramadan, ada yang berpandangan sajian kolak ini
punya arti lebih dari sekadar menu berbuka. Sebagaimana kuliner yang
berkenaan dengan ritual Islam, seperti apem dan kupat, website sejarah
Historia menyebut, penamaan kolak juga dikaitkan dengan bahasa Arab.

Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang,
mengutip pendapat Kyai Hasbullah dari Pondok Pinang, Kebayoran Lama,
Jakarta Selatan, bahwa kata kolak berasal dari bahasa Arab, yaitu kul laka artinya makanlah,
untukmu. Pendapat lain dari kata khala atau kholaqo. Kata ini
bisa diturunkan menjadi kholiq atau khaliq yang berarti
pencipta, pencipta alam semesta yang menunjuk kepada Allah Swt.

 “Selain berarti pencipta, dapat
pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan
Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri
kepada Allah,” ujar Dwi.

Unsur-unsur kolak pun dikaitkan dengan ajaran Islam. Pisang kepok yang
paling umum digunakan merujuk pada kapok, dalam bahasa
Jawa berarti jera. Penganan ini mengingatkan agar manusia jera berbuat
dosa dan segera bertobat kepada Allah Swt. 

Isian lainnya, ubi, dalam bahasa Jawa disebut telo pendem.
Filosofinya manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Ada juga yang
menghubungkan dengan kematian. Kolak adalah media pengingat, suatu saat manusia
pasti mati dan kemudian dikubur (dipendem).

Unsur lain dalam kolak adalah santan. Dalam bahasa Jawa disebut santen,
kependekan dari pangapunten. Orang Jawa menggunakan kata ini sebagai
permohonan maaf. Kolak pun menjadi media pengingat agar manusia seantiasa
meminta maaf atas kesalahannya. (yan)

 

 

 

 

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Batik Tulis Bakaran yang Menawan

    Batik Tulis Bakaran yang Menawan

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2020
    • account_circle Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Seorang model mengenakan busana batik tulis bakaran Kabupaten Pati juga memiliki batik tulis yang khas, pesonanya tak kalah dengan batik-batik dari daerah lain di Indonesia. Namanya batik tulis bakaran. Nama batik ini merujuk satu daerah yang menjadi pusat pengrajin batik ini. Kurang lengkap kalau bergaya belum mengenakan batik tulis bakaran. Pusat pengrajin batik ini berada […]

  • Lima Warga Binaan Masuk Daftar Penerima Remisi

    Lima Warga Binaan Masuk Daftar Penerima Remisi

    • calendar_month Sab, 9 Des 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 313
    • 0Komentar

      Suasana haru saat para warga binaan mengikuti perayaan Hari Natal yang diselenggarakan atas kerja sama dengan pihak Lapas Kelas II B Pati bersama Gereja GKMI Pati di aula Lapas kAMIS (7/12/17) pagi kemarin. Lingkar Muria, PATI – Jelang hari Natal Tahun 2017, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Pati mulai mengajukan remisi untuk warga […]

  • Jaga Kelestarian Pantai Tanam Ribuan Mangrove di Pesisir Utara

    Jaga Kelestarian Pantai Tanam Ribuan Mangrove di Pesisir Utara

    • calendar_month Ming, 8 Agu 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.013
    • 0Komentar

      Penanam mangrove di pantai  Desa Bulimanis Kidul Kecamatan Margoyoso, Pati oleh mahasiswa yang tergabung dalam KMMP Semarang. PATI – Ribuan bibit mangrove ditanam di pantai Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Pati, Minggu (8/8/2021) pagi. Penanaman itu diprakarsai sekelompok mahasiswa dari Pati yang menimba ilmu di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Mereka tergabung dalan Keluarga […]

  • MI PIM Mujahidin Bageng Berhasil Meraih Juara Umum di Loksis se-Kecamatan Gembong Pati 2023

    MI PIM Mujahidin Bageng Berhasil Meraih Juara Umum di Loksis se-Kecamatan Gembong Pati 2023

    • calendar_month Rab, 15 Nov 2023
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 345
    • 0Komentar

    EDUKASI – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Perguruan Islam Monumen (PIM) Mujahidin, Desa Bageng, mencatat prestasi gemilang sebagai juara umum dalam Lomba Kompetensi Siswa (Loksis) tingkat MI se-Kecamatan Gembong tahun 2023 yang digelar di MI PIM Mujahidin Bageng pada Rabu (15/11/2023). Keberhasilan ini dicapai melalui kontribusi dua siswa yang masing-masing meraih juara 1, dua siswa meraih juara […]

  • Anggota DPRD Pati Hardi : Meron Ajarkan Nilai dan Tradisi Luhur untuk Masyarakat

    Anggota DPRD Pati Hardi : Meron Ajarkan Nilai dan Tradisi Luhur untuk Masyarakat

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 299
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati, Hardi, menekankan pentingnya tradisi Meron sebagai wadah untuk mengajarkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat. Menurutnya, Meron tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga mengandung makna mendalam tentang kebersamaan, rasa syukur, dan ketaatan kepada Allah SWT. “Semoga tradisi Meron tetap lestari di Desa Sukolilo, dan dapat terus menginspirasi generasi mendatang,” ujar politisi dari […]

  • Peluncuran Buku “Bukan Kartini”: Refleksi Kegelisahan Perempuan Masa Kini

    Peluncuran Buku “Bukan Kartini”: Refleksi Kegelisahan Perempuan Masa Kini

    • calendar_month Sen, 26 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 319
    • 0Komentar

    JEPARA – Suasana hangat dan penuh antusias mewarnai peluncuran buku “Bukan Kartini”, kumpulan esai karya Septiana Wibowo, di Gedung Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Jepara, Sabtu (25/5/2025). Acara yang dihelat Komunitas Eks Prajabatan 2024 ini dihadiri para guru muda generasi Z, pegiat literasi, akademisi, dan tokoh sastra. Buku terbitan Ini Ibu Budi Publishing ini menyoroti […]

expand_less