Breaking News
light_mode

Penuh Makna Sejarah, Ritual Sedekah Bumi Tulakan Arak Empat Jembul, Warga Padati Jalanan

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Sen, 20 Apr 2026
  • visibility 24.852

JEPARA – Suasana penuh khidmat dan semarak mewarnai pelaksanaan ritual Sedekah Bumi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, pada Senin (20/4/2026). Sebanyak empat buah jembul diarak keliling desa sebagai puncak acara yang dipusatkan di depan rumah petinggi desa, menarik perhatian ratusan warga yang memadati sepanjang jalur kirab hingga prosesi selesai.

Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar adat, melainkan memiliki akar sejarah yang kuat. Kegiatan ini terhubung dengan kisah pertapaan Ratu Kalinyamat di wilayah Donorojo setelah gugurnya suaminya, Sultan Hadlirin, dalam pertempuran melawan Arya Penangsari.

Dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, terdapat sumpah terkenal dari Ratu Kalinyamat: “ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo keset jambule Arya Penangsang.” Sumpah tersebut kini dimaknai sebagai simbol kesetiaan dan perjuangan menegakkan keadilan.

“Makna sumpah itu kemudian berkembang menjadi tradisi sedekah bumi. Warga menjadikannya sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap sejarah desa,” jelasnya.

Dalam prosesi ini, terdapat dua jenis jembul yang diarak, yaitu jembul lanang dan jembul wadon. Jembul lanang berisi berbagai hasil bumi dan jajanan pasar, sementara jembul wadon berisi nasi beserta lauk-pauknya. Keempat jembul yang ditampilkan juga memiliki simbolisme tersendiri mewakili tokoh dan sejarah setempat.

Jembul dari wilayah Krajan merepresentasikan Sayyid Usman, Ngemplak menghadirkan sosok Suto Mangun Jaya, Winong menggambarkan pasukan prajurit, serta Drojo dan Pejing yang menampilkan figur Mbah Leseh.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes), Muh Ali, memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi ini. Ia menilai kegiatan ini memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata yang mampu menggerakkan roda ekonomi lokal.

“Kegiatan ini dapat mendorong pergerakan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai informasi tambahan, Tradisi Jembul Tulakan rutin digelar setiap hari Senin Pahing pada bulan Apit dalam kalender Jawa. Kearifan lokal ini telah diakui secara nasional sejak tahun 2020 sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nestapa Petani di Pati, Jelang Panen Padi dan Melon Malah Kebanjiran

    Nestapa Petani di Pati, Jelang Panen Padi dan Melon Malah Kebanjiran

    • calendar_month Sab, 16 Mar 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 231
    • 0Komentar

    PATI – Banjir selalu menyuguhkan cerita getir bagi masyarakat yang menjadi korban. Seperti banjir pada bulan Maret 2024 ini yang terjadi di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Petani dihadapkan pada kenyataan gagal panen. Gagal panen ini seperti yang dirasakan petani di Dukuh Poncomulyo Desa Gadudero Kecamatan Sukolilo Pati. Sekitar seratusan hektare lahan pertanian di desa ini […]

  • Warga Desa Langgenharjo Demo, Tuntut Penutupan PT New Ramon Star

    Warga Desa Langgenharjo Demo, Tuntut Penutupan PT New Ramon Star

    • calendar_month Sel, 3 Des 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 282
    • 0Komentar

    PATI – Puluhan warga Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati Pati pada Senin (2/12/2024). Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Pati untuk menutup PT New Ramon Star, pabrik pengolahan limbah yang dinilai beroperasi tanpa izin lengkap dan menimbulkan keresahan. Para demonstran membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan penutupan permanen PT New Ramon Star. […]

  • Anggota DPRD Pati Ajak Masyarakat Teladani Semangat Kebangkitan Nasional

    Anggota DPRD Pati Ajak Masyarakat Teladani Semangat Kebangkitan Nasional

    • calendar_month Rab, 21 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 309
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Kabupaten Pati, Danu Ikhsan Harischandra, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meneladani semangat juang para pendiri bangsa dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. “Hari ini kita mengenang semangat persatuan, kesatuan, dan perjuangan bangsa yang digelorakan Boedi Oetomo pada 1908,” tegas Danu di Gedung DPRD Pati, Selasa (20/5/2025). Sebagai anggota Komisi A, Danu […]

  • Peringati Hari Jadi ke-703, Plt Bupati Pati Tegaskan Kemajuan Harus Terasa Langsung bagi Masyarakat

    Peringati Hari Jadi ke-703, Plt Bupati Pati Tegaskan Kemajuan Harus Terasa Langsung bagi Masyarakat

    • calendar_month Jum, 7 Agu 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 101.398
    • 0Komentar

    PATI — Pemerintah Kabupaten Pati menetapkan peringatan Hari Jadi ke-703 sebagai momentum untuk mempercepat langkah pembangunan yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, saat menyampaikan pidato resmi dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Pati yang diselenggarakan di Ruang Rapat Paripurna, Kamis (6/8/2026). […]

  • Warung makan Bu Sarah Puri

    Rekomendasi Tempat Kulineran Enak di Pati Kota

    • calendar_month Ming, 25 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 507
    • 0Komentar

      Warung makan Bu Sarah Puri   Kota Pati terkenal dengan kulinernya yang enak. Ada nasi gandul, mangut, dan soto kemiri. Berikut kami rekomendasikan tempat kulineran khas Pati bagi pengunjung yang baru datang ke kota ini.   1. Kuliner warna-warni Jalan Kiai Saleh Di Jalan Kiai Saleh, Kaborongan Pati Kota menjadi salah satu tempat kuliner […]

  • Ada Kerja Keras Bule Perancis dalam Lezat Ikan Bakar di Pantai Bondo (2)

    Ada Kerja Keras Bule Perancis dalam Lezat Ikan Bakar di Pantai Bondo (2)

    • calendar_month Kam, 14 Nov 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Bakar ikan  Ranting-ranting kayu yang kami kumpulkan, telah habis terbakar dan berubah menjadi bongkahan arang yang membara. Ikan tengkurungan dan banyar sudah bersih. Setidaknya sudah terbuang isi perutnya yang membuat pahit. Sayang, pesta kecil-kecilan yang menjadi agenda utama kami kacau. Berlagak seperti anak petualang, kami tak membawa bekal peralatan yang cukup untuk membuat pesta bakaran. […]

expand_less