DPRD Pati Apresiasi Tradisi Sedekah Bumi Sebagai Wadah Pelestarian Kesenian Daerah
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 98.125

Wayang Topeng kesenian dari Dukuh Kedung Panjang Desa Soneyan.
PATI – Masuknya Bulan Apit dalam sistem penanggalan Jawa menjadi momen tersendiri bagi masyarakat di berbagai desa di Kabupaten Pati untuk melaksanakan tradisi sedekah bumi.
Kegiatan yang telah dijalankan turun-temurun ini ternyata tidak sekadar ritual adat, melainkan juga berperan penting sebagai sarana menjaga dan melestarikan kekayaan seni budaya daerah.
Berdasarkan catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pati, wilayah ini memiliki beragam jenis kesenian tradisional yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Di antaranya yang sudah sangat dikenal luas adalah ketoprak dan wayang kulit. Selain itu, terdapat pula kesenian khas yang menjadi kebanggaan lokal, yaitu wayang topeng kedungpanjang yang berasal dari Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso.
Hingga saat ini, kesenian tersebut masih terus dipentaskan dan dijaga kelestariannya oleh warga Desa Soneyan, khususnya pada setiap penyelenggaraan acara sedekah bumi.
Menurut Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, asal-usul kesenian ini sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1600-an di wilayah Dukuh Kedung Panjang.
Bahkan, peralatan dan properti topeng yang digunakan hingga kini masih merupakan barang asli peninggalan zaman dahulu dan dianggap memiliki nilai sakral oleh seluruh warga.
“Wayang topeng kesenian 1600-an sudah ada (di) Dukuh Kedung Panjang. Sudah diakui warisan budaya tidak benda tahun 2021,” kata Margi saat ditemui di lokasi kegiatan.
Ia menjelaskan, pertunjukan wayang topeng ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dan menjadi syarat wajib dalam pelaksanaan sedekah bumi. Secara tradisi, pentas ini dijadwalkan secara khusus pada hari Sabtu Kliwon yang jatuh di Bulan Apit menurut perhitungan kalender Jawa.
“Ini sebagai persyaratan wajib setiap tahun harus ditampilkan. Harinya Sabtu Kliwon,” jelas dia.
Lebih lanjut Margi menyampaikan, di balik pementasan tersebut terkandung makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur warga yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani atas limpahan hasil panen.
Oleh karena itu, cerita atau lakon yang dibawakan dalam setiap pertunjukan selalu mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan dunia pertanian dan kearifan lokal.
Agar tradisi dan keahlian ini tidak punah dan dapat diteruskan ke generasi berikutnya, pihak desa secara rutin mengadakan pelatihan bagi para pemuda. Kegiatan pembelajaran dijadwalkan setiap malam minggu, sehingga minat dan bakat anak muda dapat terus diasah.
Margi mengaku bersyukur, upaya menjaga warisan budaya ini membuahkan hasil. Selain tetap bertahan hidup di tengah perubahan zaman, kesenian wayang topeng kedungpanjang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri dan ikon wisata budaya unggulan Kabupaten Pati.
Ketua DPRD Pati, Ali Badrudin, memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap upaya pelestarian yang dilakukan, di mana peran aktif masyarakat menjadi penggerak utama terjaganya tradisi dan seni budaya tersebut. Ia berharap agar seluruh kekayaan kesenian daerah ini terus berkembang, hidup di tengah masyarakat, dan tetap terjaga keberadaannya.
“Kita berharap semarak kesenian daerah ini turut serta menggerakkan perekonomian dan juga dapat melestarikan kesenian itu sendiri, karena kesenian daerah ini tentu memiliki nilai – nilai luhur warisan nenek moyang yang dapat dipetik pelajarannya hingga generasi saat ini,” paparnya.
(adv)
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

