Breaking News
light_mode

Menyingkap Keteladanan Wirausaha dari Kiai Tionghoa

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 5 Okt 2019
  • visibility 291

KH Agus Sunyoto



KUDUS – Diskusi bertajuk “Menggali
Culture-Preneurship Kyai Telingsing: Inspirator Sunan Kudus,”digelar  Mubarok Food Delecia. Perusahaan jajanan
jenang itu menggandeng Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
(Lakpesdam) NU Kudus.
 Sarasehan itu dilaksanakan untuk mendedahkan
kembali kepada khayalak tentang keteladanan salah satu kyai yang masyhur di
Kudus tersebut.
Direktur Mubarok Food Delecia,
Muhammad Hilmy menyatakan, sarasehan tersebut bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman masyarakat akan ajaran-ajaran Culture-Preneurship dari Kyai Telingsing,
mulai dari nilai kebudayaan, kewirausahaan, dan hubungan antar keduanya.
Dalam sarasehan tersebut, hadir dua
narasumber yang masyhur dalam ilmu sejarah Islam Nusantara. Yakni Asmaji
Muchtar yang berlatar belakang akademisi sekaligus Ketua Yayasan Pendidikan
Islam Kyai Telingsing, dan Agus Sunyoto penulis buku Atlas Walisongo sekaligus
Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU.
Asmaji Muchtar menyatakan bahwa
sejarah tidak banyak yang mencatat siapa Kyai Telingsing. Kekaburan sejarah ini
membuat adanya perbedaan versi tentang kehidupan Kyai Telingsing. Yang paling
mendasar dari perbedaan tersebut yakni terkait asal usul Kyai Telingsing itu
sendiri. Dia menyebutkan setidaknya ada dua argumen tentang hal itu. Pertama,
sebagian sejarawan atau peneliti menganggap bahwa Kyai Telingsing berasal
adalah seorang keturunan Arab (ayah) yang beribu Tionghoa.
Suasana diskusi
Sedangkan, lanjut Asmaji, pandangan
kedua berasal dari penuturan masyarakat yang berargumen bahwa Kyai Telingsing
adalah anak Kyai Sungging, seorang pribumi dari Desa Sunggingan. Kyai Sungging
kemudian melakukan perjalanan ke negeri Cina menggunakan layang-layang.
Sesampainya di Cina, Kyai Sungging menikah dengan gadis pribumi dan melahirkan
Kyai Telingsing. Di usia 17 tahun, Kyai Telingsing diperintahkan oleh ayahnya
untuk kembali ke Jawa Dwipa untuk melanjutkan dakwah ayahnya.
“Pengetahuan tentang Kyai
Telingsing secara umum hanya didapat melalui laku spiritual atau meditasi. Yang
tentu tidak dapat dikategorikan sebagai catatan sejarah yang valid,”
terangnya.
Sama halnya dengan Asmaji, Agus
Sunyoto menyatakan jejak Kyai Telingsing yang sampai saat ini masih abu-abu
dalam kaca mata sejarah. Hal itu dibuktikan dengan Denys Lombard yang sama
sekali tidak menemukan bukti arkeologi sama sekali pada makam Kyai Telingsing.
Dia hanya mendapatkan penuturan dari juru kunci makam yang intinya tidak jauh
berbeda dengan argumen kedua yang di kemukakan oleh Asmuji.
Membaca hal itu, Agus berulangkali
mencoba menganalisis penuturan-penuturan yang ada. Namun hal itu sama sekali
tidak bisa dilogika oleh ilmu sejarah. Berdasarkan hasil penelusuran dari
berbagai literatur, dia berkesimpulan bahwa Kyai Telingsing merupakan tokoh tua
di antara Cina Muslim yang tinggal di pantai Utara Jawa yang seusia dengan
Raden Kusen Adipati Pecat Tanda Terung.
Menurutnya Kyai Telingsing
merupakan seorang bergolongan saudagar dari kalangan Cina Muslim yang melakukan
dakwah di Kudus dan sekitarnya. Atas cerita yang masih simpang siur tersebut,
Agus mengajak agar masyarakat lebih mengutamakan pemahaman tentang keteladanan
Kyai Telingsing dalam berdakwah. Selain itu juga tetap memperbanyak literasi
sejarah Kyai Telingsing. Agar data sejarah yang telah ada semakin valid.
“Yang lebih penting dari
perdebatan keabu-abuan sejaran ini adalah keteladanan dari Kyai Telingsing. Dan
masyarakat Kudus harus bisa meneladaninya,” tururnya. (alb)
  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Edy Wuryanto Dorong Penegakan Hukum Tegas terhadap Agen PMI Tak Berizin

    Edy Wuryanto Dorong Penegakan Hukum Tegas terhadap Agen PMI Tak Berizin

    • calendar_month Jum, 19 Des 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.385
    • 0Komentar

    JAKARTA — Peringatan Hari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diperingati setiap 18 Desember menjadi pengingat atas masih kompleksnya persoalan yang dihadapi pekerja migran. Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menegaskan bahwa berbagai masalah yang menimpa PMI tidak berdiri sendiri sebagai kasus individual, melainkan bersifat struktural dan menuntut kehadiran negara secara konsisten dari hulu hingga […]

  • Tingkatkan Kontrol Santri, Forum Ponpes Kajen Terapkan Jam Malam

    Tingkatkan Kontrol Santri, Forum Ponpes Kajen Terapkan Jam Malam

    • calendar_month Rab, 18 Jul 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 347
    • 0Komentar

    PATI – Forum komunikasi pengasuh pondok pesantren (FKPP) menggelar diskusi dan rapat bersama menjelang tahun ajaran baru. Dalam kesempatan itupun mereka mengajak agar para santri dapat menguatkan semangat dalam mencari ilmu dan memperbaiki akhlak. Pertemuan yang dihadiri 45 pengasuh pondok pesantren se Kajen dan sekitarnya itu digelar di Aula MA Salafiyah Kajen Sabtu (14/6/2018) kemarin. […]

  • Alif Sumadi Spesialis Peternak Murai Batu

    Alif Sumadi Spesialis Peternak Murai Batu

    • calendar_month Sab, 20 Jan 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 334
    • 0Komentar

    Jadi Peternak Karena Kepincut Teman DOKUMEN PRIBADI Sebelumnya pekerjaan Alif Sumadi memang tak jauh dari dunia perburungan. Dia bekerja sebagai penjual jangkrik untuk pakan burung. Namun pekerjaan itu dia tinggalkan saat kepincut penghasilannya temannya yang sukses ternak burung. Rumahnya bisa dibilang gedongan, dibanding rumah di sekelilingnya. Di depan rumah terparkir satu unit mobil jenis minibus. […]

  • Seniman Pati Menuntut Bisa Pentas “Normal” Lagi

    Seniman Pati Menuntut Bisa Pentas “Normal” Lagi

    • calendar_month Rab, 13 Apr 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Sebuah adegan dalam pentas ketoprak Pati beberapa waktu yang lalu/ @kusumaryanadi Para seniman ingin kembali pentas secara normal. Apalagi menjelang “musim panen” kesenian tradisional pada bulan Syawal, Apit, dan Besar. Pentas terbuka sangat diharapkan para seniman agar kehidupan mereka bisa bangkit lagi setelah dua tahun terpuruk akibat pandemi Covid-19.  PATI – Para seniman sangat berharap […]

  • Intip Fasilitas Rusunawa Pulodarat Jepara Mirip Apartemen

    Intip Fasilitas Rusunawa Pulodarat Jepara Mirip Apartemen

    • calendar_month Sen, 20 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Bagian depan rusunawa Pulodarat yang mirip apartemen Di Rusunawa Pulodarat, hunian murah dengan fasilitas bagus nyata adanya. Pemerintah menyediakan fasilitas itu bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Rusunawa ini sudah mirip apartemen. JEPARA – Pembangunan rumah susun sewa (rusunawa) di Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan, Jepara, telah rampung. Awal bulan depan flat yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah […]

  • Anggota DPRD Pati Ingatkan Pemuda Melek Politik Jelang Pilkada 2024

    Anggota DPRD Pati Ingatkan Pemuda Melek Politik Jelang Pilkada 2024

    • calendar_month Sab, 28 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 298
    • 0Komentar

    PATI – Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, Anggota DPRD Pati, Muhammadun, menyerukan agar pemuda lebih aktif dan melek politik. Ia menekankan bahwa peran dan partisipasi aktif dari kalangan muda dalam proses demokrasi sangat menentukan keberhasilan pesta demokrasi yang akan dihelat pada 27 November mendatang. “Pemuda adalah generasi penerus yang memiliki peranan penting dalam menentukan […]

expand_less