Breaking News
light_mode

Karena Kita Sendiri yang Menyuburkan Korupsi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 22 Des 2018
  • visibility 263

Suatu pagi di beranda facebook,
seorang teman yang saya kenal sebagai budayawan Kota Jepara menulis status yang
mendadak menyentak nurani. Statusnya pagi itu berbunyi. “Munafik, kita benci korupsi tapi tidak menolak politik uang”.
Dalam statusnya tersebut, teman
saya itu secara terang mengajak kita untuk menolak politik uang di segala pesta
demokrasi. Dari pemilihan kepala desa, pemilihan umum legislatif, juga
pemilihan presiden dan wakil presiden.
Jika dirasakan, politik uang
memang sudah mendarah daging di negeri ini. Entah di luar negeri sama atau
tidak. Di masyarakat desa, sering saya mendengar dalam sebuah
pergunjingan-pergunjingan di warung kopi, di teras rumah, sampai pematang
sawah, ada istilah yang sangat lumrah sekaligus menjadi ugeman tiap pesta demokrasi digelar. Segala tingkatan pesta
demokrasi.
Ra
wek ra obos
. Artinya tidak ada uang tidak nyoblos.
Begitu memang yang sudah dianut sebagian besar masyarakat kita. Saya menyebut
sebagian besar, karena saya yakin masih ada orang-orang yang berfikir cerdas.
Mereka akan memilih siapa yang memberinya uang.
Tidak salah bagi mereka penganut ugeman itu. Mereka memiliki sebuah pembenaran
sendiri menjalankan keyakinannya tersebut. Baginya, pesta demokrasi adalah
panen amplopan, tentu beserta lembaran rupiah yang nilainya beragam. Tergantung
seberapa tebal kantong para calon tersebut.
Hal itu sendiri didasari
kekesalan masyarakat akan pemimpin atau wakil (dalam hal pemilihan legislatif,
DPR). Sudah lazim memang, para calon-calon tersebut akan sedemikian mendekat
dengan rakyat, mengobral janji-janji manis yang lebih sering tidak ditepatinya
ketika ambisi politik mereka terpenuhi. Masyarakat kita menjadi geram. Maka,
pembenaran untuk mloroti kantong para
calon tersebut sahih adanya.
”Lha bagaimana lagi, ketika
mereka jadi ya banyak lupanya dengan kami,” begitu kalimat yang sering
terlontar.
Celakanya, perilaku yang semacam
itu menjadi bumerang. Kajian yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
beberapa waktu lalu yang telah dipublikasikan ke publik menyebutkan, selain
karena perilaku, biaya pemilihan yang mahal menjadi penyebab tingginya angka
tindak pidana korupsi di negeri ini.
Pada tahun ini sendiri ada 109
perkara korupsi yang ditangani lembaga anti rasuah ini. Dari sejumlah kasus
tersebut, KPK telah memproses 98 kepala daerah yang diduga terlibat, dari yang
diproses tersebut 18 lainnya sudah resmi memakai rompi oranye. Tersangka.
Hasil penelitian dari Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (BPKP) menyebutkan penyebab korupsi kepala daerah itu
disinyalir karena monopoli kekuasaan, lemahnya akuntabilitas, juga karena biaya
pemilihan yang mahal.
Sementara itu, Bawaslu juga menyebutkan jika
politik uang diakui masih kerap terjadi saat penyelenggaraan pemilihan kepala
daerah. Politik uang terjadi saat masa kampanye, masa tenang, hingga saat
pemilihan. Tentu kita sangat mafhum dengan istilah “serangan fajar”. Ya begitu
itu.
Lebih menyedihkan lagi, laporan yang dilansir
dari detik.com, yang menyebutkan ada
900 kepala desa yang ditangkap. Karena apa ? Presiden Jokowi menyebut karena
ratusan kepala desa tersebut menyelewengkan dana desa.
Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita
semua. Tindak pidana korupsi, kini telah menjadi sebuah bencana. Tidak hanya
sebatas kasus kriminal biasa. Korupsi adalah bencana moral, juga bencana
budaya.
Kenapa sampai disebut bencana moral dan budaya.
Ramai-ramainya perilaku korupsi ini boleh dibilang sebagai satu kesatuan mata
rantai. Jika menilik karena biaya pemilihan yang mahal, ini terjadi karena para
pemilih membuka diri untuk membuat biaya pemilihan menjadi mahal melalui
serangan-serangan amplop yang kadang membabi buta. Hak suara bisa dibeli. Dan
para pemilih kita mudah sekali mengobralnya.
Pada akhirnya, saya memang harus mengkambing
hitamkan politik uang sebagai salah satu biang korupsi. Korupsi menjadi subur
karena politik uang. Sedang kita para pemilih sangat berjasa menyuburkan
tanaman-tanaman korupsi itu, tentu melalui satu ugeman di atas bukan. Dan kini kita telah sedikit-banyak memanen
tanaman korupsi kita itu. Apa yang kita panen, saya kira pembaca bisa
merasainya sendiri. (Achmad Ulil Albab)


  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Harapkan Sekolah Proaktif Hubungi Lulusan yang Belum Ambil Ijazah

    DPRD Harapkan Sekolah Proaktif Hubungi Lulusan yang Belum Ambil Ijazah

    • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 2.759
    • 0Komentar

    PATI – Setelah melakukan sidak di SMPN 1 Tayu, Komisi D DPRD Kabupaten Pati mengungkapkan harapan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam menangani masalah ijazah yang belum diambil oleh lulusan. Ketua Komisi D, Teguh Bandang Waluyo, menilai pihak sekolah seharusnya tidak hanya menunggu siswa atau keluarga datang untuk mengambil ijazah. “Kalau sudah dua atau tiga […]

  • DPRD Pati Dorong Petani Beralih ke Pupuk Kompos Berkualitas

    DPRD Pati Dorong Petani Beralih ke Pupuk Kompos Berkualitas

    • calendar_month Rab, 30 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 328
    • 0Komentar

    PATI – Walaupun pupuk kimia dinilai manjur untuk menyuburkan tanaman, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Narso, meminta para petani untuk beralih pada pupuk kompos yang berkualitas. “Untuk menyuburkan petani perlu menggunakan pupuk kompos dengan kualitas yang baik, sehingga tanaman tumbuh dengan subur,” ungkapnya. Narso mengungkapkan bahwa penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat […]

  • Tiga Pekan Menuju Liga Nusantara, Persipa Pati Tingkatkan Intensitas Latihan

    Tiga Pekan Menuju Liga Nusantara, Persipa Pati Tingkatkan Intensitas Latihan

    • calendar_month Ming, 11 Okt 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 102.816
    • 0Komentar

    PATI — Pelatih Kepala Persipa Pati, Salahudin, menyampaikan rasa puasnya atas kemajuan yang ditunjukkan para pemain dalam rangka persiapan menghadapi Liga Nusantara musim 2026/2027. Pernyataan itu disampaikan setelah Persipa Pati menjalani laga uji tanding melawan tim Porprov Kudus di Gelora Soekarno, Mojoagung, Trangkil, Pati, pada Kamis (8/10/2026) sore. Dalam pertandingan tersebut, Salahudin menurunkan dua komposisi […]

  • Bupati Kudus Matangkan Perluasan Lahan TPA/TPST Tanjungrejo Atasi Keterbatasan Daya Tampung

    Bupati Kudus Matangkan Perluasan Lahan TPA/TPST Tanjungrejo Atasi Keterbatasan Daya Tampung

    • calendar_month Sab, 4 Jul 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 100.735
    • 0Komentar

    KUDUS – Masalah penanganan sampah menjadi salah satu fokus utama Pemerintah Kabupaten Kudus demi mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memimpin rapat koordinasi terkait rencana pengadaan serta perluasan lahan TPA/TPST Tanjungrejo di Pendapa Belakang Kabupaten Kudus, Kamis (2/7/2026). Langkah ini diambil sebagai solusi strategis mengatasi keterbatasan daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir […]

  • DPRD Pati Gelar Medical Check-Up Rutin untuk Jaga Kinerja Optimal

    DPRD Pati Gelar Medical Check-Up Rutin untuk Jaga Kinerja Optimal

    • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 351
    • 0Komentar

    PATI – Seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up rutin tahunan yang dilaksanakan selama dua hari, Rabu dan Kamis (15-16/10/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan kondisi fisik para wakil rakyat tetap prima dalam menjalankan tugas-tugas legislatif yang padat. Anggota DPRD Kabupaten Pati, Muslihan, menjelaskan bahwa medical check-up […]

  • Muslihan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Pati

    DPRD Pati Awasi Pemanfaatan Alun-Alun Baru untuk Kesejahteraan PKL

    • calendar_month Jum, 8 Agu 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 411
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Muslihan, mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk secara rutin menggelar berbagai event di alun-alun baru, termasuk program Car Free Night. Hal ini bertujuan untuk mendongkrak perekonomian pedagang kaki lima (PKL) yang akan direlokasi ke area tersebut. Muslihan menyampaikan harapannya agar kegiatan Car Free Night dapat terus dilaksanakan. […]

expand_less