Breaking News
light_mode

Apa sih keistimewaan Muhammad? Refleksi Maulid Nabi SAW

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 22 Des 2018
  • visibility 99
Dokumen Pribadi

Seperti
seorang ratu dalam film Snow White (Putri Salju) yang bertanya ke cermin ajaib
siapa yang paling cantik, sejarah peradaban manusia pun bertanya-tanya siapakah
yang paling rupawan atau tampan. Tidak hanya kisah kanak-kanak, bahkan seorang
filosof seperti Nietzsche pun menulis Thus Spoke Zarathustra yang bicara
mengenai konsep ‘manusia unggul’ (Übermensch) yang lebih dari lainnya.
Ini
sekali lagi mengingatkan kita pada komik yang kemudian difilmkan mengenai
‘manusia baja’ alias Superman. Berasal dari planet di luar bumi dan memiliki
kekuatan super di atas kemanusiaan penduduk bumi. Tidak cukup dengan itu
Hollywood membanjiri kita dengan berbagai kisah manusia yang memiliki kemampuan
luar biasa dari mulai X-Men, Spiderman, Hulk, yang berasal dari bumi, maupun
yang dari “langit” seperti Thor. Tradisi wayang pun punya jenis manusia unggul
seperti Gatotkaca, yang melegenda di tengah masyarakat kita.
Akan
tetapi Muhammad bin Abdillah yang diklaim sebagai Nabi terakhir oleh umat Islam
bukanlah seorang yang punya kekuatan super power, bahkan bila dibandingkan
dengan para Nabi sebelumnya yang memiliki berbagai keajaiban (baca: mu’jizat).
Inilah Nabi yang bukan anak raja, seperti Sulaiman bin Dawud. Inilah Nabi yang
tidak memiliki tongkat ajaib seperti Musa. Inilah Nabi yang tidak bisa
membangkitkan orang yang sudah mati seperti mu’jizat Isa. Juga bukan seperti
Yusuf yang gantengnya mampu membuat para perempuan tak sadar mengiris jemari
mereka sendiri.
Tidak!
Yang diceritakan kepada kita adalah Muhammad seorang yang bersahaja, yang tidur
beralaskan tikar kasar, mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar.
Muhammad yang pergi berperang dan pernah kalah. Nabi yatim piatu yang besar
dalam asuhan kakek dan kemudian pamannya. Bahkan penduduk Mekkah pun keheranan
bagaimana orang seperti ini bisa-bisanya mengklaim sebagai Nabi, padahal dia
jalan di pasar dan makan sebagaimana orang lainnya. Mungkin seharusnya rasul
terakhir itu berupa malaikat atau sosok yg dari luar bumi.
Hari
kelahirannya pun bukan di hari besar seperti hari Jum’at. Dia lahir di hari
Senin. Bukan lahir di bulan yang disucikan oleh orang Arab, tapi di bulan
biasa, yaitu Rabi’ul Awal. Padahal orang kampung saja punya perhitungan tentang
tanggal dan hari kelahiran sebagai indikasi kebesaran sang anak di masa
mendatang. Muhammad menjadi tokoh hebat bukan karena itu semua.
Kalau
meminjam dialog Batman ketika bertarung dengan Superman, “apakah anda bisa
berdarah?” Muhammad seperti kita juga, beliau berdarah, menikah, makan dan
minum, serta pergi berdagang. Muhammad bukanlah pria yang memiliki otot kawat
dan tulang dari besi.
Jelas
sudah Muhammad bukan orang yang memenuhi kriteria angan dan imaji kita seperti
tradisi dan kisah kanak-kanak, komik, novel filosofis maupun film yang laris di
pasaran.
Lantas
dimana letak keistimewaan seorang Muhammad?
Mengapa
pula bangsa Arab mau mendukungnya padahal ajaran yang dia bawa tidak
menempatkan bangsa Arab —iya, bangsanya sendiri— sebagai bangsa yang paling
unggul sedunia. Kita tahu Yahudi selalu merasa sebagai bangsa pilihan Tuhan.
Bahkan Hitler pun merasa Bangsa Arya sebagai yang paling unggul. Tidak heran
keduanya saling bermusuhan.
Tapi
Muhammad? Ajaran yang dia terima jelas mengatakan bahwa yang paling unggul di
sisi Tuhan itu adalah mereka yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa
Arab dari orang Madura, Afrika, Dayak, Cina, atau Bugis. Itu karena Muhammad
mengklaim bahwa beliau diutus tidak hanya untuk bangsa dimana dia hidup dan
berinteraksi, tapi untuk semua manusia di akhir jaman.
Sekali
lagi, apa sih yang membuat Muhammad menjadi istimewa dan pantas kita teladani?
Ada
tiga jawabannya.
Pertama, akhlak.
Kedua, akhlak.
Ketiga, akhlak.
Iya,
Muhammad terang-terangan menjelaskan misinya, yaitu untuk menyempurnakan akhlak
mulia. Kalimat yang dipilihnya pun sudah mengandung sebuah akhlak. Dia tidak
mengatakan akhlak sebelumnya jelek dan hancur lebur. Dia tidak hendak
mengoreksi, apalagi mencaci dan menghakimi, seperti kebanyakan para da’i saat
ini. Muhammad datang untuk “menyempurnakan” akhlak yang “mulia” (perhatikan
kata yang diberi dua tanda petik). Luar biasa bukan?!
Untuk
mengemban misi ini tentu Muhammad sendiri harus membuktikan diirnya pantas
sebagai uswatun hasanah (contoh teladan). Sebelum diangkat sebagai Nabi pun
penduduk Mekkah sudah mengenal kejujurannya sehingga beliau digelar al-Amin.
Track-record itu penting. Muhammad pun menolak kerajaan atau harta yang
ditawarkan.
Lantas
kalau beliau sudah berhasil menyempurnakan akhlak yang mulia, maka hasilnya
akan seperti apa? Kali ini Tuhan yang mewakili untuk memberi jawaban lewat ayat
suci. Hasil dari gemblengan akhlak yang mulia itu akan melahirkan Islam yang
berupa rahmat bagi semesta alam.
Duh,
sampai di sini kita berhenti sejenak. Ini bukan sosok pahlawan atau manusia
unggul seperti di komik, novel dan film, yang setelah mengalahkan kejahatan
kemudian selesai —atau paling tidak menunggu musuh baru sampai film berikutnya.
Ini sosok yang tidak menjadikan kemenangan semata sebagai sebuah tujuan. Bahkan
Qur’an pun menegaskan bahwa bukan tugas Muhammad untuk memaksa semua orang
menjadi Muslim. Tidak ada paksaan dalam beragama.
Ketika
pasukannya baru saja memenangkan pertarungan di daerah Badar yang secara
kalkulasi manusia biasa mustahil dimenangkan, sosok ini malah mengingatkan
bahwa itu pertarungan kecil. Karena pertarungan yang sesungguhnya adalah
melawan nafsu diri kita masing-masing. Pasukannya sendiri malah tidak bisa
mengontrol nafsu duniawi mereka saat pertempuran berikutnya di bukit uhud yang
membuat mereka kalah. Pelajaran pahit!
Tapi
apa itu semua cukup untuk menjadikan Muhammad sebagai sosok yang istimewa dalam
panggung sejarah peradaban manusia?
Tuhan
memberinya kitab suci al-Qur’an. Inilah mu’jizat Muhammad. Adakah keajaiban
pada kitab suci yang dijadikan andalan Nabi terakhir ini? Karena Muhammad
adalah sosok panutan untuk semua bangsa dan melintasi zaman hingga hari kiamat
nanti, tentu saja mu’jizatnya juga harus melintasi batas ruang dan waktu; tidak
bisa hanya temporer atau lokal seperti mu’jiat para Nabi sebelumnya.
Musa
menghadapi jaman dimana penyihir begitu ditakuti, maka mu’jizat Musa pun cocok
untuk jaman itu. Tapi mu’jizat Muhammad harus melampaui jamannya sendiri.
Lantas
bagaimana kitab suci al-Qur’an melintasi itu semua? Apakah lewat peperangan dan
kekerasan menaklukkan dunia? Apakah lewat penjajahan dan penindasan terhadap
umat lain? Tidak!
Misi
utama sosok ini yang hendak menyempurnakan peradaban manusia yang berakhlak
mulia sebagai rahmat untuk semesta alam diwujudkan dalam wahyu pertama. Ketika
menerima perintah pertama yang diterimanya di gua hira, isinya berupa Iqra’
(bacalah!). Inilah cikal-bakal munculnya peradaban Islam.
Lewat ilmu pengetahuan misi Muhammad melintasi batas wilayah, jaman dan
generasi. Itu sebabnya Iqbal, cendekiawan besar dari Pakistan, menulis bahwa
“Muhammad adalah mukadimah bagi alam semesta”.
Maka
lewat apresiasi terhadap ilmu pengetahuan yang etis dan mengandung rahmat
ilahi, Muhammad telah menginspirasi jejak peradaban manusia. Iqbal, bolehlah
kita kutip sekali lagi, untuk menjelaskan bagaimana manusia mampu mengkreasi
dari apa yang sudah Tuhan ciptakan sebelumnya.
“Kau
mencipta malam, aku mencipta lampu untuk meneranginya.
Kau membuat lempung, darinya aku bikin cawan minuman.”
Di
sinilah keistimewaan seorang manusia bernama Muhammad. Ajaran yang dibawanya
plus keteladanan etis yang diwariskannya merupakan kontribusi penting bagi
peradaban semesta.
Maulid
adalah memori kolektif kita akan perjuangan Nabi Muhammad menginstitusionalisasikan
akhlak mulia, perintah Iqra’ dan Islam yang rahmatan lil alamin. Tanpa
kesadaran akan jejak silam, kita mustahil bisa move on. Maka Maulid jangan
direduksi hanya menjadi perdebatan tahunan masalah bid’ah atau tidak. Maulid
Nabi adalah momen kita untuk kembali mengambil pelajaran dari sosok yang Allah
dan malaikat pun bershalawat kepadanya.
Allahumma
shalli ‘alayhi zinata ‘arsyika wa mablagha ridhaka wa midada kalimatika wa
muntaha rahmatika.
Ya
Allah Limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad seindah ‘ArasyMu, sebanyak
ridhaMu, kalimatMu dan rahmatMu. (
Nadirsyah Hosen, tulisan ini diambil dari beranda facebook Ketua PCI NU Australia dan New Zealand ini)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masa Jabatan Kades 9 Tahun : Jalan Tengah Menjaga Stabilitas dan Pembangunan Desa

    Masa Jabatan Kades 9 Tahun : Jalan Tengah Menjaga Stabilitas dan Pembangunan Desa

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Pembangunan di desa harus lebih dioptimalkan lagi. Usulan masa jabatan kepala desa menjadi 9 tahun adalah sebuah jalan tengah. Para kepala desa menilai tambahan masa jabatan itu untuk menjaga kesinambungan pembangunan desa, para kepala desa membutuhkan waktu tambahan jabatan karena masa enam tahun dinilai tidak efektif. JAKARTA – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Abdul Halim […]

  • Filter Inlet Outlet Bikin Irigasi Persawahan Jadi Sehat

    Filter Inlet Outlet Bikin Irigasi Persawahan Jadi Sehat

    • calendar_month Kam, 12 Jul 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Teknologi penyaringan air sebelum dan sesudah masuk area persawahan, dinilai sangat diperlukan. Hal ini mengingat air yang berasal dari sungai maupun sawah yang digunakan untuk irigasi, dimungkinkan mengandung kontaminan logam berat maupun residu pestisida, tentu dampaknya adalah kesehatan manusia. “Hasil penelitian yang kami lakukan, menunjukkan bahwa penggunaan pestisida di lahan pertanian dapat mengakibatkan akumulasi residu […]

  • Suluk Maleman: Kasih Sayang, Inti Kemanusiaan yang Terancam Hilang

    Suluk Maleman: Kasih Sayang, Inti Kemanusiaan yang Terancam Hilang

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 121
    • 0Komentar

    PATI –  “Darurat Kasih Sayang” menjadi tema utama Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 yang digelar pada Sabtu (21/9/2024) malam. Tema ini menjadi ajakan untuk merenungkan kembali situasi carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan. Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, menekankan pentingnya belajar sifat kasih sayang di bulan kelahiran Nabi Muhammad. Beliau mengingatkan […]

  • Suasana rapat paripurna DPRD Pati 

    Viral Ketua DPRD Pati Kecewa karena Anggota Bolos Paripurna

    • calendar_month Sel, 13 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Suasana rapat paripurna DPRD Pati PATI – Kedisiplinan anggota DPRD Pati masih menjadi sorotan, hal ini terlihat dari tingkat kehadiran dalam rapat paripurna. Ketua DPRD Pati Ali Badrudin sampai kesal dengan hal itu. Kekesalannya dilontarkan saat memimpin Rapat Paripurna dengan agenda Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), (13/6/2023). Untuk diketahui pada rapat paripurna tersebut sebanyak 22 anggota […]

  • Kiai Said ; Lawan Hoax, Sikapi Informasi dengan Bijak

    Kiai Said ; Lawan Hoax, Sikapi Informasi dengan Bijak

    • calendar_month Sel, 25 Jun 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Kiai Said Aqil Siradj JEPARA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Sirodj, mengajak masyarakat untuk bijaksana dalam menyikapi segala informasi. Kroscek dengan sumber-sumber terpercaya menjadi cara ampuh memerangi hoax yang telah merebak di masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam acara Haflah Akhirussanah dan Halalbihalal Keluarga Besar Yayasan Hadziqiyyah, pada Jumat (21/6/2019) […]

  • Safin Pati Sports School Juarai Futsal Pesantenan Championship 2025

    Safin Pati Sports School Juarai Futsal Pesantenan Championship 2025

    • calendar_month Rab, 14 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 135
    • 0Komentar

    PATI – Siswa Safin Pati Sports School berjaya di ajang Pesantenan Championship 2025 dengan meraih gelar juara di kategori SMP dan SMA. Turnamen futsal yang berlangsung di GOR Pesantenan, Pati, pada 8-12 Mei 2025 ini diikuti puluhan sekolah se-Kabupaten Pati. Di final SMA, Safin Pati mengalahkan SMAN 1 Juwana dengan skor 7-4, setelah sempat tertinggal […]

expand_less