Dilirik Hotman Paris, Pengacara Muda Asal Pati Pilih Pulang dan Matangkan Diri di Daerah
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 99.643

Pengacara muda Siti Halimah, figur inspiratif asal Pati yang membuktikan ketekunan dan kerja keras mengantarkan pada kesuksesan.
PATI – Keberhasilan dan cara kerja Siti Halimah di dunia hukum ternyata menarik perhatian salah satu pengacara paling ternama di Indonesia, Hotman Paris Hutapea.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Kalim ini mengaku sering berpapasan dan berinteraksi dengan Hotman saat pengacara kondang itu menangani perkara di pengadilan Semarang.
Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Kalim akhirnya mendapatkan tawaran istimewa dan kesempatan emas untuk bergabung dengan kantor hukum milik Hotman Paris yang berpusat di Jakarta.
Meski peluang itu terbuka lebar, perempuan kelahiran Pati, 10 Juli 1995 ini memilih untuk tidak langsung terbang ke ibu kota.
Ia memutuskan untuk tetap berkiprah di daerah dengan tujuan mematangkan berbagai keahlian hukumnya, mulai dari penyusunan dokumen, seni negosiasi, hingga kemampuan analisis dan penalaran hukum secara mendalam.
Keputusan berani menolak tawaran besar ini tidak terlepas dari mentalitas baja yang telah terbentuk sejak ia melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Kalim tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Ia kehilangan sosok ayah saat baru berusia satu bulan, dan kemudian dibesarkan sepenuhnya oleh ibu tunggal di tengah keterbatasan ekonomi.
Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya; ia justru berhasil keluar dari lingkaran kemiskinan berkat tekad kuat menempuh pendidikan dan kerja keras tanpa henti.
Sejak masih kecil, Kalim selalu berusaha masuk ke sekolah-sekolah unggulan, baik yang berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) maupun Sekolah Standar Nasional (SSN), dengan mengandalkan beasiswa. Jejak pendidikannya tercatat di SD Negeri Kajen, SMP Negeri 1 Margoyoso, hingga akhirnya lulus dari SMA Negeri 2 Pati pada tahun 2014.
Untuk membiayai kuliahnya sendiri, Kalim merantau ke Semarang dan bekerja keras melakukan berbagai pekerjaan berat. Ia pernah menjadi buruh pabrik di Demak dan Semarang, serta bekerja sebagai pramuniaga di Alfamart selama satu setengah tahun.
Perjalanan menempuh S1 Ilmu Hukum di Universitas Semarang (USM) pun tidak mudah. Ia sering kali harus mengambil cuti kuliah karena terkendala biaya dan harus membagi waktu dengan pekerjaan.
Di tengah keterbatasan itu, jiwa wirausahanya justru tumbuh. Saat berusia 23 tahun, Kalim sukses membuka usaha kuliner ayam geprek dan tahu mercon yang berkembang hingga memiliki dua cabang.
Bisnis tahu mercon yang ia rintis sejak tahun 2018 terbukti tangguh dan masih berjalan hingga tahun 2026 ini. Selain itu, ia juga mengelola usaha jasa dekorasi balon dan buket bunga.
Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum pada tahun 2023, aktivitas Kalim semakin luas. Ia melanjutkan pendidikan profesi advokat sekaligus terjun ke dunia politik praktis sebagai sarana memperluas jaringan dan relasi.
Ia pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Daerah Pemilihan 3 Kota Semarang, aktif di kepengurusan DPD Hanura Jawa Tengah, dan kini menjabat sebagai Staf Khusus Kaukus Politik Perempuan Indonesia (KPPI) Kota Semarang, yang berfokus pada pendampingan dan advokasi hukum bagi kaum perempuan.
Dedikasinya di bidang hukum diuji saat ia menjalani masa magang selama dua tahun tanpa menerima bayaran, di bawah bimbingan advokat senior. Pengorbanan itu berbuah manis saat ia resmi disumpah menjadi advokat pada tahun 2025, di bawah naungan Peradi Bersatu Jawa Tengah.
Saat ini, sambil menempuh pendidikan Magister (S2) Hukum, Kalim tetap aktif berpraktik di Kantor Hukum Semarang serta Koperasi Kota Semarang (KKBH) guna terus mengasah kemampuan profesionalnya.
Terinspirasi oleh semangat pantang menyerah yang dikenal sebagai mentalitas “Korea” ala Bambang Pacul, pengacara muda ini kini menyiapkan langkah yang jauh lebih besar. Ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi jabatan hakim, sebuah cita-cita tinggi yang ingin ia wujudkan di masa depan.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

