Tanpa Satu Kata Pun, Teater Boneka “Jala dan Jana” Ceritakan Hubungan Manusia dan Sungai di Kudus
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 18 jam yang lalu
- visibility 100.984

Pementasan teater boneka 'Jala dan Jana' karya Flying Balloons Puppet berkolaborasi Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, menyampaikan pesan pelestarian alam tanpa dialog lewat visual dan gerak.
KUDUS – Gemericik air, gerak tubuh, bentuk gambar, dan kain menjadi satu-satunya bahasa yang menghidupkan pertunjukan teater boneka bertajuk “Jala dan Jana” di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW), Kudus, Sabtu (18/7/2026) malam.
Berlangsung selama sekitar 30 menit tanpa sebaris dialog, pementasan ini justru berhasil menyampaikan pesan mendalam tentang keterkaitan erat antara manusia dan sungai.
Sajian ini merupakan hasil kolaborasi antara Flying Balloons Puppet dan KBPW, yang mengangkat kisah mitos sungai sebagai jalan masuk untuk membahas isu lingkungan dan kehidupan.
Sutradara pertunjukan, Rangga Dwi Apriadinnur, menjelaskan alur cerita berawal dari legenda ular berkepala kerbau serta buaya putih yang konon menghuni sungai.
Selama ini, lanjutnya, mitos sering dipahami sekadar kisah mistis atau dikaitkan dengan persembahan tumbal bagi alam. Padahal, makna di baliknya bisa ditafsirkan ulang sebagai warisan pengetahuan leluhur dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Bagi kami, mitos merupakan produk pengetahuan yang lahir dari sungai. Di dalamnya ada pesan agar manusia memahami bahaya sungai, banjir, sekaligus pentingnya menjaga alam,” katanya.
Rangga menambahkan, kata “Jala” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti air. Ia meyakini hubungan manusia dengan air adalah ikatan abadi yang tak pernah berakhir dan terus berubah seiring berjalannya waktu.
“Karya ini seperti seniman, akan terus tumbuh. Kami selalu melihat kembali dari sudut pandang yang berbeda, mencari visual dan perspektif baru,” ujarnya.
Bagi Rangga, “Jala dan Jana” bukanlah karya yang selesai begitu saja dalam satu kali proses. Sejak pertama kali digarap pada 2018 untuk festival di Solo bersama seniman asal Australia, pertunjukan ini terus mengalami penyempurnaan.
Selain menyampaikan pesan pelestarian alam, pertunjukan ini juga dirancang untuk menyasar anak-anak tanpa harus menggunakan gaya bahasa yang kekanak-kanakan. Lewat visual, gerak, dan boneka, imajinasi anak diajak berkembang tanpa dibatasi narasi lisan.
“Kami tidak pernah meragukan imajinasi anak. Benda-benda sederhana di rumah pun bisa menjadi media untuk membangun cerita. Yang penting adalah bagaimana mereka memvisualisasikan imajinasinya,” jelas Rangga.
Ia juga menekankan hubungan antara pemain dan boneka di atas panggung harus berjalan dua arah, bukan sekadar hubungan subjek dan objek.
“Setiap objek memiliki cerita, memori, dan cara berkomunikasi. Itu yang terus kami pelajari dalam proses berkarya,” tandasnya.
Sementara itu, Koordinator KBPW, Jessy Segitiga, mengaku sangat terkesan dengan pementasan tersebut. Baginya, keistimewaan “Jala dan Jana” justru terletak pada kesederhanaan bahasa panggung yang digunakan.
“Saya seperti ditampar. Sering kali pertunjukan dipenuhi kata-kata, tetapi justru kosong. Di sini tidak ada dialog, tetapi ketubuhan dan visual mampu berbicara sangat jujur hingga pesannya sampai kepada penonton,” tuturnya.
Menurut Jessy, pendekatan teater boneka yang memberi ruang luas bagi imajinasi anak berpotensi menjadi metode pendidikan yang patut dikembangkan. Gaya seni yang ditampilkan pun dinilai sangat selaras dengan tema sungai yang menjadi jiwa dari pertunjukan ini.
Lewat “Jala dan Jana”, Flying Balloons Puppet membuktikan bahwa pesan tentang lingkungan tak selalu harus disampaikan lewat kata-kata. Gerak, boneka, dan visual mampu menjadi bahasa yang mengajak setiap penonton merenung kembali hubungan manusia dengan alam.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

