Pekamuria Adakan Seminar Konservasi, Menjaring Generasi
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 100.972

PEKAMURIA mengadakan seminar konservasi sebagai rangkaian hari lahir ke 3 tahun bertajuk “Generasi Hijau; Membangun Harapan, Melestarikan Lingkungan”
KUDUS – Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKAMURIA) adakan Seminar Konservasi sebagai rangkaian hari lahir ke 3 tahun. Seminar bertajuk “Generasi Hijau; Membangun Harapan, Melestarikan Lingkungan” ini, menghadirkan berbagai praktisi dari bidang kepedulian lingkungan.
Hadir dalam acara tersebut, Arif Wahyudi, DPRD Komisi E Provinsi Jawa Tengah; Fawaz, Pemerhati Konservasi di Muria; serta Faesal Adam dari Kresek Indonesia; dan dari Ketua PEKA MURIA, Teguh Budi Wiyono.
Teguh mengatakan bahwa Muria saat ini perlu gerakan kaum muda agar tidak terjadi lagi perambahan. Ingatannya tertuju pada sekitar tahun 1994 hingga 1998 silam, dimana hutan Muria dijarah besar-besaran.
“Kini, dari sekitar 11.000 hektare hutan Muria yang tersisa hanya 2000an hektare” ungkapnya.
Teguh, berharap konservasi tidak hanya dilakukan satu komunitas saja, melainkan kolaborasi antar lini, bekerjasama karena konservasi bukan hanya kegiatan sekali dua kali saja.
Selain itu, salah satu pemateri lain, Arif Wahyudi, notabene sebagai pengawal pemangku kebijakan terkait kepemudaan, karena menduduki kursi legislator Provinsi Jawa Tengah, meyakini bahwa generasi pelajar ini mampu mendorong pengetahuan serta aktif berkampanye tentang konservasi.
Selain itu, Yudi, sapaan akrabnya, juga menekankan kaum muda harus mampu mengelola media sosialnya dengan baik, konten-konten terkait konservasi harus dimasifkan.
“Kegiatan ini menjadi jembatan kaum muda untuk terus menjaga pengetahuan konservasi, hingga akhirnya menjadi sebuah subyek konservasi itu sendiri, ” jelas pria kelahiran Kudus ini.
Acara yang dilaksanakan di Aula SMK Duta Karya ini, disambut oleh tuan rumah yang diwakili oleh Dr. H. Muhammad Tho’at, M. Kes. Pihaknya menghubungkan kepedulian konservasi dengan cerita Sunan Bonang yang dirampok tongkatnya kemudian jatuh ke rumput.
Namun ketika mengambil tongkatnya, Sunan Bonang tidak sengaja mencabut beberapa rumput. Seketika Sunan Bonang menangis dan merasa bersalah. Adegan inilah yang meneguhkan Sunan Kalijaga untuk nyantri kepada Sunan Bonang.
“Ternyata memang menjaga lingkungan tidak dilihat dari pohon yang dirusak, rumput saja, tanaman yang seharusnya hidup subur, bila dicabut sembarangan pasti akan berdampak negatif,” ujarnya.
Sedangkan Fawaz, yang sudah hampir 7 tahun meneliti di Pegunungan Muria mengatakan jika selama ini masyarakat memegang kendali penuh atas konservasi hutan.
Jika adanya konflik manusia dan satwa, itu tidak ada, yang diserang hanya hewan ternak warga, itupun karena kandangnya kurang proporsional. Disinilah akhirnya PEKAMURIA hadir mengedukasi dan mencarikan dana untuk memperbaiki dan memperkuat kandang.
“Jangan sampai kita (masyarakat) hanya menjadi orang yang paling disalahkan atas kerusakan hutan. Jika kebijakan yang menaungi tidak berfungsi atau bahkan regulasinya kurang tepat.” terang pria asal Betawi tersebut.
Kita sebenarnya punya contoh kongkrit bagaimana devorestasi akan melumpuhkan kawasan yang terdampak. Hilangnya Selat Muria yang melemahkan kekuatan Kerajaan Demak saat itu, karena kekuatan Demak ada di maritimnya yang saat itu memanfaatkan Selat Muria.
Kemudian selatnya mendangkal akibat kerusakan alam di sekitaran Patiayam dan Muria. Ketika musim hujan, banjir yang terjadi hampir tiap tahun, membuat sedimentasi terbawa air dan kemudian selat mendangkal dan hilang.
Materi menarik juga disampaikan oleh Faesal Adam, dari Kresek Indonesia, yang membahas khusus bagaimana seharusnya kita mengolah sampah dengan baik.
“Seperti yang dilakukan PEKA MURIA ini patut dicontoh, karena acara yang terlaksana pagi hingga siang ini tidak menghasilkan sampah sama sekali, ” katanya.
Kunci dalam isu sampah hari ini itu dengan menerapkan 3 H. Cegah, Pilah, Olah. Cegah seminimal mungkin menghasilkan sampah, pilah sampahnya sesuai dengan klasifikasinya serta olah sampah yang bisa didaur ulang atau digunakan kembali.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

