Breaking News
light_mode

Suluk Maleman: Sujud Sebagai Jalan dalam Pusaran Zaman

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 3.234

PATI – Sujud secara bahasa dan makna membawa konsep ketundukan yang tak terbatas, kepatuhan total, serta penghambaan diri baik dari segi jasmani maupun rohani. Bagi ajaran Islam yang mengedepankan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, sujud menjadi puncak dari manifestasi itu. Begitu pula jika Islam dipahami sebagai ajaran kedamaian, sujud adalah bentuk yang paling sempurna untuk meraih keharmonisan tersebut.

Hal ini disampaikan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai inti pembahasan dalam acara Suluk Maleman bertema “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang berlangsung pada hari Sabtu (14/3) lalu. Menurutnya, seluruh alam semesta—mulai dari materi, tumbuhan, hewan, hingga setiap unsur yang membentuk tubuh manusia—sebenarnya senantiasa dalam keadaan bersujud; hanya kesadaran manusia yang memiliki dua pilihan: menyatu dalam kesujudan bersama seluruh elemen alam, atau terus berdiri dengan kepala mendongak karena kesombongan.

Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal terbentuknya, peradaban modern didirikan atas dua pijakan keangkuhan: pertama, memposisikan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu di alam semesta. Kedua, menganggap materi sebagai satu-satunya realitas yang ada. Kedua dasar ini membuat kerapuhan yang melekat pada setiap konstruksi peradaban buatan manusia, tampak semakin jelas.

“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.

Sebagaimana diketahui, struktur rumah laba-laba tergolong konstruksi yang kuat secara teknis. Ia mampu menahan beban berlipat meskipun terbuat dari serat yang lebih tipis dari benang.

Namun pada kenyataannya, cukup dengan sentuhan lembut bahkan dari tangan bayi sekalipun, struktur tersebut bisa roboh total. Menurut Anis, inilah asal muasal istilah “kalang-kabut” dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari kata “kal-ankabut” yang berarti seperti laba-laba.

Anis menyatakan bahwa peradaban modern telah banyak menanamkan khayalan dalam kesadaran masyarakat. Salah satu ilusi tersebut adalah pandangan bahwa kebahagiaan bisa diraih melalui kelimpahan materi dan kekayaan.

Padahal salah satu teori ekonomi menjelaskan bahwa rasa senang hanya akan dirasakan ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kalinya.

“Pertama punya motor orang akan senang, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang. Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan,” jelasnya.

“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.

Obsesi untuk mengejar ilusi tersebut membuat manusia seringkali melupakan anak-anak, keluarga, tetangga, bahkan negara sendiri.

“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah kekacauan peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.

Anis menambahkan bahwa salah satu cara agar tidak terjerumus dalam kesesatan adalah dengan melakukan sujud.

“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.

Pria yang juga produktif dalam mencipta karya sastra tersebut menyebutkan bahwa dengan senantiasa mengingat Allah, hati akan bisa mendapatkan ketenangan.

“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Anis juga menyentil tentang serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menurutnya, peristiwa peperangan ini memberikan pelajaran mendalam bagi seluruh dunia. Salah satunya adalah fakta bahwa Amerika Serikat yang dianggap sebagai kekuatan super dalam bidang pertahanan justru terlihat kewalahan ketika berhadapan dengan Iran—bangsa yang telah mengalami embargo selama 45 tahun namun tetap mampu berdiri dengan daulat.

“Puluhan tahun diembargo, tapi teknologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu teknologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dolar Amerika,” imbuh dia.

Anis menyebutkan hal tersebut bisa terjadi karena di Iran, semangat nasionalisme yang kuat berpadu dengan semangat keagamaan yang juga telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Adanya tekanan dan serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu padu.

“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.

Acara pengajian yang berlangsung selama hampir 3,5 jam di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berhasil membuat jamaah yang menghadiri secara langsung maupun melalui berbagai platform media sosial terlibat penuh dalam menyimak materi yang disampaikan. Musik Sampak Gus Uran juga menjadi bagian yang memperkaya suasana Suluk Maleman kali ini.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Edy Wuryanto: Gizi Sehat Kunci Lahirnya Generasi Cerdas dan Unggul, Atasi Stunting di Pati

    Edy Wuryanto: Gizi Sehat Kunci Lahirnya Generasi Cerdas dan Unggul, Atasi Stunting di Pati

    • calendar_month Ming, 15 Feb 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 2.278
    • 0Komentar

    PATI – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menggarisbawahi pentingnya perbaikan asupan gizi sebagai landasan utama dalam membentuk generasi muda yang lebih sehat dan berintelektual tinggi. Pernyataan ini disampaikan Edy dalam acara sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan bersama mitra kerja di Kabupaten Pati pada Minggu (15/2). Dalam kesempatan tersebut, Edy menyoroti […]

  • PAC PN Margoyoso Gelar Kegiatan Berbagi Takjil dan Buka Bersama di Bulan Ramadhan

    PAC PN Margoyoso Gelar Kegiatan Berbagi Takjil dan Buka Bersama di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Ming, 24 Mar 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 727
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa (PN) Margoyoso menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil dan buka bersama sebagai bagian dari agenda rutin mereka di bulan Ramadhan, Minggu (24/03/2024). Ketua PAC PN Margoyoso, Azis, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar buka bersama, tetapi juga sebagai upaya untuk menanamkan rasa tanggung jawab terhadap sesama, rasa peduli, […]

  • Sekolah di Pati Diduga Lakukan Pungli, Komisi D DPRD Lakukan Investigasi

    Sekolah di Pati Diduga Lakukan Pungli, Komisi D DPRD Lakukan Investigasi

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 272
    • 0Komentar

    PATI – Komisi D DPRD Pati tengah menyelidiki laporan dugaan pungutan liar (pungli) di sejumlah sekolah di Kabupaten Pati. Ketua Komisi D, Teguh Bandang Waluyo, menyatakan keprihatinan atas praktik pungli yang membebani orang tua siswa. “Kalau ada unsur pidana, kami akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri atau Polresta Pati. Ini persoalan serius, karena pungli melanggar aturan […]

  • Polda Jateng Ungkap 711 Kasus Premanisme dalam Operasi Aman Candi 2025

    Polda Jateng Ungkap 711 Kasus Premanisme dalam Operasi Aman Candi 2025

    • calendar_month Rab, 4 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 302
    • 0Komentar

    SEMARANG – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah berhasil mengungkap 711 kasus premanisme selama Operasi Aman Candi 2025 yang berlangsung pada 12-31 Mei 2025. Wakapolda Jateng, Brigjen Pol Latif Usman, mengumumkan keberhasilan tersebut dalam konferensi pers di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Selasa (3/6/2025). Brigjen Latif menjelaskan operasi ini bertujuan menciptakan lingkungan aman dan mendukung pertumbuhan ekonomi […]

  • Profil Tim Liga 3 Safin Pati FC Dihuni Para Pemain Masa Depan

    Profil Tim Liga 3 Safin Pati FC Dihuni Para Pemain Masa Depan

    • calendar_month Rab, 21 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 231
    • 0Komentar

      Para pemain Safin Pati FC berlatih di lapangan Gelora Soekarno Mojoagung Pati Dihuni pemain-pemain muda dari akademi, tim Safin Pati FC siap bertarung di Liga 3 Jawa Tengah. Tidak mengejar target juara atau promosi, tim ini mengejar jam terbang untuk para pemain mudanya agar semakin terasah dan dapat menjadi pemain hebat di masa mendatang. […]

  • Kemenkeu Beri Angin Segar, Cukai Rokok Industri Besar Tidak Akan Dinaikkan

    Kemenkeu Beri Angin Segar, Cukai Rokok Industri Besar Tidak Akan Dinaikkan

    • calendar_month Jum, 3 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 222
    • 0Komentar

    KUDUS – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, telah mengumumkan bahwa tarif cukai rokok untuk industri besar tidak akan mengalami kenaikan pada tahun mendatang. Keputusan ini disampaikan saat kunjungan kerja di Kudus pada Jumat (3/10/2025). Namun, kebijakan untuk industri kecil, seperti Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Kudus, masih akan dievaluasi untuk memastikan persaingan […]

expand_less