Breaking News
light_mode

Menjadi Guru Idola

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Ming, 10 Nov 2019
  • visibility 433
Ilustrasi ayobandung.com

Guru idola? Guru yang
diidolakan siswa tidak harus guru yang cantik, atau ganteng. Bukan guru yang
paling kaya atau paling pintar. Banyak kriteria untuk menjadi seorang guru
idola. Jika kedatangan sang guru sangat dinantikan oleh siswa, ini merupakan
langkah awal untuk menjadi guru idola. 

Di era sekarang, banyak hal yang diinginkan oleh pelajar untuk
mengidolakan guru sebagai panutannya. Guru dituntut untuk bekerja profesional.
Tidak mudah untuk menjadi guru profesional.

Banyak hal yang harus
terpenuhi kriteria-kriterianya. Jika hanya sekedar disukai siswa, mudah
didapat. Asalkan guru itu ramah, supel, dan peduli dengan siswa, otomatis akan
menjadi idola siswa. Apalagi jika ketika pembelajaran ada variasi dan tidak
membosankan. Yang diminta, guru jangan pernah marah terhadap siswa. Jelas guru
tersebut ada di hati para siswa.
Paham karakter
Satu hal yang harus
dimiliki guru idola adalah guru yang memahami karakter siswa satu-persatu.
Ketika pembelajaran sedang berlangsung, jika guru mendapatkan siswanya ada yang
berhasil mengerjakan tugas dan benar, maka tak segan guru memberikan pujian,
hadiah, atau sanjungan.

Hadiah yang diberikan
guru tidak harus berupa barang
atau benda. Hadiah
bisa berupa ucapan yang mampu membuat anak menjadi bangga.  Anak akan merasa senang dan puas akan hasil
kerjanya.

Dengan adanya hadiah,
pujian yang diberikan kepada siswa, dalam kesempatan lain anak tersebut akan
berbuat hal yang sama. Ingin mendapatkan sanjungan atau pujian. Dengan adanya
sanjungan, pujian atau hadiah, anak akan merasakan ada satu pembelajaran yang
lebih.

Guru yang ramah. Guru
yang tak pernah marah-marah kepada siswa. Guru yang selalu tersenyum jika
bertemu dengan siswanya. Guru yang peduli akan siswanya. Yang diharapkan siswa
adalah guru yang peduli terhadap anak. Kadang guru perlu mengajak siswanya
untuk saling bertukar pikiran.

Kadang anak juga ingin
diajak untuk bercanda bersama.  Ada
suasana keakraban yang tercipta ketika anak dan guru saling bersendau gurau (
kadang guru sering menggojlok
siswanya, agar tidak ada kesan guru begitu angkuh dan tiada peduli kepada
siswa).

Thomas
Gordon
seorang penyelenggara
berbagai kursus keterampilan yang tersohor di Amerika Serikat telah memberikan
beberapa definisi guru yang baik.
Begini
kutipan ciri guru yang baik menurut Thomas Gordon:

1. Tenang dan tidak
menunjukkan emosi yang menyala,
2. Tidak mempunyai
prasangka yang buruk kepada peserta didiknya,
3. Dapat menyembunyikan
perasaannya dari peserta didik,
4. Memandang semua
peserta didik sama,
5. Mampu menciptakan
lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat,
6. Konsisten, tidak
berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan,
7.Pandai, bijaksana
dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa,
8. Sanggup memberikan
bantuan secara maksimal kepada peserta didik.

Jika diperhatikan poin demi poin ke delapan ciri tersebut,
ternyata  guru yang baik harus lebih dalam segala hal dari
orang-orang pada umumnya. Harus lebih mengerti, lebih memiliki ilmu pengetahuan,
lebih sempurna dari orang-orang lain. Guru harus mampu mengatasi kelemahan
manusia lain!


Tidak akan ada manusia
biasa yang mampu menjadi guru sesuai ciri-ciri tersebut. Kalau ada, itu hanya
mitos atau cerita hayalan belaka. Akan tetapi dari delapan ciri tersebut,
beberapa poin di antaranya mungkin dimiliki oleh guru. Jika ada profil guru
yang memiliki ciri-ciri seperti di atas, adalah guru yang benar-benar guru,
guru  yang hanya berpikir dan bekerja,
untuk anak didiknya saja.

Realitanya, guru adalah
manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Punya kekurangan dan kelemahan dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari. Itu sebabnya, di samping mengajar, seorang
guru juga sedang belajar. Guru juga bagian dari masyarakat yang memiliki
tanggung jawab dan beban moral tersendiri.

Jadi seorang guru juga
harus mampu menutupi segala permasalahan dari rumahtangganya atau dari
lingkungan dimana ia berada.
Guru harus bisa menutup
luka hatinya, meski dalam situasi membara. Jangan sampai emosi dan kesedihan di
bawa dalam kondisi pembelajaran.
[] 
Sarwiyani,
Guru SMP Negeri 1 Pucakwangi
, menjadi guru sejak 1983

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Khoirul Huda saat berlatih dengan tim di Stadion Joyokusumo Pati 

    Profil Khoirul Huda Bek Persipa Putra Daerah Asal Mojo

    • calendar_month Sel, 4 Jul 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Khoirul Huda saat berlatih dengan tim di Stadion Joyokusumo Pati Dari sekian pemain bola asli Pati hanya sedikit yang bisa tembus ke skuad Persipa Pati. Salah satunya adalah Khoirul Huda, pemain muda yang cukup konsisten penampilannya sehingga dipercaya memperkuat Laskar Saridin hingga di kompetisi Liga 2. PATI – Nama Khoirul Huda telah menghiasi skuad Persipa […]

  • Nasib Tak Jelas, Pengurus Persipa Diharap Mau Menjalin Komunikasi

    Nasib Tak Jelas, Pengurus Persipa Diharap Mau Menjalin Komunikasi

    • calendar_month Sen, 11 Des 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Lingkar Muria, PATI – Selama ini pemerintah Kabupaten Pati melalui bupati, maupun DPRD sudah siap sedia mendukung penuh kiprah dari Persipa. Demikian dikatakan Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Pati Joni Kurnianto saat ditemui di ruangannya siang kemarin. Pria yang juga pernah duduk sebagai manager tim Persipa ini menuturkan, pihaknya siap mendukung tim berjuluk Laskar Saridin […]

  • Syahadah, Kesaksian, dan Kenyataan

    Syahadah, Kesaksian, dan Kenyataan

    • calendar_month Sel, 21 Mei 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Suluk Maleman pada edisi ke 89 di bulan Ramadan kali ini kembali mengajak untuk mengulik makna syahadah. Konsep syahadah yang tak sekadar ucapan lisan menjadi sentilan tersendiri bagi warga yang datang dalam ngaji budaya tersebut. Sabrang Mowo Damar Panuluh bahkan membuka dialog dengan menyebut jika syahadah menjadi suatu fondasi sebuah sistem dalam berkehidupan. Baginya konsep […]

  • Baginda Teladan Sepanjang Zaman

    Baginda Teladan Sepanjang Zaman

    • calendar_month Sab, 16 Sep 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Istimewa Oleh : Achmad Ulil Albab Hari ini kita dihadapkan dengan tontonan dagelan yang bisa dibilang menjijikkan. Tabrak sana tabrak sini tak peduli aturan, orang tak lagi punya pegangan. Kira-kira begitu pengamatan saya. Lebih tepatnya hari ini kita selalu dihadapkan dengan sebuah pernyataan dan kenyataan, bahwa bangsa ini sedang menghadapi krisis multi dimensional yang akut. […]

  • Sinyal Patrick Kluivert Dipecat : Sumardji Janji Laporkan Kinerja Pelatih Secara Terbuka di Rapat Exco PSSI

    Sinyal Patrick Kluivert Dipecat : Sumardji Janji Laporkan Kinerja Pelatih Secara Terbuka di Rapat Exco PSSI

    • calendar_month Sen, 13 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 290
    • 0Komentar

    JAKARTA – Manajer Timnas Indonesia, Sumardji, menegaskan akan menyampaikan laporan secara jujur dan terbuka terkait kinerja jajaran pelatih timnas dalam rapat evaluasi bersama PSSI. Ia berharap jajaran Komite Eksekutif (Exco) berani mengambil keputusan tegas menyikapi situasi terkini. “Soal Patrick Kluivert, saya kira nanti akan diputuskan dalam rapat Exco. Tapi sekali lagi, saya akan sampaikan apa […]

  • LDJ Ajari Pelajar NU Jati Tangkal Bahaya Radikalisme

    LDJ Ajari Pelajar NU Jati Tangkal Bahaya Radikalisme

    • calendar_month Ming, 10 Sep 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Dokumentasi PAC IPNU IPPNU Jati-Kudus Lingkar Muria, KUDUS – Dengan memiliki pemikiran yang kritis dan berimbang, peserta Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) IPNU dan IPPNU Jati diharapkan menjadi generasi yang anti radikalisme. Hal ini dikemukakan M. Farid dalam materi berita yang disampaikannya kemarin, di TPQ Al Qudsy Jetiskapuan. ”Kebanyakan, pemikiran radikal itu lahir dari propaganda media. […]

expand_less