Breaking News
light_mode

Al Qur’an dan Fiqih Adalah Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan

  • account_circle Abdul Adhim
  • calendar_month Sab, 28 Feb 2026
  • visibility 2.777
Sebuah Catatan Muhadharah ‘Ammah Al-Itqan bersama KH Baha’uddin Nursalim. Tulisan ini sepenuhnya dikutip dari facebook Sahal Japara. 
Ahad, 15 Februari 2026 menjadi hari yang penuh cahaya ilmu dan keberkahan. Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an Kudus menyelenggarakan Muhadharah ‘Ammah Ngaos Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an di Pondok Pesantren LP3IA Narukan Kragan Rembang.
Kitab monumental karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi itu dikaji pada bagian Ilmu Qira’at bersama KH Baha’uddin Nursalim (Gus Baha’).
Dari Ma’had Aly hadir Mudir dan Dewan Muhadhir: KH Ahmad Nashiih M.Ag, KH Riqza Ahmad M.Ag, KH Halim Shidqi S.Psi, Ustadz Dr. Sahal Mahfudh, Ustadz Dr. Muhammad Abu Nadlir, Ustadz Nizanul Falih Lc MA, Ustadz Alif Fakhrurriza S.Ag, Ustadz Hisyam S.Ag, dan para asatidz lainnya.
Sebuah pertemuan yang bukan sekadar forum ilmiah, tetapi momentum menyambung sanad keilmuan.
Dalam pembahasan tentang Qira’at, Gus Baha’ menyampaikan satu kaidah penting dari Imam as-Suyuthi:
بِاخْتِلَافِ الْقِرَاءَاتِ يَظْهَرُ الِاخْتِلَافُ فِي الْأَحْكَامِ
“Dengan adanya perbedaan qira’ah, tampaklah perbedaan dalam hukum-hukum fiqih.”
Kaidah ini menegaskan bahwa qira’at bukan sekadar variasi bacaan, melainkan pintu keluasan makna dan keluasan istinbath hukum.
Dari ragam qira’at, lahir kekayaan tafsir dan keluasan fiqh.
Pada konteks inilah Gus Baha’ memberi dawuh yang sangat penting bagi para santri Qur’an. Santri Qur’an yang ngaji Qira’at Sab‘ah jangan hanya mendalami kaidah-kaidah ushul seperti imalah, naqal, dan kaidah-kaidah teknis lainnya yang mengkaji tentang variasi bacaan, yang tidak ada implikasinya terhadap makna.
Kajian Ushul ini penting, sebatas pada menjaga riwayat-nya dari para Guru yang menyambung hingga Rasulullah SAW.
Yang jauh lebih penting adalah ragam Qira’at yang berimplikasi terhadap hukum fiqih. Perbedaan bacaan sering kali melahirkan perbedaan makna, dan dari sana lahir perbedaan hukum.
Beliau juga mengingatkan bahwa santri Qur’an harus memiliki sangu ilmu fiqih yang dibutuhkan masyarakat. Tidak cukup hanya hafalan saja.
Kelak, ketika ia ditokohkan di tengah umat, masyarakat akan datang membawa berbagai pertanyaan hukum. Jika ia tidak memiliki perangkat ilmu fiqih yang memadai, lalu menjawab tanpa dasar ilmu, maka tentu sangat berbahaya. Sebagaimana peringatan Nabi:
فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
Karena itu, Al-Qur’an yang dihafal dan dijaga hendaknya benar-benar menjadi cahaya yang hidup di tengah masyarakat:
نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ
Menjadi cahaya yang menerangi langkahnya dan memberi manfaat nyata bagi umat.
Gus Baha’ kemudian mencontohkan sosok agung KH Arwani Amin (Mbah Arwani). Beliau bukan hanya ‘alim dalam Qira’at Sab‘ah, tetapi juga menguasai berbagai fan ilmu.
Kisah Mbah Arwani sebelum menghafal Al-Qur’an—saat nyantri kepada KH Hasyim Asy’ari—perlu terus dihidupkan.
Itu menjadi simbol bahwa Al-Qur’an dan fiqh tidak pernah dipisahkan.
Seakan-akan hari ini ada jarak antara “Santri Qur’an” dan “Santri Kitab”, padahal dalam tradisi pesantren klasik keduanya menyatu.
Santri Qur’an harus memahami fiqh melalui turats dan kitab kuning. Santri Kitab juga harus memahami dan mampu membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.
Inilah warisan para masyayikh kita, yang dari beliau-beliau ini, sanad al Qur’an kita menyambung.
Dalam kesempatan itu, Gus Baha’ juga menuturkan kisah yang beliau peroleh dari KH Maimoen Zubair tentang KH Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Dikisahkan bahwa Kiai Munawwir sangat ingin memberi teladan kepada para santri Qur’an agar tidak hanya menghafal saja, tetapi juga mendalami kitab kuning dan ajaran agama secara komprehensif.
Mbah Kiai Munawwir Krapyak pernah meminta santrinya yang merupakan lulusan dari Pondok Lirboyo untuk mengajar kitab kuning “Fathul Mu’in” di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan beliau sendiri juga turut duduk mengaji kepada santrinya yang ngalim kitab kuning itu.
Sebuah teladan tentang sikap tawadhu’ dan kecintaan pada ilmu. Bahkan, karena kecintaan beliau kepada para santri ahli kitab kuning, beliau pun mengambil menantu dari kalangan mereka, di antaranya adalah KH Ali Maksum putra Kiai Maksum Lasem, dan Nyai Hj Qomariyyah putri KH Abdul Karim Lirboyo nenek dari Ibunyai Hj Tutik N. Janah binti KH Thoha bin KH Zaini bin KH Munawwir Krapyak.
Teladan para masyayikh di atas menjadi pengingat bahwa al Qur’an dan Fiqh adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Santri Qur’an harus paham fiqih, begitupun sebaliknya, Santri Kitab juga harus paham tentang al Qur’an.
  • Penulis: Abdul Adhim

Rekomendasi Untuk Anda

  • Plt Bupati Chandra Targetkan Pati Tembus Tiga Besar Porprov Jateng 2026

    Plt Bupati Chandra Targetkan Pati Tembus Tiga Besar Porprov Jateng 2026

    • calendar_month 19 jam yang lalu
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 102.954
    • 0Komentar

    PATI – Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mematok target tinggi bagi Kontingen Kabupaten Pati pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Ia berharap kontingen Pati mampu menembus tiga besar setelah sebelumnya menempati posisi keempat. Target tersebut disampaikan Chandra saat melepas hampir 400 atlet, pelatih, dan official di Pendopo Kabupaten Pati, Sabtu (17/10/2026). […]

  • BPD di Pati Tuntut Tunjangan Naik jadi 4 Juta

    BPD di Pati Tuntut Tunjangan Naik jadi 4 Juta

    • calendar_month Kam, 20 Okt 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Kegiatan audiensi BPD bersama DPRD Pati.  Merasa memiliki tanggungjawab dan andil penting dalam pemerintahan desa, anggota BPD meminta kenaikan tunjangan. Mereka ngadu ke DPRD untuk memuluskan usulan kenaikan tunjangan sesuai kehendak mereka yaitu 4 juta per tahun. PATI – Lembaga Komunitas dan Komunikasi (LKK) Badan Permusywaratan Daerah (BPD) Kabupaten Pati menuntut kenaikan tunjangan. Dari sebelumnya […]

  • 21 Kades di Pati Terima Penghargaan Desa Mandiri

    21 Kades di Pati Terima Penghargaan Desa Mandiri

    • calendar_month Kam, 13 Apr 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Pj Bupati Henggar Budi Anggoro memberikan penghargaan kepada perwakilan desa mandiri.  Sebanyak 21 desa di Kabupaten Pati mendapat penghargaan sebagai desa mandiri. Penghargaan ini dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar. Saat ini di Pati tidak ada desa yang berstatus sebagai desa tertinggal dan sangat tertinggal. PATI – Penjabat […]

  • Anggota DPRD Pati Prihatin atas Fenomena Sound Horeg yang Meresahkan Warga

    Anggota DPRD Pati Prihatin atas Fenomena Sound Horeg yang Meresahkan Warga

    • calendar_month Kam, 24 Apr 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 433
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Kabupaten Pati, Muslihan, menyoroti fenomena sound horeg yang marak digunakan dalam karnaval keliling kampung. Beliau mengungkapkan keprihatinannya atas dampak negatif yang ditimbulkan, terutama keresahan warga. “Saya merasa ikut prihatin dan sungguh menyayangkan, karena ini juga tidak mencerminkan kearifan lokal sama sekali. Seharusnya dalam pesta apapun yang berbentuk karnaval harus lebih mengutamakan […]

  • Satreskrim Polresta Pati Amankan Pria Berinisial MB Terkait Senjata Tajam Saat Unjuk Rasa

    Satreskrim Polresta Pati Amankan Pria Berinisial MB Terkait Senjata Tajam Saat Unjuk Rasa

    • calendar_month Kam, 17 Sep 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 102.314
    • 0Komentar

    PATI — Kepolisian sedang mendalami dugaan pelanggaran pidana berupa membawa dan menguasai senjata tajam dalam sebuah aksi unjuk rasa yang berlangsung di depan Kantor Bank Mandiri Pati, Desa Puri, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 11.05 WIB. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pati bersama Tim Jatanras Polda Jawa Tengah […]

  • Suluk Maleman: Kasih Sayang, Inti Kemanusiaan yang Terancam Hilang

    Suluk Maleman: Kasih Sayang, Inti Kemanusiaan yang Terancam Hilang

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 378
    • 0Komentar

    PATI –  “Darurat Kasih Sayang” menjadi tema utama Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 yang digelar pada Sabtu (21/9/2024) malam. Tema ini menjadi ajakan untuk merenungkan kembali situasi carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan. Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, menekankan pentingnya belajar sifat kasih sayang di bulan kelahiran Nabi Muhammad. Beliau mengingatkan […]

expand_less