Breaking News
light_mode

Lestari Moerdijat Dorong Petani Muda di Jepara Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Jum, 19 Des 2025
  • visibility 1.199

JEPARA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti urgensi keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian sebagai pilar penting ketahanan pangan nasional. Penegasan tersebut disampaikan saat sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama petani milenial Jepara yang digelar di Anglo Resto, Jumat (19/12)

Acara ini diikuti sekitar 150 petani muda dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jepara. Sejumlah tokoh daerah turut hadir, di antaranya Ketua Fraksi NasDem DPRD Jepara Padmono Wisnugroho, Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat, serta anggota Fraksi NasDem DPRD Jepara Al Ma’ruf

Dalam paparannya, Lestari menyampaikan bahwa pertanian memiliki posisi strategis dan tidak lagi bisa dipandang sebagai sektor konvensional semata. Ia menilai keberlanjutan sektor pertanian sangat bergantung pada keberhasilan regenerasi petani

“Pertanian adalah fondasi ketahanan pangan. Ketika anak-anak muda mau terjun dan mengelolanya secara serius, maka kemandirian pangan akan lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan dialog dan sosialisasi semacam ini mampu mendorong lahirnya pelaku usaha muda di bidang pertanian. Tidak hanya berorientasi pada produksi, namun juga pengembangan nilai tambah dan strategi pemasaran.

“Harapannya, dari pertemuan semacam ini tumbuh petani muda yang naik kelas menjadi wirausaha pertanian, sehingga mampu mendongkrak ketahanan pangan daerah sekaligus kesejahteraan petani,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi NasDem DPRD Jepara Padmono Wisnugroho menegaskan komitmennya untuk terus mendukung keberlanjutan usaha petani muda melalui sinergi lintas sektor.

“Ke depan akan ada kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pengusaha, agar hasil pertanian warga bisa terserap secara optimal dan memiliki kepastian pasar,” kata Padmono.

Diketahui, para petani muda yang hadir tergabung dalam gerakan petani yang mulai dirintis sejak 2021. Saat ini, jumlah anggotanya mencapai sekitar 500 orang dan tersebar di hampir seluruh kecamatan di wilayah Jepara, Kudus, dan Demak.

Dalam forum tersebut, Wahyudi selaku praktisi pertanian dan pendamping kelompok tani menekankan pentingnya pengelolaan pertanian yang berkelanjutan. Ia menilai tantangan pertanian modern menuntut peningkatan kapasitas petani, baik dari aspek manajemen, pemanfaatan teknologi, hingga perluasan akses pasar.

“Pengelolaan pertanian harus terus dikembangkan. Bukan hanya soal tanam dan panen, tetapi juga perencanaan, pengolahan, hingga pemasaran agar petani benar-benar mandiri,” pungkasnya.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan petani muda Jepara semakin memiliki wawasan kebangsaan serta semangat inovasi untuk berperan aktif menjaga ketahanan pangan dan mendorong kemajuan pertanian daerahnya.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bunda Luluk Beberkan Manfaat Program Sekolah Penggerak.

    Bunda Luluk Beberkan Manfaat Program Sekolah Penggerak

    • calendar_month Jum, 6 Okt 2023
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Program Sekolah Penggerak terus digalakkan, agar semakin memasyarakat sehingga keunggulan dan manfaatnya dapat dipahami.

  • Cerita Dibalik Logo Hari Santri 2021 Kementerian Agama Republik Indonesia

    Cerita Dibalik Logo Hari Santri 2021 Kementerian Agama Republik Indonesia

    • calendar_month Kam, 7 Okt 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Logo Hari Santri 2021 dari Kementerian Agama terlihat simpel. Namun filosinya cukup dalam. Kreatornya adalah seorang santri tulen asal Desa Cebolek, Kecamatan Margoyoso. Semalaman dia menggarap proyek dadakan itu. PATI – Kementerian Agama resmi meluncurkan logo peringatan Hari Santri tahun 2021. Adalah M. Shofa Ulul Azmi, pria kelahiran Pati, 27 Juni 1992 ini yang menciptakan […]

  • Minim Pasokan, Perusahaan Garam di Rembang Sepi Produksi

    Minim Pasokan, Perusahaan Garam di Rembang Sepi Produksi

    • calendar_month Sel, 28 Nov 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Seorang petani garam sedang mengolah di tambaknya baru-baru ini Lingkar Muria, REMBANG – Intensitas hujan yang cukup tinggi selama dua pekan, membuat petani garam mandek berproduksi. Dampaknya, para pemilik pabrik pengolahan garam beryodium sepi produksi. Pupon, pemilik industri garam beryodium UD Apel Merah di Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori menyebutkan, sepinya pasokan garam terjadi sejak sepekan […]

  • Gerakan Hijau, Duet TNI dan Masyarakat Tanam 1000 Pohon Matoa

    Gerakan Hijau, Duet TNI dan Masyarakat Tanam 1000 Pohon Matoa

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Ratusan anggota TNI, masyarakat peduli lingkungan, dan siswa menanam 1000 bibit pohon matoa di bukit pandang, Desa Durensawit, Kayen, Sabtu (24/2/18). Lingkar Muria, PATI – Ratusan anggota Koramil 04/Kayen bersama dengan siswi se Kecamatan Kayen dan komunitas pecinta alam Kayen dan Juwana peduli lingkungan. Mereka melaksanakan go green dengan penanaman 1000 pohon matoa di wisata […]

  • Tahun Ketiga Bupati Marzuqi Fokus Bangun SDM Jepara

    Tahun Ketiga Bupati Marzuqi Fokus Bangun SDM Jepara

    • calendar_month Sel, 16 Apr 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Di tahun ketiga pemerintahannya bersama Wakil Bupati Dian Kristiandi, Bupati Ahmad Marzuqi ingin memfokuskan pembangunan di bidang sumber daya manusia (SDM). Bupati ingin SDM Jepara berdaya saing tinggi. Pembangunan SDM tersebut sekaligus sebagai optimalisasi pembangunan infrastruktur pariwisata yang telah digalakkan sebelumnya. ”Terkait pembangunan di Jepara, bidang infrastruktur dan pariwisata menjadi program prioritas di tahun kedua […]

  • Betah Mondok karena Berfaedah

    Betah Mondok karena Berfaedah

    • calendar_month Sab, 10 Nov 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Siti Nilna Munaliza tak seperti kebanyakan anak muda zaman now yang gemar kebebasan dunia luar. Gadis kelahiran Pati, 7 Desember 1999 ini malah suka sekali dengan dunia pondok pesantren. Bahkan kehidupannya banyak dihabiskan untuk ngaji di pondok pesantren. Padahal, Nilna sempat berhenti tak nyantri di pondok pesantren saat mulai kuliah di IAIN Kudus. Namun saat memutuskan […]

expand_less