Kopi Theng Kembangkan Kopi Robusta dari Lereng Muria dengan Roasting Sendiri
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 101.520

Moh Fais Amin, owner Kopi Theng saat mengikuti pameran UMKM di Halaman Pendopo Kabupaten Pati.
PATI – Kopi tidak hanya menjadi minuman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Hal itu turut dirasakan Moh Fais Amin (32), pelaku usaha Kopi Theng yang memiliki kedai di Desa Langenharjo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Kedai tersebut tercantum di Google Maps dengan nama Kopi Muria Theng.
Fais telah menekuni dunia kopi selama sekitar lima tahun. Menurutnya, ketertarikannya terhadap kopi berawal dari kebutuhan konsumsi sekaligus daya tarik estetik yang dimiliki kopi.
Biji kopi yang digunakan Kopi Theng berasal dari kawasan lereng Gunung Muria, termasuk sejumlah wilayah di Jepara, Pati, dan Kudus. Beberapa di antaranya berasal dari Tempur dan Gunungwungkal.
Kopi Theng menyediakan jenis kopi robusta dengan karakter rasa yang lebih pekat. Fais yang juga sebagai seorang roaster menerapkan profil roasting medium to dark untuk menghasilkan cita rasa kopi yang lebih kuat.
“Kalau di Kopi Theng sendiri lebih pekat rasanya, dalam arti lebih terasa di kopinya karena kita mempunyai profil roasting medium to dark. Kebetulan saya roastery,” ujar Fais.
Menurutnya, perkembangan dunia kopi saat ini semakin menarik karena proses pengolahan dan penyeduhan telah mengalami banyak perubahan. Jika dahulu kopi lebih identik dengan seduhan sederhana, kini tersedia beragam metode, mulai dari V60 hingga espresso, yang masing-masing memiliki karakter tersendiri.
Selain metode penyeduhan, pilihan menu kopi juga semakin beragam. Kopi tubruk, americano, dan latte menjadi beberapa menu yang dapat dinikmati konsumen.
Fais mengaku mempelajari dunia kopi melalui berbagai cara. Selain belajar dari teman yang lebih dahulu berkecimpung di dunia kopi, ia juga belajar secara otodidak melalui tutorial dan banyak melakukan percobaan.
Proses pembelajaran tersebut dimulai dari produksi, kemudian berlanjut ke tahap roasting hingga pengolahan kopi. Pengalaman itu membuatnya semakin berani mengembangkan usaha dan memperdalam pengetahuan mengenai kopi.
Ke depan, Fais menilai prospek bisnis kopi masih sangat luas. Ia melihat semakin banyak masyarakat yang tertarik menikmati kopi dengan cita rasa dan karakter aslinya. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi pelaku usaha kopi lokal untuk terus berkembang.
“Prospek ke depannya kopi ini bagus dan sangat luas. Memberikan rasa kepercayaan kepada masyarakat bahwa kita menjaga hidup sehat karena semakin banyak pula yang menikmati kopi dengan keasliannya,” katanya.
Meski demikian, pelaku usaha kopi juga menghadapi tantangan, salah satunya terkait fluktuasi harga bahan baku. Fais menyebut harga kopi robusta saat ini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu, meski harga tersebut dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
Menurutnya, perbedaan harga juga dipengaruhi oleh petani, pengepul, hingga kondisi produksi di masing-masing wilayah. Di kawasan Pati, misalnya, harga kopi dapat mengalami perubahan hanya dalam hitungan pekan.
“Misalnya satu minggu ini harganya Rp60 ribu, minggu depan juga bisa Rp63 ribu atau Rp65 ribu. Siklus harganya cepat,” ujarnya.
Di tengah dinamika tersebut, Fais optimistis kopi lokal, khususnya dari kawasan lereng Muria, memiliki peluang besar untuk terus berkembang.
Dengan pengolahan yang semakin modern dan keberagaman metode penyeduhan, kopi tidak hanya menjadi minuman sehari-hari, tetapi juga bagian dari pengalaman dan gaya hidup masyarakat.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

