Breaking News
light_mode

Kencan Buku Pati, Wadah Seru Membangun Kedekatan dan Cinta pada Dunia Literasi

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month 57 menit yang lalu
  • visibility 98.973

PATI – Sebuah pemandangan yang menyejukkan hati terlihat di sisi selatan Alun-Alun Pati pada sore hari Minggu (17/5/2026). Puluhan anak muda berkumpul dalam keheningan yang damai, masing-masing tampak sangat khusyuk menekuri halaman-halaman buku yang mereka pegang.

Mereka memilih duduk di berbagai sudut yang dianggap paling nyaman di kawasan itu; ada yang di kursi taman, berteduh di bawah rimbunnya pohon beringin, hingga beralaskan hamparan rumput hijau.

Di satu sisi, terhampar selembar tikar bermotif kotak-kotak kuning yang tertata rapi berisi beragam koleksi bacaan. Mulai dari buku fiksi, nonfiksi, hingga komik tersedia di sana, siap dibaca atau dipinjam oleh siapa saja yang membutuhkan.

Pilihan bukunya pun sangat beragam, mulai dari serial manga populer One Piece, novel laris seperti Gadis Kretek, Laut Bercerita, dan Manusia Setengah Salmon, hingga karya unik yang berjudul Rusak Saja Buku Ini. Puluhan judul dari berbagai aliran tersedia bagi warga yang datang namun tidak membawa bacaan sendiri.

Di tengah kerumunan pembaca yang tenang itu, duduk bersila seorang pemuda dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya memegang erat sebuah buku bersampul kuning-hitam yang cukup ikonik, yaitu Animal Farm karya penulis George Orwell. Pemuda itu adalah Muhammad Falakhudin Al Ayyubi (25).

Di tengah riuh rendah suasana alun-alun—mulai dari langkah kaki warga yang berolahraga, gelak tawa anak-anak yang berlarian, hingga suara kendaraan yang melintas di depan Masjid Agung Baitunnur—Al tetap tampak fokus dan khusyuk.

Ia membalik lembar demi lembar dengan gerakan tenang, seolah hiruk-pikuk di sekitarnya menghilang, menyisakan dirinya yang sedang larut dan bermesraan bersama novel alegori politik tersebut.

Setelah sesi membaca senyap atau silent reading yang berlangsung sekitar satu jam, Al dengan antusias membagikan pemahamannya mengenai isi buku yang baru saja diselesaikannya.

Bagi pemuda asal Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen ini, karya sastra klasik itu bukan sekadar dongeng atau cerita hewan biasa.

“Ini mengisahkan tentang sekumpulan hewan peternakan yang awalnya diperbudak, lalu mereka ingin mengambil alih farm untuk membebaskan diri. Tapi ironisnya, mereka malah terjebak membuat perbudakan baru yang dikendalikan oleh salah satu teman mereka sendiri, yaitu babi,” tuturnya.

Al menambahkan, pesan mendalam yang ada dalam novel tersebut sangat relevan dengan kenyataan kehidupan nyata saat ini.

“Buku ini mengajarkan kita untuk jangan mudah percaya pada orang lain. Kita harus lebih pandai agar tidak mudah dimanipulasi atau dibodohi. Isinya tentang politik yang sangat relate dengan kondisi saat ini,” jelas lulusan S1 Teknik Industri Universitas Diponegoro ini.

Sama seperti Al, puluhan pemuda lainnya di lokasi itu pun sedang melakukan hal serupa, atau dalam bahasa mereka: sedang “berkencan” dengan buku. Itulah nama dari komunitas yang mereka bangun, yaitu Kencan Buku Pati.

Pemandangan tersebut sungguh memanjakan mata siapa saja yang merindukan kehadiran budaya literasi di ruang-ruang publik. Kegiatan ini rutin diadakan di sisi selatan Alun-Alun Pati, berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB.

Setelah tenggelam dalam bacaan masing-masing, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, lalu dilanjutkan duduk melingkar dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling bercerita dan mendiskusikan isi buku yang telah dibaca.

Meski terdengar sebagai perkumpulan orang-orang yang sudah sangat gemar membaca, Kencan Buku Pati justru sangat terbuka bagi siapa saja yang baru ingin mulai mencintai dunia buku. Al sendiri adalah buktinya; ia mengaku baru aktif membaca secara rutin setelah mengenal komunitas ini.

“Saya baru-baru ini baca buku. Jadi memang karena tertarik dengan komunitas baca buku ini, saya jadi ingin mulai untuk banyak membaca buku,” kata Al.

Meski baru tiga kali mengikuti pertemuan, ia merasakan dampak positif yang besar terhadap kebiasaannya.

“Senang banget bisa punya teman-teman baru di sini. Bisa memotivasi saya untuk semakin banyak baca buku, dan vibes-nya itu enak seperti sedang nongkrong,” ungkap Al yang sehari-hari membantu usaha pembuatan kasur lantai milik orang tuanya.

Menurutnya, keberadaan komunitas seperti ini sangat penting di Pati, selain sebagai wadah berekspresi, juga menjadi sarana menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Kini, Al yang dulunya jarang membaca, mengaku terpacu untuk bisa menamatkan sedikitnya satu buku setiap pekan.

Gerakan literasi unik bernama Kencan Buku Pati ini belakangan mulai mencuri perhatian masyarakat Kabupaten Pati. Komunitas yang digagas sejak awal April 2026 ini kini menjadi ruang baru bagi para pencinta buku untuk berkumpul dan membaca bersama di ruang terbuka.

Diyah Ayuningtyas (25), selaku inisiator, menceritakan bahwa pembentukan komunitas ini berawal dari rasa gelisah karena sulit menemukan wadah sehobi di daerahnya.

Alumnus S1 Matematika Universitas Diponegoro asal Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati ini bahkan sempat rutin pergi ke luar kota hanya untuk bergabung dengan perkumpulan serupa.

“Tadinya saya mau nyari komunitas membaca di Pati. Tapi, kan, nggak ada ya. Jadi saya gabung ke Bookdate Jepara. Kemudian ketemu sama teman-teman Pati juga di Jepara, akhirnya kami membuat komunitas ini di Pati juga,” ujar Diyah.

Diyah menjelaskan lebih lanjut, nama “Kencan Buku” sama sekali bukan bermaksud sebagai ajang pencarian pasangan, melainkan sebuah kiasan atau analogi bahwa setiap peserta sedang menjalin hubungan dekat dan hangat dengan buku bacaan yang mereka pilih.

Kegiatan ini dijadwalkan rutin setiap hari Minggu dengan waktu yang disepakati bersama, bisa pada pukul 09.00 pagi atau 15.00 sore. Lokasi pertemuannya pun tidak menetap, melainkan berpindah-pindah sesuai kesepakatan anggota.

Pada awal berdirinya, pertemuan pertama hanya dihadiri oleh lima orang saja. Namun, berkat unggahan video kegiatan yang sempat viral dan masuk halaman utama (For Your Page / FYP) di media sosial TikTok, jumlah peserta melonjak drastis hingga pertemuan keenam ini. Peserta yang hadir pun didominasi oleh kaum pekerja muda.

Mengenai teknis pelaksanaannya, Diyah memaparkan bahwa setiap pertemuan dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama diisi dengan waktu silent reading selama satu jam di tempat senyaman mungkin.

Setelahnya, dilanjutkan sesi dokumentasi, dan ditutup dengan diskusi kelompok. Komunitas ini juga menerapkan sistem saling meminjamkan buku bagi anggota yang belum memiliki banyak koleksi pribadi.

“Kalau dari saya pribadi, saya ingin teman-teman lebih punya semangat membaca. Soalnya kalau sudah kerja, kadang merasa tidak ada teman untuk membaca buku, jadi minat bacanya melambat. Kalau ada teman-teman, kan, jadi punya targetan,” tambah Diyah.

Bagi warga Kabupaten Pati yang tertarik bergabung, pengelola memastikan Kencan Buku Pati terbuka untuk umum tanpa syarat khusus. Siapa saja boleh datang dan ikut serta.

Informasi lengkap mengenai waktu dan lokasi pertemuan mingguan selalu dibagikan melalui akun resmi di Instagram dan TikTok: @kencanbuku.pati. Para pecinta literasi cukup datang dan membawa diri untuk memulai “kencan” seru dengan buku.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hidup Bukan Mampir Padu

    Hidup Bukan Mampir Padu

    • calendar_month Rab, 20 Mar 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Anis Sholeh Baasyin sedang menguraikan tema yang akan dibahas Padu atau adu mulut yang akhir-akhir ini nyaris membudaya di kalangan masyarakat kembali menjadi sentilan dalam gelaran Suluk Maleman yang digelar Sabtu (16/3) hingga Minggu (17/3/2019) dini hari kemarin. Bahkan peribahasa “hidup sekadar mampir minum” pun mulai berubah menjadi sekadar mampir padu. Plesetan itu lantaran sekarang […]

  • Pendapat Akhir Fraksi, Masuk Agenda Pembuatan Perda

    Pendapat Akhir Fraksi, Masuk Agenda Pembuatan Perda

    • calendar_month Kam, 2 Agu 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 207
    • 0Komentar

    PATI – Pemerintah mengundangkan PP Nomor 12 Tahun 2018 tentang pedoman penyusunan tata tertib DPRD provinsi, kabupaten dan kota. Hal itu membuat DPRD di tingkat daerah harus berbenah akan tata tertibnya. DPRD Kabupaten Pati telah menjadwalkan revisi tata tertib tersebut. Hal itu diketahui saat rapat internal Bapemperda Selasa (3/8/2018) lalu.  Meskipun hanya tata tertib untuk internal anggota […]

  • Surat Suara Pilgub Mulai Disortir

    Surat Suara Pilgub Mulai Disortir

    • calendar_month Rab, 23 Mei 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    PATI – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah kian dekat. Saat ini KPU Kabupaten Pati telah memasuki beberapa tahapan penting. Tahapan itu diantaranya adalah penyortiran dan pelipatan surat suara. Rencananya kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 21 Mei hingga 25 Mei 2018. Ketua KPU Kabupaten Pati Much Nasich melalui anggota KPU divisi logistik Umi Nadliroh menyampaikan, terkait dengan […]

  • Di Bawah “Kanopi Persaudaraan”, Gereja dan Masjid di Winong Pati Gelar Sarasehan Paseduluran

    Di Bawah “Kanopi Persaudaraan”, Gereja dan Masjid di Winong Pati Gelar Sarasehan Paseduluran

    • calendar_month Sen, 29 Des 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.369
    • 0Komentar

    PATI – Di Jalan Kolonel Sunandar Gang 6, Desa Winong, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, dua bangunan tempat ibadah — Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong dan Masjid Al-Muqorrobin — berdiri tegak saling berhadapan. Bukan sekadar bertetangga, sebuah kanopi permanen selebar kurang lebih lima meter membentang di atas jalan, menghubungkan atap keduanya seolah menjadi simbol tangan […]

  • Pansus Hak Angket DPRD Pati Dalami Sejumlah Isu, Panggil Kepala Sekolah, Sekdes, Dokter, hingga Dewas RSUD Soewondo

    Pansus Hak Angket DPRD Pati Dalami Sejumlah Isu, Panggil Kepala Sekolah, Sekdes, Dokter, hingga Dewas RSUD Soewondo

    • calendar_month Rab, 3 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 192
    • 0Komentar

    PATI – Pansus Hak Angket DPRD Pati terus bergerak mendalami berbagai isu yang menjadi perhatian publik. Ketua Pansus, Teguh Bandang Waluyo, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian pertemuan penting untuk mengumpulkan informasi dan klarifikasi. “Hari ini, kami mengundang Kepala Sekolah SMPN 1 Tayu terkait pernyataan Plt Kepala Dinas Pendidikan tentang pemindahan guru. Selain itu, kami […]

  • Bangun SDM Unggul, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Integrasi Nilai Lokal

    Bangun SDM Unggul, DPRD Pati Tekankan Pentingnya Integrasi Nilai Lokal

    • calendar_month Sab, 21 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 180
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati Fraksi PPP, M. Dyan Aulia Burhanuddin, menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan merata. Menurut beliau, pembangunan SDM tak hanya berfokus pada pendidikan dan pelatihan semata, namun juga harus mencakup pengembangan karakter dan pemberdayaan masyarakat. “Pendidikan harus relevan dengan kebutuhan zaman dan nilai-nilai […]

expand_less