Breaking News
light_mode

Kencan Buku Pati, Wadah Seru Membangun Kedekatan dan Cinta pada Dunia Literasi

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
  • visibility 99.075

PATI – Sebuah pemandangan yang menyejukkan hati terlihat di sisi selatan Alun-Alun Pati pada sore hari Minggu (17/5/2026). Puluhan anak muda berkumpul dalam keheningan yang damai, masing-masing tampak sangat khusyuk menekuri halaman-halaman buku yang mereka pegang.

Mereka memilih duduk di berbagai sudut yang dianggap paling nyaman di kawasan itu; ada yang di kursi taman, berteduh di bawah rimbunnya pohon beringin, hingga beralaskan hamparan rumput hijau.

Di satu sisi, terhampar selembar tikar bermotif kotak-kotak kuning yang tertata rapi berisi beragam koleksi bacaan. Mulai dari buku fiksi, nonfiksi, hingga komik tersedia di sana, siap dibaca atau dipinjam oleh siapa saja yang membutuhkan.

Pilihan bukunya pun sangat beragam, mulai dari serial manga populer One Piece, novel laris seperti Gadis Kretek, Laut Bercerita, dan Manusia Setengah Salmon, hingga karya unik yang berjudul Rusak Saja Buku Ini. Puluhan judul dari berbagai aliran tersedia bagi warga yang datang namun tidak membawa bacaan sendiri.

Di tengah kerumunan pembaca yang tenang itu, duduk bersila seorang pemuda dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya memegang erat sebuah buku bersampul kuning-hitam yang cukup ikonik, yaitu Animal Farm karya penulis George Orwell. Pemuda itu adalah Muhammad Falakhudin Al Ayyubi (25).

Di tengah riuh rendah suasana alun-alun—mulai dari langkah kaki warga yang berolahraga, gelak tawa anak-anak yang berlarian, hingga suara kendaraan yang melintas di depan Masjid Agung Baitunnur—Al tetap tampak fokus dan khusyuk.

Ia membalik lembar demi lembar dengan gerakan tenang, seolah hiruk-pikuk di sekitarnya menghilang, menyisakan dirinya yang sedang larut dan bermesraan bersama novel alegori politik tersebut.

Setelah sesi membaca senyap atau silent reading yang berlangsung sekitar satu jam, Al dengan antusias membagikan pemahamannya mengenai isi buku yang baru saja diselesaikannya.

Bagi pemuda asal Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen ini, karya sastra klasik itu bukan sekadar dongeng atau cerita hewan biasa.

“Ini mengisahkan tentang sekumpulan hewan peternakan yang awalnya diperbudak, lalu mereka ingin mengambil alih farm untuk membebaskan diri. Tapi ironisnya, mereka malah terjebak membuat perbudakan baru yang dikendalikan oleh salah satu teman mereka sendiri, yaitu babi,” tuturnya.

Al menambahkan, pesan mendalam yang ada dalam novel tersebut sangat relevan dengan kenyataan kehidupan nyata saat ini.

“Buku ini mengajarkan kita untuk jangan mudah percaya pada orang lain. Kita harus lebih pandai agar tidak mudah dimanipulasi atau dibodohi. Isinya tentang politik yang sangat relate dengan kondisi saat ini,” jelas lulusan S1 Teknik Industri Universitas Diponegoro ini.

Sama seperti Al, puluhan pemuda lainnya di lokasi itu pun sedang melakukan hal serupa, atau dalam bahasa mereka: sedang “berkencan” dengan buku. Itulah nama dari komunitas yang mereka bangun, yaitu Kencan Buku Pati.

Pemandangan tersebut sungguh memanjakan mata siapa saja yang merindukan kehadiran budaya literasi di ruang-ruang publik. Kegiatan ini rutin diadakan di sisi selatan Alun-Alun Pati, berlangsung sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB.

Setelah tenggelam dalam bacaan masing-masing, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, lalu dilanjutkan duduk melingkar dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling bercerita dan mendiskusikan isi buku yang telah dibaca.

Meski terdengar sebagai perkumpulan orang-orang yang sudah sangat gemar membaca, Kencan Buku Pati justru sangat terbuka bagi siapa saja yang baru ingin mulai mencintai dunia buku. Al sendiri adalah buktinya; ia mengaku baru aktif membaca secara rutin setelah mengenal komunitas ini.

“Saya baru-baru ini baca buku. Jadi memang karena tertarik dengan komunitas baca buku ini, saya jadi ingin mulai untuk banyak membaca buku,” kata Al.

Meski baru tiga kali mengikuti pertemuan, ia merasakan dampak positif yang besar terhadap kebiasaannya.

“Senang banget bisa punya teman-teman baru di sini. Bisa memotivasi saya untuk semakin banyak baca buku, dan vibes-nya itu enak seperti sedang nongkrong,” ungkap Al yang sehari-hari membantu usaha pembuatan kasur lantai milik orang tuanya.

Menurutnya, keberadaan komunitas seperti ini sangat penting di Pati, selain sebagai wadah berekspresi, juga menjadi sarana menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Kini, Al yang dulunya jarang membaca, mengaku terpacu untuk bisa menamatkan sedikitnya satu buku setiap pekan.

Gerakan literasi unik bernama Kencan Buku Pati ini belakangan mulai mencuri perhatian masyarakat Kabupaten Pati. Komunitas yang digagas sejak awal April 2026 ini kini menjadi ruang baru bagi para pencinta buku untuk berkumpul dan membaca bersama di ruang terbuka.

Diyah Ayuningtyas (25), selaku inisiator, menceritakan bahwa pembentukan komunitas ini berawal dari rasa gelisah karena sulit menemukan wadah sehobi di daerahnya.

Alumnus S1 Matematika Universitas Diponegoro asal Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati ini bahkan sempat rutin pergi ke luar kota hanya untuk bergabung dengan perkumpulan serupa.

“Tadinya saya mau nyari komunitas membaca di Pati. Tapi, kan, nggak ada ya. Jadi saya gabung ke Bookdate Jepara. Kemudian ketemu sama teman-teman Pati juga di Jepara, akhirnya kami membuat komunitas ini di Pati juga,” ujar Diyah.

Diyah menjelaskan lebih lanjut, nama “Kencan Buku” sama sekali bukan bermaksud sebagai ajang pencarian pasangan, melainkan sebuah kiasan atau analogi bahwa setiap peserta sedang menjalin hubungan dekat dan hangat dengan buku bacaan yang mereka pilih.

Kegiatan ini dijadwalkan rutin setiap hari Minggu dengan waktu yang disepakati bersama, bisa pada pukul 09.00 pagi atau 15.00 sore. Lokasi pertemuannya pun tidak menetap, melainkan berpindah-pindah sesuai kesepakatan anggota.

Pada awal berdirinya, pertemuan pertama hanya dihadiri oleh lima orang saja. Namun, berkat unggahan video kegiatan yang sempat viral dan masuk halaman utama (For Your Page / FYP) di media sosial TikTok, jumlah peserta melonjak drastis hingga pertemuan keenam ini. Peserta yang hadir pun didominasi oleh kaum pekerja muda.

Mengenai teknis pelaksanaannya, Diyah memaparkan bahwa setiap pertemuan dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama diisi dengan waktu silent reading selama satu jam di tempat senyaman mungkin.

Setelahnya, dilanjutkan sesi dokumentasi, dan ditutup dengan diskusi kelompok. Komunitas ini juga menerapkan sistem saling meminjamkan buku bagi anggota yang belum memiliki banyak koleksi pribadi.

“Kalau dari saya pribadi, saya ingin teman-teman lebih punya semangat membaca. Soalnya kalau sudah kerja, kadang merasa tidak ada teman untuk membaca buku, jadi minat bacanya melambat. Kalau ada teman-teman, kan, jadi punya targetan,” tambah Diyah.

Bagi warga Kabupaten Pati yang tertarik bergabung, pengelola memastikan Kencan Buku Pati terbuka untuk umum tanpa syarat khusus. Siapa saja boleh datang dan ikut serta.

Informasi lengkap mengenai waktu dan lokasi pertemuan mingguan selalu dibagikan melalui akun resmi di Instagram dan TikTok: @kencanbuku.pati. Para pecinta literasi cukup datang dan membawa diri untuk memulai “kencan” seru dengan buku.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Dinas Dukung Kemajuan Kuliner Pati

    Tiga Dinas Dukung Kemajuan Kuliner Pati

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Beberapa pengunjung menyicipi aneka masakan di Plaza Pragolo PATI – Jagat kuliner Kabupaten Pati mendapat angin segar. Hal itu dapat dilihat dari dukungan yang disampaikan tiga dinas untuk paguyuban kuliner. Tiga dinas itu adalah Disporapar, Disdagprin, dan Dinas Koperasi dan UMKM. Mereka mendukung untuk Pati menjadi kota wisata kuliner.    Ketua Paguyuban Kuliner Kabupaten Pati (PKKP), […]

  • Kepincut Menulis Buku karena Gus Zainul Milal Bizawie

    Kepincut Menulis Buku karena Gus Zainul Milal Bizawie

    • calendar_month Rab, 7 Jul 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 234
    • 0Komentar

      Zainal Abidin Sueb Di tengah pandemi Covid-19, berbagai  aktivitas masyarakat serba dibatasi. Meski demikian, kondisi yang terbatas justru memicu Zainal Abidin Sueb untuk produktif, salah satunya dengan menulis buku. Sabtu (26/6/2021) lalu ia telah meluncurkan sebuah buku dengan judul “Mushaf Nusantara: Jejak, Ragam, dan Para Penjaganya”.  Pemuda kelahiran Pati, 24 Mei 1998, asal Desa […]

  • Edy Wuryanto: Penghapusan Tunggakan JKN Wujudkan Keadilan bagi Masyarakat Kecil

    Edy Wuryanto: Penghapusan Tunggakan JKN Wujudkan Keadilan bagi Masyarakat Kecil

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 262
    • 0Komentar

    GROBOGAN – Dalam sebuah acara advokasi dan sosialisasi pengembangan pelayanan kesehatan rujukan di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah untuk menghapus tunggakan iuran peserta mandiri Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Penghapusan tunggakan ini penting untuk mengembalikan hak konstitusional masyarakat dalam memperoleh layanan […]

  • Ansor Pati Kirim Mainan dan Jajanan untuk Anak-Anak Korban Banjir

    Ansor Pati Kirim Mainan dan Jajanan untuk Anak-Anak Korban Banjir

    • calendar_month Sen, 15 Feb 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Anak-anak korban banjir dapat jajan dan mainan  PATI – Pimpinan Cabang GP Ansor Pati memberikan pemulihan trauma atau trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kegiatan tersebut digelar di Desa Kedungpancing Kecamatan Juwana Ahad (14/2/2021). Menggandeng Komunitas Pecinta Kucing (Kotaku) Pati mereka berkolaborasi memberikan kegiatan permainan dan mendongeng. Tak hanya itu, mereka membagikan tak kurang dari […]

  • Angkutan Umum Kudus Terancam Punah, Organda Usul Angkutan Khusus Pelajar

    Angkutan Umum Kudus Terancam Punah, Organda Usul Angkutan Khusus Pelajar

    • calendar_month Rab, 6 Agu 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 228
    • 0Komentar

    KUDUS – Nasib angkutan umum di Kabupaten Kudus memprihatinkan. Jumlah armada yang beroperasi kini tinggal separuh dari jumlah sebelumnya, yakni hanya sekitar 150 kendaraan dari total 650 kendaraan yang tersebar di 13-14 trayek aktif (dari 20 trayek sebelumnya). Ketua DPC Organda Kudus, Mahmudun, mengungkapkan penurunan drastis ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kemudahan akses kredit […]

  • Ketika Pak RT Bagi-Bagi Beras ke Warga Miskin Terdampak Corona

    Ketika Pak RT Bagi-Bagi Beras ke Warga Miskin Terdampak Corona

    • calendar_month Kam, 7 Mei 2020
    • account_circle Redaksi
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Warga menerima bantuan beras dari Pak RT PATI – Dingin udara pagi itu (Rabu, 6/5/2020) masih terasa. Seorang lelaki bertubuh kekar mengangkati bungkusan kantong plastik bening. Isinya beras. Lelaki yang mengenakan kaos merah itu tidak lain Trianto. Trianto adalah Ketua RT 8/1 Desa Muktiharjo Kecamatan Margorejo. Di tengah mewabahnya Covid-19, sejumlah kalangan tergerak turun membantu […]

expand_less