“Sanad Rindu dari Kajen”, Buku yang Menghidupkan Kembali Memori Masa Nyantri
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 100.383

Peluncuran buku Sanad Rindu dari Kajen di Pondok Pesantren Ar-Roudloh, Kajen, Kabupaten Pati, Kamis (25/6/2026).
PATI – Karya literasi bertajuk “Sanad Rindu dari Kajen” resmi diperkenalkan kepada publik dalam peluncuran yang digelar di Pondok Pesantren Ar-Roudloh, Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Kamis (25/6/2026).
Buku tersebut menjadi ruang bagi para alumni untuk merawat kenangan, merekam perjalanan spiritual, sekaligus mengabadikan romantisme masa-masa menuntut ilmu di Kajen.
Buku ini ditulis oleh para alumni madrasah dan pesantren di Kajen, yakni Angga Saputra, Siswanto, Zainal Abidin, Niam At Majha, Andi Syarqowi, Elin Khanin, Inayatun Najikah, Nur Hayati Aida, Aba Fariduddin, dan Taufiq Hakim.
Peluncuran buku dihadiri puluhan alumni, santri, serta para kiai. Kehadirannya menjadi penanda lahirnya sebuah karya yang tidak sekadar memuat kumpulan cerita, tetapi juga menjadi dokumentasi ikatan batin para santri dengan Kajen yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan lahirnya banyak ulama di Pulau Jawa.
Salah seorang penulis, Siswanto, mengatakan gagasan buku tersebut berangkat dari pengalaman emosional yang hampir dimiliki setiap alumnus.
Menurutnya, sejauh apa pun seseorang melangkah, selalu ada kerinduan yang membawa hati kembali ke Kajen.
“Dalam tradisi pesantren, sanad adalah garis pertanggungjawaban ilmu agar tidak kehilangan berkah dan otentisitasnya. Namun, ketika sanad ini berkaitan erat dengan rindu, maknanya menjadi silsilah perasaan yang utuh,” kata dia.
“Rindu yang kita rasakan hari ini tidak tumbuh dari ruang hampa. Ia tersambung langsung ke hangatnya gotakan (kamar) pondok, bangku sekolah, hingga teduhnya tatapan para kiai. Ini adalah ‘Rindu yang Sahih’, murni, valid, dan tak terbantahkan karena kita semua benar-benar pernah melakoni hidup di sana,” tambah dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) ini.
Penulis lainnya, Angga Saputra, menjelaskan bahwa dipilihnya nama Kajen dalam judul buku bukan tanpa alasan. Menurutnya, Kajen memiliki makna yang jauh melampaui batas wilayah administratif.
“Kajen adalah episentrum spiritual. Di tanah inilah bersemayam Waliyyullah Syekh Ahmad Mutamakkin, sang hulu keberkahan. Mondok dan sekolah di Kajen berarti kita terhubung dalam satu ikatan sanad keilmuan dan spiritualitas yang sama,” jelas Angga.
Ia menuturkan, buku tersebut disusun layaknya mesin waktu yang mengajak pembaca kembali menyusuri jejak kehidupan sebagai santri.
Beragam kenangan tentang suasana madrasah, kehidupan pondok, tempat makan legendaris, hingga sudut-sudut Kajen yang menjadi saksi perjuangan para santri dihadirkan dalam setiap kisah.
“Buku ini tidak ditulis untuk sekadar meratapi masa lalu yang telah lewat, tetapi untuk merawat ingatan. Agar di tengah bising dan kerasnya dunia luar, kita tidak pernah lupa pada ‘hulu’ tempat kita dibentuk. Bagi para alumni, selamat pulang dan selamat menyusuri kembali jalur sanad rindu ini,” tutur Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Pati tersebut.
Kehadiran buku ini mendapat sambutan positif dari sejumlah tokoh, akademisi, dan intelektual Muslim. Penulis buku Syekh Mutamakkin sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Peradaban Santri, Dr. Zainul Milal Bizawie, menilai karya tersebut mampu menghadirkan nuansa khas tradisi pesantren dengan bahasa yang ringan.
“Bahasanya ringan, enak dibaca, tapi kental banget sama tradisi santri Kajen yang autentik. Semoga dengan hadirnya buku ini, semakin banyak anak muda yang jatuh cinta dan betah mondok di Kajen. Karena di sini sanad ilmunya terjaga banget, ilmu yang tersambung langsung dari generasi ke generasi lewat para masyayikh yang mumpuni,” ujar dia.
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Tafsir sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Islah Gusmian. Alumni Madrasah Salafiyah Kajen itu menilai buku tersebut berhasil menghadirkan hubungan emosional antara santri, guru, dan kampung ilmu dalam satu kesatuan narasi.
“Sanad Rindu dari Kajen bukan sekadar kumpulan memoar, melainkan mosaik kenangan yang merawat hubungan batin antara murid, guru, dan kampung ilmu. Di tangan para alumni muda, Kajen hadir bukan sebagai ruang geografis yang beku dalam nostalgia, tetapi sebagai mata air nilai yang terus mengalir dalam perjalanan hidup mereka,” ungkap Prof. Islah.
Sementara itu, Ketua PBNU Bidang Media dan Advokasi sekaligus Co-Founder NU Online, Savic Ali, menyebut Kajen sebagai tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi ribuan santri yang pernah belajar dan mencari berkah di sana.
“Masyarakatnya, kiai-kiainya, makam-makam masyayikh, dan terutama Mbah Mutamakkin, akan senantiasa melekat di relung santri yang menghayatinya. Dan buku ini adalah rekaman pertama atas kenangan-kenangan yang tak mungkin hilang atas Kajen, desa yang punya sejarah panjang dalam penyebaran ajaran dan keilmuan Islam di Jawa bagian utara,” tutur dia.
Melalui peluncuran buku ini, para penulis berharap nilai-nilai keilmuan, keteladanan, dan keberkahan yang tumbuh di bumi Kajen terus hidup dalam diri para alumni di mana pun mereka mengabdi.
Buku “Sanad Rindu dari Kajen” saat ini belum tersedia secara siap jual di pasaran. Masyarakat yang ingin memiliki buku tersebut dapat memesannya melalui sistem Pre-Order (PO) yang telah resmi dibuka, dengan menghubungi Siswanto di nomor 0896-5465-6722 atau Angga Saputra di nomor 08157608923.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

