Breaking News
light_mode

Suluk Maleman: Sujud Sebagai Jalan dalam Pusaran Zaman

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
  • visibility 3.318

PATI – Sujud secara bahasa dan makna membawa konsep ketundukan yang tak terbatas, kepatuhan total, serta penghambaan diri baik dari segi jasmani maupun rohani. Bagi ajaran Islam yang mengedepankan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, sujud menjadi puncak dari manifestasi itu. Begitu pula jika Islam dipahami sebagai ajaran kedamaian, sujud adalah bentuk yang paling sempurna untuk meraih keharmonisan tersebut.

Hal ini disampaikan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai inti pembahasan dalam acara Suluk Maleman bertema “Sujud, Semesta Sujud; Manusia, Kalang Kabut” yang berlangsung pada hari Sabtu (14/3) lalu. Menurutnya, seluruh alam semesta—mulai dari materi, tumbuhan, hewan, hingga setiap unsur yang membentuk tubuh manusia—sebenarnya senantiasa dalam keadaan bersujud; hanya kesadaran manusia yang memiliki dua pilihan: menyatu dalam kesujudan bersama seluruh elemen alam, atau terus berdiri dengan kepala mendongak karena kesombongan.

Anis kemudian menjelaskan bahwa sejak awal terbentuknya, peradaban modern didirikan atas dua pijakan keangkuhan: pertama, memposisikan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu di alam semesta. Kedua, menganggap materi sebagai satu-satunya realitas yang ada. Kedua dasar ini membuat kerapuhan yang melekat pada setiap konstruksi peradaban buatan manusia, tampak semakin jelas.

“Dua landasan yang sangat rapuh tersebut, hanya menegaskan kembali bahwa apa-apapun yang dibangun manusia, bila tidak mengikatkannya dengan Allah, akan selalu bernasib persis rumah laba-laba,” tegas Anis.

Sebagaimana diketahui, struktur rumah laba-laba tergolong konstruksi yang kuat secara teknis. Ia mampu menahan beban berlipat meskipun terbuat dari serat yang lebih tipis dari benang.

Namun pada kenyataannya, cukup dengan sentuhan lembut bahkan dari tangan bayi sekalipun, struktur tersebut bisa roboh total. Menurut Anis, inilah asal muasal istilah “kalang-kabut” dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari kata “kal-ankabut” yang berarti seperti laba-laba.

Anis menyatakan bahwa peradaban modern telah banyak menanamkan khayalan dalam kesadaran masyarakat. Salah satu ilusi tersebut adalah pandangan bahwa kebahagiaan bisa diraih melalui kelimpahan materi dan kekayaan.

Padahal salah satu teori ekonomi menjelaskan bahwa rasa senang hanya akan dirasakan ketika manusia memperoleh sesuatu untuk pertama kalinya.

“Pertama punya motor orang akan senang, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya kesenangan itu sudah hilang. Demikian juga untuk barang-barang lain. Itu pun masih dengan mereduksi makna kebahagiaan hanya sekadar kesenangan,” jelasnya.

“Dunia mengajarkan kita untuk mengejar ilusi bermegah-megahan. Bermegah-megahan kita anggap akan memberi kebahagiaan. Padahal itu hanya fatamorgana. Saat dikejar tidak akan pernah sampai, bila kita terus mengejarnya hanya akan memperoleh lelah sampai ajal menjemput,” terang dia.

Obsesi untuk mengejar ilusi tersebut membuat manusia seringkali melupakan anak-anak, keluarga, tetangga, bahkan negara sendiri.

“Para maling koruptor itu lupa pada negaranya. Mereka hanya memperkaya diri dan keluarganya. Mereka hanya ingin bermegah-megahan sampai lupa bahwa di depannya lubang kubur menantinya,” satir Anis.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk bermuhasabah, untuk mengembalikan kemanusiaan di tengah kekacauan peradaban saat ini. Salah satunya, kita diajari untuk berhenti mengejar dunia; karena itu hanya akan membuat kita kalang kabut dan akhirnya dibuat hina di dunia,” lanjut Anis.

Anis menambahkan bahwa salah satu cara agar tidak terjerumus dalam kesesatan adalah dengan melakukan sujud.

“Sujud meletakkan kepala di tanah atau tempat paling rendah menjadi ekspresi paling sempurna dari ungkapan keIslaman dimana berarti menyerah pada Allah dan membuat diri kita damai,” ucap dia.

Pria yang juga produktif dalam mencipta karya sastra tersebut menyebutkan bahwa dengan senantiasa mengingat Allah, hati akan bisa mendapatkan ketenangan.

“Bukan berarti lepas dari dunia, namun semua dilakukan dengan tetap mengingat Allah. Sementara puncak keterhubungan dengan Allah adalah ketika sujud. Karena saat sujud, kita kembali disadarkan bahwa pada dasarnya kita bukan siapa-siapa,” tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Anis juga menyentil tentang serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menurutnya, peristiwa peperangan ini memberikan pelajaran mendalam bagi seluruh dunia. Salah satunya adalah fakta bahwa Amerika Serikat yang dianggap sebagai kekuatan super dalam bidang pertahanan justru terlihat kewalahan ketika berhadapan dengan Iran—bangsa yang telah mengalami embargo selama 45 tahun namun tetap mampu berdiri dengan daulat.

“Puluhan tahun diembargo, tapi teknologi Iran mampu berkembang luar biasa. Tanpa perlu teknologi Amerika dan Eropa. Dan itu ditunjukkan dalam perang ini, Amerika yang dianggap penguasa militer dunia cukup kerepotan. Salah satunya contohnya, misil-misil yang dibuat dengan biaya murah, hanya puluhan juta, harus dicegat dengan misil-misil bernilai ratusan juta dolar Amerika,” imbuh dia.

Anis menyebutkan hal tersebut bisa terjadi karena di Iran, semangat nasionalisme yang kuat berpadu dengan semangat keagamaan yang juga telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. Adanya tekanan dan serangan dari luar justru membuat rakyatnya semakin bersatu padu.

“Negeri kita sebenarnya juga punya sejarah kebangsaan yang cukup mengakar. Kita juga punya banyak anak bangsa yang cerdas, kita punya kekayaan alam yang melimpah. Tinggal kemauan politik para pemimpin saja yang justru membuat semua potensi ini nyaris terbuang percuma,” ucap dia.

Acara pengajian yang berlangsung selama hampir 3,5 jam di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut berhasil membuat jamaah yang menghadiri secara langsung maupun melalui berbagai platform media sosial terlibat penuh dalam menyimak materi yang disampaikan. Musik Sampak Gus Uran juga menjadi bagian yang memperkaya suasana Suluk Maleman kali ini.

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Pati Dorong Peningkatan Layanan di Sektor Pertanian, Pendidikan, dan Kesehatan

    DPRD Pati Dorong Peningkatan Layanan di Sektor Pertanian, Pendidikan, dan Kesehatan

    • calendar_month Sab, 19 Apr 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 380
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati mendorong peningkatan layanan di tiga sektor vital: pertanian, pendidikan, dan kesehatan. Peningkatan ini dianggap krusial karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketua DPRD Pati, Ali Badrudin, menekankan pentingnya memaksimalkan potensi sektor pertanian di Kabupaten Pati, yang dikenal sebagai “Bumi Mina Tani”. “Tentunya kalau menurut saya, sektor […]

  • Hakim Terpal Resmi Support Persipa Pati

    Hakim Terpal Resmi Support Persipa Pati

    • calendar_month Sel, 11 Jan 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Penandatangan kerjasama antara Persipa Pati dengan Hakim Terpal untuk menjadi sponsor tim di Liga 3 putaran nasional 2022. PATI – Persipa Pati kembali mendapat suntikan modal mengarungi Liga 3 putaran nasional tahun 2022. Setelah disokong dana dari Charlie Hospital Kendal, sebuah perusahaan terpal asli Pati turut serta membantu pendanaan tim berjuluk Laskar Saridin ini. Perusahaan […]

  • Anggota DPRD Pati Dukung Atlet Pati di PON XXI Aceh-Sumut 2024

    Anggota DPRD Pati Dukung Atlet Pati di PON XXI Aceh-Sumut 2024

    • calendar_month Rab, 11 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 352
    • 0Komentar

    PATI – Suhartini, anggota DPRD Pati dari Partai PDIP, turut hadir dalam acara pelepasan atlet dan official Kabupaten Pati yang akan berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Acara pelepasan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Pati, Jumat (6/9/2024) malam, dihadiri oleh Penjabat Bupati Pati Sujarwanto Dwiatmoko, Sekda Pati Jumani, Ketua Pengadilan Negeri Pati, […]

  • Melimpah Stok, Harga Garam Anjlok

    Melimpah Stok, Harga Garam Anjlok

    • calendar_month Kam, 6 Sep 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Seorang petani garam sedang mengumpulkan hasil produksinya di tambak garam di daerah Juwana baru-baru ini. PATI – Beberapa pekan terakhir, harga garam mengalami kemerosotan. Hal itu dipicu stok panen garam petani yang melimpah. Akibatknya kini petani banyak yang menimbun garamnya dan menunggu harga lebih stabil. Hal itu diakui salah satu petani garam di Desa Genengmulyo […]

  • Meriah! Arak-arakan 55 Anak Khitan Massal di Kajen Diiringi Marching Band

    Meriah! Arak-arakan 55 Anak Khitan Massal di Kajen Diiringi Marching Band

    • calendar_month Sen, 27 Jan 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 390
    • 0Komentar

    PATI – Rangkaian peringatan Isra Miraj dan Hari Ulang Tahun Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dimeriahkan dengan khitan massal yang diikuti 55 anak. Acara yang digelar di Kompleks Masjid Kajen, Senin (27/1/2025) ini berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Puluhan anak, berasal dari Kabupaten Pati, Kudus, bahkan Jepara, tampak bersemangat mengikuti […]

  • Hak 1.225 Eks Karyawan PT Merpati Nusantara Airlines Belum Tuntas, Edy Wuryanto Minta Pemerintah Bertindak Cepat

    Hak 1.225 Eks Karyawan PT Merpati Nusantara Airlines Belum Tuntas, Edy Wuryanto Minta Pemerintah Bertindak Cepat

    • calendar_month Jum, 17 Apr 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 24.605
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah nyata dan terpadu guna menyelesaikan masalah pesangon dan dana pensiun yang belum dibayarkan kepada mantan pekerja PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.225 orang mantan karyawan belum menerima hak mereka sejak perusahaan menghentikan operasional pada tahun […]

expand_less