GMNI Kudus Tutup Bulan Bung Karno dengan Bedah Buku Perkuat Mental Generasi Muda
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 100.495

GMNI Kudus menggelar bedah buku Mentalitet Korea sebagai penutup rangkaian peringatan Bulan Bung Karno
KUDUS – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Kudus menutup rangkaian peringatan Bulan Bung Karno dengan menggelar kegiatan bedah buku berjudul Mentalitet Korea Semakin Terbanting, Semakin Melenting.
Kegiatan ini menjadi wadah penguatan karakter bagi mahasiswa dan pelajar agar memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Ketua DPC GMNI Kudus, M. Najibul Faiz, menyebutkan bahwa bedah buku ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Sebelum acara utama, pihaknya lebih dulu mengadakan berbagai perlombaan, seperti lomba pidato dan lomba esai yang diikuti oleh pelajar tingkat MA, SMA, dan sederajat se-Wilayah Muria Raya.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Bung Karno serta ajaran marhaenisme kepada generasi muda sejak dini.
“Kami ingin Bulan Bung Karno tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Melalui lomba dan bedah buku ini, kami berupaya memberikan pengetahuan sekaligus membangun karakter generasi muda agar memiliki semangat juang dan tidak mudah menyerah menghadapi tantangan,” ujarnya.
Buku yang dikaji merupakan karya penulis bernama Putut, yang mengangkat pemikiran Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI Jawa Tengah, Bambang Wuryanto atau yang lebih dikenal dengan nama Bambang Pacul. Dalam buku tersebut, istilah Mentalitet Korea dimaknai sebagai gambaran kaum marhaen yang memiliki semangat juang tinggi serta mampu bangkit kembali dari berbagai keterbatasan yang dihadapi.
Najib menjelaskan tema ini dipilih karena dinilai sangat relevan dengan kondisi masa kini. Ia menilai mahasiswa dan pelajar memerlukan bekal mental yang kuat agar mampu menghadapi ketidakpastian situasi, perubahan sosial, serta dinamika kebijakan yang terus berkembang.
“Harapannya, peserta bisa menyerap semangat yang disampaikan para narasumber. Seperti pesan Bung Karno, ‘Ambillah apinya, jangan abunya’. Kami ingin semangat perjuangan itu tetap menyala dalam diri generasi muda,” katanya.
Kegiatan bedah buku menghadirkan penulisnya sendiri, Putut, sebagai pemateri utama. Turut hadir pula Casytha Arriwi Kathmandu, putri Bambang Pacul sekaligus anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, yang memberikan pandangan mendalam mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam buku tersebut.
“Diharapkan kehadiran beliau mampu memperkaya diskusi sekaligus memberikan perspektif yang lebih dekat dengan gagasan yang diusung ayahnya,” tukasnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI Kabupaten Kudus, Yusuf Roni, menyampaikan apresiasi atas konsistensi para kader GMNI dalam menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan memperkuat kualitas generasi muda.
Ia menilai kegiatan ini menjadi momen penting untuk menanamkan karakter yang tidak hanya tangguh, tetapi juga inovatif, kreatif, dan disiplin dalam bertindak.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Nilai-nilai yang ada di dalam buku Mentalitet Korea sangat relevan sebagai bekal bagi kader GMNI maupun generasi muda secara umum dalam menghadapi tantangan kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, pandangan terhadap generasi muda saat ini sering kali dinilai cenderung pragmatis dan menginginkan segala sesuatu diperoleh secara instan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pentingnya sebuah proses perlu terus ditanamkan agar terbentuk pribadi yang mampu bertahan dan terus berkembang.
Yusuf Roni mencontohkan filosofi bidak pion dalam permainan catur yang dijelaskan dalam buku tersebut. Pion memang memiliki ruang gerak yang terbatas, namun jika mampu melewati seluruh tahapan hingga mencapai ujung papan, bidak itu bisa berubah menjadi kekuatan yang jauh lebih besar.
“Filosofi itu mengajarkan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Dibutuhkan konsistensi, ketekunan, dan keteguhan hati untuk mencapai cita-cita yang diinginkan,” jelasnya.
Pihaknya berharap semangat perjuangan Bung Karno tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga diwujudkan dalam kepribadian generasi muda yang memiliki daya juang tinggi, berpikir kritis, serta siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

