Pengusaha Perikanan Pati Yakini Proyek Giant Sea Wall Dukung Keberlanjutan Nelayan
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 101.003

Wakil Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah, Subaskoro
PATI — Keberlanjutan mata pencaharian nelayan dan masa depan sektor perikanan menjadi bagian dalam diskursus seputar proyek besar pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
Megaproyek yang dirancang untuk mengatasi banjir rob dan abrasi tersebut diharapkan tidak justru mematikan roda ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada hasil laut.
Sejatinya, melalui integrasi teknologi pertahanan pantai dan rekayasa alur bagi kapal, proyek strategis nasional ini justru menargetkan peningkatan produktivitas nelayan lokal lewat perbaikan ekosistem pesisir.
Terkait kekhawatiran mengenai dampak pembangunan terhadap sektor perikanan, Wakil Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah, Subaskoro, memaparkan bahwa pemerintah telah merumuskan mitigasi komprehensif agar alur operasional perahu tidak terganggu.
Berdasarkan koordinasi dengan otoritas terkait, alur-alur sungai yang aktif digunakan oleh nelayan kecil maupun besar untuk keluar-masuk laut akan diproteksi secara khusus.
Rekayasa ini sengaja dirancang demi mengatasi kendala kedangkalan muara yang selama ini kerap dikeluhkan nelayan akibat sedimentasi.
Subaskoro menjelaskan bahwa di muara aktif tersebut nantinya akan dibangun infrastruktur pelindung guna mengamankan jalur pelayaran nelayan.
“Itu nanti akan dibikinkan semacam tanggul beton kurang lebih sekitar 2 kilometer ke laut, mengarah ke laut. Jadi untuk mengurangi sedimentasi. Sehingga harapannya alur sungai muara di sepanjang Pantura Jawa Tengah ini tidak lagi dangkal,” ungkap Subaskoro pada wartawan di Pati, Sabtu (18/7/2026).
Melalui pengaturan akses ini, pengusaha perikanan di Pati ini meyakini mobilitas nelayan tetap berjalan normal bahkan menjadi lebih aman dari risiko kandas.
Lini masa pengerjaan mega proyek ini di Jawa Tengah diperkirakan memulai tahapan persiapan dan fisik awal pada periode Januari hingga April 2027.
Subaskoro menambahkan bahwa kepastian jadwal tersebut diperoleh setelah pihaknya menjalin komunikasi intensif dengan Deputi 2 Giant Sea Wall area Jateng-Jatim, Agus Adriyanto.
Pihaknya menyampaikan bahwa jika tidak ada aral melintang, estimasi pengerjaan akan dimulai pada awal tahun 2027 dengan fokus utama di kawasan Teluk Semarang yang mencakup wilayah Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak.
Pembangunan akan diutamakan dari wilayah Demak yang selama ini menjadi titik paling parah terdampak genangan rob, di mana fasilitas permukiman nelayan dan lahan tambak masyarakat kerap mengalami kerusakan parah.
Selain menjaga aksesibilitas nelayan di muara utama, sektor perikanan budidaya juga akan mendapat proteksi melalui konsep perlindungan berlapis di kawasan Teluk Semarang.
Pengamanan tersebut menggabungkan tanggul laut (offshore dike) di depan garis pantai untuk memecah gelombang besar, tanggul pantai (onshore dike) untuk melindungi permukiman dan tambak, serta tanggul alami (soft dike) berupa sabuk hijau mangrove.
Ekosistem hutan mangrove seluas 14.000 hektare yang membentang di pesisir Jawa Tengah hingga Jawa Timur akan direvitalisasi.
Keberadaan hutan mangrove ini menjadi poin penting bagi sektor perikanan karena berfungsi sebagai tempat pemijahan dan berkembang biak yang ideal bagi komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti ikan dan udang, sekaligus membentengi daratan dari abrasi.
Dampak positif lain terhadap lingkungan pesisir dicapai melalui tata kelola air sungai yang tidak dilewati oleh perahu nelayan kecil.
Aliran anak sungai tersebut akan dialihkan menuju danau retensi atau kolam penampungan buatan di dekat pantai, bukannya langsung dibuang ke laut.
Danau buatan ini tidak hanya mengendalikan banjir saat curah hujan tinggi, melainkan juga memicu proses pengendapan alami yang menurunkan kadar garam dari air laut yang bercampur di dalamnya.
Air tawar yang terbentuk di permukaan danau kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan sebagai sumber air baku untuk kebutuhan domestik harian maupun untuk irigasi lahan pertanian di sekitar pesisir yang selama ini mengalami krisis air bersih akibat intrusi air laut.
Secara keseluruhan, Subaskoro meyakini bahwa proyek Giant Sea Wall di Pantura Jawa Tengah ini dikembangkan bukan untuk membatasi ruang gerak masyarakat pesisir.
Megaproyek ini adalah upaya terpadu dalam melindungi kampung nelayan dari ancaman tenggelam akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan air laut.
Melalui perlindungan berlapis ini, rumah-rumah nelayan menjadi lebih aman, jalur distribusi logistik di Pantura terbebas dari banjir, dan kawasan pertambakan warga terlindungi dari terjangan ombak.
“Saya berharap proyek ini mampu menjaga Pantura tetap menjadi kawasan yang aman, produktif, dan berkelanjutan bagi kelangsungan hidup generasi nelayan masa depan,” tandas dia.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

