Breaking News
light_mode

Edy Wuryanto Minta PPDS Hospital Based Tidak Sekadar Tambah Program

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Jum, 4 Sep 2026
  • visibility 102.069

JAKARTA – Perluasan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) melalui skema berbasis Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) dinilai harus memiliki arah yang jelas. Program tersebut tidak semestinya hanya menambah nama atau jalur pendidikan baru, tetapi harus benar-benar memperluas kapasitas pendidikan dokter spesialis, terutama di wilayah yang masih mengalami kekurangan.

Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengatakan, pendidikan spesialis berbasis rumah sakit atau hospital based idealnya hadir untuk melengkapi sistem pendidikan yang selama ini diselenggarakan perguruan tinggi. Menurutnya, jangan sampai program baru justru ditempatkan di rumah sakit yang telah memiliki program PPDS berbasis universitas dengan bidang spesialisasi yang sama.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memunculkan kompetisi dalam penggunaan sumber daya pendidikan, sementara persoalan kekurangan dokter spesialis di berbagai daerah belum terselesaikan.

“Pendidikan berbasis rumah sakit harus melengkapi pendidikan berbasis universitas. Jangan sampai dua-duanya justru saling berhadapan dan menimbulkan persaingan yang tidak sehat,” kata Edy.

Karena itu, Edy meminta pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan secara menyeluruh sebelum membuka program PPDS hospital based. Pemetaan tersebut harus mempertimbangkan jenis spesialisasi yang masih langka serta daerah yang belum memiliki akses memadai terhadap pendidikan dokter spesialis.

Menurut dia, kemampuan sebuah rumah sakit untuk menyelenggarakan PPDS bukan satu-satunya ukuran yang harus digunakan. Yang lebih penting adalah memastikan program tersebut benar-benar memberikan tambahan kapasitas pendidikan.

“Kalau sebuah rumah sakit sudah menyelenggarakan pendidikan spesialis berbasis universitas, lalu dibuka lagi hospital based dengan program yang sama, apa yang sebenarnya kita tambah? Jangan sampai kita merasa menambah kapasitas, padahal hanya menggandakan program di tempat yang sama,” ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu menyebut skema hospital based seharusnya menjadi instrumen untuk mengisi kekurangan dalam sistem pendidikan dokter spesialis nasional. Untuk itu, diperlukan perencanaan berbasis kebutuhan sehingga pembukaan program tidak hanya terkonsentrasi di rumah sakit yang sudah memiliki fasilitas dan ekosistem pendidikan yang relatif mapan.

Jangan Kejar Jumlah, Utamakan Mutu

Edy juga mengingatkan agar kebijakan percepatan PPDS tidak diarahkan semata-mata untuk mengejar pertambahan jumlah peserta maupun lulusan. Setiap rumah sakit yang menjadi penyelenggara harus memiliki kesiapan tenaga pendidik, tata kelola pendidikan, fasilitas serta kasus klinis yang memadai untuk menunjang proses pembelajaran.

“Dokter spesialisnya juga harus siap menjadi pendidik klinis. Artinya selain handal dalam hal klinis juga harus punya kompetensi mengajar,” kata Legislator Dapil Jawa Tengah III itu.

Menurut Edy, kompetensi dokter sebagai pendidik klinis menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lulusan. Dokter spesialis yang mengajar perlu memiliki kemampuan pedagogis, mampu membangun hubungan profesional dengan peserta didik, serta memahami proses evaluasi kompetensi.

Jika aspek tersebut tidak dipersiapkan dengan baik, percepatan pembukaan program PPDS justru dapat menimbulkan persoalan baru dalam proses pendidikan klinis.

Selain persoalan mutu, Edy menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan profesional. Perluasan pendidikan berbasis rumah sakit, kata dia, seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki budaya pendidikan kedokteran, bukan mempertahankan praktik perundungan ataupun relasi kuasa yang tidak sehat.

“Peserta didik harus mendapatkan lingkungan belajar yang sehat, profesional, aman, dan benar-benar berorientasi pada kompetensi,” tegasnya.

Edy juga meminta agar penerapan hospital based tidak menciptakan perbedaan kelas dengan pendidikan spesialis berbasis universitas. Menurutnya, kedua jalur tersebut harus memperoleh perlakuan yang setara, termasuk dalam kurikulum, pembelajaran, evaluasi, uji kompetensi, serta kesempatan mendapatkan pembiayaan pendidikan dan beasiswa.

“Kalau hospital based mendapatkan peluang beasiswa, yang berbasis universitas juga harus memiliki peluang yang sama,” kata Edy.

Dalam menjaga kualitas pendidikan profesi, ia menekankan pentingnya independensi kolegium dan konsil. Menurut Edy, percepatan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis tidak boleh dilakukan dengan mengurangi standar pendidikan dan mekanisme pengawasan mutu.

Dengan demikian, lulusan PPDS dari jalur hospital based maupun universitas tetap harus memenuhi standar kompetensi yang sama dan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.

Pendidikan Spesialis Jangan Hanya Berpusat pada Dokter

Di sisi lain, Edy menilai perhatian terhadap pengembangan pendidikan spesialis tidak seharusnya hanya diberikan kepada profesi dokter. Sistem pelayanan kesehatan membutuhkan tenaga kesehatan dari berbagai profesi yang memiliki kompetensi kuat dan mampu bekerja dalam satu tim.

Ia pun mendorong agar pendidikan spesialis keperawatan berbasis rumah sakit turut dikembangkan. Salah satu upaya tersebut, menurut Edy, saat ini tengah didorong di RSUP Dr. Kariadi, Semarang.

Pengembangan pendidikan spesialis keperawatan dinilainya sejalan dengan implementasi Undang-Undang Kesehatan dan kebutuhan memperkuat kolaborasi antarprofesi dalam pelayanan kesehatan.

“Kita tidak bisa membangun layanan kesehatan hanya dengan memperkuat satu profesi. Dokter penting, tetapi pelayanan kesehatan adalah kerja tim. Perawat dan tenaga kesehatan lain juga harus memiliki ruang yang sama untuk meningkatkan kompetensi,” kata Edy.

Menurut Edy, pembangunan sumber daya manusia kesehatan ke depan harus diarahkan pada terbentuknya ekosistem pelayanan yang kolaboratif. Penambahan jumlah lulusan dokter spesialis saja tidak cukup apabila profesi kesehatan lainnya tidak mendapatkan penguatan kompetensi secara seimbang.

“Kalau hanya dokter yang terus diperkuat sementara profesi lain tertinggal, kita sedang membangun sistem pelayanan kesehatan yang terfragmentasi ,” katanya.

Editor : Arif

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makan Bergizi Gratis: Edy Wuryanto Usulkan Program Berbasis Kearifan Lokal

    Makan Bergizi Gratis: Edy Wuryanto Usulkan Program Berbasis Kearifan Lokal

    • calendar_month Sen, 27 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 514
    • 0Komentar

    BLORA – Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menekankan pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berakar pada kearifan lokal dan melibatkan masyarakat secara aktif. Hal ini disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor di Blora, Senin (27/10), yang dihadiri oleh perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Peternakan, serta […]

  • DPRD Pati Soroti Rendahnya Kehadiran Kades dan Camat saat Sosialisasi Bankeu Sarpras Desa

    DPRD Pati Soroti Rendahnya Kehadiran Kades dan Camat saat Sosialisasi Bankeu Sarpras Desa

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 99.265
    • 0Komentar

    PATI – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati telah menyelenggarakan kegiatan sosialisasi terkait pemberian Bantuan Keuangan (Bankeu) untuk pembangunan sarana dan prasarana di wilayah pedesaan. Acara yang bertempat di aula kantor DPUTR Pati ini ditujukan khusus bagi para kepala desa yang tercatat sebagai penerima bantuan, guna memberikan panduan mengenai tata cara dan […]

  • Askab PSSI Pati Umumkan Jadwal Liga 4 Piala Bupati

    Askab PSSI Pati Umumkan Jadwal Liga 4 Piala Bupati

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 370
    • 0Komentar

    PATI – Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Pati bersiap menggelar kompetisi Liga 4 Piala Bupati pada November 2025. Kompetisi ini akan menjadi ajang bagi klub-klub anggota PSSI Pati yang memenuhi persyaratan. Ketua Umum Askab PSSI Pati, Dian Dwi Budianto, menyatakan bahwa kompetisi Liga 4 akan dimulai dari putaran kabupaten/kota. “Kompetisi Liga 4 sekarang dimulai dari putaran […]

  • Ilustrasi benih ikan lele berkualitas.

    Cara Mudah Memilih Benih Ikan Lele untuk Budidaya Bagi Pemula

    • calendar_month Kam, 15 Agu 2024
    • account_circle Arif Mohamad
    • visibility 428
    • 0Komentar

      EDUKASI – Cara mudah memilih benih ikan lele bagi pembudidaya yang baru pemula, dapat dipraktekkan di rumah sendiri. Budidaya ikan lele merupakan salah satu cara mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama. Permintaan ikan lele di pasar cenderung masih sangat tinggi, karena itu prospek untuk budidaya ikan lele terbilang bagus. Hal yang mendasar dalam […]

  • Dana Minim Persiku Kudus Tetap Percaya Diri Ikut Liga 3

    Dana Minim Persiku Kudus Tetap Percaya Diri Ikut Liga 3

    • calendar_month Jum, 20 Okt 2023
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 345
    • 0Komentar

    KUDUS – Persiku Kudus tahun 2023 mengalami masa sulit dalam hal keuangan, namun kesulitan itu tidak menyurutkan semangat untuk tampil di kompetisi Liga 3 Jawa Tengah yang bakal digelar November mendatang.Saat ini Persiku Kudus sudah melakukan seleksi pemain, seleksi dilakukan langsung oleh pelatih Persiku Kudus Deny Rumba. Seleksi Persiku Kudus dilakukan pada (17/10/2023), ada 40 […]

  • Festival Kopi Pati 2019 Digelar Penuh Dua Hari

    Festival Kopi Pati 2019 Digelar Penuh Dua Hari

    • calendar_month Sab, 28 Sep 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Pati Meneguhkan Diri Menjadi Kota Kopi   Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Pati menggelar Festival Kopi Pati 2019 di Plaza Pragolo, 28-29 September. Melalui festival tersebut, Pemkab Pati ingin mengangkat kopi Pati lebih tinggi lagi. Sebagai salah satu komoditas perkebunan unggulan. Festival di hari pertama, bakal diawali dengan kegiatan uji cita rasa atau cupping. Ada […]

expand_less