Pesta Lomban 2026 Siap Digelar, Kirab Budaya Pelarungan Kepala Kerbau Jadi Puncak Acara
- account_circle Redaksi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 3.501

Kapal nelayan saat mengikuti larung kepala kerbau dalam acara Pesta Lomban Jepara 2025 yang lalu.
JEPARA – Tradisi pesisir yang menjadi ikon budaya Bumi Kartini kembali hadir pada Lebaran tahun ini. Pesta Lomban 2026 dipastikan berlangsung meriah dengan agenda utama Kirab Budaya Pelarungan Kepala Kerbau, sebuah ritual yang sarat nilai sejarah dan menjadi daya tarik wisata tahunan di Jepara.
Panitia penyelenggara menjadwalkan rangkaian kegiatan akan digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026, mulai pukul 06.00 WIB. Prosesi kirab akan dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu, kemudian berakhir di Pantai Kartini sebagai lokasi pelarungan.
Tradisi pelarungan kepala kerbau merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat pesisir Jepara atas rezeki dan keselamatan selama melaut. Prosesi ini juga menjadi simbol harapan agar musim pelayaran ke depan membawa berkah.
Warga Jepara dan daerah sekitar diimbau untuk turut serta memeriahkan acara ini. Pesta Lomban dikenal sebagai salah satu event budaya terbesar di Jepara yang selalu menarik perhatian wisatawan lokal maupun luar daerah.
Panitia berharap kehadiran masyarakat dapat menambah semarak gelaran budaya tahunan ini. “Kami mengajak keluarga, saudara, dan seluruh warga untuk menyaksikan kemeriahan Pesta Lomban. Jangan sampai terlewat momentum budaya yang hanya hadir sekali setiap tahun,” demikian imbauan panitia.
Pesta Lomban 2026 kembali menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas daerah, sekaligus destinasi wisata budaya yang patut dinantikan.
Diketahui Pesta lomban di Kabupaten Jepara dengan acara larung kepala kerbau bukan sekadar prosesi budaya.
Melainkan juga sebagai wujud syukur masyarakat nelayan Jepara kepada Tuhan atas hasil laut yang telah menjadi sumber penghidupan mereka.
Tradisi ini telah tercatat sejak 1868 dalam jurnal Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, serta muncul dalam surat kabar Slompret Melajoe edisi Agustus 1893.
Dari masa ke masa, tradisi ini terus dilestarikan, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kabupaten Jepara.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Fatwa

