Breaking News
light_mode

Sejarah Gambiran Pusat Penyebaran Islam di Pati Masa Lalu

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 24 Apr 2021
  • visibility 467
Potret Masjid Gambiran, Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati

Gambiran disebut pusat penyebaran Islam di tanah Pati pada masa lampau. Berbicara tentang syiar Islam tidak terlepas dari nama Mbah Cungkrung. Beliau murid Sunan Muria, yang berdakwah dengan corak tasawuf. Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, adalah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.

PATI – Dukuh Gambiran di Desa
Sukoharjo, Kecamatan Margorejo disebut sebagai pusat keagamaan Islam di Kabupaten
Pati. Hal itu diyakini Amal Hamzah, seorang sejarawan lokal. Dia menyebut bahwa
Masjid Baiturrohim Gambiran dahulu merupakan masjid utama di Kota Mina Tani ini,
sebelum berpindah ke Masjid Agung Baitunnur di Alun-Alun Pati.

Berbicara tentang syiar Islam di
Pati yang berpusat dari Gambiran, kata Amal Hamzah, tidak terlepas dari sosok
Mbah Cungkrung, yang makamnya terletak sekitar 30 meter di sebelah selatan
masjid tersebut. Tokoh yang diyakini sebagai waliyullah ini oleh masyarakat
setempat diperingati haul-nya setiap 1 Syuro.

“Nama aslinya tidak diketahui.
Adapun cungkrung kalau menurut orang Jawa diambil dari kata ‘jungkrung’ yang
artinya ‘sujud’. Nama Mbah Cungkrung diambil dari kebiasaan beliau sujud dalam
salat,” terang Ketua Yayasan Baiturrohim ini seperti dilansir dari Tribun
Jateng
.

Amal mengungkapkan, Mbah Cungkrung
diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Disebutkannya, Mbah Cungkrung
berdakwah dengan corak tasawuf.

“Karena Sunan Muria wafat pada
pertengahan abad 16, Mbah Cungkrung juga berdakwah pada kisaran masa itu.
Masjid Baiturrohim Gambiran dibangun oleh Mbah Cungkrung sebagai pusat syiar
agama. Oleh warga setempat masjid ini juga disebut sebagai Masjid Wali,” kata
Guru SMAN 1 Pati ini.

Makam Mbah Cungkrung

Masjid Gambiran
memiliki arsitektur kuno dengan atap limas bersusun seperti Masjid Agung Demak.
Struktur atap disangga oleh empat saka dari kayu. Memang bangunan asli masjid
ini terbuat dari kayu, sebelum kemudian direnovasi menjadi tembok.

Penanda renovasi adalah sebuah
prasasti bertuliskan aksara Arab Pegon yang terletak di atas pintu utama
masjid. Dalam prasasti tersebut, dikatakan bahwa Masjid Gambiran direnovasi
pada 1885 oleh Bupati Pati pada waktu itu, yakni Kanjeng Raden Aryo
Candrahadinegoro.

“Dalam renovasi ini, mustoko atau
kubah masjid berbentuk ngaron (tempat memasak dari tanah liat) diganti mustoko
baru. Sedangkan yang lama dibawa ke daerah Tawung (Tawangrejo, Kecamatan
Winong) oleh murid Mbah Cungkrung,” papar dia.

Amal menambahkan, berdasarkan
keterangan yang dia dapatkan dari KH Hishom, ulama asal Desa Tawangrejo, agama
Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari murid Mbah Cungkrung.

Penanda “kekunoan” lainnya dari
masjid ini, menurut Amal, ialah keberadaan kompleks makam keluarga penghulu,
persis di sebelah utara masjid. Dilihat dari bentuk patoknya, sambung dia,
diperkirakan makam tersebut ada sejak abad ke-16.

Bukti lain bahwa dahulu Gambiran
merupakan pusat Islam di Pati, kata Amal, ialah keberadaan pemakaman Islam kuno
di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.

“Makam yang cukup padat, seluas
hampir 2 hektare ini, menunjukkan bahwa Gambiran dulu kota dengan banyak
penduduk, atau kalau sekarang disebut metropolitan. Ada keyakinan, penduduk
berbondong-bondong meninggalkan, sehingga makam luas ini tidak digunakan lagi.
Hanya penduduk lokal yang memanfaatkan sebagian kecil area makam,” kata Amal
sembari menunjukkan kompleks makam tersebut.

Menurut Amal, dilihat dari
patok-patok kuburan yang berukuran besar dan terbuat dari batuan andesit,
pemakaman kuno ini diperkirakan dimanfaatkan warga pada abad 16 sampai 17.

“Kita tidak tahu pada waktu itu
berasal dari mana batunya. Namun, yang jelas bisa dipastikan ini pemakaman
Islam. Tandanya, ada dua batu nisan, satu di utara satu di selatan, karena
mayatnya dihadapkan ke arah kiblat,” jelas dia.

Amal menerangkan, pusat Islam di
Pati mulai berpindah sejak Masjid Agung Baitunnur berdiri pada 1845. Letaknya
yang berada di barat pendopo menjadikan masjid ini sebagai masjid besar
kabupaten.

“Pendirian masjid ini membawa
dampak besar. Para ulama Gambiran diboyong ke sana. Ada yang ditempatkan di
Kauman, Saliyan, dan Kampung Mertokusuman. Ketika ulama-ulama Gambiran pindah
ke Pati, masjid ini mulai agak sepi. Namun, atas kebaikan bupati pada waktu
itu, 1885 masjid ini direnovasi,” jelas dia.

Meski kini Masjid Baiturrohim
Gambiran bukan lagi masjid utama di Pati, jejak-jejak syiar Islam Mbah
Cungkrung masih bisa ditemukan.

Satu di antaranya, menurut Amal,
warga Muslim Tawangrejo Kecamatan Winong mengakui Mbah Cungkrung sebagai
leluhurnya. Setiap ada tahlil, nama Mbah Cungkrung disebut. Kemudian, saat
peringatan haul Mbah Cungkrung di Gambiran, sejumlah penduduk dan perangkat
Desa Tawangrejo ikut hadir.

Kemudian, meski semarak keagamaan
sempat meredup saat ulama Gambiran hijrah ke Masjid Agung Baitunnur Pati, kini
gairah keagamaan kembali bangkit.

Di bahwa naungan
Yayasan Baiturrohim, di Gambiran berlangsung aktif pendidikan agama mulai dari
TPQ,TK, Jamaah Yasin-Tahlil, sampai Pondok Pesantren. (yan)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polresta Pati Tingkatkan Keamanan Jelang Unjuk Rasa dengan Edukasi Masyarakat

    Polresta Pati Tingkatkan Keamanan Jelang Unjuk Rasa dengan Edukasi Masyarakat

    • calendar_month Kam, 18 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 256
    • 0Komentar

    PATI – Menyikapi rencana aksi unjuk rasa yang akan berlangsung di Kabupaten Pati pada Jumat, 19 September 2025, jajaran Satbinmas Polresta Pati mengambil inisiatif strategis. Sehari sebelumnya, pada Kamis (18/9/2025), mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, petugas secara aktif menyambangi dan memberikan edukasi Kamtibmas kepada masyarakat serta pelaku usaha di berbagai titik keramaian sekitar Alun-Alun […]

  • Ketua PMI Pati Lantik Anggota PMR Wira SMA N 3 Pati: Siap Emban Misi Kemanusiaan

    Ketua PMI Pati Lantik Anggota PMR Wira SMA N 3 Pati: Siap Emban Misi Kemanusiaan

    • calendar_month Rab, 19 Nov 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 923
    • 0Komentar

    PATI – Ketua PMI Kabupaten Pati, Atik Kusdarwati Sudewo, secara resmi melantik anggota Palang Merah Remaja (PMR) Wira Unit SMA Negeri 3 Pati untuk periode 2025–2026 dalam sebuah upacara khidmat di SMA Negeri 3 Pati, Rabu (19/11/2025). Atik Kusdarwati Sudewo menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara dan apresiasinya kepada pihak sekolah. “Alhamdulillah pelantikan hari ini […]

  • Mari Memeluk Masyarakat Petani

    Mari Memeluk Masyarakat Petani

    • calendar_month Jum, 27 Agu 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 298
    • 0Komentar

      Petani sedang memane padi Oleh : Miftahul Munir* Seorang bapak mengeluh karena hasil jerih payahnya di sawah tidak kunjung menggembirakan. Biaya produksinya mahal, sedangkan harga jual hasil panen jatuh. Bapak itu mengadu, kisah pilu semacam itu tidak sekali-duakali terjadi. Tidak hanya padi. Hasil pertanian lain seperti kacang tanah, jagung, hingga ketela juga sering jatuh […]

  • Wisata Sejarah Belasan Gua Jepang di Pegunungan Patiayam

    Wisata Sejarah Belasan Gua Jepang di Pegunungan Patiayam

    • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 443
    • 0Komentar

      Seorang warga sedang mencoba masuk ke salah satu Gua Jepang di Pegunungan Patiayam, Terban Kudus Destinasi wisata sejarah di Kabupaten Kudus terus bertambah. Baru-baru ini ditemukan belasan gua Jepang di kawasan Pegunungan Patiayam. KUDUS – Desa Terban Kecamatan Jekulo belum lama ini telah ditemukan sebanyak 15 gua peninggalan Jepang yang berlokasi di bawah perbukitan […]

  • Peduli Sampah, Karim Dipanggi Si Pemuda Sampah

    Peduli Sampah, Karim Dipanggi Si Pemuda Sampah

    • calendar_month Jum, 6 Jul 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Melihat Kisah Abdul Karim, Juara I Pemuda Pelopor Kesadaran Lingkungan Kabupaten Pati 2018, Penggagas Komunitas Resik Apik di Desa Kajen. Karim memang pemuda yang tak gampang menyerah. Untuk mengabdikan diri mengelola sampah di desanya sendiri, dia harus tabah menerima cibiran dari tetangga. Dia dijuluki si pemuda sampah karena kegigihannya mengajak warga supaya ikut program resik […]

  • Karateka Pati Bawa Jateng Juara Umum Shindoka

    Karateka Pati Bawa Jateng Juara Umum Shindoka

    • calendar_month Rab, 7 Mar 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Para atlet karate kontingen Jawa Tengah berfoto usai penyerahan piala sebagai kontingen terbaik di ajang Kejurnas Shindoka Indonesia 2018 beberapa waktu yang lalu. Lingkar Muria, PATI – Kabar membanggakan datang dari Kota Nasi Gandul. Dari 14 atletnya yang turun memperkuat kontingen Jawa Tengah di ajang Kejurnas Shindoka Indonesia 2018 di Jakarta 2 hingga 4 Maret […]

expand_less