Breaking News
light_mode

Mimpi Buruk Penjudi, Berganti Mimpi Manis Prestasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 5 Jan 2019
  • visibility 328
ILUSTRASI ISTIMEWA

Teriakan lantang nan heroik dari Januar Herwanto,
manajer Madura FC seakan menjadi awal mimpi buruk sepakbola Indonesia yang
karut-marut di bawah bayang-bayang barisan mafia. Ya, sepakbola di negeri yang
sudah 73 tahun merdeka ini, alih-alih menyuguhkan prestasi, lebih banyak malah membikin
dada sesak. Sebab nihilnya trofi juara yang
nangkring
di lemari prestasi PSSI.
Bayangkan saja, sepakbola Indonesia yang sudah
berkembang lama sejak zaman kolonialisme, bahkan pernah tampil di piala dunia
dengan nama Hindia Belanda ini, tak mampu sekalipun merengkuh prestasi di ajang
regional sekelas Piala AFF. Sejak kali pertama digelar dengan nama Piala Tiger,
paling banter kita hanya puas duduk sebagai runner
up
. Prestasi Indonesia paling mentok dapat emas ajang multi event SEA
Games, selain itu hanya mampu juara di turnamen-turnamen tak resmi milik sebuah
negara. Merdeka Games misalnya, kejuaraan milik Malaysia.  
Selebihnya, sepakbola tanah air lebih lekat dengan
beragam kontroversi, sekaligus berita miring bin buruk yang terdengar gaungnya
dimana-mana. Kontroversi, ya semacam ketua umum yang berstatus narapidana,
dualisme federasi, rentetan panjang kematian sia-sia suporter di stadion, baku
hantam antar pemain, baku hantam dengan wasit. Hingga yang mencengangkan adalah
mencuatnya skandal pengaturan skor, sogok-menyogok kepada wasit, hingga kepada
pengurus yang memiliki kewenangan dalam kompetisi. Pokoknya bikin geleng-geleng
kepala. Nyaris tak ada yang membikin kita tegak kepala jika berbicara soal
sepakbola.
Tetapi kemudian, jelang akhir tahun 2018, berita
soal perintah mengalah sebuah kesebelasan di pertandingan babak 8 besar Liga 2
dibeberkan ke publik dengan berani. Berita itu bersumber dari Januar, majaner
Madura FC yang pemberani itu. Buntutnya panjang. Diskusi-diskusi maupun obrolan
warung kopi, soal mafia bola makin nyaring terdengar. Hingga dibentuklah Satgas
Antimafia Bola dari Mabes Polri yang digadang-gadang untuk bersih-bersih noda
hitam di sepakbola Indonesia, yang mana noda hitam itu juga melekat di beberapa
oknum PSSI melalui skandal match fixing
yang sedang trending belakangan.
Aroma kecurangan di dunia kulit bundar tanah air
sebenarnya sudah lama. Seperti yang sudah sering ditulis dalam pemberitaan,
kecurangan itu laksana kentut. Bisa dirasakan, namun tak diketahui rimbanya.
Itu yang menjadi kesulitan untuk memerangi skandal-skandal yang sudah kadung
membekas di dunia sepakbola kita. Macam pengaturan skor itu.
Praktis melalui blak-blakan obrolan para pelaku
sepakbola, sekaligus gerak cepat Satgas Antimafia Bola membuat ketar-ketir para pelaku  mafia alias penjudi bola itu, jika tidak,
cukuplah pihak berwenang bisa mengorek siapa-siapa yang terlibat, siapa-siapa
yang bermain dalam skandal tersebut melalui orang-orang yang sudah terlebih
dahulu ditangkap dan ditetapkan tersangka.
Aksi bersih-bersih ini tentu mengundang angin segar
untuk prestasi sepakbola yang lebih baik. Angin segar prestasi itu pantas
dielu-elukan, sebab selama ini image kompetisi
yang tak sehat dengan segala praktik licik kemenangan untuk mengeruk untung dan
dukungan, sudah menjadi rahasia umum.
Benar-benar rahasia umum. Sedikit banyak, setahun belakangan
saya sendiri mendengar langsung dari para pelaku sepakbola tanah air di daerah.
Orang-orang di manajemen yang mengurusi teknis perjalanan sebuah kesebelasan
dalam mengarungi kompetisi. Mereka dengan santai bercerita suap-menyuap yang
sudah lumrah di sepakbola tanah air. Bahkan di level kompetisi paling bawah.
Main mata wani piro dengan wasit harus dilakukan jika tak ingin dikerjai dalam
sebuah pertandingan.
Namun hal itu sepertinya akan menjadi masa lalu.
Kini dengan sigap mafia-mafia penoda sepakbola mulai menemui ajalnya. Mimpi
buruk memang telah tiba bagi mafia itu. Kini, saatnya berganti mimpi indah
prestasi untuk pecinta sepakbola tanah air. Tentu setelah kompetisi benar-benar
bersih, permainan juga akan benar-benar bersih. Para pemain bisa menunjukkan
permainan terbaiknya, tanpa ada faktor-faktor non teknis lainnya. Macam aksi
dikerjai wasit lewat suap-menyuap. Hingga pada skandal pengaturan skor. Akhirnya.
Kompetisi yang baik, dan bersih diyakini memang menjadi jalan terbaik menuju
timnas yang lebih berprestasi. Lihatlah macam sepakbola Thailand bagaimana
sepakbolanya berkembang. Jangan sungkan belajar dari tetangga. (Riyan Aziz)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safin Pati Sports School Targetkan Anak Didiknya Tembus Timnas

    Safin Pati Sports School Targetkan Anak Didiknya Tembus Timnas

    • calendar_month Jum, 11 Nov 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Perayaan ulang tahun Safin Pati Sports School Di momen ulang tahunnya yang ke-3 Safin Pati Sports School (SPSS) ingin meneguhkan diri sebagai pilihan anak muda Indonesia untuk meniri jalan pendidikan dan karir dalam sepak bola. SPSS menargetkan siswa didikannya tembus ke skuad Tim Nasional. PATI – Safin Pati Sports School (SPSS) Indonesia memperingati hari jadinya […]

  • Relawan Laskar Pelangi Dukung Wahyu – Haryono Maju Pilkada Pati 2024

    Relawan Laskar Pelangi Dukung Wahyu – Haryono Maju Pilkada Pati 2024

    • calendar_month Sab, 18 Mei 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 223
    • 0Komentar

    PATI – Ratusan orang mengantarkan pasangan Wahyu Indriyanto dan Suharyono untuk mendaftar sebagai calon Bupati dan wakil bupati Pati, di kantor DPC PDIP Kabupaten Pati. Mereka membawa spanduk bertuliskan Laskar Pelangi. Selain itu juga membawa bendera PDIP. Wahyu Indriyanto adalah kepala desa Gadingrejo Juwana, sedangkan Suharyono adalah mantan Sekda Kabupaten Pati. Ratusan orang ini mengatasnamakan […]

  • Pansus Hak Angket DPRD Pati Pastikan Selama Rapat Tertib Administrasi

    Pansus Hak Angket DPRD Pati Pastikan Selama Rapat Tertib Administrasi

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 292
    • 0Komentar

    PATI – Di tengah sorotan publik terhadap kinerja DPRD, Pansus Hak Angket DPRD Pati mengambil langkah tegas untuk memastikan keterbukaan informasi. Ketua Pansus, Teguh Bandang Waluyo, menekankan bahwa setiap keterangan yang disampaikan dalam rapat harus dipertanggungjawabkan secara administratif. “Kami tidak main-main soal ini. Setiap kepala dinas yang kami undang, keterangannya harus ada tanda tangan,” tegasnya. […]

  • Edy Wuryanto Desak Kepastian Regulasi Pemutihan Tunggakan JKN

    Edy Wuryanto Desak Kepastian Regulasi Pemutihan Tunggakan JKN

    • calendar_month Ming, 14 Des 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.211
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Edy Wuryanto, mendesak pemerintah untuk segera menetapkan regulasi yang jelas mengenai rencana pemutihan atau penghapusan tunggakan iuran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menurutnya, ketidakpastian kebijakan ini dapat menyebabkan kebingungan di kalangan masyarakat dan mengancam keberlanjutan program JKN secara keseluruhan. Sampai saat ini, rencana pemutihan […]

  • Ketua Komisi C DPRD Pati: Perbaikan Jalan di Pati Bakal Dimulai Akhir Bulan Ini

    Ketua Komisi C DPRD Pati: Perbaikan Jalan di Pati Bakal Dimulai Akhir Bulan Ini

    • calendar_month Sab, 9 Mei 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 98.729
    • 0Komentar

    PATI – Pemerintah daerah diminta segera melaksanakan perbaikan ruas jalan yang rusak, mengingat kondisi tersebut kerap menjadi keluhan masyarakat dan dirasa sudah mengganggu berbagai aktivitas warga sehari-hari. Harapannya, perbaikan ini dapat segera diwujudkan demi kenyamanan dan kelancaran perjalanan di wilayah Kabupaten Pati. Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengadakan […]

  • Nindy Korban Mutilasi dan Pembakaran Adalah Sosok Mandiri

    Nindy Korban Mutilasi dan Pembakaran Adalah Sosok Mandiri

    • calendar_month Sab, 16 Des 2017
    • account_circle Redaksi
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Nindy Juga Pekerja Keras Status Facebooknya yang menunjukkan Nindy memang pekerja keras Lingkar Muria, PATI – Korban mutilasi dan pembakaran oleh suami sendiri, Siti Saidah, 21, alias Sinok alias Nindy, di mata keluarga merupakan perempuan yang mandiri. Selain mandiri, Nindy juga terkenal pekerja keras. Saryadi, ayah Nindy menuturkan, putri bungsunya itu memang mandiri dan juga […]

expand_less