Breaking News
light_mode

Mengenang Tragedi Untuk Mengukir Prestasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Ming, 13 Jan 2019
  • visibility 166

Judul
Buku
Tragedi Tiket Montreal
Penulis
Eko Wardhana
Cetakan
2018
Halaman
320
13,5×20 cm
Penerbit
Indie Book Corner
ISBN
978-602-3093-54-0
Membincang
sepakbola Indonesia lebih banyak membikin dada sesak. Para pendukung Timnas
Garuda lebih akrab dengan drama-drama kegagalan tim kesayangannya, ketimbang
keberhasilan menjuarai sebuah turnamen. Namun sayang, rentetan kegagalan timnas
tak menjadikan pembelajaran untuk bangkit dan secepatnya mereguk prestasi.
Hingga
saat ini Timnas Garuda belum sekalipun tampil sebagai juara dalam major turnamen. Paling mentok hanya
mengantongi dua keping medali emas. Turnamen setingkat regional Piala AFF,
Indonesia selalu gagal di babak final.
Indonesia
adalah negara besar, tetapi prestasi sepakbolanya kecil. Penduduk Indonesia
lebih dari 249 juta jiwa (2014), sepakbolanya sudah mendarah daging sejak zaman
kolonial Belanda. Ada anekdot menarik yang lama beredar di belantika sepak bola
kita, “Dengan negara seluas itu, dengan penduduk sebanyak itu, mengapa sulit
sekali mendapat 11 orang terbaik di lapangan bola?” Singapura dengan hanya 5,4
juta penduduk, bisa mengoleksi 4 tropi Piala AFF, betapa mengenaskan Timnas
Indonesia. (halaman 11)
Dari
nasib mengenaskan itu, pada akhirnya selalu membawa masyarakat pecinta bola
tanah air menghibur diri dengan kenangan semasa PSSI, sebutan bagi timnas kita
sebelum tahun 1980-an, kuat dan berjaya di banyak turnamen, baik resmi maupun
tidak resmi.
Kita
pernah hadir di Piala Dunia 1938 dengan nama Hindia Belanda, menahan raksasa
Uni Soviet 0-0 di Olimpiade 1956, hingga meraih medali perunggu Asian Games
1958, dua keping medali emas SEA Games 1987 dan 1991, serta beberapa kejuaraan
lainnya. (halaman 17)
Namun,
tanpa meremehkan pertandingan lainnya, sebuah kenangan perjuangan tim nasional
yang paling fenomenal terjadi di perebutan tiket menuju Olimpiade Montreal.
Perjuangan punggawa merah putih diceritakan dengan apik oleh penulisnya yang
saat laga tersebut berlangsung masih duduk di bangku kelas VI SD, dan
menontonnya melalui siaran TVRI hitam-putih dengan penyiar olahraga paling
terkenal di masa itu, Sambas.
Kegagalan
paling memilukan memang terjadi saat babak final Pre Olympic 1976, yang dihelat
di Stadion Utama Senayan (Kini Stadion Gelora Bung Karno). Timnas Indonesia
takluk atas Korea Utara melalui babak tos-tosan, setelah di waktu normal hanya
mampu bermain seri 0-0. (halaman 169)
Perjuangan
mati-matian telah dilakukan. Sebelum berhadapan dengan Korea Utara di final,
timnas harus melakoni pertandingan hidup mati melawan musuh bebuyutan Malaysia
yang berkesudahan dengan skor tipis 2 -1. Timnas Indonesia pun lantas bersua kembali
dengan Korea Utara yang di babak penyisihan mengalahkan Indonesia dengan skor 1
– 2.
Di
babak final perebutan satu tiket menuju olimpiade, penampilan Timnas Indonesia
lumayan meyakinkan. Rony Pasla, pemain Persija Jakarta yang dipercaya pelatih
Wiel Coerver mengawal gawang timnas tampil ciamik.
Pemain
yang dijuluki ”Sang Burung Gagak”, karena gerakan lincahnya dan dulu sering
berseragam gelap, berulang kali menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan
penyerang Korea Utara yang dimotori veteran Piala Dunia 1966 di Inggris, An Se
Uk. Bahkan, bapak-bapak yang nonton siaran langsung dari TVRI harus
geleng-geleng kepala melihat penampilan Rony Pasla. Dalam percakapan berbahasa
Jawa itu, mereka mengatakan, kalau bukan Rony Pasla yang mengawal gawang
Indonesia mungkin sudah bobol dari tadi. (halaman 168)
Di
babak penalti, Timnas Indonesia sejatinya berada di ambang kemenangan.
Indonesia sedang berada di atas angin. Skor 3-3, Korea Utara sudah melakukan
tendangan kelimanya atau terakhir dan ditepis Rony Pasla. Tinggal Indonesia,
sedang bersiap melakukan tendangan pemungkas. Anjas Asmara bersiap, wasit
Toshio Asami dari Jepang meniup peluit, kiper Korea Utara mencoba menebak arah
bola… Anjas Asmara menyepak dengan penuh keyakinan. Bola sedikit melambung
dan kiper Jin In Chol mampu mentip ke atas mistar. Disinilah puncak dari drama
yang pernah dijuluki media sebagai Tragedi Senayan itu. (halaman 200)
Kemenangan
di ujung mata buyar. Selanjutnya Korea Utara yang memanfaatkan keadaan dalam
babak sudden death, hingga di
penendang ketujuh, Suaib Rizal gagal menceploskan bola. Skor penalti berakhir
4-5 untuk kemenangan Korea Utara sekaligus merebut tiket menuju olimpiade.
Dampak
kekalahan itu sangat mendalam bagi timnas. Kesedihan yang begitu pekat
diselingi isak tangis para pemain, official, bahkan wartawan. Air mata deras
menetes di sudut-sudut tribun. Tiket Olimpiade Montreal yang sudah ada di depan
mata secara ajaib direbut Korea Utara dengan pertolongan Dewi Fortuna. (halaman
209)
Kapten
Iswadi Idris sampai menangis meraung-raung histeris seperti orang gila.
Pimpinan Majalah Olympic, S. Wardoyo yang menonton dari tribun sampai pingsan
dan menjalani opname di rumah sakit. Anjas Asmara lebih remuk lagi. Satu bulan
dia tak mampu menyentuh bola dan tak bisa tidur, bertahun-tahun tidak mau
mengambil eksekusi penalti. (halaman 215)
Makin
menyedihkan setelah tragedi final tiket Olimpiade Montreal itu, lambat laun
prestasi timnas makin memburuk. Bukannnya mengambil pelajaran dari peristiwa
memilukan itu. Berbeda dengan timnas Brazil. Maracanazo 1950, atau peristiwa
kekalahan Brazil di partai final Piala Dunia di hadapan ribuan pendukungnya di
Stadion Maracana, telah membawa negara samba itu melejit dengan raihan gelar
piala dunia beruntun, 1958, 1962, dan 1970. Brazil menjadikan peristiwa itu
pelajaran untuk bangkit.
Sedangkan
timnas Indonesia pasca final Pre Olympic 1976, lebih banyak dihiasi rentetan
kegagalan medio 1976-1979. Mulai dari Anniversary Cup, Merdeka Games, SEA
Games, Pra Piala Dunia, dan juga Pre Olympic. Lebih mengenaskan, di Merdeka
Games 1978. Setelah tampil meyakinkan mengalahkan Jepang dan Syria, sesuatu
yang aneh terjadi. Indonesia beruntun kalah tanpa mencetak sebiji gol pun atas
Irak, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan ditahan imbang Singapura 0-0.
Aroma
busuk menyeruak. Sejumlah pemain inti diperiksa polisi  dan akhirnya diberi sanksi PSSI tidak boleh
aktif di sepakbola karena telah mencoreng sportivitas dan menjual harga diri
bangsa. (halaman 251)
Sayang
memang, timnas kita tak menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit
dan mengukir prestasi. Yang ada makin hari malah makin menambah kontroversi.
Buku yang ditulis dengan penuh perasaan ini, sudah selayaknya mengingatkan
pelaku sepakbola untuk bergegah membenahi diri. Agar kelak nyaris-nyaris
berprestasi itu berubah menjadi prestasi manis. 


Nur Khasan, Peresensi Adalah Guru di SD N 2 Kelet Jepara 


    
   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Magelang Ungkap Kasus Pembunuhan Dukun Pengganda Uang

    Polres Magelang Ungkap Kasus Pembunuhan Dukun Pengganda Uang

    • calendar_month Sab, 20 Nov 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Ungkap kasus pembunuhan oleh dukun pengganda uang di Magelang Maksud hati ingin menggandakan uang ke dukun, dua orang tukang sayur di Magelang malah tewas diracun oleh dukun itu sendiri. Melalui minuman “doa” sebagai syarat ritual. MAGELANG– Polres Magelang berhasil mengungkap kasus tindak pidana pembunuhan dengan berencana yang dilakukan oleh seorang yang dikenal sebagai dukun yang […]

  • Hobi Dandan Nambah Penghasilan

    Hobi Dandan Nambah Penghasilan

    • calendar_month Ming, 10 Feb 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Faridatun Nikmah Selama ini kesan berdandan bagi perempuan, adalah sebuah pemborosan. Beli bedak, gincu, foundation, maskara, eyeliner, hingga seabrek pernik kosmetik lainnya yang bisa menguras kantong sampe bolong. Namun, Faridatun Nikmah malah mendapat berkah dari hobinya berdandan tersebut. Farida, sapaan akrabnya, awalnya mengaku hanya hobi dandan saja. Tetapi hasil dandanannya kemudian malah disukai banyak orang, […]

  • Insan Kesehatan Pati Ziarah ke Makam RAA Soewondo, Kenang Jasa Pionir Pelayanan Kesehatan

    Insan Kesehatan Pati Ziarah ke Makam RAA Soewondo, Kenang Jasa Pionir Pelayanan Kesehatan

    • calendar_month Sel, 12 Nov 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 157
    • 0Komentar

    PATI – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati bersama insan kesehatan di Pati melakukan ziarah ke makam RAA Soewondo, tokoh yang dianggap sebagai pionir dalam bidang pelayanan kesehatan di Bumi Mina Tani. Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa-jasa beliau dalam membangun layanan kesehatan masyarakat di Kabupaten Pati. Aviani […]

  • Dana BOS Hampir Rp1 Miliar, Komisi D Pertanyakan Masih Ada Iuran di SMPN 1 Tayu

    Dana BOS Hampir Rp1 Miliar, Komisi D Pertanyakan Masih Ada Iuran di SMPN 1 Tayu

    • calendar_month Jum, 17 Apr 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 24.501
    • 0Komentar

    PATI – Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMP Negeri 1 Tayu menjadi sorotan tajam Komisi D DPRD Kabupaten Pati. Hal ini menyusul adanya keluhan wali murid terkait pungutan biaya yang dinilai memberatkan, padahal sekolah dinilai telah menerima anggaran cukup besar. Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Teguh Bandang Waluyo, menegaskan hal tersebut usai […]

  • Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    • calendar_month Rab, 14 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

      Skuad Persipa Pati  Meskipun berstatus tim promosi, Persipa Pati layak diperhitungkan lebih. Semangat juang wani ngeyel bakal merepotkan lawan-lawannya. Termasuk Persijap Jepara yang akan bertamu pekan ini. Laga Derbi Muria ini bakal menyajikan pertandingan seru.  PATI – Persipa Pati dijagokan menjadi pemenang dalam pertandingan menghadapi Persijap Jepara yang bertajuk Derbi Muria pada Minggu (18/9/2022) […]

  • Caleg Gagal di Pati Ketangkap Nyabu Dalam Operasi Pekat Candi 2024

    Caleg Gagal di Pati Ketangkap Nyabu Dalam Operasi Pekat Candi 2024

    • calendar_month Kam, 28 Mar 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 171
    • 0Komentar

    PATI – Seorang Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPRD Provinsi Jawa Tengah asal Kecamatan Tlogowungu, Pati yang gagal terpilih turut serta terjaring dalam Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) Candi 2024 yang digelar Polresta Pati. Caleg tersebut berinisial AR, usianya masih cukup muda yakni 36 tahun. Sebelumnya AR merupakan anggota DPRD Pati periode 2019-2024, namun dirinya di-PAW karena […]

expand_less