Lamporan, Warisan Budaya Soneyan yang Tetap Terjaga di Tengah Perkembangan Zaman
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 99.999

Prosesi Tradisi Lamporan digelar di Desa Soneyan, Margoyoso, sebagai upaya pelestarian budaya leluhur.
PATI – Tradisi Lamporan kembali digelar melalui rangkaian kegiatan Wiwitan dan Gelar Budaya yang berlangsung pada Jumat (19/6/2026).
Diselenggarakan oleh Komunitas Plat K, acara ini diikuti warga serta seniman lokal sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur, mengenang tradisi penolak bahaya di masa lalu, sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda.
Nama “Lamporan” berasal dari kata lampor atau obor, namun memiliki ciri khas tersendiri. Jika obor umumnya dibuat dari bambu berisi minyak tanah dan kain sebagai sumbu, lampor justru terbuat dari daun kelapa kering yang diikat menjulang ke atas, lalu dibakar pada bagian ujungnya.
Lampor dibawa oleh sekelompok orang yang mengenakan pakaian berhias rumbai-rumbai dari daun kelapa muda. Kelompok ini disebut “Dayakan” dan akan berbaris serta menari mengelilingi kampung. Prosesi dipimpin oleh tetua desa, diiringi alunan musik tradisional seperti kentongan, jidor, dan icik-icik.
Acara dihadiri oleh Camat Margoyoso, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Desa Soneyan, Kepala Dusun Sumber, Ketua Panitia Lamporan, Presiden Komunitas Plat K, serta warga sekitar.
Dalam sambutannya, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyampaikan apresiasi kepada masyarakat dan Komunitas Plat K yang terus menjaga tradisi secara turun-temurun.
“Lamporan bukan sekadar pertunjukan budaya. Ini adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Pati memberikan dukungan penuh terhadap berbagai kegiatan seni dan budaya yang digagas masyarakat. Menurutnya, melestarikan budaya adalah kunci menjaga jati diri daerah di tengah perkembangan zaman.
“Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi komunitas seni dan budaya untuk berkarya. Pendopo Kabupaten Pati juga terbuka untuk digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival dan kegiatan kebudayaan,” katanya.
Selain soal kebudayaan, Chandra menyampaikan bahwa pemerintah daerah juga fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, meliputi perbaikan jalan, peningkatan layanan kesehatan, serta pendidikan gratis. Ia menekankan pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter warga.
“Jalan harus baik agar aktivitas masyarakat lancar. Kesehatan dan pendidikan juga harus mudah diakses. Namun budaya tidak boleh ditinggalkan karena menjadi jati diri daerah kita,” tegasnya.
Ia juga mengimbau orang tua untuk lebih bijak membimbing anak dalam menggunakan gawai, agar interaksi sosial dan nilai kebersamaan tetap terjaga.
Lebih lanjut, pemerintah tengah merencanakan pendirian Museum Kabupaten Pati sebagai wadah pengembangan seni dan pelestarian budaya.
“Ke depan kami ingin memiliki museum sebagai rumah bersama bagi para seniman dan pelaku budaya. Tempat ini nantinya menjadi ruang pelestarian sekaligus edukasi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Pati menegaskan komitmennya mendukung pelestarian budaya lokal, memberi ruang berkarya bagi komunitas seni, serta memastikan pembangunan daerah berjalan seimbang antara kemajuan fisik dan penguatan nilai budaya.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

