Breaking News
light_mode

Mengenang Tragedi Untuk Mengukir Prestasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Ming, 13 Jan 2019
  • visibility 347

Judul
Buku
Tragedi Tiket Montreal
Penulis
Eko Wardhana
Cetakan
2018
Halaman
320
13,5×20 cm
Penerbit
Indie Book Corner
ISBN
978-602-3093-54-0
Membincang
sepakbola Indonesia lebih banyak membikin dada sesak. Para pendukung Timnas
Garuda lebih akrab dengan drama-drama kegagalan tim kesayangannya, ketimbang
keberhasilan menjuarai sebuah turnamen. Namun sayang, rentetan kegagalan timnas
tak menjadikan pembelajaran untuk bangkit dan secepatnya mereguk prestasi.
Hingga
saat ini Timnas Garuda belum sekalipun tampil sebagai juara dalam major turnamen. Paling mentok hanya
mengantongi dua keping medali emas. Turnamen setingkat regional Piala AFF,
Indonesia selalu gagal di babak final.
Indonesia
adalah negara besar, tetapi prestasi sepakbolanya kecil. Penduduk Indonesia
lebih dari 249 juta jiwa (2014), sepakbolanya sudah mendarah daging sejak zaman
kolonial Belanda. Ada anekdot menarik yang lama beredar di belantika sepak bola
kita, “Dengan negara seluas itu, dengan penduduk sebanyak itu, mengapa sulit
sekali mendapat 11 orang terbaik di lapangan bola?” Singapura dengan hanya 5,4
juta penduduk, bisa mengoleksi 4 tropi Piala AFF, betapa mengenaskan Timnas
Indonesia. (halaman 11)
Dari
nasib mengenaskan itu, pada akhirnya selalu membawa masyarakat pecinta bola
tanah air menghibur diri dengan kenangan semasa PSSI, sebutan bagi timnas kita
sebelum tahun 1980-an, kuat dan berjaya di banyak turnamen, baik resmi maupun
tidak resmi.
Kita
pernah hadir di Piala Dunia 1938 dengan nama Hindia Belanda, menahan raksasa
Uni Soviet 0-0 di Olimpiade 1956, hingga meraih medali perunggu Asian Games
1958, dua keping medali emas SEA Games 1987 dan 1991, serta beberapa kejuaraan
lainnya. (halaman 17)
Namun,
tanpa meremehkan pertandingan lainnya, sebuah kenangan perjuangan tim nasional
yang paling fenomenal terjadi di perebutan tiket menuju Olimpiade Montreal.
Perjuangan punggawa merah putih diceritakan dengan apik oleh penulisnya yang
saat laga tersebut berlangsung masih duduk di bangku kelas VI SD, dan
menontonnya melalui siaran TVRI hitam-putih dengan penyiar olahraga paling
terkenal di masa itu, Sambas.
Kegagalan
paling memilukan memang terjadi saat babak final Pre Olympic 1976, yang dihelat
di Stadion Utama Senayan (Kini Stadion Gelora Bung Karno). Timnas Indonesia
takluk atas Korea Utara melalui babak tos-tosan, setelah di waktu normal hanya
mampu bermain seri 0-0. (halaman 169)
Perjuangan
mati-matian telah dilakukan. Sebelum berhadapan dengan Korea Utara di final,
timnas harus melakoni pertandingan hidup mati melawan musuh bebuyutan Malaysia
yang berkesudahan dengan skor tipis 2 -1. Timnas Indonesia pun lantas bersua kembali
dengan Korea Utara yang di babak penyisihan mengalahkan Indonesia dengan skor 1
– 2.
Di
babak final perebutan satu tiket menuju olimpiade, penampilan Timnas Indonesia
lumayan meyakinkan. Rony Pasla, pemain Persija Jakarta yang dipercaya pelatih
Wiel Coerver mengawal gawang timnas tampil ciamik.
Pemain
yang dijuluki ”Sang Burung Gagak”, karena gerakan lincahnya dan dulu sering
berseragam gelap, berulang kali menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan
penyerang Korea Utara yang dimotori veteran Piala Dunia 1966 di Inggris, An Se
Uk. Bahkan, bapak-bapak yang nonton siaran langsung dari TVRI harus
geleng-geleng kepala melihat penampilan Rony Pasla. Dalam percakapan berbahasa
Jawa itu, mereka mengatakan, kalau bukan Rony Pasla yang mengawal gawang
Indonesia mungkin sudah bobol dari tadi. (halaman 168)
Di
babak penalti, Timnas Indonesia sejatinya berada di ambang kemenangan.
Indonesia sedang berada di atas angin. Skor 3-3, Korea Utara sudah melakukan
tendangan kelimanya atau terakhir dan ditepis Rony Pasla. Tinggal Indonesia,
sedang bersiap melakukan tendangan pemungkas. Anjas Asmara bersiap, wasit
Toshio Asami dari Jepang meniup peluit, kiper Korea Utara mencoba menebak arah
bola… Anjas Asmara menyepak dengan penuh keyakinan. Bola sedikit melambung
dan kiper Jin In Chol mampu mentip ke atas mistar. Disinilah puncak dari drama
yang pernah dijuluki media sebagai Tragedi Senayan itu. (halaman 200)
Kemenangan
di ujung mata buyar. Selanjutnya Korea Utara yang memanfaatkan keadaan dalam
babak sudden death, hingga di
penendang ketujuh, Suaib Rizal gagal menceploskan bola. Skor penalti berakhir
4-5 untuk kemenangan Korea Utara sekaligus merebut tiket menuju olimpiade.
Dampak
kekalahan itu sangat mendalam bagi timnas. Kesedihan yang begitu pekat
diselingi isak tangis para pemain, official, bahkan wartawan. Air mata deras
menetes di sudut-sudut tribun. Tiket Olimpiade Montreal yang sudah ada di depan
mata secara ajaib direbut Korea Utara dengan pertolongan Dewi Fortuna. (halaman
209)
Kapten
Iswadi Idris sampai menangis meraung-raung histeris seperti orang gila.
Pimpinan Majalah Olympic, S. Wardoyo yang menonton dari tribun sampai pingsan
dan menjalani opname di rumah sakit. Anjas Asmara lebih remuk lagi. Satu bulan
dia tak mampu menyentuh bola dan tak bisa tidur, bertahun-tahun tidak mau
mengambil eksekusi penalti. (halaman 215)
Makin
menyedihkan setelah tragedi final tiket Olimpiade Montreal itu, lambat laun
prestasi timnas makin memburuk. Bukannnya mengambil pelajaran dari peristiwa
memilukan itu. Berbeda dengan timnas Brazil. Maracanazo 1950, atau peristiwa
kekalahan Brazil di partai final Piala Dunia di hadapan ribuan pendukungnya di
Stadion Maracana, telah membawa negara samba itu melejit dengan raihan gelar
piala dunia beruntun, 1958, 1962, dan 1970. Brazil menjadikan peristiwa itu
pelajaran untuk bangkit.
Sedangkan
timnas Indonesia pasca final Pre Olympic 1976, lebih banyak dihiasi rentetan
kegagalan medio 1976-1979. Mulai dari Anniversary Cup, Merdeka Games, SEA
Games, Pra Piala Dunia, dan juga Pre Olympic. Lebih mengenaskan, di Merdeka
Games 1978. Setelah tampil meyakinkan mengalahkan Jepang dan Syria, sesuatu
yang aneh terjadi. Indonesia beruntun kalah tanpa mencetak sebiji gol pun atas
Irak, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan ditahan imbang Singapura 0-0.
Aroma
busuk menyeruak. Sejumlah pemain inti diperiksa polisi  dan akhirnya diberi sanksi PSSI tidak boleh
aktif di sepakbola karena telah mencoreng sportivitas dan menjual harga diri
bangsa. (halaman 251)
Sayang
memang, timnas kita tak menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit
dan mengukir prestasi. Yang ada makin hari malah makin menambah kontroversi.
Buku yang ditulis dengan penuh perasaan ini, sudah selayaknya mengingatkan
pelaku sepakbola untuk bergegah membenahi diri. Agar kelak nyaris-nyaris
berprestasi itu berubah menjadi prestasi manis. 


Nur Khasan, Peresensi Adalah Guru di SD N 2 Kelet Jepara 


    
   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalin Sinergi Institusi, GP Ansor Sambangi Mapolres

    Jalin Sinergi Institusi, GP Ansor Sambangi Mapolres

    • calendar_month Kam, 26 Apr 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 327
    • 0Komentar

    PATI  – Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Pati menyambangi Mapolres Pati baru-baru ini. Kedatangan para pimpinan organisasi kepemudaan islam terbesar tersebut langsung disambut oleh Kapolres Pati AKBP Uri Nartanti Istiwidayati di ruangannya. Silaturahim tersebut digelar dalam rangka silaturahim dan menjalin sinergi yang baik antara organisasi kepemudaan NU tersebut dengan aparat penegak hukum. Ketua PC GP […]

  • Masa Jabatan Kades 9 Tahun : Jalan Tengah Menjaga Stabilitas dan Pembangunan Desa

    Masa Jabatan Kades 9 Tahun : Jalan Tengah Menjaga Stabilitas dan Pembangunan Desa

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Pembangunan di desa harus lebih dioptimalkan lagi. Usulan masa jabatan kepala desa menjadi 9 tahun adalah sebuah jalan tengah. Para kepala desa menilai tambahan masa jabatan itu untuk menjaga kesinambungan pembangunan desa, para kepala desa membutuhkan waktu tambahan jabatan karena masa enam tahun dinilai tidak efektif. JAKARTA – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal Abdul Halim […]

  • Ketua Komisi A DPRD Pati : Kebijakan WFH Berpotensi Efisien, Tetapi Harus Dijaga dari Penyimpangan

    Ketua Komisi A DPRD Pati : Kebijakan WFH Berpotensi Efisien, Tetapi Harus Dijaga dari Penyimpangan

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 3.840
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Pati, Narso, menilai bahwa kebijakan Work From Home (WFH) memiliki potensi untuk mendukung efisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan, asalkan diterapkan dengan cara yang tepat dan benar. ”WFH baik untuk efisiensi tetapi harus dipastikan benar-benar berjalan efektif dan tidak disalahgunakan,” ujar Narso. Dia mengingatkan akan potensi penyimpangan dalam penerapan kebijakan […]

  • HUT Patifosi, Gelar Turnamen Segitiga Beda Kasta

    HUT Patifosi, Gelar Turnamen Segitiga Beda Kasta

    • calendar_month Sab, 16 Feb 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Septian David Maulana salah satu pilar PSIS SemarangFOTO : DBAsianews PATI – Pertandingan menarik bakal digelar dalam rangka menyambut HUT ke 12 Patifosi. Pertandingan tersebut digelar dalam format turnamen segitiga atau trofeo, yang bertajuk Trofeo Pesantenan. Tiga klub beda kasta bakal beradu kelincahan di Stadion Joyokusumo Selasa (26/2/2019) mendatang. Tiga klub itu berasal dari tiga […]

  • Anggota DPRD Pati Eko Kuswanto Dorong Pemuda Pancasila Sukseskan Pilkada 2024

    Anggota DPRD Pati Eko Kuswanto Dorong Pemuda Pancasila Sukseskan Pilkada 2024

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 380
    • 0Komentar

    PATI – Eko Kuswanto, anggota DPRD Pati dan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Pati, telah menyerukan kepada anggota organisasi untuk berperan aktif dalam menyukseskan Pilkada 2024. Pada pelantikan jajaran pengurus baru Pemuda Pancasila di Gedung PGRI Pati pada Senin (28/10/2024), Eko menekankan pentingnya peran organisasi dalam menjaga keamanan dan kelancaran proses Pilkada 2024. “Pemuda Pancasila […]

  • Pansus Hak Angket DPRD Pati Temukan Persoalan Serius di Baznas, Libatkan Notaris

    Pansus Hak Angket DPRD Pati Temukan Persoalan Serius di Baznas, Libatkan Notaris

    • calendar_month Kam, 18 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 287
    • 0Komentar

    PATI – Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Kabupaten Pati kembali menggelar rapat dengar keterangan dengan sejumlah pihak pada Kamis (18/9/2025). Rapat ini fokus pada pendalaman berbagai isu krusial, terutama yang berkaitan dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Pati. Anggota Pansus, Didin Syafrudin, mengungkapkan bahwa rapat kali ini memanggil tiga pihak, yaitu Dinas Koperasi, Baznas, […]

expand_less