Breaking News
light_mode

Mengenang Tragedi Untuk Mengukir Prestasi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Ming, 13 Jan 2019
  • visibility 195

Judul
Buku
Tragedi Tiket Montreal
Penulis
Eko Wardhana
Cetakan
2018
Halaman
320
13,5×20 cm
Penerbit
Indie Book Corner
ISBN
978-602-3093-54-0
Membincang
sepakbola Indonesia lebih banyak membikin dada sesak. Para pendukung Timnas
Garuda lebih akrab dengan drama-drama kegagalan tim kesayangannya, ketimbang
keberhasilan menjuarai sebuah turnamen. Namun sayang, rentetan kegagalan timnas
tak menjadikan pembelajaran untuk bangkit dan secepatnya mereguk prestasi.
Hingga
saat ini Timnas Garuda belum sekalipun tampil sebagai juara dalam major turnamen. Paling mentok hanya
mengantongi dua keping medali emas. Turnamen setingkat regional Piala AFF,
Indonesia selalu gagal di babak final.
Indonesia
adalah negara besar, tetapi prestasi sepakbolanya kecil. Penduduk Indonesia
lebih dari 249 juta jiwa (2014), sepakbolanya sudah mendarah daging sejak zaman
kolonial Belanda. Ada anekdot menarik yang lama beredar di belantika sepak bola
kita, “Dengan negara seluas itu, dengan penduduk sebanyak itu, mengapa sulit
sekali mendapat 11 orang terbaik di lapangan bola?” Singapura dengan hanya 5,4
juta penduduk, bisa mengoleksi 4 tropi Piala AFF, betapa mengenaskan Timnas
Indonesia. (halaman 11)
Dari
nasib mengenaskan itu, pada akhirnya selalu membawa masyarakat pecinta bola
tanah air menghibur diri dengan kenangan semasa PSSI, sebutan bagi timnas kita
sebelum tahun 1980-an, kuat dan berjaya di banyak turnamen, baik resmi maupun
tidak resmi.
Kita
pernah hadir di Piala Dunia 1938 dengan nama Hindia Belanda, menahan raksasa
Uni Soviet 0-0 di Olimpiade 1956, hingga meraih medali perunggu Asian Games
1958, dua keping medali emas SEA Games 1987 dan 1991, serta beberapa kejuaraan
lainnya. (halaman 17)
Namun,
tanpa meremehkan pertandingan lainnya, sebuah kenangan perjuangan tim nasional
yang paling fenomenal terjadi di perebutan tiket menuju Olimpiade Montreal.
Perjuangan punggawa merah putih diceritakan dengan apik oleh penulisnya yang
saat laga tersebut berlangsung masih duduk di bangku kelas VI SD, dan
menontonnya melalui siaran TVRI hitam-putih dengan penyiar olahraga paling
terkenal di masa itu, Sambas.
Kegagalan
paling memilukan memang terjadi saat babak final Pre Olympic 1976, yang dihelat
di Stadion Utama Senayan (Kini Stadion Gelora Bung Karno). Timnas Indonesia
takluk atas Korea Utara melalui babak tos-tosan, setelah di waktu normal hanya
mampu bermain seri 0-0. (halaman 169)
Perjuangan
mati-matian telah dilakukan. Sebelum berhadapan dengan Korea Utara di final,
timnas harus melakoni pertandingan hidup mati melawan musuh bebuyutan Malaysia
yang berkesudahan dengan skor tipis 2 -1. Timnas Indonesia pun lantas bersua kembali
dengan Korea Utara yang di babak penyisihan mengalahkan Indonesia dengan skor 1
– 2.
Di
babak final perebutan satu tiket menuju olimpiade, penampilan Timnas Indonesia
lumayan meyakinkan. Rony Pasla, pemain Persija Jakarta yang dipercaya pelatih
Wiel Coerver mengawal gawang timnas tampil ciamik.
Pemain
yang dijuluki ”Sang Burung Gagak”, karena gerakan lincahnya dan dulu sering
berseragam gelap, berulang kali menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan
penyerang Korea Utara yang dimotori veteran Piala Dunia 1966 di Inggris, An Se
Uk. Bahkan, bapak-bapak yang nonton siaran langsung dari TVRI harus
geleng-geleng kepala melihat penampilan Rony Pasla. Dalam percakapan berbahasa
Jawa itu, mereka mengatakan, kalau bukan Rony Pasla yang mengawal gawang
Indonesia mungkin sudah bobol dari tadi. (halaman 168)
Di
babak penalti, Timnas Indonesia sejatinya berada di ambang kemenangan.
Indonesia sedang berada di atas angin. Skor 3-3, Korea Utara sudah melakukan
tendangan kelimanya atau terakhir dan ditepis Rony Pasla. Tinggal Indonesia,
sedang bersiap melakukan tendangan pemungkas. Anjas Asmara bersiap, wasit
Toshio Asami dari Jepang meniup peluit, kiper Korea Utara mencoba menebak arah
bola… Anjas Asmara menyepak dengan penuh keyakinan. Bola sedikit melambung
dan kiper Jin In Chol mampu mentip ke atas mistar. Disinilah puncak dari drama
yang pernah dijuluki media sebagai Tragedi Senayan itu. (halaman 200)
Kemenangan
di ujung mata buyar. Selanjutnya Korea Utara yang memanfaatkan keadaan dalam
babak sudden death, hingga di
penendang ketujuh, Suaib Rizal gagal menceploskan bola. Skor penalti berakhir
4-5 untuk kemenangan Korea Utara sekaligus merebut tiket menuju olimpiade.
Dampak
kekalahan itu sangat mendalam bagi timnas. Kesedihan yang begitu pekat
diselingi isak tangis para pemain, official, bahkan wartawan. Air mata deras
menetes di sudut-sudut tribun. Tiket Olimpiade Montreal yang sudah ada di depan
mata secara ajaib direbut Korea Utara dengan pertolongan Dewi Fortuna. (halaman
209)
Kapten
Iswadi Idris sampai menangis meraung-raung histeris seperti orang gila.
Pimpinan Majalah Olympic, S. Wardoyo yang menonton dari tribun sampai pingsan
dan menjalani opname di rumah sakit. Anjas Asmara lebih remuk lagi. Satu bulan
dia tak mampu menyentuh bola dan tak bisa tidur, bertahun-tahun tidak mau
mengambil eksekusi penalti. (halaman 215)
Makin
menyedihkan setelah tragedi final tiket Olimpiade Montreal itu, lambat laun
prestasi timnas makin memburuk. Bukannnya mengambil pelajaran dari peristiwa
memilukan itu. Berbeda dengan timnas Brazil. Maracanazo 1950, atau peristiwa
kekalahan Brazil di partai final Piala Dunia di hadapan ribuan pendukungnya di
Stadion Maracana, telah membawa negara samba itu melejit dengan raihan gelar
piala dunia beruntun, 1958, 1962, dan 1970. Brazil menjadikan peristiwa itu
pelajaran untuk bangkit.
Sedangkan
timnas Indonesia pasca final Pre Olympic 1976, lebih banyak dihiasi rentetan
kegagalan medio 1976-1979. Mulai dari Anniversary Cup, Merdeka Games, SEA
Games, Pra Piala Dunia, dan juga Pre Olympic. Lebih mengenaskan, di Merdeka
Games 1978. Setelah tampil meyakinkan mengalahkan Jepang dan Syria, sesuatu
yang aneh terjadi. Indonesia beruntun kalah tanpa mencetak sebiji gol pun atas
Irak, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan ditahan imbang Singapura 0-0.
Aroma
busuk menyeruak. Sejumlah pemain inti diperiksa polisi  dan akhirnya diberi sanksi PSSI tidak boleh
aktif di sepakbola karena telah mencoreng sportivitas dan menjual harga diri
bangsa. (halaman 251)
Sayang
memang, timnas kita tak menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk bangkit
dan mengukir prestasi. Yang ada makin hari malah makin menambah kontroversi.
Buku yang ditulis dengan penuh perasaan ini, sudah selayaknya mengingatkan
pelaku sepakbola untuk bergegah membenahi diri. Agar kelak nyaris-nyaris
berprestasi itu berubah menjadi prestasi manis. 


Nur Khasan, Peresensi Adalah Guru di SD N 2 Kelet Jepara 


    
   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akses Utama Desa Tempur Jepara Terputus Total Akibat Longsor, Warga Terisolir

    Akses Utama Desa Tempur Jepara Terputus Total Akibat Longsor, Warga Terisolir

    • calendar_month Sab, 10 Jan 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.525
    • 0Komentar

    JEPARA – Akses utama menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara terputus total akibat kejadian tanah longsor pada hari Sabtu (10/1/2026). Desa yang terletak di lereng Pegunungan Muria ini kini terisolir, dengan jaringan listrik dan sinyal komunikasi juga terganggu. Kerusakan terjadi pada sebagian badan jalan, menghalangi segala bentuk kendaraan untuk masuk dan keluar dari desa. […]

  • DPRD Pati Imbau Warga Waspada Potensi Banjir Akibat Musim Hujan yang Datang Lebih Awal

    DPRD Pati Imbau Warga Waspada Potensi Banjir Akibat Musim Hujan yang Datang Lebih Awal

    • calendar_month Sen, 29 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 259
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir seiring dengan datangnya musim hujan yang lebih awal dari perkiraan. Imbauan ini disampaikan menyusul informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mengenai perubahan pola musim yang tidak sesuai dengan prediksi awal. Wakil Ketua DPRD Pati, Hardi, […]

  • Pergantian Besar di Gedung DPRD Kabupaten Pati: Wajah Baru Mendominasi Pemilu Legislatif 2024

    Pergantian Besar di Gedung DPRD Kabupaten Pati: Wajah Baru Mendominasi Pemilu Legislatif 2024

    • calendar_month Sel, 5 Mar 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 184
    • 0Komentar

    POLITIK – Hampir sebagian besar DPRD Kabupaten Pati bakal diisi wajah baru. Sejumlah pendatang baru bermunculan dalam Pemilu Legislatif 2024. PDI Perjuangan masih menjadi partai penguasa dengan perolehan 14 kursi. Sementara Partai Nasdem jeblok dari yang semula mendapat 5 kursi, kini tinggal 3 kursi saja. Berikut 50 nama caleg yang berhasil lolos ke Gedung DPRD […]

  • Maknai Merdeka Bendera 100 Meter Diarak Keliling Desa

    Maknai Merdeka Bendera 100 Meter Diarak Keliling Desa

    • calendar_month Sen, 19 Agu 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Mengarak bendera keliling desa Minggu (18/8/2019) siang, cuaca panas terik memayungi Desa Pesucen, Kecamatan Trangkil, Pati. Meski panas menyengat, jalanan desa ramai. Warga sekitar tengah menanti arak-arakan bendera sepanjang 100 meter. Arak-arakan itu dilakukan oleh pelajar dari Yayasan Luhful Ulum Wonokerto desa setempat. Selain bendera merah putih, arak-arakan juga dimeriahkan gunungan hasil bumi desa setempat, […]

  • Ada Pertashop Tidak Perlu Jauh-Jauh ke SPBU

    Ada Pertashop Tidak Perlu Jauh-Jauh ke SPBU

    • calendar_month Sen, 21 Jun 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 173
    • 0Komentar

      Pengisian BBM jenis Pertamax di Pertashop Desa Sumberrejo Kecamatan Gunungwungkal, Pati. Masyarakat di pelosok desa semakin dimudahkan dalam membeli BBM. Dengan hadirnya Pertashop, tidak perlu jauh-jauh ke SPBU, karena bisa beli bensi dengan harga yang sama. PATI, Gunungwungkal – Kepala Desa Sumberrejo Kecamatan Gunungwungkal senang. Karena di desanya berdiri kios BBM, Pertashop 4P 59106. […]

  • Kudus Jadi Titik Sentral Pengembangan Kawasan Pati Raya

    Kudus Jadi Titik Sentral Pengembangan Kawasan Pati Raya

    • calendar_month Jum, 25 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 172
    • 0Komentar

    KUDUS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pengembangan kawasan aglomerasi di Pantura timur, salah satunya melalui program Pati Raya. Kabupaten Kudus berperan penting sebagai titik sentral dalam pengembangan ini. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menekankan keberhasilan model aglomerasi seperti Solo Raya yang menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp 8,7 triliun (menurut pemberitaan sebelumnya, hampir Rp 10 […]

expand_less