Silaturahmi di Ponpes Assalam Grobogan, Sidi Ibrahim Al Malik Tekankan Nasab Bukan Sekadar Kebanggaan, Melainkan Amanah
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 101.453

Sidi Ibrahim Al Malik bersama jajaran pengurus NAAT, pengasuh Ponpes Assalam, serta para tokoh agama dan masyarakat saat silaturahmi keluarga besar Syekh Jumadil Kubro di Pondok Pesantren Assalam, Kradenan.
GROBOGAN — Dewan Pengurus Cabang (DPC) Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (NAAT) Kabupaten Grobogan menyelenggarakan silaturahmi sekaligus kajian bersama keluarga besar Syekh Jumadil Kubro. Hadir sebagai narasumber utama, Sidi Ibrahim Al Malik, Penasihat Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubro se-Asia Tenggara, pada Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Menyemai Suri Tauladan, Lentera Kekeluargaan” berlangsung di Pondok Pesantren Assalam, Kradenan, Kabupaten Grobogan. Acara dihadiri jajaran pengurus Dewan Pengurus Wilayah NAAT Jawa Tengah, DPC NAAT Kabupaten Grobogan, DPC Garda Walisongo, keluarga besar pesantren, para kiai, tokoh agama, santri, serta masyarakat luas.
Kehadiran Sidi Ibrahim Al Malik yang datang langsung dari Malaysia beserta rombongan disambut hangat oleh keluarga besar Pondok Pesantren Assalam. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman mengenai sosok Syekh Jumadil Kubro, sejarah dakwah Islam di Nusantara, nasab, sanad, serta pentingnya meneruskan keteladanan para ulama terdahulu.
Dalam pemaparannya, Sidi Ibrahim Al Malik menekankan bahwa pembahasan mengenai nasab tidak boleh berhenti sekadar pada persoalan garis keturunan. Menurutnya, setiap garis keturunan yang diketahui membawa tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan para leluhur.
“Nasab itu penting untuk dijaga karena di dalamnya terdapat sejarah keluarga dan perjalanan dakwah. Tetapi yang lebih penting dari sekadar mengetahui siapa leluhur kita adalah bagaimana kita mengambil teladan dari mereka,” ujar Sidi Ibrahim.
Ia mengingatkan agar pengetahuan mengenai hubungan nasab dengan para ulama dan wali tidak menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain.
“Kalau kita mengetahui bahwa leluhur kita adalah ulama atau wali, maka seharusnya kita semakin rendah hati. Nasab bukan untuk menyombongkan diri, tetapi menjadi amanah untuk meneruskan kebaikan, ilmu, akhlak, dan perjuangan mereka,” pesannya.
Menurut Sidi Ibrahim, generasi muda perlu memahami sejarah para ulama bukan sekadar sebagai pengetahuan masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini.
“Para pendahulu kita membangun dakwah dengan ilmu, akhlak, silaturahmi dan pendekatan yang penuh hikmah. Nilai-nilai inilah yang perlu terus kita hidupkan agar Islam tetap menjadi rahmat bagi masyarakat dan bangsa,” lanjutnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Assalam Kradenan, Gus Syaidun, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan menjadikan pesantrennya sebagai tempat terselenggaranya kegiatan tersebut. Kehadiran Sidi Ibrahim Al Malik dinilai sebagai kehormatan sekaligus peluang berharga untuk menimba ilmu dan nasihat.
“Bagi kami, kedatangan Sidi Ibrahim Al Malik bukan sekadar sebuah kunjungan, tetapi merupakan kehormatan sekaligus kesempatan untuk mendapatkan ilmu, nasihat, dan keberkahan. Silaturahmi seperti ini sangat penting untuk mempertemukan generasi sekarang dengan sejarah dan perjuangan para ulama terdahulu,” ungkap Gus Syaidun.
Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai sosok Syekh Jumadil Kubro harus diarahkan untuk mengambil pelajaran dari perjuangan dan keteladanannya.
“Jangan sampai kita hanya bangga dengan nasab, tetapi tidak meneruskan akhlaknya. Yang paling penting adalah bagaimana ilmu, akhlak, persaudaraan, dan semangat dakwah para ulama terdahulu dapat kita hidupkan kembali di tengah masyarakat,” tegasnya.
Gus Syaidun berharap silaturahmi ini semakin mempererat ikatan antara lingkungan pesantren, keluarga besar NAAT, para ulama, serta masyarakat di Kabupaten Grobogan.
Sementara itu, Ketua DPC NAAT Kabupaten Grobogan, M. Nasrullah Djamaludin, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya merawat tali persaudaraan sekaligus menjaga amanah sejarah dan nasab keluarga besar para ulama dan wali.
“NAAT hadir bukan hanya untuk mencatat dan menjaga nasab, tetapi juga untuk membangun silaturahmi dan memperkuat persaudaraan. Nasab harus menjadi jalan untuk semakin mengenal para leluhur, menghormati perjuangan mereka, dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan,” jelasnya.
Menurut M. Nasrullah, kehadiran Sidi Ibrahim Al Malik menjadi momentum yang sangat berharga bagi NAAT Kabupaten Grobogan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. Ke depan, kami ingin semakin banyak generasi muda yang mengenal sejarah para wali, memahami pentingnya sanad dan nasab, serta menjadikannya sebagai motivasi untuk berkhidmat kepada agama, pesantren, dan masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa silaturahmi juga menjadi kekuatan utama dalam menjaga persatuan keluarga besar serta memperkuat ikatan persaudaraan sesama.
Perlu diketahui, Syekh Jumadil Kubro merupakan salah satu tokoh yang menempati kedudukan penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Pembahasan mengenai sosok dan jaringan keturunannya menjadi bagian dari upaya memahami perjalanan dakwah serta hubungan antar-generasi ulama di tanah air.
Oleh karena itu, kegiatan yang digelar DPC NAAT Kabupaten Grobogan ini diharapkan tidak hanya menjadi forum pembahasan nasab semata, melainkan juga sarana menyambung mata rantai sejarah, ilmu, akhlak, serta perjuangan dakwah.
Pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah menjaga nasab harus sejalan dengan menjaga akhlak dan mempererat silaturahmi. Sebab, nilai terpenting mengenal leluhur bukan sekadar mengetahui garis keturunannya, melainkan mampu meneruskan jejak kebaikan yang telah mereka tinggalkan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan khidmat. Para peserta tampak antusias mengikuti penyampaian materi serta sesi dialog yang berlangsung. Melalui kegiatan ini, DPC NAAT Kabupaten Grobogan berharap terjalin jaringan silaturahmi yang semakin erat antara keluarga besar para ulama dan wali, lingkungan pesantren, serta masyarakat luas.
Pada akhirnya, tema “Menyemai Suri Tauladan, Lentera Kekeluargaan” bukan sekadar hiasan tulisan, melainkan pesan bahwa sejarah patut dirawat, nasab wajib dijaga, silaturahmi harus diperkuat, dan keteladanan para ulama harus terus diteruskan oleh generasi penerus.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

