Breaking News
light_mode

Kritik Tuding Menuding Sesat Beragama Kita

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 21 Mei 2019
  • visibility 319


Lampu temaram menyinari Gedung
FKIP Universitas Muria Kudus, Sabtu (18/5/2019) malam. Hari itu sedang
berlangsung pementasan teater oleh kelompok Tetater Gerak 11. Lakon yang
dibawakan adalah
Masjid Tanpa Sujud,
karya Habib Anis Sholeh Ba’asyin. Budayawan dari Bumi Mina Tani.

Masjid Tanpa Sujud merupakan
refleksi diri, melihat kekacauan antar kelompok. Dimana masing-masing kelompok
menganggap dirinya paling benar. Dan menilai kelompok lain salah.

Sayup-sayup dari balik tirai
panggung teater terdengar senandung gending Jawa. Tampak bayangan enam lelaki.
Paling depan memegang bedug diikuti empat pemain yang membawa rebana. Sementara
lelaki paling belakang  seperti membaca
kitab.

Bayangan itu berpakaian adat Jawa.
Berjarik dan mengenakan ikat kepala. 
Mereka pun bernyanyi sembari menabuh alat musik yang dibawa
masing-masing. Kali ini suara lebih ramai. Terdengar suara perempuan juga.

Semua formasi tadi mendadak
buyar. Mereka berlarian tak karuan. Lalu keluarlah satu laki-laki gendut dan
perempuan tua. Mereka pun berdebat tentang dimana mereka berada. Ditengah
perdebatan mereka, datang lelaki tua bernama Abdullah. Ia pun berkata kepada
dua orang yang berdebat tadi. Bahwa mulut mereka masih cerewet. Tangan mereka
juga sering usil.

Adegan panggung Masjid Tanpa Sujud

Kedua orang itu berjilbab dan
bersarung tetapi tidak memiliki kesabaran. Abdullah lalu mengeluarkan buku dan
meminta mereka membaca. Lampu panggung mendadak redup. Lantunan ayat Al Qur’an
pun menggema.

Penari sufi dibalik layar
menampilkan bayangannya yang sedang berputar-putar. Sembari menunjukkan jubah
bagian bawahnya yang makin mekar.

Suasana kembali tenang. Abdullah
pun menghilang. Dipanggung hanya ada lelaki gendut dan perempuan tua. Kini
mereka kembali berdiskusi. Tentang fenomena orang-orang yang sibuk membuat
barisan sendiri. Sembari menuding yang lain sesat. Serta dilakukan oleh siapa
saja dan atas nama apa saja.

Sutradara pementasan, Sutrimo
mengatakan, setting panggung dengan background membentuk kubah disertai
ranting dan dedaunan kering memiliki makna tersendiri. Pohon yang daunnya
kering melambangkan kesucian yang sudah mulai mengering. Bahkan hampir
dikatakan mati.

”Intinya kegersangan dimana orang
satu (lelaki gendut,Red) dan orang dua (wanita tua,Red) mencari sebuah
kebenaran,” ujarnya.

Alasannya mengangkat setting ini
sebagai refleksi tentang fenomena perpecahan umat. Setiap pergantian scene,
lampu panggung juga berkelap-kelip dengan cepat. Lighting yang digambarkan
kelap-kelip itu sebagai penggambaran suasana yang krodit. Selain itu ditengah
kelap-kelip lampu panggung, terdengar sayup-sayup teriakan bid’ah, salah, dan
tuduhan-tuduhan lainnya. (hus)



  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rapat persiapan kejuaraan atletik Pati Open 2023

    Kejuaraan Atletik Pati Open Diramaikan Ratusan Atlet Jateng

    • calendar_month Rab, 5 Jul 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Rapat persiapan kejuaraan atletik Pati Open 2023 PATI – Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Pati konsisten dalam melakukan pembinaan atlet. Salah satunya dengan menggelar kejuaraan untuk kelompok umur yang bertajuk Kejuaraan Atletik Pati Open Piala Bupati Pati 2023, Sabtu (8/7/2023). Ada sebanyak 250 atlet se-Jawa Tengah bakal turun dalam kejuaraan yang berlangsung […]

  • Betah Mondok karena Berfaedah

    Betah Mondok karena Berfaedah

    • calendar_month Sab, 10 Nov 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 364
    • 0Komentar

    Siti Nilna Munaliza tak seperti kebanyakan anak muda zaman now yang gemar kebebasan dunia luar. Gadis kelahiran Pati, 7 Desember 1999 ini malah suka sekali dengan dunia pondok pesantren. Bahkan kehidupannya banyak dihabiskan untuk ngaji di pondok pesantren. Padahal, Nilna sempat berhenti tak nyantri di pondok pesantren saat mulai kuliah di IAIN Kudus. Namun saat memutuskan […]

  • DPRD Pati Sorot Perbaikan Jalan, Minta DPUPR Hati-hati dan Pastikan Kualitas

    DPRD Pati Sorot Perbaikan Jalan, Minta DPUPR Hati-hati dan Pastikan Kualitas

    • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 295
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati menyoroti proyek perbaikan jalan di Kabupaten Pati, menekankan pentingnya realisasi perbaikan yang maksimal dan berkualitas. Ketua Komisi C, Joni Kurnianto, meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pati untuk berhati-hati dalam pelaksanaan proyek ini. “Saya bilang ke DPUPR untuk berhati-hati, karena memang harus bagus, […]

  • Komisi B DPRD Pati Soroti Anjloknya Harga Ketela, Minta Solusi Konkret

    Komisi B DPRD Pati Soroti Anjloknya Harga Ketela, Minta Solusi Konkret

    • calendar_month Jum, 31 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 584
    • 0Komentar

    PATI – Kondisi petani ketela di Kabupaten Pati saat ini tengah mengalami kesulitan akibat penurunan harga jual yang signifikan. Ketua Komisi B DPRD Pati, Muslihan, menyatakan keprihatinannya atas situasi ini dan mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk segera mengambil tindakan. “Keadaan petani ketela saat ini sangat memprihatinkan. Penurunan harga terjadi sementara biaya produksi tetap tinggi. […]

  • Daftar Kuliner Khas Jepara yang Harus Dicoba: Surga Rasa di Tanah Kartini

    Daftar Kuliner Khas Jepara yang Harus Dicoba: Surga Rasa di Tanah Kartini

    • calendar_month Ming, 20 Apr 2025
    • account_circle Abdul Adhim
    • visibility 714
    • 0Komentar

    KULINER – Jepara, kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah yang terkenal dengan ukiran kayunya, ternyata juga menyimpan kekayaan kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Dari makanan laut segar hingga olahan khas yang hanya bisa ditemukan di daerah ini, berikut daftar kuliner khas Jepara yang wajib kamu coba saat berkunjung! 1. Pindang Serani Pindang serani adalah […]

  • Fatayat NU Pati Gelar Jemparingan Meriahkan Hari Santri Nasional 2025

    Fatayat NU Pati Gelar Jemparingan Meriahkan Hari Santri Nasional 2025

    • calendar_month Ming, 12 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 368
    • 0Komentar

    PATI – PC Fatayat NU Pati menggelar acara unik untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) dengan mengadakan Jemparingan di Lapangan Perpatri, Taman Kota Kalidoro Pati, pada Sabtu (11/10/2025). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar seratus peserta dan menjadi pengalaman baru bagi PC Fatayat NU. Para peserta tampak bersemangat dan ceria dalam memanah target yang telah disiapkan. […]

expand_less