Produksi Ikan di TPI Juwana Turun, DPRD Pati Soroti Tingginya Biaya Operasional Nelayan
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 100.254

Foto kapal yang terparkir di pelabuhan Juwana.
PATI – Jumlah produksi ikan yang masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana diprediksi mengalami penurunan yang cukup besar. Kondisi ini terjadi karena banyak kapal nelayan berukuran lebih dari 30 Gross Ton (GT) menunda keberangkatan melaut, yang dipicu oleh biaya operasional yang semakin mahal.
Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Mukit, menyatakan bahwa penurunan hasil tangkapan ikan ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi yang menjadi kebutuhan utama para nelayan.
“Pastinya karena banyak kapal-kapal yang belum bisa melaut. Kenaikan harga BBM yang cukup signifikan berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan ikan,” ujar Mukit.
Menurutnya, harga solar non-subsidi yang saat ini harus dibeli nelayan mencapai sekitar Rp30 ribu per liter.
Angka tersebut dinilai terlalu tinggi sehingga tidak seimbang dengan potensi pendapatan yang bisa diperoleh dari hasil melaut.
Berdasarkan keterangan yang didapat dari para nelayan serta pengamatan langsung di lapangan, tercatat sekitar 80 persen kapal berukuran di atas 30 GT di wilayah Juwana masih belum melakukan aktivitas melaut.
“Dari informasi teman-teman nelayan dan pantauan di lapangan, angkanya cukup signifikan. Hampir 80 persen kapal belum melaut,” katanya.
Mukit menjelaskan, hanya sebagian kecil kapal yang masih tetap beroperasi. Meski demikian, kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan terbatas hanya di perairan sekitar pantai dengan jangkauan yang tidak terlalu jauh.
“Yang sudah melaut pun karena terpaksa. Untuk saat ini sebagian besar yang beroperasi hanya kapal-kapal yang mencari ikan di wilayah lokal,” ujarnya.
Ia menilai situasi ini berisiko memengaruhi ketersediaan dan harga ikan di TPI Juwana. Oleh karena itu, Mukit berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah nyata untuk meringankan beban nelayan, terutama terkait harga BBM yang menjadi penopang utama usaha perikanan tangkap.
(adv)
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

