Mahasiswa PBSI UMK Pentaskan “Sesat Arah”, Adaptasi Kreatif Novel Partikel Karya Dee Lestari
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 100.739

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus mementaskan teater Sesat Arah, adaptasi kreatif novel Partikel karya Dee Lestari, di Gedung Auditorium UMK, Rabu (8/7) malam.
KUDUS – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan pementasan teater bertajuk Sesat Arah di Gedung Auditorium UMK, Rabu (8/7) malam.
Pertunjukan tersebut merupakan adaptasi kreatif dari novel Partikel karya Dee Lestari yang dikemas dengan penafsiran baru.
Pementasan mengangkat kisah Zara, seorang perempuan yang kehilangan sosok ayahnya, Firas. Kehilangan itu menjadi titik awal perjalanan batin Zara dalam mencari makna hidup, memahami relasi manusia dengan alam, sekaligus menemukan jati dirinya.
Sejak awal pertunjukan, penonton diajak menyaksikan kedekatan Zara dan Firas. Sosok sang ayah digambarkan sebagai pribadi yang membentuk cara pandang Zara terhadap kehidupan. Namun, kepergian Firas mengubah arah perjalanan hidup putrinya.
Dengan panggung berbentuk arena, alur cerita diselingi humor dan dialog yang menghidupkan suasana. Perjalanan Zara melintasi desa, kota, hingga hutan yang divisualisasikan secara simbolis justru membawanya pada semakin banyak pertanyaan daripada jawaban.
Sutradara pementasan, Jessy Segitiga, menjelaskan bahwa Sesat Arah bukanlah reproduksi utuh dari novel Partikel, melainkan interpretasi baru yang menghubungkan sastra, pendidikan, realitas sosial, serta pengalaman para pemain.
Menurutnya, teater merupakan media untuk membaca kehidupan dari berbagai sudut pandang. Melalui simbol-simbol yang dihadirkan, pertunjukan ini membuka ruang bagi penonton untuk menafsirkan ulang berbagai persoalan manusia.
Ia mengatakan penggunaan bambu, representasi hewan, hingga simbol hutan menjadi bagian penting dalam menggambarkan kedekatan manusia dengan alam. Gagasan Sesat Arah lahir dari keyakinan bahwa perjalanan menemukan makna hidup tidak selalu berjalan lurus, tetapi dipenuhi keraguan, kehilangan, dan kebingungan.
“Sesat bukan berarti gagal menemukan arah, ia justru menjadi keberanian, berani memasuki wilayah baru, bukan sekadar tujuan, tetapi proses setiap langkah yang ditempuh,” tandasnya.
Jessy juga menuturkan bahwa pertunjukan ini menggambarkan proses pencarian identitas, hubungan manusia dengan alam, serta berbagai pertanyaan kehidupan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.
Salah satu pemeran, Suhaibatul Musdalifah, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti proses produksi teater tersebut. Sebagai calon guru, ia merasa kegiatan berteater membantunya memahami karakter orang lain sekaligus memperdalam kemampuan memainkan peran.
“Awalnya cukup kaget karena harus memainkan dua karakter sekaligus. Tetapi setelah pendalaman karakter saya baru mendapat feelnya. Tentu menyenangkan bisa berproses dan berteater bareng teman-teman lainnya,” kata dia.
Melalui pementasan itu, Suhaibatul berharap semakin banyak orang mampu menemukan kebahagiaan tanpa mengabaikan kelestarian alam, karena manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
“Pentas ini tidak memberikan jawaban atas perjalanan, tetapi mengajak penonton untuk ikut sesat arah, merasa kebingungan atas harapan dan kegelisahan. Tidak semua pencarian berakhir jawaban, bisa jadi ada pengalaman makna dari perjalanan yang dilakukan,” tambahnya.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

