Breaking News
light_mode

Kirab Bwee Gee Kudus: Harmoni Budaya Tionghoa yang Menyatukan Masyarakat Lintas Etnis

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Sen, 2 Feb 2026
  • visibility 1.719

KUDUS – Di Kudus, komunitas Tionghoa telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial-budaya daerah. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada dewa bumi menjelang Imlek, mereka menyelenggarakan tradisi kirab Bwee Gee yang penuh makna.

Rangkaian acara dimulai pada Sabtu, 31 Januari 2026, dengan ritual mandi minyak obat dan ibadah di Tempat Ibadah Tri Dharma Hok Hien Bio. Hari berikutnya, Minggu, 1 Februari 2026, menjadi puncak dengan kirab yang berpusat di klenteng tersebut.

Pukul 10.00 tepat, rombongan memulai perjalanan dari Hok Hien Bio, melintasi Jl. Dr. Lukmono Hadi, Jl. Sunan Kudus, Jl. Jend. Sudirman, Jl. Pemuda, dan Jl. A. Yani sebelum kembali ke tempat awal.

Peserta datang dari berbagai klenteng, vihara, dan cetya di dalam dan luar provinsi, membentuk barisan panjang yang mencerminkan jejaring erat antarkomunitas. Kirab terbuka untuk semua, menciptakan suasana harmoni yang dinikmati masyarakat luas. Di Alun-Alun Simpang 7, warga telah mengisi tepi jalan sejak pagi. Pada pukul 11.35, kerumunan bergerak mendekat saat rombongan akan melintas.

Seorang warga spontan menyatakan, “Sing nonton akeh wong Jowo, padahal iki budayane wong Tionghoa” (yang menonton kebanyakan orang Jawa, padahal ini budaya milik Tionghoa). Kalimat itu menyiratkan bagaimana budaya Tionghoa telah menyatu dengan kehidupan lokal Kudus, menjadikan Bwee Gee sebagai acara tahunan yang selalu dinantikan.

Setiap kelompok membawa kio atau tandu berisi patung dewa kiem sin, disertai atraksi barongsai dan tokoh seperti Sun Go Kong, Cu Pat Kay, Sha Wujing, Biksu Tong, dan Dewi Kwan Im—yang akrab dikenal melalui serial Kera Sakti.

Momen menarik terjadi saat rombongan melintas Madrasah Mu’allimat Kudus: siswa keluar kelas menyaksikan, dan pemain musik berbagi sukacita dengan mengiringi nyanyian sholawat Ya Lal Wathon. Ketika melintas Masjid Agung Kudus, pada saat adzan dzuhur berkumandang, semua suara kirab dihentikan dan dilanjutkan setelah adzan selesai.

Di sekitar Klenteng Hok Hien Bio, warga kembali berkumpul menyambut rombongan. Bazar makanan dan oleh-oleh khas Tionghoa berjajar, dan masyarakat lintas etnis serta agama berkumpul di dalam dan luar klenteng. Pukul 13.35, kelompok demi kelompok memasuki klenteng dan menampilkan atraksi, dengan kiem sin digoyang-goyangkan menyanyi dan musik. Hujan yang turun tidak menyurutkan semangat meriah.

Penulis: Ika Hana Pertiwi (Peneliti Budaya dan Dosen Psikologi Universitas Muria Kudus)

Editor: Arif 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • CEO Persipa Pati Minta Maaf Atas Hasil Buruk di Awal Liga 2, Ajak Suporter Berikan Dukungan Positif

    CEO Persipa Pati Minta Maaf Atas Hasil Buruk di Awal Liga 2, Ajak Suporter Berikan Dukungan Positif

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 108
    • 0Komentar

    OLAHRAGA – CEO Persipa Pati, Joni Kurnianto, menyampaikan permohonan maaf atas hasil negatif yang diraih tim di tiga pertandingan awal Liga 2 2024/2025. Persipa Pati menelan kekalahan atas Bhayangkara FC (1-0), imbang dengan Nusantara United (1-1), dan kembali kalah dari Persekat Tegal (0-2). “Atas hasil buruk di tiga pertandingan awal, saya meminta maaf. Namun, saya […]

  • Dinas Perikanan Jepara saat meninjau tambak bandeng di Donorojo Jepara.

    Cerita Bandeng Kartini dari Donorojo Jepara yang Dikenal Istimewa

    • calendar_month Sel, 3 Okt 2023
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Jepara memiliki hasill budidaya ikan bandeng yang terkenal memilliki kuaitas sangat baik, yaitu bandeng kartlilnil di Ujungwatu, Donorojo.

  • Pati Bergelora, Ribuan Massa Dukung Ganjar-Mahfud di Kampanye Akbar

    Pati Bergelora, Ribuan Massa Dukung Ganjar-Mahfud di Kampanye Akbar

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 121
    • 0Komentar

    PATI – Kampanye akbar untuk pasangan capres-cawapres 03, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, yang digelar di Lapangan Kayen, Pati. Kampanye yang diadakan pada siang kemarin (29/01/2024) berhasil menarik ribuan massa dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pati. Lapangan Kayen dipenuhi oleh atribut berwarna merah, bendera, dan poster yang dibawa oleh para peserta kampanye. Peserta kampanye juga […]

  • Pemilu 2019 Pati Butuh 4.369 Pengawas TPS

    Pemilu 2019 Pati Butuh 4.369 Pengawas TPS

    • calendar_month Kam, 7 Feb 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 113
    • 0Komentar

    PATI – Kebutuhan pengawas TPS di Kabupaten Pati mencapai 4369. Bawaslu membuka pendaftaran pengawas TPS sampai tanggal 10 Februari di sekretariat panwascam masing-masing kecamatan atau pengawas desa. Kordinator Devisi Organisasi dan Sumber Daya Manusia Bawaslu Kabupaten Pati, Karto menyebut, pembentukan pengawas TPS ini sejalan dan merupakan amanat dari UU Nomor 7 Tahun 2017. Perekrutan pengawas […]

  • Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    Persipa Dijagokan Menangi Derbi Muria

    • calendar_month Rab, 14 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

      Skuad Persipa Pati  Meskipun berstatus tim promosi, Persipa Pati layak diperhitungkan lebih. Semangat juang wani ngeyel bakal merepotkan lawan-lawannya. Termasuk Persijap Jepara yang akan bertamu pekan ini. Laga Derbi Muria ini bakal menyajikan pertandingan seru.  PATI – Persipa Pati dijagokan menjadi pemenang dalam pertandingan menghadapi Persijap Jepara yang bertajuk Derbi Muria pada Minggu (18/9/2022) […]

  • Kidungan Teks Pakem Kajen, Meriahkan Haul Mbah Mutamakkin

    Kidungan Teks Pakem Kajen, Meriahkan Haul Mbah Mutamakkin

    • calendar_month Kam, 9 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 121
    • 0Komentar

      Festival Kajen, menembangkan Tesk Pakem Kajen PATI – Manuskrip yang ditulis pada tahun 1891 ini terakhir ditembangkan pada tahun 1950-an di Pasareyan Mbah Mutamakkin alias Kiai Cabolek alias Pangeran Hadikusuma, cucu Raja Pajang, Joko Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya. Penulis manuskrip adalah Kiai Abdul Karim dari Margotuhu Ngerojo. Terakhir, sebab panambangnya setelah […]

expand_less