Breaking News
light_mode

Menjaga Muria, Menjaga Kehidupan: Ketika 14 Macan Tutul Menjadi Harapan Terakhir

  • account_circle Abdul Adhim
  • calendar_month Ming, 15 Jun 2025
  • visibility 127

Di tengah krisis ekologi yang makin nyata, sebuah kabar gembira muncul dari rimba Gunung Muria: masih ada 14 individu macan tutul jawa yang bertahan hidup. Mereka bukan sekadar satwa liar—mereka adalah simbol harapan terakhir dari keseimbangan ekosistem yang semakin rapuh.

Bukan tanpa perjuangan keberadaan mereka terus lestari. Di balik kabar ini berdiri sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria). Mereka bukan akademisi atau pegawai konservasi resmi, tapi warga biasa yang memutuskan untuk mencintai hutan secara aktif. Mereka masuk ke belantara Muria bukan sekadar untuk menikmati sunyi, tetapi untuk menjaga kehidupan—dengan memantau jejak, mendeteksi feses, hingga memasang kamera jebak demi satu hal: memastikan macan tutul jawa belum punah.

Patroli hutan, pendekatan pada pemburu liar, dan edukasi kepada masyarakat bukan hal yang mudah. Tapi mereka percaya, hutan yang dijaga bukan hanya untuk macan tutul, tapi untuk kita semua. Mereka menolak logika pendek: menebang kayu untuk hari ini, dan justru membuka mata bahwa hutan yang lestari dapat menghadirkan pemasukan lewat ekowisata.

Yang mereka bangun di Colo adalah contoh: kopi, parijoto, hingga “wisata jejak macan tutul” menjadi alternatif nyata yang berkelanjutan. Ini bukan mimpi idealis. Ini bukti bahwa konservasi bisa berpihak pada masyarakat, tanpa kehilangan nilai ekologisnya.

Namun apa artinya 14 ekor macan tutul jika masyarakat dan negara tak bergerak bersama? Jika mereka punah, itu bukan sekadar hilangnya satu spesies. Itu lonceng kematian bagi sistem penyangga kehidupan yang jauh lebih besar. Macan tutul adalah predator puncak, pengatur alami populasi satwa lain. Hilangnya mereka berarti hutan akan kehilangan keseimbangan—dan kita pun perlahan kehilangan sumber air, udara bersih, dan tanah yang subur.

Dikutip dari Liputan Pusparagam Muria Majalah National Geographic Indonesia, Pakar konservasi seperti Prof. Hendra telah mengingatkan: konservasi bukan hanya tugas negara, tapi tanggung jawab bersama. UU 32 Tahun 2024 bahkan telah menegaskan peran masyarakat lokal sebagai garda depan pelestarian lingkungan. Maka ketika generasi muda seperti PEKA Muria bergerak, negara mestinya hadir bukan sebagai birokrat pengawas, tapi mitra yang memperkuat.

Inisiatif seperti ini tak seharusnya dibiarkan berjalan sendiri. Ia perlu direplikasi, didukung, dan diberi ruang berkembang. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan cuma keberadaan 14 ekor macan tutul—tetapi masa depan kita bersama.

Gunung Muria bukan sekadar lanskap. Ia adalah paru-paru, sumur, dan warisan hidup. Maka melindungi Muria bukanlah pilihan ekologis belaka, tapi pilihan moral dan sosial.

Dan barangkali, lewat tapak kaki macan tutul, kita sedang diajak untuk kembali menapaki jalan pulang menuju harmoni dengan alam. []

Penulis

Konten kreator, tinggal di Pati, Jawa Tengah. Alumni S-1 KPI IAIN Kudus.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persipa Takluk Tipis dari PSIM, Banur Akui Kesulitan Manfaatkan Peluang

    Persipa Takluk Tipis dari PSIM, Banur Akui Kesulitan Manfaatkan Peluang

    • calendar_month Ming, 15 Des 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 90
    • 0Komentar

    OLAHRAGA – Laskar Saridin gagal mencuri poin di Stadion Krida Mandala saat bertandang ke markas PSIM Jogja dalam lanjutan Pegadaian Liga 2 2024/2025, Minggu (15/12/2024). Persipa Pati takluk tipis 1-0 dari tuan rumah yang diiringi guyuran hujan. Gol tunggal PSIM Jogja dicetak oleh Muamar Khadafi pada menit ke-4 melalui tendangan keras. Persipa yang tertinggal langsung […]

  • PAC Pagar Nusa Margoyoso Mempererat Tali Silaturahmi dengan Acara Halalbihalal

    PAC Pagar Nusa Margoyoso Mempererat Tali Silaturahmi dengan Acara Halalbihalal

    • calendar_month Sel, 16 Apr 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 65
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa (PN) Margoyoso menggelar acara Halalbihalal pada Senin (15/04/2024). Acara ini diadakan di Sekretariat PAC PN Margoyoso, dengan tujuan utama mempererat hubungan sosial dan menjaga keharmonisan di antara anggota dan warga. Azis, Ketua PAC PN Margoyoso, mengemukakan pentingnya acara Halalbihalal ini adalah untuk menciptakan suasana kebersamaan dan kedamaian. […]

  • Polres Jepara mengamankan minuman keras

    Polres Jepara Sita Ratusan Miras di Acara Deklarasi Paguyuban CB

    • calendar_month Ming, 25 Jun 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Polres Jepara mengamankan minuman keras   Langkah tegas dilakukan Polres Jepara saat melakukan pengamanan acara deklarasi Paguyuban CB di obyek wisata Benteng Portugis. Langkah ini sebagai bentuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. JEPARA –  Kepolisian Resor Jepara berhasil mengamankan ratusan botol miras dari berbagai merk. Penyitaan botol miras itu disita untuk menjaga keamaan dan ketertiban […]

  • Keliling Desa, Sambut Ramadan dengan Ceria

    Keliling Desa, Sambut Ramadan dengan Ceria

    • calendar_month Sel, 15 Mei 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 65
    • 0Komentar

    JEPARA – Menghadapi bulan Ramadan, PAC IPNU dan IPPNU Keling tampil beda. Bulan yang dianggap suci bagi umat Islam itu disambut dengan keceriaan melalui karnaval berkeliling desa se Kecamatan Keling Senin siang kemarin (14/5/2018). Ketua PAC IPNU Keling, Nur Khasan menuturkan, pihaknya memang sengaja melakukan pawai ke desa-desa untuk mengabarkan keceriaan menyambut Ramadan kepada khalayak […]

  • DPRD Pati Ajak Warga Sampaikan Aspirasi Tanpa Ragu

    DPRD Pati Ajak Warga Sampaikan Aspirasi Tanpa Ragu

    • calendar_month Sel, 20 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 97
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto, mengajak masyarakat untuk aktif menyampaikan aspirasi, kritik, dan keluhan kepada wakil rakyat. Beliau menegaskan komitmen dewan untuk terbuka dan menerima masukan dari warga sebagai bentuk pengawasan bersama terhadap jalannya pemerintahan. “Kami selalu menerima aspirasi dari masyarakat baik secara langsung ataupun tidak langsung,” ungkap Joni Kurnianto […]

  • Ibadah Puasa Beban Fitrah Manusia ?

    Ibadah Puasa Beban Fitrah Manusia ?

    • calendar_month Sab, 25 Mar 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 55
    • 0Komentar

    ILUSTRASI Diskusi menarik dihadirkan Paradigma Institute (Parist) pada Kamis (23/3/2023). Dalam forum kajian Tadarus Ilmiah Ramadan 2023 itu membahas persoalan ibadah puasa bertentangan fitrah manusia. Kegiatan tadarus ilmiah ini diisi para pemateri yang merupakan mahasiswa S-3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2016. Dr. Moh Nor Ichwan, selaku pemateri mengungkapkan, Ibadah Puasa selalu dimaknai sebagai Al […]

expand_less