Breaking News
light_mode

Tawuran, dan Cara Anak Mengisi Kebosanan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 30 Jul 2018
  • visibility 297

Akhir pekan, Sabtu (16/12) lalu Polres Pati menangkap setidaknya 25 anak
yang baru gede. Masih berseragam, mereka pelajar setingkat SMP. Para pelajar
yang semuanya laki-laki ini bergerombol di sebuah warung di dekat SPBU. Saat
diamankan, salah satu dari mereka kedapatan membawa satu buah clurit dan juga
regam.
Mereka hendak tawuran, namun sebelum pecah tawuran itu, gelagat mereka
sudah tercium aparat dan akhirnya mereka disikat, lalu diamankan ke Mapolres.
Guru dari sekolah bersangkutan diundang. Begitu pula para orang tua pelajar
belia itu.
Belakangan, kabar dari beberapa kawan intelijen, terindikasi pelajar di
beberapa sekolahan memang hendak menggelar hajat tawuran. Cerita yang
berkembang, sejak lama beberapa sekolahan memang pelajarnya kerap baku hantam. Aksi
tawuran boleh dikatakan sebagai aksi turun temurun, warisan dari kakak kelas
mereka bertahun-tahun. Ironis.
Gambaran singkatnya, kelas 3 tawuran dengan sekolah lain, adik kelas
diajak. Kemudian kesempatan lain ada tawuran, adik kelasnya diajak lagi. Jadi
ada semacam regenerasi dalam dinamika tawuran pelajar yang terjadi. Dengan
begitu, satu sekolah dengan sekolah lain punya sisi emosional saling balas yang
kuat sekali di kalangan siswanya. 
Melihat hal itu, saya jadi teringat apa yang dikatakan Jean Piget,
psikolog asal Swiss yang mengembangkan teori perkembangan kognitif. Kaum muda
termasuk para pelajar, termasuk dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought).
Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai
alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari. ”Kini, ia makin menyadari
keberadaan masalah-masalah disekelilingnya. Salah satunya, bagaimana
membuktikan kesetiakawanan.”
Nah sisi kesetiakawan yang keliru itulah yang banyak terjadi, saat
terjadi gesekan yang berujung pada aksi tawuran. Konsekuensi logis sesuai
perkembangan kognitifnya itu mengatakan, supaya ia mengikuti segala aturan
kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah
salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah untuk anak susia mereka.
Itu dari segi internal psikologi para pelajar muda. Sedangkan masih ada
beberapa faktor, yang mana faktor itu cukup penting diperhatikan. Selama ini
yang sering terjadi tawuran merupakan pelajar dalam tanda kutip, sekolahnya
yang kurang kegiatan, atau ada kegiatan tapi kurang menarik bagi siswanya. Hal
ini dibenarkan salah satu polisi saat saya tanyakan tentang faktor dari sekolah
itu sendiri.
”Para pelajar yang suka tawur ini, memang dari sekolahan yang kurang kegiatan,”
katanya singkat. Hal ini bisa jadi benar, sebab rata-rata usai sekolah para
pelajar yang sering terlibat tawuran ini menghabiskan waktu kongkow-kongkow
dengan temannya, begitupun saat ditangkap, mereka sedang kongkow di sebuah
warung.
Saat bergerombol kepercayaan diri akan meningkat, dan menyulut untuk baku
hantam sangat mudah sekali.
Melihat fenomena ini, tentu pihak sekolah mesti berbenah. Sebagai
penyedia jasa pendidikan, dan berkewajiban mendidik siswanya, tentu harus ikut
bertanggung jawab meminimalisir terjadinya aksi tawuran ini.
Bisa jadi tiap sekolahan pasti punya kegiatan diluar jam pelajaran.
Biasanya ada ekstrakurikuler, tapi entah sebagaimana pengalaman saya sekolah
dulu, tak jarang ektrakurikuler hanya kegiatan rutinitas membosankan. Hingga
banyak anak yang memilih kabur, dan bermain di luar sekolah hingga aktivitasnya
tak terkontrol, lalu pada akhirnya terlibat aksi tawuran antar pelajar.
Memang banyak faktor, tapi saya rasa faktor kegiatan di sekolahan memang
harus digalakkan. Guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai tempat yang
menyenangkan. Kegiatan-kegiatan di luar pelajaran mesti dibuat sevariatif
mungkin, agar anak kerasan berkegiatan di sekolah. Baik itu kegiatan olahraga
maupun seni.
Kembali soal aksi tawuran, hal itu tak serta merta anak yang mesti
disalahkan, kita juga patut berbenah diri. Polisi, guru, terlebih orang tua itu
sendiri. Jika dilihat dari beberapa hal yang telah terjadi, tawuran pelajar
menurut saya memang cara terbaik anak mengisi kebosanan. Sebab di sekolahan
guru belum menyediakan ruang yang menyenangkan bagi mereka. Tak salah mereka
mengaktualisasikan diri unjuk kebolehan adu jotos di arena bebas. Begitu. (Achmad Ulil Albab)

Artikel ini pernah dimuat di harian “Tribun Jateng” versi cetak   

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Kiprah Perguruan Tinggi di Pati, Ini Alasan Anggota DPRD Pati Wisnu Wijayanto

    Dukung Kiprah Perguruan Tinggi di Pati, Ini Alasan Anggota DPRD Pati Wisnu Wijayanto

    • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 289
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Wisnu Wijayanto, menyatakan dukungan penuh terhadap keberadaan sekolah tinggi di Bumi Mina Tani. Menurutnya, pendidikan tinggi merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kemajuan bangsa. “Meskipun pemerintah telah memiliki program wajib belajar 12 tahun, sistem ini harus terus ditingkatkan […]

  • Infrastruktur APBD 2026 Pati Siap Dilaksanakan, Ali Badrudin Pastikan DPRD Lakukan Pengawasan Ketat

    Infrastruktur APBD 2026 Pati Siap Dilaksanakan, Ali Badrudin Pastikan DPRD Lakukan Pengawasan Ketat

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 3.768
    • 0Komentar

    PATI – Dalam Rapat Paripurna Laporan Kinerja Pemerintah Kabupaten (LKPJ) Bupati Pati Tahun 2025, Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, menyampaikan terkait pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 khususnya di bidang infrastruktur. Menurut Ali Badrudin, pelaksanaan APBD 2026 terkait infrastruktur akan segera digelar setelah mendapatkan atensi dan petunjuk dari Komisi Pemberantasan Korupsi […]

  • Niat Menjaga Lereng Muria, Agar Lestari dan Menghidupi

    Niat Menjaga Lereng Muria, Agar Lestari dan Menghidupi

    • calendar_month Ming, 1 Mar 2020
    • account_circle Redaksi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Penanaman di lereng Pegunungan Muria  Kawasan sumber air menjadi sorotan. Sejumlah pegiat lingkungan menaruh perhatian untuk melestarikan. Agar keseimbangan alam kembali terjadi. Menjadikan Pegunungan Muria lestari dan menghidupi. JEPARA – Kawasan hulu menjadi sasaran penanaman pohon. Seperti yang dilakukan sejumlah warga di kawasan saluran irigasi Tines Dukuh Setro, Desa Batealit. Mereka tergabung dalam kelompok Sekretariat bersama […]

  • Gurih dan Bikin Nagih Lontong Tahu Telur Gimbal khas Kudus

    Gurih dan Bikin Nagih Lontong Tahu Telur Gimbal khas Kudus

    • calendar_month Sel, 13 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 450
    • 0Komentar

      Lontong tahu telur khas Kudus yang gurih/ @kuduskulineran Ada banyak pilihan kulineran di Kudus. Salah satunya menikmati kelezatan Lontong tahu telur dengan potongan gimbal udang yang gurih dan kriuk-kriuk. KUDUS – Mampir ke Kota Kudus jangan lupa kulineran. Ada beragam sajian kuliner khas Kota Kretek yang memiliki rasa unik yang pastinya ngangeni. Salah satu […]

  • Siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu, Dipanggil TC Timnas U17 Indonesia

    Siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu, Dipanggil TC Timnas U17 Indonesia

    • calendar_month Sel, 1 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 328
    • 0Komentar

    PATI – Sukses membanggakan diraih siswa Safin Pati Sports School, Yohanes Yapagaimu. Ia terpilih sebagai salah satu dari 34 pemain yang dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan (TC) Tim Nasional (Timnas) Indonesia U17 di Bali. Pemanggilan ini diumumkan PSSI pada Selasa (1/7/2025). TC akan berlangsung dari 7 Juli hingga 10 Agustus 2025 sebagai persiapan menghadapi Piala […]

  • Tambah Pengalaman HMPS Perbankan Syariah IAIN Kudus Kuliah di UIN Semarang

    Tambah Pengalaman HMPS Perbankan Syariah IAIN Kudus Kuliah di UIN Semarang

    • calendar_month Rab, 24 Mei 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Kuliah eksternal HMPS Perbankan Syariah IAIN Kudus Studi banding ditujukan untuk saling bertukar ilmu, bertukar informasi, dan saling menginspirasi tentang program kerja yang ada di dalam organisasi masing-masing. Hal inilah yang dilakukan HMPS Perbankan Syariah IAIN Kudus dalam kuliah eksternal di UIN Walisongo Semarang.  SEMARANG – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Perbankan Syariah IAIN Kudus […]

expand_less