Breaking News
light_mode

Karena Kita Sendiri yang Menyuburkan Korupsi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 22 Des 2018
  • visibility 264

Suatu pagi di beranda facebook,
seorang teman yang saya kenal sebagai budayawan Kota Jepara menulis status yang
mendadak menyentak nurani. Statusnya pagi itu berbunyi. “Munafik, kita benci korupsi tapi tidak menolak politik uang”.
Dalam statusnya tersebut, teman
saya itu secara terang mengajak kita untuk menolak politik uang di segala pesta
demokrasi. Dari pemilihan kepala desa, pemilihan umum legislatif, juga
pemilihan presiden dan wakil presiden.
Jika dirasakan, politik uang
memang sudah mendarah daging di negeri ini. Entah di luar negeri sama atau
tidak. Di masyarakat desa, sering saya mendengar dalam sebuah
pergunjingan-pergunjingan di warung kopi, di teras rumah, sampai pematang
sawah, ada istilah yang sangat lumrah sekaligus menjadi ugeman tiap pesta demokrasi digelar. Segala tingkatan pesta
demokrasi.
Ra
wek ra obos
. Artinya tidak ada uang tidak nyoblos.
Begitu memang yang sudah dianut sebagian besar masyarakat kita. Saya menyebut
sebagian besar, karena saya yakin masih ada orang-orang yang berfikir cerdas.
Mereka akan memilih siapa yang memberinya uang.
Tidak salah bagi mereka penganut ugeman itu. Mereka memiliki sebuah pembenaran
sendiri menjalankan keyakinannya tersebut. Baginya, pesta demokrasi adalah
panen amplopan, tentu beserta lembaran rupiah yang nilainya beragam. Tergantung
seberapa tebal kantong para calon tersebut.
Hal itu sendiri didasari
kekesalan masyarakat akan pemimpin atau wakil (dalam hal pemilihan legislatif,
DPR). Sudah lazim memang, para calon-calon tersebut akan sedemikian mendekat
dengan rakyat, mengobral janji-janji manis yang lebih sering tidak ditepatinya
ketika ambisi politik mereka terpenuhi. Masyarakat kita menjadi geram. Maka,
pembenaran untuk mloroti kantong para
calon tersebut sahih adanya.
”Lha bagaimana lagi, ketika
mereka jadi ya banyak lupanya dengan kami,” begitu kalimat yang sering
terlontar.
Celakanya, perilaku yang semacam
itu menjadi bumerang. Kajian yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
beberapa waktu lalu yang telah dipublikasikan ke publik menyebutkan, selain
karena perilaku, biaya pemilihan yang mahal menjadi penyebab tingginya angka
tindak pidana korupsi di negeri ini.
Pada tahun ini sendiri ada 109
perkara korupsi yang ditangani lembaga anti rasuah ini. Dari sejumlah kasus
tersebut, KPK telah memproses 98 kepala daerah yang diduga terlibat, dari yang
diproses tersebut 18 lainnya sudah resmi memakai rompi oranye. Tersangka.
Hasil penelitian dari Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (BPKP) menyebutkan penyebab korupsi kepala daerah itu
disinyalir karena monopoli kekuasaan, lemahnya akuntabilitas, juga karena biaya
pemilihan yang mahal.
Sementara itu, Bawaslu juga menyebutkan jika
politik uang diakui masih kerap terjadi saat penyelenggaraan pemilihan kepala
daerah. Politik uang terjadi saat masa kampanye, masa tenang, hingga saat
pemilihan. Tentu kita sangat mafhum dengan istilah “serangan fajar”. Ya begitu
itu.
Lebih menyedihkan lagi, laporan yang dilansir
dari detik.com, yang menyebutkan ada
900 kepala desa yang ditangkap. Karena apa ? Presiden Jokowi menyebut karena
ratusan kepala desa tersebut menyelewengkan dana desa.
Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita
semua. Tindak pidana korupsi, kini telah menjadi sebuah bencana. Tidak hanya
sebatas kasus kriminal biasa. Korupsi adalah bencana moral, juga bencana
budaya.
Kenapa sampai disebut bencana moral dan budaya.
Ramai-ramainya perilaku korupsi ini boleh dibilang sebagai satu kesatuan mata
rantai. Jika menilik karena biaya pemilihan yang mahal, ini terjadi karena para
pemilih membuka diri untuk membuat biaya pemilihan menjadi mahal melalui
serangan-serangan amplop yang kadang membabi buta. Hak suara bisa dibeli. Dan
para pemilih kita mudah sekali mengobralnya.
Pada akhirnya, saya memang harus mengkambing
hitamkan politik uang sebagai salah satu biang korupsi. Korupsi menjadi subur
karena politik uang. Sedang kita para pemilih sangat berjasa menyuburkan
tanaman-tanaman korupsi itu, tentu melalui satu ugeman di atas bukan. Dan kini kita telah sedikit-banyak memanen
tanaman korupsi kita itu. Apa yang kita panen, saya kira pembaca bisa
merasainya sendiri. (Achmad Ulil Albab)


  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persipa Pati Bidik Kemenangan di Laga Kandang, Evaluasi Total Dilakukan

    Persipa Pati Bidik Kemenangan di Laga Kandang, Evaluasi Total Dilakukan

    • calendar_month Jum, 13 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 290
    • 0Komentar

    OLAHRAGA – Persipa Pati bersiap menghadapi laga kandang menghadapi Nusantara United FC di Stadion Joyokusumo, Pati pada Sabtu (14/9/2024), dengan tekad bulat untuk meraih kemenangan setelah menelan kekalahan di laga tandang melawan Bhayangkara FC di Tegal. Pelatih Bambang Nurdiansyah menegaskan bahwa timnya akan melakukan evaluasi menyeluruh atas penampilan di laga sebelumnya. “Yang pasti kita evaluasi […]

  • Diberikan ke Siswa SMA, Jadi Bekal Bentengi Diri dari Radikalisasi

    Diberikan ke Siswa SMA, Jadi Bekal Bentengi Diri dari Radikalisasi

    • calendar_month Rab, 27 Feb 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Mengupas Buku Islam Agama Cinta dan Damai karya PC ISNU Pati Buku karya ISNU Kabupaten Pati Sudah terang benderang. Kampus-kampus besar di kota memiliki basis pengkaderan organisasi keagamaan (Red, Islam) dengan paham eksklusif yang mengarah kepada gerakan radikalisme. Sasarannya jelas. Mahasiswa-mahasiswa baru dari latar belakang pemahaman agama yang belum kuat. Dengan iming-iming kajian keagamaan di […]

  • Caping Kalo, Sebuah Kesadaran Nguri-Uri Budaya Kudus

    Caping Kalo, Sebuah Kesadaran Nguri-Uri Budaya Kudus

    • calendar_month Ming, 16 Okt 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 614
    • 0Komentar

      Sejumlah model menampilkan busana yang dilengkapi caping kalo di atas kepala Kesadaran nguri-uri budaya lokal semakin menguat di Kudus. Yang menjadi perhatian adalah Caping Kalo, menjadi pelengkap busana adat wanita Kudus. KUDUS – Bupati Kudus Hartopo merasa gembira dengan apa yang dilakukan oleh PT Nojorono Tobacco International pada peringatan HUT ke-90, Jumat (14/10/2022) malam. […]

  • Pecah Sport Tourism Pati Run 2019

    Pecah Sport Tourism Pati Run 2019

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 332
    • 0Komentar

      Ramai PATI – Seribu pelari ikut ambil bagian dalam even Pati Sport Tourism Pati Run 2019 di Pusat Kuliner, pagi kemarin (29/9/2019). Even ini sendiri terbagi menjadi lomba lari untuk 5K dan 10K. peserta datang dari berbagai daerah. Kegiatan ini digelar oleh DInas Pemuda Olahraga dan Priwisata Kabupaten Pati. Kepala Dinporapar Kabupaten Pati Sigit […]

  • Edy Wuryanto Dorong Pengetatan Prosedur Usai 803 Orang Keracunan MBG di Grobogan

    Edy Wuryanto Dorong Pengetatan Prosedur Usai 803 Orang Keracunan MBG di Grobogan

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.621
    • 0Komentar

    GROBOGAN – Kasus keracunan dalam rangkaian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menunjukkan tren peningkatan. Baru-baru ini, sebanyak 803 penerima manfaat di Grobogan mengalami kondisi keracunan, di samping 433 kasus yang terjadi di Mojokerto. Kasus serupa juga pernah tercatat di Pekalongan. Padahal Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan target nol kasus keracunan untuk tahun ini, […]

  • LTNNU Pati Bagikan Nasi Ayam Geprek dan Sosialisasikan Bahaya Hoaks kepada Korban Banjir

    LTNNU Pati Bagikan Nasi Ayam Geprek dan Sosialisasikan Bahaya Hoaks kepada Korban Banjir

    • calendar_month Ming, 18 Jan 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.679
    • 0Komentar

    PATI – Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Pati menggabungkan bantuan langsung dengan edukasi kepada korban banjir yang telah melanda Kabupaten Pati selama lebih dari sepekan. Pada Minggu (18/1/2026), mereka menyebarkan ratusan porsi nasi ayam geprek sekaligus memberikan sosialisasi tentang bahaya hoaks atau berita bohong. Banjir mulai menerjang wilayah ini sejak Jumat (9/1/2026), mengakibatkan […]

expand_less