Suluk Kajen Diluncurkan, Wadah Kajian Ilmiah untuk Menggali Kembali Warisan Intelektual Syekh Ahmad Mutamakkin
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 100.340

Para tokoh ulama dan intelektual nasional menghadiri seminar perdana Suluk Kajen guna mengangkat kembali khazanah keilmuan Islam warisan Mbah Mutamakkin.
PATI – Upaya besar mengangkat kembali khazanah pemikiran dan tradisi intelektual Islam dimulai dari lingkungan sekitar Masjid Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.
Berlangsung pada Sabtu (27/6/2026), para kiai sepuh yang tergabung dalam Yayasan Makam Mbah Mutamakkin secara resmi meluncurkan wadah kajian bernama “Suluk Kajen”.
Peluncuran ini diadakan melalui kegiatan seminar perdana bertajuk Suluk Kajen #1 dengan tema “Pamoring Kawula Gusti: Syekh Ahmad Mutamakkin dan Reimajinasi Intelektual Pesantren di Era Kontemporer”.
Acara ini menarik perhatian luas dan dihadiri sejumlah tokoh ulama serta intelektual nasional. Di antaranya tampak hadir Prof. KH. Said Aqil Siroj, KH. Ulil Abshar Abdalla, Prof. Islah Gusmian, Dr. Zainul Milal Bizawie, Prof. Maharsi, hingga Dr. Saiful Umam.
Direktur Suluk Kajen, Mohammad Yunus Masrukhin, menjelaskan bahwa selama ini sosok Syekh Ahmad Mutamakkin atau yang lebih akrab disapa Mbah Mutamakkin lebih dikenal masyarakat hanya dari sisi amalan keagamaan yang disampaikan secara lisan turun-temurun.
Padahal, menurutnya, tersimpan pula banyak dokumen sejarah asli yang berkaitan dengan beliau yang belum dapat diakses secara luas dan belum dikaji secara mendalam melalui pendekatan ilmiah.
Berdasarkan keprihatinan dan keinginan untuk melestarikan warisan tersebut yang dirasakan para kiai sepuh Kajen dalam beberapa tahun terakhir, Suluk Kajen akhirnya dibentuk sebagai lembaga kajian khusus.
Fokus utamanya adalah mengembangkan kembali tradisi keagamaan peninggalan Mbah Mutamakkin dari berbagai sisi, baik aspek naskah, sejarah, sosial, politik, maupun ekonomi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Yunus mengakui bahwa tugas ini merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan ketekunan dan keberlanjutan dalam jangka waktu panjang.
Untuk mendukung pelaksanaannya, Suluk Kajen mengelola kegiatan melalui lima divisi utama. Divisi Riset bertugas menyusun kajian dan karya ilmiah, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Divisi Kegiatan melalui diskusi bersama ulama dan akademisi.
Sementara itu, Divisi Publikasi berperan menyebarkan hasil kajian tersebut, baik dalam bentuk jurnal ilmiah maupun konten yang lebih ringan dan mudah dipahami agar dapat menjangkau generasi muda.
Selain itu, terdapat Divisi Museum yang memiliki peran penting dalam mengumpulkan, merawat, serta menyajikan penjelasan mengenai benda bersejarah dan lokasi yang membuktikan bahwa Mbah Mutamakkin merupakan ulama besar yang membentuk peradaban di wilayah Pantura.
Keseluruhan kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh bagian Kesekretariatan sebagai penghubung antarbagian.
Mengenai keberadaan naskah kuno di kawasan Kajen, Yunus menyampaikan bahwa proses pencatatan dan pendataan masih terus dilakukan.
Namun, dibandingkan kondisi sebelumnya, saat ini sudah teridentifikasi sekitar sembilan naskah asli yang layak untuk diteliti secara mendalam.
Beberapa di antaranya berjudul Arsyul Muwahhidin, Suluk Alif, Suluk Kajen, serta Bundel Kajen yang merupakan koleksi milik Prof. Islah Gusmian.
Sebagai wadah baru, Suluk Kajen hadir dengan semangat menuntut ilmu secara sadar, tekun, dan rendah hati. Dalam pandangan tradisi pesantren, ilmu bukan sekadar hafalan atau penjelasan teori, melainkan sesuatu yang harus dijalani dengan cara yang teratur, cermat, dan beradab. Semangat ini tercermin dalam ungkapan filosofi Jawa: “Hangrenggani Urip, Hanguripake Rerenggan”.
Secara bahasa, frasa hangrenggani urip bermakna berusaha memuliakan dan memperindah kehidupan melalui pengembangan budi pekerti, ilmu pengetahuan, serta pengamalan nilai-nilai spiritual.
Sementara itu, hanguripake rerenggan berarti menghidupkan kembali nilai-nilai luhur, kebijaksanaan, dan tata krama yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.
Makna ini sangat selaras dengan ajaran tradisi pesantren di Jawa, khususnya pemikiran sufistik Syekh Ahmad Mutamakkin.
Di sini, ilmu dipadukan dengan sikap dan budi pekerti, sehingga melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga halus budinya dan memiliki kepedulian sosial.
Oleh sebab itu, Suluk Kajen bukan sekadar tempat berdiskusi, melainkan ruang bersama untuk menelusuri jejak sejarah dengan akal sehat, merawat warisan leluhur dengan kesadaran, serta menyikapi perbedaan dengan sikap yang beradab.
Tujuannya adalah menghadirkan kembali tradisi keilmuan yang kuat secara metodologi, tulus dalam niat, dan tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masa kini.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

