Kirab Budaya Haul Mbah Ahmad Mutamakkin Meriah, Tongklek Jadi Daya Tarik Utama
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 100.325

Kesenian tongtek dalam kirab budaya dalam rangka Haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Jumat (26/6/2026).
PATI – Ribuan warga memadati ruas jalan di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, untuk menyaksikan kirab budaya dalam rangka Haul Syekh Ahmad Mutamakkin, Jumat (26/6/2026).
Perhelatan tahunan tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kesenian tradisional yang menjadi daya tarik masyarakat.
Sejak siang hari, masyarakat tampak antusias memenuhi sepanjang jalur kirab. Berbagai atraksi budaya ditampilkan, mulai dari penampilan marching band, tari tradisional dengan balutan busana yang menarik, hingga arak-arakan kereta kencana berhias naga raksasa yang diiringi tabuhan musik tongklek.
Kirab budaya ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat Kajen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tokoh Pemuda Desa Kajen, Ulil Amri atau yang akrab disapa Cak Ulil mengatakan, peringatan haul Syekh Ahmad Mutamakkin merupakan agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
Menurutnya, rangkaian kegiatan haul dibagi menjadi dua bagian, yakni kegiatan yang diselenggarakan yayasan dan kegiatan yang diprakarsai pemerintah desa.
“Dari pihak yayasan itu ada khataman binnadhor dan bilghaib, buka selambu, dan lain sebagainya. Dan kemudian untuk rangkaian acara dari desa, selaku ketua panitia itu ada momen kirab,” katanya.
Ia menjelaskan, kirab tahun ini dimeriahkan oleh 13 kelompok tongklek yang berasal dari berbagai RT di Desa Kajen. Cak Ulil mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara tersebut.
Ia berharap kirab budaya dapat terus menjadi ruang pelestarian budaya Nusantara.
“Semoga dengan acaranya ini setiap tahun tetap kita menampilkan budaya Nusantara, di mana budaya Nusantara ini biar tidak luntur dari turun-temurun,” ujarnya.
Menurut Cak Ulil, peserta dan pengunjung haul tidak hanya berasal dari Kajen maupun Kabupaten Pati, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.
Hal itu tidak lepas dari banyaknya alumni pondok pesantren di Kajen yang kini telah tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Ia berharap melalui haul ini, masyarakat dan para alumni terus menjaga marwah para guru sekaligus mengamalkan ilmu yang telah diwariskan.
Sementara itu, Ketua Panitia Desa Kajen, Syamsul Bakri, menyampaikan bahwa selain kirab budaya, panitia juga menggelar berbagai kegiatan lain, seperti lomba untuk ibu-ibu PKK hingga panjat pinang. Namun, menurutnya, kirab budaya tetap menjadi puncak rangkaian acara yang paling dinanti.
Sebanyak 22 kelompok ambil bagian dalam kirab tersebut. Peserta terdiri atas perwakilan 13 RT, pondok pesantren, serta lembaga pendidikan yang ada di Desa Kajen.
Ia mengatakan, tongklek dipilih sebagai identitas utama kirab karena memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan perayaan di desa lain.
“Karena harapan kami mendatangkan tongklek biar tidak sama dengan desa-desanya yang lain. Karena kita momennya adalah haulnya Mbah Ahmad Mutamakkin, jadi tidak sama dengan sedekah bumi dengan desa-desa yang lain. Kita yang berkesinambungan dengan tema yaitu haulnya Mbah Mutamakkin,” jelasnya.
Meski diikuti puluhan kelompok, panitia memutuskan untuk tidak menjadikan kirab sebagai ajang perlombaan. Kebijakan tersebut diambil agar tidak memicu persaingan yang berpotensi menimbulkan gesekan antarpeserta, sehingga semangat kebersamaan tetap terjaga.
Ke depan, panitia berkomitmen terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan Haul Syekh Ahmad Mutamakkin setiap tahunnya dapat berlangsung semakin baik, sekaligus tetap menjadi ajang pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai kebersamaan masyarakat Desa Kajen.
Editor : Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

