Dinsos Pati Akui Terima Laporan Dugaan Pencabulan Santriwati Sejak 2024
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kam, 30 Apr 2026
- visibility 34

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pati Aviani Tritanti Venusia
PATI – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsop3akb) Kabupaten Pati mengakui telah menerima laporan dugaan pencabulan terhadap santriwati oleh pengasuh pondok pesantren sejak 2024.
Kepala Dinsop3akb Pati, Aviani Tritanti Venusia, mengatakan laporan tersebut diterima melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dengan satu orang korban sebagai pelapor.
“Kami menerima laporan dugaan kasus itu pada 2024. Saat itu ada satu pelapor yang datang ke UPTD PPA untuk meminta pendampingan,” ujar Aviani saat ditemui di kantornya, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan, laporan tersebut telah diteruskan ke Unit PPA Polresta Pati untuk proses hukum lebih lanjut. Selama penanganan berlangsung, pihaknya tetap memberikan pendampingan kepada korban.
“Selama 2024 kami melakukan pendampingan, termasuk kunjungan ke korban. Kasusnya belum ditutup, namun kami belum menerima perkembangan lebih lanjut dari Unit PPA Polresta,” jelasnya.
Pada akhir 2025, keluarga korban kembali mendatangi UPTD PPA untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus tersebut.
“Di akhir 2025, keluarga korban datang lagi untuk menanyakan progres penanganan kasus,” tambahnya.
Menurut Aviani, peristiwa dugaan pencabulan itu terjadi saat korban masih menempuh pendidikan di pondok pesantren sekitar tahun 2020. Korban baru melapor setelah lulus dari lembaga tersebut.
Ia juga menyebut adanya dugaan korban lain, namun pihaknya fokus pada laporan yang masuk.
“Dari informasi yang kami terima, ada dugaan korban lain. Namun karena yang melapor hanya satu orang, kami fokus pada pendampingan korban tersebut,” ujarnya.
Atas kasus ini, Aviani menyampaikan keprihatinannya dan mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak.
“Kami prihatin dengan kejadian ini. Orang tua diharapkan lebih waspada dan mendorong anak untuk berani melapor jika mengalami atau mengetahui kejadian serupa,” pungkasnya.
- Penulis: Redaksi

