Breaking News
light_mode

Menghadapi Persoalan dengan Pikiran Jernih

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rab, 25 Sep 2019
  • visibility 221


Gayeng diskusi Suluk Maleman


Ada yang luput di zaman sekarang ini. Tentang
bagaimana menghadapi sebuah persoalan. Sering kali, manusia kurang memerhatikan
kejernihan dalam menghadapi persoalan. Perlunya kejernihan dalam menghadapi
persoalan dinilai penting agar tidak sampai terjadi ketidakadilan ketika
memberikan sebuah penilaian.
Hal itu menjadi obrolan mendalam
pada Suluk Maleman edisi ke 93, Sabtu (22/9/2019) malam lalu di Rumah Adab Indonesia
Mulia. Ngaji budaya malam itu mengusung tema Fathul Mubin.
Pengasuh Suluk Maleman, Habib Anis
Sholeh Ba’asyin mengungkapkan,  di tengah
situasi carut marut seperti saat ini, kerap terjadi persoalan yang justru
hilang substansinya.
“Banyak yang menyerang hanya karena
bukan golongannya, begitu pula banyak yang membela habis-habisan hanya karena
temannya. Padahal kritik kalau baik harus diterima sekalipun datang dari
lawan,” terang budayawan yang juga santri Kajen tersebut.
Banyak cara pandang yang menjadi
salah hanya karena terlalu membesarkan emosi. Banyak hal yang coba dibuat kacau
pola berfikirnya. Padahal jika itu terjadi bukan tidak mungkin justru
menjadikan ketidakadilan dalam penempatan penilaian tertentu.
“Dulu Indonesia dikenal sebagai
penghasil kopra atau turunan dari kelapa yang besar. Namun tiba-tiba muncul
narasi kelapa dapat membuat kolestrol tinggi. Yang terjadi, produksi kelapa
seketika itu hancur. Anehnya setelah produksi kelapa di Indonesia hancur muncul
narasi baru jika kelapa justru mampu menghasilkan virgin coconut oil (VCO) yang
memiliki banyak manfaat,” terangnya.
Hal tersebut diakuinya sebagai
salah satu bentuk kekacauan berfikir di ranah industri. Belum lagi di konteks
lain seperti halnya politik. Oleh karena itulah dirinya mengajak untuk
berhati-hati dalam mengerti persoalan tertentu.
“Butuh kejernihan melihat
persoalan. Mari berdaulat dengan diri sendiri. Tanyakan dirimu sendiri tentang
apa yang kamu lakukan yakin atau tidak. Kurangi nyinyir untuk mencaci orang
lain jangan sampai nanti kita kecelik,”imbuhnya.
Terkait tema Fathul Mubin, Abdul
Jalil akademisi sekaligus budayawan dari Kudus lebih merujuk pada makna tentang
Al Fath. Menurutnya Al Fath memiliki lebih dari 18
pemaknaan. Meskipun yang sering dipakai ada tiga yakni pembuka, pembebasan, dan
hukum.
“Kita semua tahu peradaban modern
ini adalah dunia simbol. Sulit sekali menghilangkan simbol. Seperti gaya
berpakaian saya ini sebenarnya juga simbol. Demokrasi menjadi simbol dunia saat
ini. Padahal simbol itu wujud dari topeng ketidak sejatian,”tegas Kyai Jalil.
Sayangnya, justru seringkali
ketersinggungan justru muncul karena persoalan simbol tersebut. Banyak yang
mencampur adukkan persoalan simbol tanpa melihat makna yang ada di baliknya. 
“Nah justru di Al Fath itulah yang
kemudian mengajarkan untuk menerobos dari simbol. Menyadari jika simbol milik
manusia itu bukan yang sejati tapi mencari yang dibaliknya. Harus dibuka
seperti makna pertama dari Al Fath tersebut.,”terangnya.
Setelah menelaah antara simbol dan
makna dibaliknya, maka barulah makna hukum dari Al Fath menjadi relevan. Semua
yang dibalik simbol itu harus dipahami dengan hukum yang berlaku dan sesuai. 
“Kalau melihat simbol dengan hukum
simbol tapi jika melihat dibalik simbol ada hukumnya tersendiri. Jangan
dicampur aduk. Ayo tegakkan hukum yang sesuai,” terangnya.
Barulah setelah mampu membuka makna
simbol dan menegakkan hukum baru bisa sampai ke pembebasan. Diantaranya tentu
dengan pembebasan dari penjungkirbalikkan fakta yang ada. Kalau proses bisa
dilalui maka barulah mencapai ke pembebasan yang nyata.
“Ada penekanan dan penguatan jika
akan dibebaskan dengan pembebasan yang nyata,” tegasnya. (hus)
  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lomba Cipta Menu B2SA: Solusi Kreatif Atasi Stunting di Pati

    Lomba Cipta Menu B2SA: Solusi Kreatif Atasi Stunting di Pati

    • calendar_month Kam, 17 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 298
    • 0Komentar

    PATI – Ketua TP-PKK Kabupaten Pati, Atik Kusdarwati Sudewo, membuka Lomba Cipta Menu B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) Non Beras Non Terigu Berbahan Dasar Ikan di Pendopo Kabupaten Pati kemarin, Rabu (16/7/2025) Lomba yang diikuti peserta dari seluruh kecamatan ini bertujuan meningkatkan konsumsi ikan dan membentuk pola makan sehat. Dalam sambutannya, Atik menekankan pentingnya […]

  • Kapal nelayan saat mengikuti larung kepala kerbau dalam acara Pesta Lomban Jepara 2025 yang lalu.

    Pesta Lomban 2026 Siap Digelar, Kirab Budaya Pelarungan Kepala Kerbau Jadi Puncak Acara

    • calendar_month Sel, 24 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3.709
    • 0Komentar

    JEPARA – Tradisi pesisir yang menjadi ikon budaya Bumi Kartini kembali hadir pada Lebaran tahun ini. Pesta Lomban 2026 dipastikan berlangsung meriah dengan agenda utama Kirab Budaya Pelarungan Kepala Kerbau, sebuah ritual yang sarat nilai sejarah dan menjadi daya tarik wisata tahunan di Jepara. Panitia penyelenggara menjadwalkan rangkaian kegiatan akan digelar pada Sabtu, 28 Maret […]

  • Ketua Komisi C DPRD Pati Minta DLH Rutin Kordinasi Soal Sampah

    Ketua Komisi C DPRD Pati Minta DLH Rutin Kordinasi Soal Sampah

    • calendar_month Kam, 9 Apr 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 24.123
    • 0Komentar

    PATI – Komisi C DPRD Kabupaten Pati meminta agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) rutin melakukan koordinasi terkait rencana pengolahan sampah menjadi energi listrik. Dewan ingin dilibatkan agar bisa memantau perkembangan program tersebut sekaligus membantu memfasilitasi kebutuhan regulasi. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Pati, Joni Kurnianto. Menurutnya, sinergi yang baik antara […]

  • Dana Konsumtif Fakir Miskin Senilai Rp 50 Juta Dibagikan di Tayu

    Dana Konsumtif Fakir Miskin Senilai Rp 50 Juta Dibagikan di Tayu

    • calendar_month Kam, 2 Mei 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 648
    • 0Komentar

    Bupati Haryanti menyerahkan Bantuan Dana Konsumtif senilai Rp 52.500.000, – bagi 210 orang fakir miskin di wilayah Kecamatan Tayu. Penyerahan bantuan dana dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pati itu dilaksanakan di Masjid Besar Riyadlus Sholihin, Kecamatan Tayu. Bupati Haryanto menjelaskan, penyerahan bantuan tersebut bukan kali pertama, melainkan sudah bertahun-tahun bergulir. ”Bantuan konsumtif maupun […]

  • Dibantu ISC, Akhirnya Jalanan Desa Kemiri Diterangi Cahaya Lampu

    Dibantu ISC, Akhirnya Jalanan Desa Kemiri Diterangi Cahaya Lampu

    • calendar_month Sen, 1 Apr 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Hati warga Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kecamatan Kunduran, Blora berbunga. Setelah bertahun-tahun jalanan desanya gelap gulita, mulai sekarang bisa bermandikan cahaya. Warga bisa leluasa beraktivitas di malam hari. Itu karena pada Sabtu (30/3/2019) Imam Suroso Center (ISC) bersama Imam Suroso, anggota DPR RI Komisi IX memberikan bantuan untuk pemasangan tiang lampu penerangan jalan umum (PJU). […]

  • DPRD Pati Tanggapi SiLPA 2026 Senilai Rp287 Miliar, Minta Dikelola Sesuai Kebutuhan

    DPRD Pati Tanggapi SiLPA 2026 Senilai Rp287 Miliar, Minta Dikelola Sesuai Kebutuhan

    • calendar_month Kam, 25 Jun 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 100.215
    • 0Komentar

    PATI – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati menanggapi hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran 2026 yang nilainya mencapai Rp287 miliar. Pihak dewan meminta agar penggunaan dana tersebut disesuaikan dengan kebutuhan serta diarahkan guna mendukung program-program utama daerah. Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, menyebutkan SiLPA […]

expand_less