Breaking News
light_mode

Situs Sangiran sebagai Verifikasi Pelajaran Sejarah

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
  • visibility 125

 


Pelajaran
sejarah tentang fosil dan manusia purba sudah dipelajari oleh para pebelajar
sejak bangku Sekolah Dasar. Di jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah
Pertama, pelajaran sejarah dikemas dalam bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial
(IPS).

Sementara
di jenjang Sekolah Menengah Atas, barulah
secara konkret disebut dengan ‘Sejarah’. Berbeda dengan pelajaran lain yang
bisa dilihat wujud nyatanya ̶ misalnya gaya gravitasi dalam pelajaran fisika
yang dapat dinikmati lewat pengalaman lemparan ke atas yang selalu jatuh ke
bawah, jenis-jenis hewan pemakan rerumputan, perdagingan, hingga pemakan segala dalam pelajaran biologi yang
dapat disaksikan di Kebun Binatang, atau ihwal gaya katak dalam pelajaran
pendidikan jasmani dan olahraga yang dapat dirasakan ketika berenang ̶ ,
pelajaran sejarah justru berisi tentang kehidupan masa lalu yang tak bisa
dinikmati wujud nyatanya.

Di
sekolah, pelajaran sejarah hanya ‘dikisahkan’ lewat teks atau audio-visual bagi
sekolah-sekolah yang telah ‘disambangi’ kecanggihan teknologi. Kondisi inilah
yang membuat kebanyakan pebelajar mudah merasa bosan ketika belajar tentang
sejarah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dapat menyiasati kendala ini
dengan cara mengajak para pebelajar mengunjungi lembaga pendidikan informal
yang berhubungan dengan pelajaran sejarah, seperti Museum Manusia Purba
Sangiran yang berada di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah.

Senada
dengan ungkapan yang disampaikan oleh G. Brown Goode bahwa sudah seyogianya
museum menjadi sebuah rumah yang memelihara pikiran-pikiran hidup daripada
hanya menjadi kuburan barang-barang bekas. Dengan cara ini, museum sebagai
lembaga pendidikan informal dapat menjadi ‘obat’ atas rasa bosan para pebelajar
di lembaga pendidikan formal.

Memverifikasi Pelajaran
Sejarah

Satu
di antara layanan edukasi yang disediakan oleh Museum Manusia Purba Sangiran
adalah program School Goes to Museum[1].
Wujud layanan yang diberikan oleh pihak museum kepada para pebelajar adalah
presentasi atau ceramah interaktif, penayangan film tentang Sangiran, dan
jalan-jalan keliling museum yang dipandu oleh seorang Guide profesional. Stimulus yang diberikan oleh pihak museum yang
berupa informasi sejarah tentang fosil dan manusia purba dalam materi
presentasi serta penayangan film, diharapkan dapat direspons dengan baik oleh
para pebelajar ketika berkeliling museum untuk melihat koleksi-koleksi fosil
manusia dan hewan purba. Respons yang diharapkan adalah verifikasi oleh
pebelajar atas materi yang diperoleh selama presentasi, pemutaran film, dan
materi-materi yang telah disampaikan oleh gurunya selama di sekolah terhadap
bukti konkret di hadapannya seperti artefak dan fosil.

Pebelajar
juga dapat membandingkan antara makhluk-makhluk purba dengan makhluk-makhluk
modern seperti saat ini. Ukuran gading gajah purba dengan ukuran bermeter-meter
dapat dijadikan tolok ukur untuk menerka seberapa besar badan gajah purba jika
dibandingkan dengan gajah modern. Artefak-artefak yang digunakan oleh manusia
purba untuk membantu aktivitas mereka sehari-hari juga dapat dijadikan
pembanding dengan teknologi canggih seperti saat ini. Pengalaman berpikir seperti
ini akan lebih diingat oleh para pebelajar, sebab mereka merasakan dan melihat
secara langsung atas setiap hal yang mereka pikirkan.

Pandangan Calon
Pengajar tentang Situs Sangiran sebagai Sumber Belajar Evolusi

Museum
Manusia Purba Sangiran sebagai ‘saksi bisu’ evolusi manusia purba apakah benar-benar cocok dijadikan sumber
belajar tentang evolusi manusia menurut sudut pandang para calon pengajar? Alaninda
Saputra, Maridi, dan Putri Agustina pernah melakukan penelitian tentang
persepsi mahasiswa calon guru terhadap pemanfaatan Situs Sangiran sebagai
sumber belajar evolusi[2]. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 80% mahasiswa calon pengajar merasa Situs Sangiran
memberikan gambaran yang nyata tentang sejarah penemuan fosil manusia purba di
Jawa beserta stratigrafinya, 70% mahasiswa calon pengajar menganggap Situs
Sangiran dapat dijadikan sumber belajar evolusi secara langsung, dan 80%
mahasiswa calon pengajar menganggap pembelajaran evolusi dengan berkunjung ke
Situs Sangiran dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang proses evolusi.

Akhir
kata, kisah tentang masa lalu memang layak dimuseumkan
kok
.

Akhmad Idris, lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, b
aru-baru
ini telah menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul
Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020).



[1] Muhammad Mujibur Rohman dalam Jurnal Sangiran No. 5 Tahun 2016

[2] Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains, UNS Surakarta 22
Oktober 2016

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota DPRD Pati, Mukit Optimistis Wushu Pati Berprestasi di Bawah Kepemimpinan KONI yang Baru

    Anggota DPRD Pati, Mukit Optimistis Wushu Pati Berprestasi di Bawah Kepemimpinan KONI yang Baru

    • calendar_month Ming, 27 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 169
    • 0Komentar

    PATI – Mukit, anggota DPRD Kabupaten Pati dari Fraksi Partai Demokrat, menyatakan optimisme terhadap masa depan olahraga Wushu di Pati. Ia berharap kepengurusan baru Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang dipimpin oleh Sutarto Oentarso mampu membawa kemajuan bagi cabang olahraga ini. “Semoga dengan kepemimpinan Pak Kokok, olahraga khususnya wushu bisa lebih maju dan melahirkan atlet-atlet […]

  • Anggota DPRD Pati Eko Kuswanto Dorong Pemuda Pancasila Sukseskan Pilkada 2024

    Anggota DPRD Pati Eko Kuswanto Dorong Pemuda Pancasila Sukseskan Pilkada 2024

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 173
    • 0Komentar

    PATI – Eko Kuswanto, anggota DPRD Pati dan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Pati, telah menyerukan kepada anggota organisasi untuk berperan aktif dalam menyukseskan Pilkada 2024. Pada pelantikan jajaran pengurus baru Pemuda Pancasila di Gedung PGRI Pati pada Senin (28/10/2024), Eko menekankan pentingnya peran organisasi dalam menjaga keamanan dan kelancaran proses Pilkada 2024. “Pemuda Pancasila […]

  • Jelang Lebaran, Kaum Dhuafa di Enam Desa Ketiban Berkah

    Jelang Lebaran, Kaum Dhuafa di Enam Desa Ketiban Berkah

    • calendar_month Sel, 5 Jun 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    PATI – Kaum dhuafa di Pati lagi-lagi ketiban berkah Ramadan. Para dermawan menjelang lebaran menggelontorkan pundi-pundinya untuk membantu kaum dhuafa yang kurang beruntung tersebut. Setelah warga Desa Bakaran Kulon dan Wetan di Kecamatan Juwana yang digelontor 800 paket sembako gratis, giliran kaum dhuafa di Kecamatan Batangan dan Jaken tyang ketiban berkah. IKKP bersama Bulog kembali […]

  • Sering Banjir Bandang, Wakil Ketua DPRD Pati Hardi Dorong Adanya Embung

    Sering Banjir Bandang, Wakil Ketua DPRD Pati Hardi Dorong Adanya Embung

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 284
    • 0Komentar

    PATI – Banjir bandang kembali melanda wilayah selatan Kabupaten Pati pada Jumat (25/10/2024), merendam puluhan rumah di tiga desa. Menanggapi kejadian ini, Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Pati, Hardi, mendesak perlunya pembangunan embung untuk meminimalisir dampak banjir. “Jadi harus dibuat embung di daerah Sinomwidodo, karena itu untuk meminimalisir air dari curah hujan yang tinggi,” ujarnya. […]

  • Politik Identitas dan Perebutan Hegemoni Kuasa, Sebuah Pengantar dari Prof Azra

    Politik Identitas dan Perebutan Hegemoni Kuasa, Sebuah Pengantar dari Prof Azra

    • calendar_month Sab, 17 Sep 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

       Buku Politik Identitas dan Perebutan Hegemoni Kuasa Perjalanan demokrasi dalam pelaksanaan pemilu 2014 dan 2019 cukup melelahkan dengan tensi politik tinggi. Pilpres bukan sekadar kontestasi politik yang sangat sengit, namun berdampak pada pembelahan politik, sosial, dan agama. Dari segi keterbelahan agama, meskipun para pemimpin ormas mainstream seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menyatakan netral, namun […]

  • Sudewo Tinjau Langsung Pembangunan Jembatan Desa Karaban

    Sudewo Tinjau Langsung Pembangunan Jembatan Desa Karaban

    • calendar_month Ming, 27 Jul 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 112
    • 0Komentar

    PATI – Bupati Pati, Sudewo, meninjau langsung pembangunan jembatan di Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Minggu (27/7). Jembatan sepanjang 14,8 meter ini merupakan proyek prioritas Pemkab Pati untuk meningkatkan akses transportasi antar desa, khususnya Desa Tlogoayu, Karaban, dan Wuwur, serta menunjang distribusi hasil pertanian. Sebelumnya, jembatan hanya selebar 2 meter dan posisinya rendah, rawan tersumbat sampah […]

expand_less