Breaking News
light_mode

Program Makan Bergizi Gratis di Kudus: Bukan Hanya Soal Gizi, Tapi Juga Pemberdayaan Masyarakat

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Rab, 15 Okt 2025
  • visibility 309

KUDUS – Dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Pattimura, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kudus, terdengar denting panci yang bersahutan. Di balik kesibukan itu, Tri Sugianto (58) bersama rekan-rekannya dengan sigap menyiapkan makan siang untuk ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan seragam sederhana dan wajah ramah, Tri Sugianto bercerita tentang perjalanan hidupnya, dari pedagang angkringan hingga menjadi pengawas dapur program pemerintah ini.

“Saya dulu jualan angkringan di GOR. Menunya kopi dan makanan ringan,” kata Tri membuka cerita.

Hidupnya mulai berubah ketika seorang rekan menawarkan pekerjaan di dapur penyedia makanan untuk program MBG.

“Saya mau, dan akhirnya mulai bekerja di sini sejak bulan April. Sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi Tri, pekerjaan di dapur bukan sekadar mencari nafkah.

“Rasanya ringan, Mas. Tapi yang paling saya suka, di sini suasananya penuh kekeluargaan. Kami semua seperti keluarga,” tuturnya sambil tersenyum.

Berkah Tambahan Penghasilan

Sebelum bergabung dengan dapur MBG, penghasilan Tri hanya berasal dari angkringan kecil. Kini, tambahan pekerjaan itu membuat ekonominya lebih stabil.

“Jelas bertambah. Waktu pertama kerja di sini, anak saya masih kuliah. Jadi bisa bantu biaya kos dan kebutuhan lainnya,” katanya.

Kini, anak Tri sudah bekerja di salah satu rumah sakit, dan istrinya juga ikut bekerja.

“Alhamdulillah, kehidupan sekarang cukup. Tambahan dari sini sangat membantu,” ujarnya.

Tri mengaku, sebagian besar penghasilan tambahan digunakan untuk keperluan rumah tangga dan menabung.

“Kita kan masih punya anak perawan. Jadi ya disiapkan buat nanti nikahan, atau perbaikan rumah. Kalau ada sumbangan atau kebutuhan mendadak juga bisa teratasi,” tuturnya dengan nada bersyukur.

Peluang Kerja untuk Warga Sekitar

Tak hanya dirinya yang merasakan manfaat, Tri juga melihat bagaimana program ini membuka peluang kerja bagi warga sekitar.

“Untuk dapur satu, banyak dari mereka yang dulu pramusaji. Dapur dua malah direkrut dari warga sekitar Karangpakis dan Jepangpakis. Jadi hampir separuh pekerja di sini warga setempat,” jelasnya.

Sementara sisanya berasal dari desa lain yang memang membutuhkan pekerjaan.

“Artinya, program ini bukan cuma membantu anak sekolah makan bergizi, tapi juga memberi penghidupan bagi banyak orang,” ujar Tri menutup percakapan.

Bantu Keluarga dan Sekolah Anak

Salah satu karyawan SPPG di Jepangpakis, Nurwati (52), mengatakan, dirinya sangat bersyukur karena bisa bekerja di tempat tersebut.

Karyawan bagian packing dapur penyedia makanan MBG itu mengaku, penghasilannya bisa bertambah.

“Awalnya ditawari teman. Alhamdulillah bisa kerja di sini, bisa bantu keluarga buat bayar sekolah dan tambahan belanja,” tutur Nurwati saat ditemui di dapur MBG di Kudus itu.

Nurwati mengaku, bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan yang sekaligus masih memberinya waktu untuk keluarga.

“Saya masuk jam 04.00, pulang jam 12.00. Jadi masih ada waktu buat keluarga,” ujar dia. Menurutnya, suasana kerja di dapur MBG terasa hangat dan kompak.

“Kalau ada teman yang enggak masuk, kita kerjakan bareng-bareng. Enggak berat sih, karena semuanya saling bantu. Rasanya seperti keluarga,” kata Nurwati sambil tersenyum.

Ia menambahkan, semua pekerja disiplin menjaga kebersihan dan higienitas makanan yang diolah.

“Kalau ambil makanan pakai sarung tangan, kuku enggak boleh panjang, terus kalau pilek enggak boleh masuk. Kita juga wajib pakai masker,” jelasnya.

Dengan penghasilan tambahan dari pekerjaan ini, Nurwati mengaku kehidupannya terasa lebih ringan.

“Sangat membantu. Apalagi suami saya sudah meninggal, jadi saya kerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan dan sekolah anak,” ucapnya.

Bagi Nurwati, program MBG bukan hanya soal makanan bergizi untuk siswa, tetapi juga bentuk kepedulian sosial terhadap para ibu rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan.

“Semoga program MBG ini terus lancar sampai ke depan. Soalnya sangat meringankan ibu-ibu yang nganggur. Semua senang bisa kerja dan bantu keluarga,” katanya.

Dinkes Jateng Kawal Mutu dan Higienitas

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, sebelumnya meminta agar SPPG untuk segera mengurus pengajuan penerbitan SLHS. Hal itu sesuai langkah cepat yang diinstruksikan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Dinkes Provinsi melakukan komunikasi intensif dengan dinkes kabupaten/kota, Badan Gizi Nasional, serta koordinator wilayah SPPG di tingkat provinsi hingga kecamatan.

“Pihak mitra SPPG dan ahli gizi di setiap SPPG juga berperan sebagai pengendali mutu (quality control), mulai dari pemilihan bahan dan pemasok hingga proses penyajian dan pendistribusian MBG,” kata Yunita.

Standar Ketat di Dapur SPPG Jati Kudus

Kepala Satuan Pengelola Program Gizi (SPPG) Jati Kudus, Maulidhina Mahardika, menegaskan, di tempatnya ada 47 karyawan terlibat di dapur tersebut, dan seluruhnya merupakan warga sekitar.

Mereka bekerja secara bergiliran dengan jam kerja rata-rata delapan jam per hari. Mereka melakukan pendistribusian yang diatur ketat.

“Pendistribusian dimulai pukul 07.00 untuk anak TK dan SD, lalu pukul 10.00 untuk SMP, dan pukul 11.00 untuk SMA,” paparnya.

Pihaknya berupaya menjaga komitmen untuk terus memberikan kualitas dan kehigienisan makanan yang disalurkan melalui program MBG. Setiap proses, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pendistribusian, dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Dari karyawan datang saja sudah ada jalur masuk khusus. Mereka wajib berganti pakaian, menggunakan alas kaki bersih, hairnet atau penutup kepala, masker, dan sarung tangan,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada kontaminasi dalam proses produksi.

“Kami menjaga kehigienisan baik dari makanan maupun dari para relawan sendiri,” ujarnya.

Setiap harinya, dapur SPPG Jati memproduksi sekitar 3.700 porsi makanan. Jumlah itu mencakup kebutuhan makan bagi siswa dari 15 sekolah serta posyandu ibu hamil dan menyusui di wilayah sekitar.

Jaminan Keamanan Pangan dan Menu yang Fleksibel

Untuk menjamin keamanan pangan, bahan baku yang masuk ke dapur SPPG Jati dipastikan berasal dari supplier terpercaya. Setiap bahan yang datang juga disortir ulang oleh tim prepare.

“Kami pastikan kualitasnya bagus dan disimpan sesuai suhu yang dianjurkan. Proses masaknya juga harus benar-benar matang. Distribusi pun tidak lebih dari dua jam setelah masak,” katanya.

Menariknya, anak-anak penerima program MBG juga dapat memberikan masukan terhadap menu harian.

“Request masuk hampir setiap hari,” kata dia.

Namun, tidak semua permintaan langsung dipenuhi. Tim ahli gizi akan memodifikasi permintaan agar tetap sehat dan bergizi.

“Misalnya anak-anak minta burger, kami modifikasi dengan bahan bergizi. Rotinya tetap roti burger, tapi isiannya diganti dengan telur ceplok atau ayam katsu dan sayur segar agar gizinya tetap seimbang,” ungkapnya.

Maulidhina menegaskan, program MBG tidak hanya memastikan anak-anak sekolah mendapat asupan gizi seimbang, tapi juga menjadi wadah pemberdayaan masyarakat sekitar melalui lapangan kerja di dapur SPPG.

Editor: Arif

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pansus Hak Angket DPRD Pati Targetkan Selesai Akhir Oktober

    Pansus Hak Angket DPRD Pati Targetkan Selesai Akhir Oktober

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 389
    • 0Komentar

    PATI – Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati akan segera menggelar rapat maraton untuk mempercepat penyelesaian laporan akhir terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Bupati Pati, Sudewo. Ketua Pansus Hak Angket DPRD Kabupaten Pati, Teguh Bandang Waluyo, menyatakan bahwa target penyelesaian laporan akhir adalah akhir Oktober atau selambat-lambatnya awal […]

  • Ada 5 kecamatan di Pati dengan kasus HIV/AIDS tertinggi.

    Awas, Inilah 5 Kecamatan dengan Jumlah Kasus HIV Tertinggi di Pati

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • account_circle Abdul Adhim
    • visibility 444
    • 0Komentar

    Ada 5 kecamatan di Pati dengan kasus HIV/AIDS tertinggi.

  • Waspada Cuaca Ekstrem, Anggota DPRD Pati Imbau Nelayan Tak Paksa Diri Melaut

    Waspada Cuaca Ekstrem, Anggota DPRD Pati Imbau Nelayan Tak Paksa Diri Melaut

    • calendar_month Sen, 26 Mei 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 269
    • 0Komentar

    PATI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Mukit, mengimbau nelayan setempat untuk meningkatkan kewaspadaan saat melaut. Perubahan cuaca yang tiba-tiba dan ekstrem saat ini dinilai membahayakan keselamatan para nelayan. “Saat ini cuaca sedang ada perubahan secara tiba-tiba, tentu ini perubahan cuaca yang membahayakan bagi para nelayan saat melaut,” ujar politisi Partai Demokrat […]

  • Tiga SMP di Pati Ini Sabet Penghargaan Adiwiyata Nasional

    Tiga SMP di Pati Ini Sabet Penghargaan Adiwiyata Nasional

    • calendar_month Jum, 16 Nov 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 334
    • 0Komentar

    PATI – Prestasi membanggakan datang lagi dari Bumi Mina Tani. Tiga sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Pati berhasil menyabet penghargaan sebagai sekolah adiwiyata tingkat nasional. Hal itu diungkapkan Kasi Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup M. Ihsan, yang sekaligus menjadi pembina sekolah adiwiyata di Kabupaten Pati. Ketiga sekolah tersebut adalah SMPN 1 Wedarijaksa, SMPN 5 […]

  • DPRD Pati Soroti Kondisi Alun-Alun Juwana, Minta Segera Ditata Lebih Layak

    DPRD Pati Soroti Kondisi Alun-Alun Juwana, Minta Segera Ditata Lebih Layak

    • calendar_month Sel, 30 Jun 2026
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 100.543
    • 0Komentar

    PATI – Meskipun Kecamatan Juwana dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan hasil laut terbesar dan memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian sektor perikanan di Kabupaten Pati, kondisi Alun-Alun Juwana dinilai belum mencerminkan wajah kawasan strategis tersebut. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati meminta pemerintah daerah segera melakukan pembenahan menyeluruh agar ruang publik ini menjadi […]

  • Victoria Eka Prastya, Atlet Sepak Takraw Jepara Sumbang Satu Perak dan Satu Perunggu di Asian Games

    Victoria Eka Prastya, Atlet Sepak Takraw Jepara Sumbang Satu Perak dan Satu Perunggu di Asian Games

    • calendar_month Sel, 28 Agu 2018
    • account_circle Redaksi
    • visibility 299
    • 0Komentar

    SUMBER PSTI JEPARA JEPARA – Satu lagi putra Jepara membuat bangga di arena Asian Games 2018. Setelah Khoiful Mukhib di cabor sepeda gunung downhill, hari ini Selasa (28/8/2018) Victor Eka Prasetya yang memperkuat tim sepak takraw Indonesia berhasil menyumbang medali di perak untuk nomor regu, dan medali perunggu untuk nomor tim. Victor, sapaan akrabnya, merupakan […]

expand_less