Dari Ketukan Tatah ke Panggung Dunia: Jepara Menyuarakan Jiwa Lewat Ukiran
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 67

Wakil Gubernur Jawa Tengah dan sejumlah bupati melihat pemeran Tatah seni ukir Jepara di Jakarta.
JAKARTA – Di balik denting halus tatah yang menghantam kayu, ada cerita panjang tentang ketekunan, warisan, dan jiwa yang diturunkan lintas generasi.
Suara itu kini menggema hingga ke ibu kota, saat Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meresmikan Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 di Museum Nasional Indonesia, Rabu, 29 April 2026.
Bukan sekadar pameran, ruang ini menjadi panggung bagi karya-karya terbaik dari Jepara—daerah yang sejak lama dikenal sebagai jantung seni ukir Nusantara.
Di dalamnya, terpajang bukan hanya benda, tetapi juga perjalanan panjang keterampilan yang ditempa ratusan tahun.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyebut karya yang dipamerkan sebagai representasi puncak pencapaian artistik para pengukir Jepara.
Berbeda dari produk mebel yang lazim ditemui sehari-hari, karya-karya ini menampilkan detail, kedalaman, dan kompleksitas yang nyaris tak tergantikan oleh mesin.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah ukiran “macan kurung”, serta karya dari satu batang kayu utuh yang diolah dengan teknik berlapis hingga lima sampai tujuh tingkat.
Setiap lapisan seolah menyimpan napas pembuatnya—ketelitian yang tak hanya mengandalkan tangan, tetapi juga rasa.
“Ini bukan sekadar benda, tetapi ekspresi seni dengan pencapaian tertinggi,” ujar Fadli Zon.
Lebih dari itu, pameran ini juga menjadi pengingat bahwa seni Indonesia tidak hanya hidup dalam kanvas dua dimensi.
Kayu—yang sejak masa leluhur menjadi medium ekspresi—masih terus berbicara hingga hari ini, melalui pahatan yang sarat makna.
Namun di balik keindahan itu, tersimpan kegelisahan. Regenerasi pengukir menjadi tantangan nyata. Di tengah derasnya pilihan profesi modern, tak banyak generasi muda yang memilih melanjutkan jejak sebagai perajin ukir.
Kementerian Kebudayaan mencoba menjawabnya lewat berbagai upaya: workshop, penguatan literasi budaya, hingga program pengembangan talenta.
Harapannya, mereka yang “mewarisi” keterampilan ini dapat menemukan ruang untuk tumbuh dan diakui.
“Kita ingin mereka yang punya bakat luar biasa ini mendapatkan tempat,” kata Fadli.
Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengajak publik melihat ukiran dari sisi yang lebih dalam. Baginya, tatah bukan hanya alat, melainkan perpanjangan jiwa.
“Dari setiap ketukannya lahir karya yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna,” ujarnya.
Jepara, yang mungkin tampak sebagai kota kecil di pesisir Jawa, sejatinya adalah simpul pertemuan budaya dunia. Dari sanalah lahir ukiran-ukiran yang kini tak hanya menghiasi ruang, tetapi juga membawa identitas Indonesia ke panggung global.
Dan di Museum Nasional itu, setiap pahatan seakan berbisik—tentang masa lalu yang tetap hidup, dan masa depan yang masih terus diukir.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Arif

