Prestasi Gemilang, Dua Putra Jawa Tengah Lulus Cum Laude di Universitas Al-Ahgaff Yaman
- account_circle Fatwa Fauzian
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 24.455

Muhammad Hasan Said dan Hafidz Yusuf al-Jufri torehkan prestasi membanggakan pada Wisuda ke-27 Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Yaman.
TARIM – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh dua mahasiswa asal Jawa Tengah, Muhammad Hasan Said dan Hafidz Yusuf al-Jufri, pada acara Wisuda ke-27 Universitas Al-Ahgaff, Yaman, Kamis (16/4/2026). Keduanya berhasil menyandang predikat cum laude di tengah persaingan yang sangat ketat.
Dari total 211 wisudawan yang berasal dari berbagai negara, hanya 10 orang yang berhasil meraih predikat istimewa tersebut, dan dua di antaranya adalah putra daerah asal Indonesia ini.
Muhammad Hasan Said, putra kelahiran Rembang, dikenal memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat dan memiliki ketertarikan mendalam pada ilmu fikih serta aktif dalam forum Bahtsul Masail. Ia berhasil mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,81.
Menurut Hasan, keunikan pendidikan di Tarim terletak pada integritas antara ilmu dan amal. Ilmu yang dipelajari tidak hanya berhenti di teori, tetapi juga diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
“Di sini, ilmu bukan hanya diajarkan, tapi juga dipertontonkan dan dicerminkan dalam perilaku. Bahkan ada guru yang memberi sanksi jika murid tidak membawa siwak, tidak salat subuh berjamaah di masjid, atau meninggalkan salat sunnah,” ujarnya.
Kunci kesuksesannya meraih nilai sempurna, lanjut Hasan, adalah dengan gemar menulis. Ia menyarankan agar setiap ilmu yang didapat segera ditulis, mulai dari catatan guru hingga karya sendiri, agar pemahaman menjadi lebih mendalam.
Sementara itu, Hafidz Yusuf al-Jufri asal Surakarta juga mencatatkan prestasi gemilang dengan IPK 4,74 dari jurusan Sunnah wa Ulumuhu atau ilmu hadis.
Hafidz menekankan nilai penting khidmah atau pengabdian sebagai bekal dalam menuntut ilmu. Ia mencontoh keteladanan Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dekat dengan Rasulullah karena pengabdiannya.
“Khidmah itu ada dua, yaitu khidmatul ajsad (fisik) dan khidmatul ahdaf (tujuan). Setelah lulus, mungkin sulit berkhidmah secara fisik kepada guru, namun kita masih bisa memperjuangkan tujuan dan dakwah mereka,” jelasnya.
Keberhasilan kedua putra terbaik Jawa Tengah ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar dan tradisi keilmuan yang kuat mampu bersaing di kancah internasional serta mengharumkan nama bangsa.
Editor: Arif
- Penulis: Fatwa Fauzian

