Breaking News
light_mode

Membangun Budaya Keselamatan di Negeri Rawan Bencana

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Rab, 10 Des 2025
  • visibility 1.085

LINGKARMURIA.COM – Indonesia adalah negeri dengan keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga salah satu wilayah paling rawan bencana di dunia. Letak geografis yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik, kondisi tropis, serta dinamika cuaca ekstrem menjadikan gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan erupsi gunung api sebagai bagian dari siklus alam yang tidak dapat dihindari.

Namun, yang seringkali membuat kejadian alam berubah menjadi tragedi kemanusiaan bukanlah kekuatan bencananya, melainkan ketidaksiapan manusia dalam menghadapinya.

Pulau Sumatera dan Aceh memberikan gambaran paling jelas tentang risiko besar yang terus mengintai. Deretan bencana besar—termasuk gempa Aceh 2004, gempa Nias 2005, gempa Padang 2009, hingga tsunami Mentawai 2010—menunjukkan bahwa wilayah ini adalah salah satu zona paling aktif secara tektonik.

Aktivitas sesar Sumatera yang membentang sepanjang pulau juga memastikan bahwa gempa besar akan terus berulang. Yang membedakannya adalah apakah masyarakat siap atau tidak.

Belajar dari Aceh: Harga Mahal dari Ketidaksiapan

Tragedi Aceh 26 Desember 2004 adalah pengingat paling kuat tentang pentingnya kesadaran dan kesiapsiagaan. Sebelum tsunami menerjang, sebagian besar masyarakat tidak mengetahui tanda-tanda awal tsunami, tidak memiliki jalur evakuasi, serta tidak dibiasakan dengan edukasi bencana. Ketidaksiapan tersebut menyebabkan jumlah korban mencapai lebih dari 160 ribu jiwa.

Namun, dari tragedi itu pula, transformasi besar dimulai. Pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memperkuat regulasi melalui Undang-Undang Penanggulangan Bencana, dan mulai membangun infrastruktur peringatan dini. Aceh menjadi titik awal perubahan cara pandang terhadap mitigasi bencana di Indonesia.

Meski begitu, dua dekade setelahnya, kesiapsiagaan di banyak wilayah Sumatera masih belum merata. Banjir besar di Aceh Tamiang, longsor di Sumatera Barat, banjir bandang di Agam dan Kerinci, serta sederet gempa di pesisir barat Sumatera menunjukkan bahwa kerentanan masih tinggi. Bencana yang berulang ini menjadi alarm penting bahwa budaya keselamatan belum benar-benar mengakar.

Ketika Bencana Dipahami sebagai Takdir

Dalam berbagai survei nasional, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memandang bencana sebagai takdir atau azab yang tidak dapat dihindari. Pandangan fatalistik ini sering menjadi penghalang dalam upaya pengurangan risiko bencana. Ada anggapan bahwa bencana adalah “urusan Tuhan”, sehingga manusia tidak perlu berpikir atau berusaha untuk menghindarinya.

Padahal, dalam perspektif ilmu pengetahuan dan bahkan ajaran agama, manusia diperintahkan untuk berikhtiar dan beradaptasi. Banyak rumah adat di Nusantara dirancang tahan gempa, menunjukkan bahwa nenek moyang kita memiliki pengetahuan adaptif yang tinggi. Sayangnya, dalam perkembangan modern, kearifan tersebut justru terlupakan.

Menganggap bencana sebagai takdir semata membuat masyarakat cenderung pasif, tidak peduli pada pelatihan kebencanaan, dan kurang memperhatikan tata ruang yang aman. Padahal, seperti yang digambarkan dalam rumus kebencanaan R = H × V / C (H → Hazard [bahaya alam], V → Vulnerability [kerentanan], C → Capacity [kapasitas]), risiko meningkat ketika kerentanan tinggi dan kapasitas rendah. Kita tidak bisa mengurangi bahaya, tetapi bisa menurunkan kerentanan dan meningkatkan kapasitas.

Adaptasi: Strategi yang Terbukti Menyelamatkan

Adaptasi adalah kunci utama keselamatan di negara yang rawan bencana. Adaptasi bukan berarti melawan alam, melainkan menyesuaikan diri dengan pola alam. Banyak negara yang berhasil mengurangi korban bencana bukan karena wilayah mereka aman, tetapi karena warganya teredukasi, infrastrukturnya kuat, dan sistem tanggap daruratnya berjalan. Di Indonesia, adaptasi dapat dilakukan melalui tiga pilar:

1. Adaptasi fisik. Meliputi pembangunan rumah tahan gempa, infrastruktur yang sesuai standar, jalur evakuasi yang jelas, serta sistem peringatan dini yang dapat diakses masyarakat. Beberapa kota di Sumatera Barat telah mulai membangun shelter tsunami, namun jumlahnya masih jauh dari mencukupi.

2. Adaptasi sosial. Pendidikan kebencanaan perlu ditanamkan sejak dini. Contoh paling terkenal adalah Tilly Smith, anak berusia 10 tahun yang menyelamatkan puluhan orang dalam tsunami Thailand 2004 karena mengenali tanda-tandanya dari pelajaran sekolah. Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang dicanangkan pemerintah harus diperluas dan dilaksanakan secara konsisten, terutama di daerah rawan seperti Sumatera dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

3. Adaptasi komunitas. Saat bencana terjadi, masyarakat sekitar adalah pihak pertama yang dapat memberikan pertolongan. Studi Gempa Kobe 1995 menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen korban selamat dibantu diri sendiri dan keluarga, sementara tim penyelamat hanya menyumbang 1,7 persen. Ini menunjukkan bahwa komunitas adalah garda terdepan penanggulangan bencana.

Mengapa Budaya Keselamatan Penting?

Budaya keselamatan adalah cara hidup. Ia mencakup kebiasaan, pola pikir, cara merencanakan, dan cara bertindak dalam menghadapi ancaman. Negara-negara dengan budaya keselamatan kuat biasanya memiliki masyarakat yang peka terhadap tanda-tanda bencana, keluarga yang memiliki rencana evakuasi sendiri, desa atau kelurahan yang rutin melakukan simulasi, sekolah yang terintegrasi dengan kurikulum kebencanaan, serta pemerintah daerah yang berkomitmen pada tata ruang berbasis risiko.

Tanpa budaya keselamatan, teknologi secanggih apa pun tidak akan bekerja maksimal. Sirene tsunami tidak berarti banyak jika masyarakat tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mendengarnya.

Menuju Indonesia yang Lebih Tangguh

Indonesia tidak bisa berharap bencana berhenti. Namun, Indonesia bisa memastikan dampaknya tidak lagi sebesar sebelumnya. Kuncinya ada pada empat langkah besar:

– Memberdayakan individu: Mengetahui risiko di sekitar tempat tinggal, memahami tanda-tanda bencana, dan menyiapkan tas siaga.

– Menguatkan keluarga: Menetapkan titik kumpul, jalur evakuasi, dan sistem komunikasi keluarga.

– Membangun komunitas tangguh: Rukun Tetangga (RT), desa, gampong, dan nagari harus menjadi pusat kesiapsiagaan.

– Kolaborasi lintas lembaga: Sinergi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan relawan mutlak diperlukan.

Penutup: Keselamatan Berawal dari Kesadaran

Dengan kondisi geografis yang tidak dapat diubah, Indonesia harus mengubah dirinya. Bencana tidak bisa dicegah, tetapi kerugian bisa diminimalisir. Yang diperlukan bukan hanya regulasi, tetapi perubahan budaya; bukan hanya sistem, tetapi juga kesadaran kolektif.

Belajar dari Aceh dan Sumatera, kita memahami satu hal penting: keselamatan bukan datang dari ketidakterulangan bencana, tetapi dari kesiapan manusia menghadapinya.

Budaya keselamatan harus menjadi identitas baru bangsa ini—dari rumah, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik. Karena pada akhirnya, keselamatan adalah ikhtiar bersama yang menentukan masa depan generasi berikutnya.

Penulis: Jaka Januar

 

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Museum Kretek dan Patiayam Rekomendasi Wisata Edukasi di Kudus

    Museum Kretek dan Patiayam Rekomendasi Wisata Edukasi di Kudus

    • calendar_month Kam, 20 Jan 2022
    • account_circle Redaksi
    • visibility 121
    • 0Komentar

      Bangunan museum kretek tampak dari depan KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus merilis dua tempat wisata edukasi rekomended. Dua tempat wisata itu adalah museum yang saat ini dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus, yaitu Museum Kretek dan Museum Situs Purbakala Patiayam.   1. Museum Kretek Secara Administratif Museum Kretek terletak di […]

  • DPRD Pati Wanti-wanti Petani Jaga Kualitas Gabah, Manfaatkan Kenaikan HPP

    DPRD Pati Wanti-wanti Petani Jaga Kualitas Gabah, Manfaatkan Kenaikan HPP

    • calendar_month Kam, 24 Apr 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 119
    • 0Komentar

    PATI – Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Sudi Rustanto, memberikan peringatan kepada para petani setempat untuk senantiasa menjaga kualitas produksi gabah mereka. Politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa Tanto ini menekankan pentingnya panen tepat waktu untuk memastikan kualitas dan kuantitas hasil panen yang optimal. “Untuk menjaga kualitas, petani harus memanen gabahnya di waktu yang […]

  • Tips Gaya Hidup Sehat untuk Anak Muda

    Tips Gaya Hidup Sehat untuk Anak Muda

    • calendar_month Sel, 23 Mei 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Ilustrasi buah segar/ @freshfruits01 Gaya hidup sehat adalah kunci untuk hidup yang panjang dan bahagia. Namun, seringkali kita mengabaikan aspek-aspek penting dalam kesehatan dan akhirnya menderita sakit atau bahkan penyakit. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas tips-tips gaya hidup sehat yang dapat membantu Anda mempertahankan kesehatan tubuh dan pikiran Anda. 1. Makan sehat Makanan […]

  • Cegah Kriminalitas Samapta Polres Jepara Intensifkan Patroli Malam

    Cegah Kriminalitas Samapta Polres Jepara Intensifkan Patroli Malam

    • calendar_month Kam, 11 Mei 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Patroli malam cegah gangguan Kamtibmas di wilayah Jepara  Polres Jepara berupaya mencegah gangguan Kamtibmas di masyarakat. Karenanya patroli malam dilakukan secara intensif melalui patroli dialogis dan humanis. Patroli dilakukan di pusat-pusat aktivitas masyarakat. JEPARA – Kasat Samapata AKP Agus Nurhadi, S.H. mengatakan, patroli tersebut bersifat preventif atau sebagai upaya pencegahan terhadap gangguan Keamanan dan Ketertiban […]

  • Bikin Haru Pengusaha Beras Ega Jaya Berangkatkan Umroh Karyawannya

    Bikin Haru Pengusaha Beras Ega Jaya Berangkatkan Umroh Karyawannya

    • calendar_month Sel, 14 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Pengusaha beras UD Ega Jaya memberangkatkan umroh karyawannya Karyawan UD Ega Jaya sudah dianggap sang juragan sendiri sebagai bagian dari keluarga. Karena itu mereka mendapat hadiah spesial dengan diberangkatkan umroh.  PATI – Pemandangan tak biasa terlihat di UD Ega Jaya, Desa Pekuwon Kecamatan Juwana, Senin (13/2/2023). Para karyawan pabrik beras itu tampak berpakaian rapi. Dengan […]

  • Resep Sayur Asem Jakarta yang Sedap dan Sehat

    Resep Sayur Asem Jakarta yang Sedap dan Sehat

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Sayur asem Jakarta  Menu makan yang cocok disantap siang hari salah satunya adalah sayur asem. Sayur asem yang cukup terkenal adalah sayur asem Jakarta, yang melimpah jenis sayurnya. Inilah resep mnembuat sayur asem Jakarta yang sedap dan tentunya sehat. Sayur asem menjadi salah satu menu makanan sehari-hari yang menjadi favorit banyak orang. Hal itu dikarenakan […]

expand_less