Breaking News
light_mode

Kofiku Gelar Bedah Buku “Pangeran dari Timur,” Soroti Nasionalisme Raden Saleh

  • account_circle Fatwa Fauzian
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 357

KUDUS – Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) bekerja sama dengan Out of the Boox Kudus dan penerbit Bentang Pustaka sukses menggelar acara Bedah Buku “Pangeran dari Timur” di GOR Multifungsi Balai Jagong Kudus, Sabtu malam (11/10).

Acara ini menghadirkan dua pembicara dari Kofiku, Abdul Karim dan Arif Rohman, untuk mengulas novel karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi tentang pelukis legendaris Raden Saleh.

Novel setebal 700 halaman lebih ini memicu diskusi hangat karena menampilkan Raden Saleh tidak hanya sebagai seniman besar, tetapi juga sebagai tokoh yang hidup di tengah kekuasaan feodal dan kolonialisme.

Abdul Karim, dalam paparannya, menyebut Raden Saleh sebagai figur yang kompleks.

“Raden Saleh sangat berbakat karena dikirim belajar ke Eropa langsung. Tapi dia juga bukan sosok yang sepenuhnya patriotik. Ia keponakan Bupati Semarang, jabatan yang kala itu setara dengan utusan Belanda dan memiliki kekuasaan absolut,” jelas Karim.

Ia menambahkan bahwa ironi Raden Saleh terletak pada posisinya sebagai pelukis romantik yang menjadi bagian dari kekuasaan yang tidak romantis.

Karim juga menyoroti struktur dua alur cerita dalam novel, yaitu kisah Raden Saleh dan kisah cinta Ratna Juwita, yang tampak berbeda namun saling berkaitan.

“Kedua cerita ini sama-sama mengajarkan untuk melawan feodalisme dan ketidakadilan. Lewat karakter Ratna Juwita, Syafi’i, dan Syamsudin, penulis menampilkan perang opini terhadap figur Raden Saleh: apakah ia pahlawan, atau sekadar ningrat yang beruntung?” ujarnya.

Arif Rohman menyoroti sisi nasionalisme dalam karya dan kehidupan Raden Saleh. Ia mengulas makna simbolik dari lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan “Antara Hidup dan Mati,” yang menggambarkan pertarungan singa dan banteng.

“Kerajaan identik dengan singa, sementara rakyat Hindia identik dengan banteng atau kerbau. Melalui lukisannya, Raden Saleh menyampaikan perlawanan dengan cara yang halus namun tajam,” tutur Arif.

Arif juga menyinggung kemungkinan Raden Saleh pernah mengunjungi situs purbakala Patiayam di Kudus bersama naturalis Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1857.

“Karena kita tinggal di Kudus, saya penasaran apakah benar Raden Saleh pernah ke Patiayam. Novel ini tidak mengangkat hal itu, mungkin karena keterbatasan data. Tapi justru ini bisa jadi peluang bagi penulis Kudus untuk menulis episode yang belum diceritakan,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta muda menanyakan relevansi novel ini dengan pembelajaran sejarah dan makna “Timur” dalam judul. Arif menjelaskan bahwa judul “Pangeran dari Timur” bisa dimaknai sebagai representasi tiga tokoh utama, yakni Raden Saleh, Syafi’i, dan Pit Liong, serta simbol pertentangan antara dunia Barat dan Timur.

“Raden Saleh pernah menyebut dirinya Pangeran dari Jawa. Novel ini mungkin memperluas makna itu menjadi Pangeran dari Timur sebagai refleksi identitas dan benturan budaya,” jelasnya.

Abdul Karim menambahkan bahwa salah satu daya tarik novel ini adalah penggambaran Raden Saleh sebagai manusia biasa.

“Penulis tidak memuja Raden Saleh sebagai pahlawan tanpa cela. Ia digambarkan punya ego, bahkan skandal asmara di Eropa. Justru di situ menariknya, kita melihat seniman besar ini secara manusiawi,” ujar Karim.

Diskusi ditutup dengan refleksi Arif bahwa nasionalisme Raden Saleh patut dibaca dalam konteks zamannya.

“Raden Saleh hidup seratus tahun sebelum kemerdekaan. Nasionalismenya tidak bisa dibandingkan dengan Soekarno, tapi ia tetap menunjukkan keberanian lewat seni. Kalau hari ini kita ingin menyuarakan kritik, bisa lewat media sosial. Dulu, Raden Saleh melakukannya lewat lukisan,” pungkasnya.

Acara ini merupakan bagian dari upaya Kofiku, Out of the Boox Kudus, dan Bentang Pustaka untuk menghidupkan budaya literasi melalui pembacaan dan diskusi karya sastra sejarah.

Editor: Arif

  • Penulis: Fatwa Fauzian

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Jepara Lindungi Rumah Tradisional Bugis di Karimunjawa

    Bupati Jepara Lindungi Rumah Tradisional Bugis di Karimunjawa

    • calendar_month Kam, 16 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Bupati Jepara Andi di depan rumah tradisional Bugis Bupati Jepara berkomitmen terhadap pelestarian rumah tradisional di Karimunjawa. Pihaknya ingin menjadikan rumah tradisional ini sebagai salah satu destinasi wisata, selain suguhan utama wisata alam JEPARA – Wilayah terluar Kabupaten Jepara yaitu Kepulauan Karimunjawa terdapat rumah-rumah tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia. Keberadaan rumah adat dari berbagai […]

  • Lestari Moerdijat: Keragaman Pulau dan Suku Bukan Kelemahan, Tapi Kekuatan Indonesia

    Lestari Moerdijat: Keragaman Pulau dan Suku Bukan Kelemahan, Tapi Kekuatan Indonesia

    • calendar_month Sen, 8 Des 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 1.055
    • 0Komentar

    KUDUS – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (yang akrab disapa Rerie), menekankan pentingnya merawat kebhinekaan sebagai modal sosial terbesar bangsa Indonesia dalam menghadapi krisis multidimensi. Pesan ini disampaikannya saat memberikan sosialisasi Empat Pilar MPR RI secara virtual kepada ratusan anggota Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK). Acara yang dilaksanakan di Gedung Pertemuan DPRD Kabupaten Kudus […]

  • Dewan Pati Desak Dishub dan Satlantas Tindak Tegas Kendaraan Over Tonase

    Dewan Pati Desak Dishub dan Satlantas Tindak Tegas Kendaraan Over Tonase

    • calendar_month Jum, 20 Sep 2024
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 182
    • 0Komentar

    PATI – Anggota DPRD Pati, Haryono, mendesak Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) untuk melakukan tindakan tegas terhadap kendaraan over tonase yang melintas di wilayah Kabupaten Pati. Hal ini disampaikan Haryono menanggapi maraknya kendaraan over tonase yang menjadi penyebab utama kerusakan jalan dan infrastruktur di Pati. “Kendaraan over tonase yang melanggar ini menjadi […]

  • Bupati Haryanto Rombak 28 Pejabat Struktural

    Bupati Haryanto Rombak 28 Pejabat Struktural

    • calendar_month Sab, 6 Apr 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Para pejabat yang dilantik PATI – Tak Ingin ditempati Plt terlalu lama, Bupati Haryanto akhirnya melantik sejumlah pejabat struktural di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pati Jumat (5/4/2019). Total ada sebanyak 28 pejabat struktural eselon III dan IV dengan penempatan di berbagai OPD. Usai mengambil sumpah jabatan, Bupati Haryanto mengungkapkan alasan pelantikan yang dilakukan hari ini. “Semua […]

  • Dorong Investasi Dapur Umum, Edy Wuryanto Gandeng NU dan Muhammadiyah

    Dorong Investasi Dapur Umum, Edy Wuryanto Gandeng NU dan Muhammadiyah

    • calendar_month Jum, 20 Jun 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 150
    • 0Komentar

    GROBOGAN – Sosialisasi Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Anggota DPR RI Komisi IX, Edy Wuryanto, di Gedung PGRI Purwodadi, Jumat (20/6), menyoroti minimnya dapur umum MBG yang beroperasi di Grobogan. Dari target sekitar 80 dapur, baru dua yang beroperasi. Edy Wuryanto mengungkapkan, banyak pihak di Grobogan berminat berinvestasi dalam pembangunan […]

  • Ketua DPRD Pati Desak Pemkab Tunda Pengisian Jabatan Strategis

    Ketua DPRD Pati Desak Pemkab Tunda Pengisian Jabatan Strategis

    • calendar_month Kam, 25 Sep 2025
    • account_circle Fatwa Fauzian
    • visibility 254
    • 0Komentar

    PATI – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati, Ali Badrudin, memberikan saran kepada Pemerintah Kabupaten Pati untuk menunda pengisian tujuh jabatan kepala dinas yang saat ini kosong. Saran ini disampaikan mengingat kondisi politik di Kabupaten Pati yang dinilai belum sepenuhnya kondusif. Menurut Ali Badrudin, penundaan ini bertujuan untuk menghindari potensi perselisihan yang mungkin […]

expand_less