Kobar Api Perang Obor : Tradisi Unik Tegalsambi Jepara yang Terus Menyala
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sen, 25 Mei 2026
- visibility 9.368

Perang Obor Desa Tegalsambi Jepara.
“Kami mencoba menambahkan sentuhan teatrikal, lighting, dan kostum pemain agar festival ini berbeda dari tahun sebelumnya,” ujarnya.
Sebanyak 400 obor disiapkan untuk dimainkan sekitar 40 peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tokoh senior desa hingga para pemuda yang kini mulai aktif terlibat menjaga warisan budaya tersebut.
Di balik kobaran api itu, tersimpan kisah lama yang terus hidup di ingatan warga. Konon, Perang Obor bermula dari perselisihan dua tokoh leluhur desa, Kiai Babadan dan Mbah Gemblong.
Pertikaian keduanya berakhir damai setelah hewan ternak yang sakit mendadak pulih. Peristiwa itu kemudian dikenang melalui ritual tahunan sebagai simbol perdamaian dan penolak bala.
Tradisi yang terus bertahan di tengah modernisasi ini pun menarik perhatian banyak pihak. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menilai Perang Obor memiliki daya tarik besar sebagai wisata budaya.
Menurutnya, ritual tersebut bukan hanya milik masyarakat Tegalsambi, tetapi juga identitas budaya Jawa Tengah yang patut dikenalkan lebih luas.
“Perang Obor menjadi identitas budaya masyarakat yang harus terus dijaga dan dikenalkan,” katanya.
Malam itu, deretan pejabat daerah turut hadir menyaksikan prosesi, di antaranya Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati M. Ibnu Hajar. Namun perhatian utama tetap tertuju pada nyala obor yang terus berputar di tengah kerumunan warga.
Sebelum api dinyalakan, masyarakat lebih dulu menggelar kirab pusaka dari rumah petinggi desa menuju lokasi acara.
Langkah demi langkah kirab berjalan khidmat, seolah menjadi pengingat bahwa tradisi bukan hanya soal masa lalu, melainkan tentang bagaimana sebuah desa menjaga ingatan kolektifnya agar tetap hidup.
Dan ketika kobaran api terakhir mulai meredup, Tegalsambi sekali lagi membuktikan bahwa warisan leluhur bisa terus menyala, bahkan di tengah zaman yang terus berubah.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Arif

